alexametrics
25.1 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Korona dan Kesempatan untuk Merenung

PAGEBLUK Covid-19 (Coronavirus Disease-2019) atau yang lebih karib dikenal sebagai virus korona sedang melanda berbagai belahan dunia. Hingga akhir Maret 2020, wabah ini telah menjangkiti penduduk di 200 negara. Tercatat ada 662.073 kasus hingga Ahad, 29/3/2020 pagi (www.kompas.com, diunduh 31/3/2020). Dari ratusan ribu kasus tersebut, 139.426 orang dinyatakan sembuh, namun telah memakan 30.780 korban jiwa. Masih dalam laman yang sama, data per akhir Maret, Indonesia mencatat 1.500 lebih kasus dengan korban jiwa mencapai 136 orang.

Pergerakan wabah yang sedemikian cepat menyebar ke seantero bumi adalah fenomena dahsyat yang mungkin tak terpikirkan manusia. Betapa makhluk Tuhan yang wujudnya supermikro ini telah mengguncangkan penduduk bumi. Efeknya domino, bergerak liar ke pelbagai bidang. Dari isu kesehatan, dampaknya kemudian menyentuh pula pada aspek ekonomi, pendidikan, sains, sosial, budaya hingga agama. Aktivitas bisnis perekonomian berhenti. Sekolah diliburkan. Kehidupan sosial dibatasi. Orang diminta berdiam di rumah. Kegiatan ibadah di ruang publik dibatasi. Cara orang berinteraksi pun menjadi berbeda untuk menghindari persebaran penyakit ini. Kepanikan melanda isi kepala mayoritas penduduk bumi.

Pada saat situasi menghendaki setiap insan membatasi kegiatan kesehariannya, inilah saat yang tepat melakukan banyak evaluasi diri. Merefleksikan segala yang telah tertempuh sepanjang usia yang terberi. Tentang diri. Tentang keluarga. Tentang manusia lain di sekitar. Tentang bangsa. Tentang alam semesta. Pun tentang Tuhan dan pranata agama yang diyakini.

Aktivitas permenungan ini juga salah satu yang dipesankan oleh Sunan Drajat. Salah satu ajaran hidup salah satu waliullah ini adalah heneng-hening-henung. Dalam keadaan diam (meneng) ini, kita akan memperoleh keheningan, dan dalam keadaan hening itulah kita akan mengendapkan seluruh cita luhur dengan segenap kedalaman pikir, hati, dan tindak yang selaras.

Pagebluk korona ini membawa manusia untuk (dipaksa) sejenak berdiam dalam keheningan untuk merenungkan tentang hidup dan kehidupan. Aktivitas muhasabah, perenungan mendalam ini penting untuk sesekali (jika bisa sesering mungkin) dilakukan setiap insan. Berdiam dalam sepi untuk mengetahui apa yang sejatinya isi dari ramai, begitu kata guru spiritual saya, Al Mukarrom Emha Ainun Najib.

Manusia modern yang dituntut keadaan untuk senantiasa bergerak cepat, dinamis dan diburu waktu, hari-hari ini dipaksa mengerem sebagian besar aktivitasnya. Falsafah Jawa alon-alon waton kelakon (biar lambat asal selamat) yang pada masa kiwari ini dianggap kuno menemukan relevansinya kembali. Bahwa sejatinya, pelambatan itu diperlukan oleh manusia untuk menemukan kembali kesejatiannya. Kecepatan, ketergesaan, dan segala atribut yang menjadi penciri mayoritas manusia modern harus diakui melenakan manusia untuk melihat ke dalam lebih intens.

Baca Juga :  Mengunjungi Gedung Galeri Seni Rupa yang Kondisinya Tidak Terawat

Jika kita mencoba melihat ke dalam diri secara jernih, sesungguhnya manusia akan mampu memaknai proses kehidupannya secara lebih baik. Hati nurani adalah penyeimbang dari kuasa rasionalitas yang dianugerahkan pada manusia. Hati nurani adalah wilayah Tuhan yang akan selalu mengarahkan pada sifat kebaikan (hanif). Segala jenis tindakan manusia ketika diukur dari kejernihan hati nurani, pasti akan terdengar sinyal dari Tuhan tentang baik-buruknya sesuatu itu. Dengan demikian, produk kerja akal (yang menjadi kelebihan penciptaan manusia) yang berupa rasio, pada proses selanjutnya memerlukan penilaian hati nurani sebagai penjaga gawang dari kebobolan nilai yang betentangan dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

Memaknai korona ini misalnya. Banyak hikmah yang akan didapat ketika coba melakukan perenungan mendalam. Wabah ini mengingatkan kembali betapa berkuasanya Tuhan. Kepongahan, kesombongan, dan segala hal ihwal yang mengunggulkan kehebatan diri, hari-hari ini tak bisa diandalkan lagi. Makhluk sekecil virus yang dikirim Tuhan ke seantero dunia dapat merenggut nyawa segala kalangan, tanpa terkecuali. Pun bisa menyentuh kaum cerdik pandai dan berpunya (secara harta materi) sekalipun.

