alexametrics
21.9 C
Madura
Wednesday, July 6, 2022

Sihir Kata dan Kejutan-Kejutan Puisi

JIKA Anda menyukai kejutan, buku karya Gratiagusti Chananya Rompas berjudul e____y ini cocok untuk Anda miliki. Betapa tidak, buku bersampul ungu dengan judul unik itu sudah mengejutkan sejak judul dan halaman sampul. Di sampul buku itu tertulis kumpulan tulisan. Di rak buku gramedia (juga di beberapa lapak buku online di toko ijo), buku ini diletakkan di rak novel. Meskipun sebenarnya sebagian besar isinya adalah puisi.

Puisi? Ya. Tapi tunggu. Buang dulu pikiran Anda bahwa membaca buku ini Anda akan dikepung dengan metafora rumit atau kata-kata arkais yang menuntut pembacanya membuka kamus kemudian merasa pening. Sungguh Anda tak akan menemukan itu. Kata-kata yang digunakan dalam buku ini begitu sederhana. Memang selalu ada tantangan dalam upaya menonjolkan makna dan kejujuran melului kata-kata sederhana. Di satu sisi, hal ini tidak membuat pembaca mengernyitkan dahinya untuk menguak makna yang hendak disampaikan, tapi di sisi lain, kesederhanaan kata kerap membuatnya jadi tidak artistik. Namun, buku ini cukup berhasil mengawinkan dua kutub itu. Mengejutkan sekaligus artistik.

Buku ini seperti sihir. Mula-mula saya membacanya dalam sekali duduk. Dan berhasil tentu saja. Sebab buku ini hanya 125 halaman dengan 72 judul. Namun nyatanya itu tidak cukup. Jika membaca cepat, ibarat memandang bukit jauh, maka membaca ulang adalah membuat jembatan menuju itu. Dan setiap kali membacanya ulang, penilaian saya pada buku ini tumbuh berkembang. Apa yang ditawarkan buku ini adalah rasa yang dibawa hampir di setiap bagian-bagiannya. Setiap kata yang dipilin di dalamnya membawa pembaca serasa berada di ayunan. Melayang dalam riang sekaligus kalut. Kadang juga ceria namun mendadak dibekuk suram tiada tara.

Baca Juga :  Bambang Parmadie, Penabuh Jimbe Itu Bergelar Doktor

Hal ini bisa dilihat bahkan sejak halaman pertama lewat puisi berjudul I feel alive when i’m dying. Yang hanya terdiri dari satu kalimat, yakni; I feel alive when i’m dying. Bermain dengan repetisi, kalimat itu ditulis 12 kali. Menariknya, setiap kalimat yang disusun itu berbeda tebal tipisnya. Mula-mula, tebal tipis kalimat itu sekadar ”permainan” tekan tombol ctrl+B saja. Tapi setelah dibaca ulang, justru saya menduga Gratiagusti Chanaya tidak sekadar menggunakan diksi yang biasa saja sebagai senjatanya, melainkan juga tombol bold untuk mengungkapkan perasaannya. Hal itu dilakukan lagi pada puisi berjudul BAYI (hlm. 36). Saya teringat bagaimana zikir dibacakan. Kadang dengan keras. Kadang dengan lirih. Kadang hanya gumam di hati. Bukankah emosi juga kerap demikian bagi tiap-tiap orang?

Ya. Puisi bisa menjadi media katarsis. Pelepasan. Baik itu hal-hal yang berkaitan dengan perasaan jatuh cinta, patah hati, dinamika hidup sehari-hari, pertarungan batin dengan diri sendiri, beban psikologi maupun pemikiran-pemikiran tertentu sebagai interpretasi keadaan sosial politik budaya di lingkungan sekitar kita. Dan setiap katarsis selalu punya kejutannya sendiri-sendiri.

Mau kejutan yang lain lagi? Silakan melompat ke halaman 83 dan bacalah puisi berjudul Keringatku. Anda bingung? Tenang. Kita bernasib sama. Tapi coba putarlah buku 180 derajat, dan woila, Anda sudah bisa membacanya, bukan? Begini isinya; keringatku/muncul/dari/decolletage/mengaliri/leherku/ittakes/its/slooowww/turn/mengikuti/belokan/my/jaw/line/meluncur/hampir/mendekati/ujung/luar/bibirku/terus/menyusuri/pipiku/masuk/ke/ujung/dalam/mataku/keluar/lagi/melintasi/tulang/alis/dan/terus/merayap/melalui/dahi/bulu/buku/halus/my/babies/hair/….

