alexametrics
18.5 C
Madura
Wednesday, June 29, 2022

Delapan Perupa Berkreasi di Pameran Seni Rupa Manifesto Idiot #1

BANGKALAN – Kesenian di Bangkalan terus menunjukkan geliat. Berbagai kegiatan seni disajikan. Salah satunya pameran seni rupa bertemakan Manifesto Idiot #1 yang digelar Komunitas Masyarakat Lumpur (KML) Bangkalan.

Lukisan mural terpampang tepat di depan SDN Kemayoran 1 Bangkalan. Pepohonan rindang menyajikan keteduhan menuju sekretariat KML Bangkalan. Seperti biasa, bunyi bising kendaraan yang melintas di Jalan Teuku Umar mengisi keheningan. Di antara pepohonan rindang itu, lembaran kain hitam terbentang membentuk ruang.

Hiasan kanan kiri terisi oleh karya-karya perupa memanjakan mata. Lukisan realisme, abstrak, instalasi, hingga kaligrafi tersaji. Berbagai karya seni ada di pameran seni rupa bertemakan Manifesto Idiot #1 itu. Delapan perupa asal Bangkalan berkolaborasi menampilkan karyanya.

Chairul Anwar menyajikan karyanya Bhujar, Syah-Han dengan karyanya Nongngep, dan Joe menyajikan karya Temba’ Cethagga. Kemudian ada Anwar Sadat dengan karyanya Farce Idiota. Edy Art menyajikan karya Paggun, Roz Ekki dengan karyanya Bu’-tabu’an, Yudi Metrix dengan karyanya Ngomongan, dan Irza Nova Husna menyajikan karya Baong.

Pembina KML Bangkalan M. Helmy Prasetya dan Ketua KML Agus Alan beserta anggota menyambut kedatangan Jawa Pos Radar Madura. Lalu, bincang santai seputar pameran yang tengah berlangsung. Kopi hitam yang masih mengepul menemani. Usai bincang-bincang, selanjutnya keliling lokasi pameran.

Helmy menyampaikan, pameran diselenggarakan selama tiga hari. Mulai 12 sampai 14 Oktober 2018. Selain memamerkan karya seni rupa, gelaran ini menghadirkan pelaku seni, pelajar, dan mahasiswa. Mereka diajak berdiskusi dalam forum apresiasi.

Dia menjelaskan, pameran seni rupa Manifesto Idiot #1 memang baru digelar. Ke depan, akan dijadikan agenda rutin tahunan untuk menampung karya-karya seni perupa di Bangkalan. dengan begitu, kesenian di Bangkalan terus berkembang dan berwarna. Jadi tidak hanya sastra, teater, dan musik.

Baca Juga :  Arsip dan Kehidupan

”Akan ada yang ke-2. Geliat seni rupa di Bangkalan masih kurang aktif. Untuk itu kami berinisiatif mengadakan kegiatan yang akan diadakan setahun sekali ini,” ungkapnya.

Seni rupa, lanjutnya, sebenarnya bukan program yang dominan di KML. Namun, pertemuan dengan para pelaku seni rupa menjadi jalan. Kemudian, para perupa ditawarkan mengadakan kegiatan di KML. Kesepakatan pun timbul untuk mengadakan pameran.

Tema idiot diangkat untuk menggambarkan kondisi kehidupan saat ini. Ada aspek kritis. Pada masa ini, kata Helmy, banyak orang yang sudah merasa pintar. Namun pintarnya ngawur. Pintarnya merusak.

Pameran ini sekaligus mengajak menjadi idiot. Sebab dalam idiot, ada kejeniusan yang terpendam. Menurut Helmy, idiot itu pintar menemukan sesuatu. Menciptakan sesuatu.

”Idiot lebih pada cermin secara umum untuk mengajak kita kembali pada titik pikiran terendah. Untuk menemukan suatu kemurnian,” ujar pria dengan kepala plontos itu.

Helmy menjelaskan, mengajak pelajar dan mahasiswa bincang seni rupa bertujuan memberikan pemahaman seputar seni rupa. Bahwa, seni rupa tidak melulu soal lukisan. Tidak melulu soal realisme.

”Setidaknya pelajar bisa paham. Khususnya dengan seni rupa. Antara yang realisme, surealisme, abstrak, instalasi, dan sebagainya,” paparnya sembari sesekali menunjukkan beberapa karya yang dipampang.