Proses ikhtiar mencari cara pemberantasan atau pencegahan virus secara ilmiah rasionalistis berjalan seiring doa yang khusyuk secara religius spiritualistis. Kondisi ini menegaskan kembali bahwa Tuhan tidak membutuhkan apa pun dari manusia. Tuhan tidak berkepentingan atas diri manusia. Justru sebaliknya, dalam sisi fitrawi, manusialah yang memerlukan sebuah keyakinan tentang adanya Causa Prima, sebuah Dzat yang Maha, memiliki kekuatan di atas segala yang ada. Di sinilah kemudian Tuhan menegaskan eksistensinya. Bahwa, ada Realitas (r besar), yang Maha Esa, yang mengatur penciptaan langit dan bumi seisinya. Sebuah dasar atau landasan utama agama yang dibawa melalui perantaraan Nabi dan Rasul-Nya: ajaran Tauhid.

Hal kedua yang bisa dipetik pelajaran adalah pagebluk korona ini membuka mata kita semua tentang bagaimana memandang hubungan kita dengan antar manusia dan lingkungan alam semesta. Saat mencermati kondisi kekinian, dalam fenomena sosial yang berkembang, tebersit kegelisahan yang mendalam. Bumi dan segala perilaku penghuninya (terutama manusia) cenderung mengarah kepada kondisi yang menyesakkan dan mengkhawatirkan. Perilaku destruktif terhadap lingkungan, egoisme pribadi dan kelompok, tindakan koruptif dan manipulatif menjadi hidangan sehari-hari berita yang muncul di media massa. Lama-kelamaan, segala tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan nilai kemanusiaan tersebut dianggap sebagai hal yang wajar dan biasa. Inilah awal rangkaian munculnya beragam musibah, huru-hara, dan disharmoni di masyarakat.

Baca Juga :  Politik Sekarat,┬áSastra Menggugat!

Bumi seakan mencari keseimbangan baru saat mayoritas manusia ”dipaksa” sejenak mengerem aktivitasnya, terutama yang bernuansa destruktif. Manusia bisa lebih memperhatikan keluarga, tetangga, sahabat, dan lingkungan sekitar lebih intens di masa rehat ini. Lebih-lebih bagi yang diberi kemampuan materi lebih. Kemampuan empati perlu dihidupkan untuk memberikan sedikit hartanya kepada manusia lain yang terdampak karena melambatnya aktivitas (termasuk perekonomian).

Manusia adalah makhluk yang tercipta dalam bentuk sebaik-baiknya penciptaan. Manusia dikirim Tuhan sebagai wakil-Nya (khalifatullah fi al-ardh) yang seharusnya memaknai proses penciptaannya ke muka bumi untuk mentransfer nilai-nilai kebaikan bagi lingkungannya. Dengan seperangkat hardware (fisik/jasad) dan software (akal dan hati nurani) dalam paduannya yang sempurna, manusia mampu memimpin pengelolaan bumi dan isinya sesuai keinginan Tuhan. Namun apa lacur, kondisi idealitas ini seakan tak nampak sama sekali di tengah dominasi perilaku yang menjauhi nilai-nilai Ketuhanan. Manusia seakan tercerabut dari nilai asasinya untuk memaknai titah Tuhan untuk menjadi Rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil alamin).

Masih banyak hikmah lain yang akan tergali. Namun dua hal itu saja akan berdimensi sangat luas jika kita lakukan secara intensif di masa-masa krisis ini. Aktivitas berakrab ria dengan ”keheningan” menyadarkan (kembali) kemanusiaan kita. Kesibukan keseharian yang melenakan kita kurang berkomunikasi dengan ”diri” yang sejati. Proses mengenal (kembali) ”diri”, berkomunikasi secara intens dan dekat, teramat banyak tersedia waktu di masa-masa sulit ini. Belajar untuk mendengar desiran dan suara dari masing-masing anggota tubuh dan hati nurani akan mengasah kepekaan menangkap isyarat-isyarat intuitif. Jika itu terjalin secara intens dan ”hangat”, manusia akan mengenali kembali kesejatiannya. Akan lahir manusia-manusia baru yang lebih manusiawi ketika berhadapan dengan dirinya sendiri, manusia lain, dan alam sekitarnya. Semoga. 