Bagi orang yang baru pertama membaca buku penyair kelahiran Jakarta dan merupakan salah satu pendiri komunitas BungaMatahari (BuMa) ini, akan terasa sekali keunikan yang hendak dibangun dari buku e___y ini. Namun buat mereka yang pernah membaca buku kumpulan puisi berjudul Kota ini Kembang Api (mula-mula diterbitkan Irish Pustaka, 2008. Kemudian, diterbitkan ulang dengan judul yang sama oleh Penerbit Gramedia, 2016) dan Non Spesifik (KPG, 2017) kejutan-kejutan yang dibuat dalam e___y oleh penerima Honourable Mention dari Hawker Prize for Southeast Asian Poetry 2018 ini justru tampak semakin matang.

Baca Juga :  Persembahkan Buku Puisi dan Pemeran untuk Guru Budi

Hal itu juga bisa dilihat saat Gratiagusti mencoba bermain dengan kaligram lewat puisi berjudul Kepala (hlm. 10). Biasanya disebut puisi konkret. Sekadar diketahui, puisi konkret merupakan puisi berbentuk atau berpola yang kata-katanya disusun sedemikian rupa untuk menggambarkan subjeknya. Meskipun bukan hal baru, tapi Gratiagusti mencoba menghidupkannya lagi di tengah gempuran quote-quote pendek penuh motivasi ala TikTok atau reel Instagram. Tak banyak penyair yang melakukan eksperimen seperti ini sekarang, meskipun puisi konkret memiliki tradisi panjang dalam khazanah puisi dunia.

Karena itu, buku ini cocok bagi mereka yang ingin mengetahui bagaimana penyair bekerja tidak saja dengan perangkat bahasa yang dikuasainya, tetapi juga dengan kekayaan pengetahuannya. Buku ini dengan elegan memamerkan keduanya. Di buku ini betapa tanda baca, nonspasi antarkata, bahkan kurung kurawal, sampai pengaturan letak kata hingga tipografi ternyata bisa turut andil memberi suara bagi keriangan, raungan, teriakan, sekaligus rintihan di dalamnya. Ibarat juru masak, Gratiagusti seolah punya bumbu-bumbu rahasia, yang membuat masakan mempunyai cita rasa yang berbeda. Dan buku ini adalah buktinya. Dan Anda tidak akan tahu kejutan rasanya jika belum mencicipinya, bukan? (*)

*)Guru matematika di SMPN 3 Sampang

JIKA Anda menyukai kejutan, buku karya Gratiagusti Chananya Rompas berjudul e____y ini cocok untuk Anda miliki. Betapa tidak, buku bersampul ungu dengan judul unik itu sudah mengejutkan sejak judul dan halaman sampul. Di sampul buku itu tertulis kumpulan tulisan. Di rak buku gramedia (juga di beberapa lapak buku online di toko ijo), buku ini diletakkan di rak novel. Meskipun sebenarnya sebagian besar isinya adalah puisi.

Puisi? Ya. Tapi tunggu. Buang dulu pikiran Anda bahwa membaca buku ini Anda akan dikepung dengan metafora rumit atau kata-kata arkais yang menuntut pembacanya membuka kamus kemudian merasa pening. Sungguh Anda tak akan menemukan itu. Kata-kata yang digunakan dalam buku ini begitu sederhana. Memang selalu ada tantangan dalam upaya menonjolkan makna dan kejujuran melului kata-kata sederhana. Di satu sisi, hal ini tidak membuat pembaca mengernyitkan dahinya untuk menguak makna yang hendak disampaikan, tapi di sisi lain, kesederhanaan kata kerap membuatnya jadi tidak artistik. Namun, buku ini cukup berhasil mengawinkan dua kutub itu. Mengejutkan sekaligus artistik.

Buku ini seperti sihir. Mula-mula saya membacanya dalam sekali duduk. Dan berhasil tentu saja. Sebab buku ini hanya 125 halaman dengan 72 judul. Namun nyatanya itu tidak cukup. Jika membaca cepat, ibarat memandang bukit jauh, maka membaca ulang adalah membuat jembatan menuju itu. Dan setiap kali membacanya ulang, penilaian saya pada buku ini tumbuh berkembang. Apa yang ditawarkan buku ini adalah rasa yang dibawa hampir di setiap bagian-bagiannya. Setiap kata yang dipilin di dalamnya membawa pembaca serasa berada di ayunan. Melayang dalam riang sekaligus kalut. Kadang juga ceria namun mendadak dibekuk suram tiada tara.