Tidak hanya pelajar dan mahasiswa, berbagai komunitas seni di Bangkalan juga diundang. Untuk bisa memberikan apresiasi maupun kritik masukan demi perbaikan pameran seni rupa ke depan. ”Kami butuh kritik sebagai bahan masukan untuk bisa menjadi lebih baik,” tuturnya.

Baca Juga :  Pemkab Bangkalan Tak Anggarkan Konservasi Koleksi Museum

Chairul Anwar, pemilik karya Bhujar mengatakan, seni rupa di kabupaten ujung barat Pulau Madura ini lama tidak ada aktivitas. Sekitar lima tahun lebih, tidak banyak pameran seni rupa. Ada, namun stagnan.

”Dengan adanya pameran ini, diharapkan generasi selanjutnya bisa lebih bersemangat lagi. Khususnya untuk menggeluti bidang seni rupa,” harap pria yang rambutnya memutih itu. ”Bidang kesenian masih perlu lebih diperhatikan,” lanjutnya.

Dukungan dari semua pihak untuk dunia kesenian sangat dibutuhkan supaya terus berkembang dan melahirkan karya-karya yang bisa disajikan. Karya yang dia tampilkan pada kesempatan tersebut bertemakan Bhujar. Tema tersebut pada dasarnya menggambarkan kehidupan. Hidup kemudian mati. Usaha hasilnya bisa dinikmati.

”Buyar. Salah satu karya saya odi’=kento’ (hidup sama dengan kentut). Ditahan, dilepaskan, lega. Begitulah hidup,” ungkapnya.

Ketua DPRD Bangkalan Imron Rosyadi yang hadir pada saat pembukaan Pameran Seni Rupa Manifesto Idiot #1 menjadi pusat perhatian. Di antara para seniman, dia menjadi hadirin yang paling rapi dalam berpakaian.

Dalam sambutannya dia mengutarakan soal idiot. Imron merasa menjadi orang idiot dari segi berpakaian dibandingkan para hadirin yang notabene merupakan pelaku seni. ”Saya benar-benar menjadi idiot. Situasi memaksa saya tampil seperti idiot. Berpakaian rapi di antara para seniman yang berpakaian sederhana,” ucapnya mencairkan suasana.

BANGKALAN – Kesenian di Bangkalan terus menunjukkan geliat. Berbagai kegiatan seni disajikan. Salah satunya pameran seni rupa bertemakan Manifesto Idiot #1 yang digelar Komunitas Masyarakat Lumpur (KML) Bangkalan.

Lukisan mural terpampang tepat di depan SDN Kemayoran 1 Bangkalan. Pepohonan rindang menyajikan keteduhan menuju sekretariat KML Bangkalan. Seperti biasa, bunyi bising kendaraan yang melintas di Jalan Teuku Umar mengisi keheningan. Di antara pepohonan rindang itu, lembaran kain hitam terbentang membentuk ruang.

Hiasan kanan kiri terisi oleh karya-karya perupa memanjakan mata. Lukisan realisme, abstrak, instalasi, hingga kaligrafi tersaji. Berbagai karya seni ada di pameran seni rupa bertemakan Manifesto Idiot #1 itu. Delapan perupa asal Bangkalan berkolaborasi menampilkan karyanya.


Chairul Anwar menyajikan karyanya Bhujar, Syah-Han dengan karyanya Nongngep, dan Joe menyajikan karya Temba’ Cethagga. Kemudian ada Anwar Sadat dengan karyanya Farce Idiota. Edy Art menyajikan karya Paggun, Roz Ekki dengan karyanya Bu’-tabu’an, Yudi Metrix dengan karyanya Ngomongan, dan Irza Nova Husna menyajikan karya Baong.

Pembina KML Bangkalan M. Helmy Prasetya dan Ketua KML Agus Alan beserta anggota menyambut kedatangan Jawa Pos Radar Madura. Lalu, bincang santai seputar pameran yang tengah berlangsung. Kopi hitam yang masih mengepul menemani. Usai bincang-bincang, selanjutnya keliling lokasi pameran.

Helmy menyampaikan, pameran diselenggarakan selama tiga hari. Mulai 12 sampai 14 Oktober 2018. Selain memamerkan karya seni rupa, gelaran ini menghadirkan pelaku seni, pelajar, dan mahasiswa. Mereka diajak berdiskusi dalam forum apresiasi.

