26.9 C
Madura
Saturday, January 28, 2023

Tiket Menuju Tarim

KETIKA kami mengunjungi kota ini, kami mencium bau harum dari tanahnya bagaikan bau minyak anbar yang semerbak wanginya dan kami berjalan di kota ini dengan bertelanjang kaki karena kami menyakini kami sedang berjalan di atas lembah suci (hlm. 7).

Tarim? Seperti apa kota Tarim? Mengapa sering disebut sebagai kota seribu wali? Keistimewaan apa yang dimiliki kota Tarim sampai sebutir debu pun dianggap mulia?

Catatan dari Tarim adalah buku karangan Ismael Amin Kholil atau disapa dengan Ra Ismail –diambil dari kata lora sebutan untuk anak kiai Madura– lahir di Bangkalan, Madura, 17 November 1992 dari pasangan KH. Amin Kholil dan Nyai Hj. Syamsun Musyriqoh.

Beliau merupakan salah satu alumnus Darul Musthofa di bawah asuhan Habib Umar bin Hafidz. Selama enam tahun lebih di Tarim, ia pernah menjabat sebagai ketua persatuan pelajar Madura di Darul Musthofa. Dan, pada akhir 2018, ia pulang ke tanah air untuk menyebarkan ilmu yang selama ini ia dapatkan dari para gurunya.

Sekarang beliau aktif sebagai pengasuh PP Al Muhajirin Geger, Bangkalan. Ia juga menjadi dewan Majelis Rasulullah SAW Korwil Bangkalan dan juga menjabat sebagai katib tim Turots Syaikhona Kholil Bangkalan. Beliau juga masih aktif berbagi ilmu dan pengalaman dalam berbagai seminar dan juga di akun-akun media sosialnya.

Baca Juga :  Pemkab Sumenep dan IFI Jalin Kerja Sama Kebudayaan

Melalui bukunya, Ismail Amin Kholil mengajak pembaca untuk mengenal seluk-beluk kota Tarim, baik dari budaya masyarakatnya maupun perilaku, sikap, dan akhlak para habaib di kota penuh keramat yang patut diteladani. Dari Habib Umar bin Hafidz yang merelakan keluarganya kedinginan demi kenyamanan para santrinya, sampai kisah Habib Ali Jufri yang memilih jalan dakwah berbeda dari ayahnya yang terjun ke dunia politik, serta kisah masyarakat Tarim yang meratapi bulan Ramadan yang mulai beranjak pergi.

Buku ini sangat cocok untuk para generasi muda yang sedang mendambakan kota Tarim sebagai kota tujuan untuk menuntut ilmu, karena setiap lembarannya terdapat kisah yang sangat menginspirasi. Melalui buku ini, penulis berhasil membawa imajinasi pembaca merasakan atmosfer dari kota yang disebut-sebut sebagai kota seribu wali itu. Bagi saya buku ini adalah tiket menuju Tarim tanpa harus membayar seharga tiket pesawat sebenarnya.

Baca Juga :  Bedah Buku Tora Meriah

Buku ini disusun secara baik dan sistematis dengan bahasa yang mudah dipahami. Deskripsi yang berada di setiap subjudul betul-betul menggambarkan setiap tempat yang pernah penulis kunjungi. Di halaman 17, ”Masjid-masjid di sini mempunyai sistem tarawih estafet. Misal, jam 19.00 di masjid A, jam 19.30 di masjid B, jam 20.00 masjid C, begitu seterusnya sampai memasuki waktu sahur. Menjadi sebuah kebiasaan bagi sebagian orang di sini, apalagi di 10 hari terakhir Ramadan melakukan salat Tarawih loncat-loncat, dari satu masjid ke masjid lainnya, imbasnya Tarim semalaman penuh selalu hidup dengan imam tarawih,” ini merupakan contoh bagaimana penulis mendeskripsikan dengan bahasa yang sangat informatif kepada pembaca.

Dengan membaca buku ini secara keseluruhan, sama halnya telah melakukan perjalanan dan mengenal kota Tarim. Selain itu, wawasan pembaca akan bertambah, karena di setiap subjudulnya terdapat kisah yang sangat menginspirasi dan siap menggetarakan hati para pembaca karena tergugah terhadap akhlak dan perilaku para habaib yang dituangkan penulis pada bukunya. (*)

LALA OLIVIA

Mahasiswa IDIA Prenduan

KETIKA kami mengunjungi kota ini, kami mencium bau harum dari tanahnya bagaikan bau minyak anbar yang semerbak wanginya dan kami berjalan di kota ini dengan bertelanjang kaki karena kami menyakini kami sedang berjalan di atas lembah suci (hlm. 7).