Baca Juga :  Sumbangan Islam untuk Peradaban Dunia

Hal ini bisa dilihat bahkan sejak halaman pertama lewat puisi berjudul I feel alive when i’m dying. Yang hanya terdiri dari satu kalimat, yakni; I feel alive when i’m dying. Bermain dengan repetisi, kalimat itu ditulis 12 kali. Menariknya, setiap kalimat yang disusun itu berbeda tebal tipisnya. Mula-mula, tebal tipis kalimat itu sekadar ”permainan” tekan tombol ctrl+B saja. Tapi setelah dibaca ulang, justru saya menduga Gratiagusti Chanaya tidak sekadar menggunakan diksi yang biasa saja sebagai senjatanya, melainkan juga tombol bold untuk mengungkapkan perasaannya. Hal itu dilakukan lagi pada puisi berjudul BAYI (hlm. 36). Saya teringat bagaimana zikir dibacakan. Kadang dengan keras. Kadang dengan lirih. Kadang hanya gumam di hati. Bukankah emosi juga kerap demikian bagi tiap-tiap orang?

Ya. Puisi bisa menjadi media katarsis. Pelepasan. Baik itu hal-hal yang berkaitan dengan perasaan jatuh cinta, patah hati, dinamika hidup sehari-hari, pertarungan batin dengan diri sendiri, beban psikologi maupun pemikiran-pemikiran tertentu sebagai interpretasi keadaan sosial politik budaya di lingkungan sekitar kita. Dan setiap katarsis selalu punya kejutannya sendiri-sendiri.

Mau kejutan yang lain lagi? Silakan melompat ke halaman 83 dan bacalah puisi berjudul Keringatku. Anda bingung? Tenang. Kita bernasib sama. Tapi coba putarlah buku 180 derajat, dan woila, Anda sudah bisa membacanya, bukan? Begini isinya; keringatku/muncul/dari/decolletage/mengaliri/leherku/ittakes/its/slooowww/turn/mengikuti/belokan/my/jaw/line/meluncur/hampir/mendekati/ujung/luar/bibirku/terus/menyusuri/pipiku/masuk/ke/ujung/dalam/mataku/keluar/lagi/melintasi/tulang/alis/dan/terus/merayap/melalui/dahi/bulu/buku/halus/my/babies/hair/….

Bagi orang yang baru pertama membaca buku penyair kelahiran Jakarta dan merupakan salah satu pendiri komunitas BungaMatahari (BuMa) ini, akan terasa sekali keunikan yang hendak dibangun dari buku e___y ini. Namun buat mereka yang pernah membaca buku kumpulan puisi berjudul Kota ini Kembang Api (mula-mula diterbitkan Irish Pustaka, 2008. Kemudian, diterbitkan ulang dengan judul yang sama oleh Penerbit Gramedia, 2016) dan Non Spesifik (KPG, 2017) kejutan-kejutan yang dibuat dalam e___y oleh penerima Honourable Mention dari Hawker Prize for Southeast Asian Poetry 2018 ini justru tampak semakin matang.

Baca Juga :  Hari Buku, Pujangga Muda Madura Bedah Tora

Hal itu juga bisa dilihat saat Gratiagusti mencoba bermain dengan kaligram lewat puisi berjudul Kepala (hlm. 10). Biasanya disebut puisi konkret. Sekadar diketahui, puisi konkret merupakan puisi berbentuk atau berpola yang kata-katanya disusun sedemikian rupa untuk menggambarkan subjeknya. Meskipun bukan hal baru, tapi Gratiagusti mencoba menghidupkannya lagi di tengah gempuran quote-quote pendek penuh motivasi ala TikTok atau reel Instagram. Tak banyak penyair yang melakukan eksperimen seperti ini sekarang, meskipun puisi konkret memiliki tradisi panjang dalam khazanah puisi dunia.

Karena itu, buku ini cocok bagi mereka yang ingin mengetahui bagaimana penyair bekerja tidak saja dengan perangkat bahasa yang dikuasainya, tetapi juga dengan kekayaan pengetahuannya. Buku ini dengan elegan memamerkan keduanya. Di buku ini betapa tanda baca, nonspasi antarkata, bahkan kurung kurawal, sampai pengaturan letak kata hingga tipografi ternyata bisa turut andil memberi suara bagi keriangan, raungan, teriakan, sekaligus rintihan di dalamnya. Ibarat juru masak, Gratiagusti seolah punya bumbu-bumbu rahasia, yang membuat masakan mempunyai cita rasa yang berbeda. Dan buku ini adalah buktinya. Dan Anda tidak akan tahu kejutan rasanya jika belum mencicipinya, bukan? (*)

*)Guru matematika di SMPN 3 Sampang

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/