Dia menjelaskan, pameran seni rupa Manifesto Idiot #1 memang baru digelar. Ke depan, akan dijadikan agenda rutin tahunan untuk menampung karya-karya seni perupa di Bangkalan. dengan begitu, kesenian di Bangkalan terus berkembang dan berwarna. Jadi tidak hanya sastra, teater, dan musik.

Baca Juga :  Sastra Madura Kembali Melangit dalam Konsistensi LHAG

”Akan ada yang ke-2. Geliat seni rupa di Bangkalan masih kurang aktif. Untuk itu kami berinisiatif mengadakan kegiatan yang akan diadakan setahun sekali ini,” ungkapnya.

Seni rupa, lanjutnya, sebenarnya bukan program yang dominan di KML. Namun, pertemuan dengan para pelaku seni rupa menjadi jalan. Kemudian, para perupa ditawarkan mengadakan kegiatan di KML. Kesepakatan pun timbul untuk mengadakan pameran.

Tema idiot diangkat untuk menggambarkan kondisi kehidupan saat ini. Ada aspek kritis. Pada masa ini, kata Helmy, banyak orang yang sudah merasa pintar. Namun pintarnya ngawur. Pintarnya merusak.

Pameran ini sekaligus mengajak menjadi idiot. Sebab dalam idiot, ada kejeniusan yang terpendam. Menurut Helmy, idiot itu pintar menemukan sesuatu. Menciptakan sesuatu.

”Idiot lebih pada cermin secara umum untuk mengajak kita kembali pada titik pikiran terendah. Untuk menemukan suatu kemurnian,” ujar pria dengan kepala plontos itu.

Helmy menjelaskan, mengajak pelajar dan mahasiswa bincang seni rupa bertujuan memberikan pemahaman seputar seni rupa. Bahwa, seni rupa tidak melulu soal lukisan. Tidak melulu soal realisme.

”Setidaknya pelajar bisa paham. Khususnya dengan seni rupa. Antara yang realisme, surealisme, abstrak, instalasi, dan sebagainya,” paparnya sembari sesekali menunjukkan beberapa karya yang dipampang.

Tidak hanya pelajar dan mahasiswa, berbagai komunitas seni di Bangkalan juga diundang. Untuk bisa memberikan apresiasi maupun kritik masukan demi perbaikan pameran seni rupa ke depan. ”Kami butuh kritik sebagai bahan masukan untuk bisa menjadi lebih baik,” tuturnya.

Baca Juga :  Tora Layak Ada di Setiap Perpustakaan

Chairul Anwar, pemilik karya Bhujar mengatakan, seni rupa di kabupaten ujung barat Pulau Madura ini lama tidak ada aktivitas. Sekitar lima tahun lebih, tidak banyak pameran seni rupa. Ada, namun stagnan.

”Dengan adanya pameran ini, diharapkan generasi selanjutnya bisa lebih bersemangat lagi. Khususnya untuk menggeluti bidang seni rupa,” harap pria yang rambutnya memutih itu. ”Bidang kesenian masih perlu lebih diperhatikan,” lanjutnya.

Dukungan dari semua pihak untuk dunia kesenian sangat dibutuhkan supaya terus berkembang dan melahirkan karya-karya yang bisa disajikan. Karya yang dia tampilkan pada kesempatan tersebut bertemakan Bhujar. Tema tersebut pada dasarnya menggambarkan kehidupan. Hidup kemudian mati. Usaha hasilnya bisa dinikmati.

”Buyar. Salah satu karya saya odi’=kento’ (hidup sama dengan kentut). Ditahan, dilepaskan, lega. Begitulah hidup,” ungkapnya.

Ketua DPRD Bangkalan Imron Rosyadi yang hadir pada saat pembukaan Pameran Seni Rupa Manifesto Idiot #1 menjadi pusat perhatian. Di antara para seniman, dia menjadi hadirin yang paling rapi dalam berpakaian.

Dalam sambutannya dia mengutarakan soal idiot. Imron merasa menjadi orang idiot dari segi berpakaian dibandingkan para hadirin yang notabene merupakan pelaku seni. ”Saya benar-benar menjadi idiot. Situasi memaksa saya tampil seperti idiot. Berpakaian rapi di antara para seniman yang berpakaian sederhana,” ucapnya mencairkan suasana.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/