Tarim? Seperti apa kota Tarim? Mengapa sering disebut sebagai kota seribu wali? Keistimewaan apa yang dimiliki kota Tarim sampai sebutir debu pun dianggap mulia?

Catatan dari Tarim adalah buku karangan Ismael Amin Kholil atau disapa dengan Ra Ismail –diambil dari kata lora sebutan untuk anak kiai Madura– lahir di Bangkalan, Madura, 17 November 1992 dari pasangan KH. Amin Kholil dan Nyai Hj. Syamsun Musyriqoh.


Beliau merupakan salah satu alumnus Darul Musthofa di bawah asuhan Habib Umar bin Hafidz. Selama enam tahun lebih di Tarim, ia pernah menjabat sebagai ketua persatuan pelajar Madura di Darul Musthofa. Dan, pada akhir 2018, ia pulang ke tanah air untuk menyebarkan ilmu yang selama ini ia dapatkan dari para gurunya.

Sekarang beliau aktif sebagai pengasuh PP Al Muhajirin Geger, Bangkalan. Ia juga menjadi dewan Majelis Rasulullah SAW Korwil Bangkalan dan juga menjabat sebagai katib tim Turots Syaikhona Kholil Bangkalan. Beliau juga masih aktif berbagi ilmu dan pengalaman dalam berbagai seminar dan juga di akun-akun media sosialnya.

Baca Juga :  Paradoks Tubuh dalam Biografi Garam

Melalui bukunya, Ismail Amin Kholil mengajak pembaca untuk mengenal seluk-beluk kota Tarim, baik dari budaya masyarakatnya maupun perilaku, sikap, dan akhlak para habaib di kota penuh keramat yang patut diteladani. Dari Habib Umar bin Hafidz yang merelakan keluarganya kedinginan demi kenyamanan para santrinya, sampai kisah Habib Ali Jufri yang memilih jalan dakwah berbeda dari ayahnya yang terjun ke dunia politik, serta kisah masyarakat Tarim yang meratapi bulan Ramadan yang mulai beranjak pergi.

Buku ini sangat cocok untuk para generasi muda yang sedang mendambakan kota Tarim sebagai kota tujuan untuk menuntut ilmu, karena setiap lembarannya terdapat kisah yang sangat menginspirasi. Melalui buku ini, penulis berhasil membawa imajinasi pembaca merasakan atmosfer dari kota yang disebut-sebut sebagai kota seribu wali itu. Bagi saya buku ini adalah tiket menuju Tarim tanpa harus membayar seharga tiket pesawat sebenarnya.

Baca Juga :  Ramadan-Lebaran Pengunjung Perpustakaan Berkurang Drastis
- Advertisement -

Buku ini disusun secara baik dan sistematis dengan bahasa yang mudah dipahami. Deskripsi yang berada di setiap subjudul betul-betul menggambarkan setiap tempat yang pernah penulis kunjungi. Di halaman 17, ”Masjid-masjid di sini mempunyai sistem tarawih estafet. Misal, jam 19.00 di masjid A, jam 19.30 di masjid B, jam 20.00 masjid C, begitu seterusnya sampai memasuki waktu sahur. Menjadi sebuah kebiasaan bagi sebagian orang di sini, apalagi di 10 hari terakhir Ramadan melakukan salat Tarawih loncat-loncat, dari satu masjid ke masjid lainnya, imbasnya Tarim semalaman penuh selalu hidup dengan imam tarawih,” ini merupakan contoh bagaimana penulis mendeskripsikan dengan bahasa yang sangat informatif kepada pembaca.

Dengan membaca buku ini secara keseluruhan, sama halnya telah melakukan perjalanan dan mengenal kota Tarim. Selain itu, wawasan pembaca akan bertambah, karena di setiap subjudulnya terdapat kisah yang sangat menginspirasi dan siap menggetarakan hati para pembaca karena tergugah terhadap akhlak dan perilaku para habaib yang dituangkan penulis pada bukunya. (*)

LALA OLIVIA

Mahasiswa IDIA Prenduan

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/