alexametrics
20.7 C
Madura
Thursday, May 26, 2022

Menghikmati Kepenyairan, Mengarungi Kesusastraan

BOGOR – ”Menjadi penyair adalah takdir.” Demikian penyair Acep Zamzam Noor membuka diskusinya di hadapan puluhan penyair muda yang mengikuti Program Penulisan Mastera: Puisi, di Hotel Adhyaksa, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, 2017. 

Karena itu, penyair dituntut harus lebih tekun dan sabar dalam ”mengamalkan hidayah” takdir kepenyairan. Sebab, menurut penulis buku Menjadi Penyair Lagi itu, tak sembarang orang terpilih dan mendapat ”hidayah” menjadi penyair.

Seorang penyair tak harus membuat atau memaksa orang lain agar menyebut dan memanggil dirinya penyair. Sebagaimana banyak ustad dan kiai yang melabelkan dirinya sebagai ustad dan kiai, yang belakangan marak terjadi di Indonesia.

Selain menghadirkan Acep Zamzam Noor, Program Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera): Puisi , juga menghadirkan penyair dan esais Agus R. Sarjono, Joko Pinurbo, Cecep Samsul Hari, dan tiga narasumber dari tiga negara. Yakni, Dr. Haji bin Radin dari Brunei Darussalam, Dr. Shamsudin bin Othman dari Malaysia, dan Chairul Fahmy Hussaini dari Singapura.

Baca Juga :  Dimmong, Pujian Ketika Musim Tanam Tiba

Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa Dr Hurip Danu Ismadi dalam sambutannya menyebutkan tiga hal yang perlu diperhatikan dan dikembangkan penyair. Yakni, olah rasa, olah pikir, dan olah karya. Dalam olah rasa, seorang penyair adalah seorang perasa yang mau tidak mau mestilah peka terhadap peristiwa yang terjadi di sekitarnya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga apa yang ditulisnya (olah pikir) benar-benar membumi.

Selanjutnya, hasil karyanya dapat dirasakan oleh pembaca dan direnungkan. Kalau perlu, imbuh Pemred Majalah Pusat Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa itu, puisi yang ditulis itu dapat memberi pencerahan kepada publik.

Program Penulisan Mastera: Puisi diikuti oleh peserta dari Brunei Darussalam, Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Peserta terdiri dari penyair-penyair muda. Salah satunya Matroni Muserang dari Kecamatan Gapura, Sumenep. Acara pada 7–13 Agustus 2017 berlangsung engan khidmat. 

Baca Juga :  Wajib Bahasa Madura Nilai Tak Perlu Tunggu Perbup

Menurut Ganjar Harimansyah selaku ketua panitia, kegiatan ini di samping menjadi program unggulan Mastera Indonesia, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, juga menjadi ajang silaturahmi penyair-penyair muda Asia Tenggara. 

”Dengan Program Penulisan Mastera: Puisi, kita berharap generasi penyair muda Asia Tenggara terus tumbuh dan karya-karya mereka kelak dapat mewarnai perpuisian di Asia Tenggara,” harapnya, Jumat (11/8).

BOGOR – ”Menjadi penyair adalah takdir.” Demikian penyair Acep Zamzam Noor membuka diskusinya di hadapan puluhan penyair muda yang mengikuti Program Penulisan Mastera: Puisi, di Hotel Adhyaksa, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, 2017. 

Karena itu, penyair dituntut harus lebih tekun dan sabar dalam ”mengamalkan hidayah” takdir kepenyairan. Sebab, menurut penulis buku Menjadi Penyair Lagi itu, tak sembarang orang terpilih dan mendapat ”hidayah” menjadi penyair.

Seorang penyair tak harus membuat atau memaksa orang lain agar menyebut dan memanggil dirinya penyair. Sebagaimana banyak ustad dan kiai yang melabelkan dirinya sebagai ustad dan kiai, yang belakangan marak terjadi di Indonesia.


Selain menghadirkan Acep Zamzam Noor, Program Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera): Puisi , juga menghadirkan penyair dan esais Agus R. Sarjono, Joko Pinurbo, Cecep Samsul Hari, dan tiga narasumber dari tiga negara. Yakni, Dr. Haji bin Radin dari Brunei Darussalam, Dr. Shamsudin bin Othman dari Malaysia, dan Chairul Fahmy Hussaini dari Singapura.

Baca Juga :  Dimmong, Pujian Ketika Musim Tanam Tiba

Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa Dr Hurip Danu Ismadi dalam sambutannya menyebutkan tiga hal yang perlu diperhatikan dan dikembangkan penyair. Yakni, olah rasa, olah pikir, dan olah karya. Dalam olah rasa, seorang penyair adalah seorang perasa yang mau tidak mau mestilah peka terhadap peristiwa yang terjadi di sekitarnya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga apa yang ditulisnya (olah pikir) benar-benar membumi.

Selanjutnya, hasil karyanya dapat dirasakan oleh pembaca dan direnungkan. Kalau perlu, imbuh Pemred Majalah Pusat Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa itu, puisi yang ditulis itu dapat memberi pencerahan kepada publik.

Program Penulisan Mastera: Puisi diikuti oleh peserta dari Brunei Darussalam, Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Peserta terdiri dari penyair-penyair muda. Salah satunya Matroni Muserang dari Kecamatan Gapura, Sumenep. Acara pada 7–13 Agustus 2017 berlangsung engan khidmat. 

Baca Juga :  Belajar dari Penyair Mastera Puisi

Menurut Ganjar Harimansyah selaku ketua panitia, kegiatan ini di samping menjadi program unggulan Mastera Indonesia, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, juga menjadi ajang silaturahmi penyair-penyair muda Asia Tenggara. 

”Dengan Program Penulisan Mastera: Puisi, kita berharap generasi penyair muda Asia Tenggara terus tumbuh dan karya-karya mereka kelak dapat mewarnai perpuisian di Asia Tenggara,” harapnya, Jumat (11/8).

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/