alexametrics
29.3 C
Madura
Sunday, May 29, 2022

Seniman Madura Tampilkan Bawakan Buk Marliyah di Pekan Kesenian Bali

BANGKALAN – Seniman punya cara untuk memperkenalkan khazanah kebudayaan kepada masyarakat luar. Kebanggaan tak terkira jika bisa mementaskan kesenian lokal di pentas nasional. Salah satunya ketika tampil di Pekan Kesenian Bali.

Dalam sebuah kesempatan, Afrizal Malna pernah mengatakan bahwa pertunjukan masa kini penuh tantangan. Diperlukan kajian agar menjadi pertunjukan pengetahuan. Selain itu, pertunjukan itu dihadirkan dengan kemasan berbeda dari yang sudah ada.

Dengan demikian, pertunjukan seni tidak kaku dan tetap memberikan rasa. Selain itu, bisa menyita perhatian penonton. Upaya ini yang dikejar oleh para pelaku seni di Bangkalan.

Seniman Kota Salak tidak hanya memperkenalkan seni budaya tradisional secara monoton. Mereka juga sekaligus menunjukkan jika kesenian klasik tetap mampu menjawab tantangan zaman dan pasar.

Hal itulah yang diangkat saat mengikuti Pekan Kesenian Bali (PKB) pada 10 Juni hingga 8 Juli lalu. Bangkalan menjadi salah satu peserta dalam event berskala nasional yang diikuti seniman dari berbagai daerah di Nusantara.

Baca Juga :  Bangun Mimpi Anak Pulau Garam

Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bangkalan Hendra Gemma Dominan menyampaikan, seniman ujung barat Pulau Madura mendapatkan kesempatan tampil pada acara penutupan. Respons penonton sangat bagus. Itu ditandai dengan tempat yang disediakan saat itu penuh.

Tanggapan positif itu karena penampilan seni budaya Madura dianggap hal baru. Bangkalan ikut pergelaran PKB sejak 2015. Setiap tahun selalu berinovasi untuk menyajikan tampilan yang berbeda.

”Lagu yang ditampilkan saat itu di antaranya Kaelangan Jajan dan Pornama e Penggir Sereng diaransemen Sanggar Tarara,” jelasnya Rabu (12/7).

Presentasi pertunjukannya lebih dititikberatkan kepada tarian. Sementara penampilan musik itu untuk mengisi kekosongan pada saat pemain mengganti kostum. Tari tradisional yang ditampilkan di antaranya Bekasan, Kamantakah, Lengga’, Angklung Topeng, dan Rampak Jidor.

Selain itu juga menampilkan tari Pasemowan Kerapan Sapi, Bentoran Adat, Buk Marliyah, dan Gumbek Nemor. Lalu, tari Tandang Bangkalanan. Selain Sanggar Tarara, sejumlah komunitas juga dilibatkan. Seperti Sanggar Paseban, Komunitas Masyarakat Lumpur (KML), Sanggar Maharani, dan Rupa Madurese.

Baca Juga :  300 Pengukir Akan Unjuk Kebolehan

Penampilan yang dinilai paling memberikan kesan bagi masyarakat Bali yakni saat Sanggar Tarara menampilkan kejungan oleh tandha’. Sebab menurut penonton, suara vokal yang melengking dengan cengkok yang khas seorang tandha’ tersebut merupakan sebuah peninggalan yang tidak ternilai harganya.

”Harapan ke depan, Bangkalan bisa mengadakan event seni budaya berskala nasional dan menjadi agenda tahunan,” harapnya.

Pembina Sanggar Tarara Sudarsono menyampaikan, pihaknya selalu siap memperkenalkan budaya dan seni di Madura. Terlebih sebagai upaya pelestarian. Dengan demikian, seni budaya tetap hidup dan dikenal oleh masyarakat. Jadi orang luar tidak hanya tahu tentang kerapan sapi.

”Kami sangat bangga bisa membawa nama Bangkalan dan Madura. Tidak lain ini untuk melestarikan dan mengembangkan seni budaya di Bangkalan,” ucapnya.

BANGKALAN – Seniman punya cara untuk memperkenalkan khazanah kebudayaan kepada masyarakat luar. Kebanggaan tak terkira jika bisa mementaskan kesenian lokal di pentas nasional. Salah satunya ketika tampil di Pekan Kesenian Bali.

Dalam sebuah kesempatan, Afrizal Malna pernah mengatakan bahwa pertunjukan masa kini penuh tantangan. Diperlukan kajian agar menjadi pertunjukan pengetahuan. Selain itu, pertunjukan itu dihadirkan dengan kemasan berbeda dari yang sudah ada.

Dengan demikian, pertunjukan seni tidak kaku dan tetap memberikan rasa. Selain itu, bisa menyita perhatian penonton. Upaya ini yang dikejar oleh para pelaku seni di Bangkalan.


Seniman Kota Salak tidak hanya memperkenalkan seni budaya tradisional secara monoton. Mereka juga sekaligus menunjukkan jika kesenian klasik tetap mampu menjawab tantangan zaman dan pasar.

Hal itulah yang diangkat saat mengikuti Pekan Kesenian Bali (PKB) pada 10 Juni hingga 8 Juli lalu. Bangkalan menjadi salah satu peserta dalam event berskala nasional yang diikuti seniman dari berbagai daerah di Nusantara.

Baca Juga :  PSM Berikan Ruang kepada Pencinta Seni

Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bangkalan Hendra Gemma Dominan menyampaikan, seniman ujung barat Pulau Madura mendapatkan kesempatan tampil pada acara penutupan. Respons penonton sangat bagus. Itu ditandai dengan tempat yang disediakan saat itu penuh.

Tanggapan positif itu karena penampilan seni budaya Madura dianggap hal baru. Bangkalan ikut pergelaran PKB sejak 2015. Setiap tahun selalu berinovasi untuk menyajikan tampilan yang berbeda.

”Lagu yang ditampilkan saat itu di antaranya Kaelangan Jajan dan Pornama e Penggir Sereng diaransemen Sanggar Tarara,” jelasnya Rabu (12/7).

Presentasi pertunjukannya lebih dititikberatkan kepada tarian. Sementara penampilan musik itu untuk mengisi kekosongan pada saat pemain mengganti kostum. Tari tradisional yang ditampilkan di antaranya Bekasan, Kamantakah, Lengga’, Angklung Topeng, dan Rampak Jidor.

Selain itu juga menampilkan tari Pasemowan Kerapan Sapi, Bentoran Adat, Buk Marliyah, dan Gumbek Nemor. Lalu, tari Tandang Bangkalanan. Selain Sanggar Tarara, sejumlah komunitas juga dilibatkan. Seperti Sanggar Paseban, Komunitas Masyarakat Lumpur (KML), Sanggar Maharani, dan Rupa Madurese.

Baca Juga :  UMM Lestarikan Tata Bahasa Indonesia

Penampilan yang dinilai paling memberikan kesan bagi masyarakat Bali yakni saat Sanggar Tarara menampilkan kejungan oleh tandha’. Sebab menurut penonton, suara vokal yang melengking dengan cengkok yang khas seorang tandha’ tersebut merupakan sebuah peninggalan yang tidak ternilai harganya.

”Harapan ke depan, Bangkalan bisa mengadakan event seni budaya berskala nasional dan menjadi agenda tahunan,” harapnya.

Pembina Sanggar Tarara Sudarsono menyampaikan, pihaknya selalu siap memperkenalkan budaya dan seni di Madura. Terlebih sebagai upaya pelestarian. Dengan demikian, seni budaya tetap hidup dan dikenal oleh masyarakat. Jadi orang luar tidak hanya tahu tentang kerapan sapi.

”Kami sangat bangga bisa membawa nama Bangkalan dan Madura. Tidak lain ini untuk melestarikan dan mengembangkan seni budaya di Bangkalan,” ucapnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/