 

*)Tinggal di Jurusan Akuntansi, FEB Universitas Trunojoyo Madura

- Advertisement -

PAGEBLUK Covid-19 (Coronavirus Disease-2019) atau yang lebih karib dikenal sebagai virus korona sedang melanda berbagai belahan dunia. Hingga akhir Maret 2020, wabah ini telah menjangkiti penduduk di 200 negara. Tercatat ada 662.073 kasus hingga Ahad, 29/3/2020 pagi (www.kompas.com, diunduh 31/3/2020). Dari ratusan ribu kasus tersebut, 139.426 orang dinyatakan sembuh, namun telah memakan 30.780 korban jiwa. Masih dalam laman yang sama, data per akhir Maret, Indonesia mencatat 1.500 lebih kasus dengan korban jiwa mencapai 136 orang.

Pergerakan wabah yang sedemikian cepat menyebar ke seantero bumi adalah fenomena dahsyat yang mungkin tak terpikirkan manusia. Betapa makhluk Tuhan yang wujudnya supermikro ini telah mengguncangkan penduduk bumi. Efeknya domino, bergerak liar ke pelbagai bidang. Dari isu kesehatan, dampaknya kemudian menyentuh pula pada aspek ekonomi, pendidikan, sains, sosial, budaya hingga agama. Aktivitas bisnis perekonomian berhenti. Sekolah diliburkan. Kehidupan sosial dibatasi. Orang diminta berdiam di rumah. Kegiatan ibadah di ruang publik dibatasi. Cara orang berinteraksi pun menjadi berbeda untuk menghindari persebaran penyakit ini. Kepanikan melanda isi kepala mayoritas penduduk bumi.

Pada saat situasi menghendaki setiap insan membatasi kegiatan kesehariannya, inilah saat yang tepat melakukan banyak evaluasi diri. Merefleksikan segala yang telah tertempuh sepanjang usia yang terberi. Tentang diri. Tentang keluarga. Tentang manusia lain di sekitar. Tentang bangsa. Tentang alam semesta. Pun tentang Tuhan dan pranata agama yang diyakini.


Aktivitas permenungan ini juga salah satu yang dipesankan oleh Sunan Drajat. Salah satu ajaran hidup salah satu waliullah ini adalah heneng-hening-henung. Dalam keadaan diam (meneng) ini, kita akan memperoleh keheningan, dan dalam keadaan hening itulah kita akan mengendapkan seluruh cita luhur dengan segenap kedalaman pikir, hati, dan tindak yang selaras.

Pagebluk korona ini membawa manusia untuk (dipaksa) sejenak berdiam dalam keheningan untuk merenungkan tentang hidup dan kehidupan. Aktivitas muhasabah, perenungan mendalam ini penting untuk sesekali (jika bisa sesering mungkin) dilakukan setiap insan. Berdiam dalam sepi untuk mengetahui apa yang sejatinya isi dari ramai, begitu kata guru spiritual saya, Al Mukarrom Emha Ainun Najib.

Manusia modern yang dituntut keadaan untuk senantiasa bergerak cepat, dinamis dan diburu waktu, hari-hari ini dipaksa mengerem sebagian besar aktivitasnya. Falsafah Jawa alon-alon waton kelakon (biar lambat asal selamat) yang pada masa kiwari ini dianggap kuno menemukan relevansinya kembali. Bahwa sejatinya, pelambatan itu diperlukan oleh manusia untuk menemukan kembali kesejatiannya. Kecepatan, ketergesaan, dan segala atribut yang menjadi penciri mayoritas manusia modern harus diakui melenakan manusia untuk melihat ke dalam lebih intens.

Baca Juga :  Pulangkan Enam OTG Bebas Covid-19

Jika kita mencoba melihat ke dalam diri secara jernih, sesungguhnya manusia akan mampu memaknai proses kehidupannya secara lebih baik. Hati nurani adalah penyeimbang dari kuasa rasionalitas yang dianugerahkan pada manusia. Hati nurani adalah wilayah Tuhan yang akan selalu mengarahkan pada sifat kebaikan (hanif). Segala jenis tindakan manusia ketika diukur dari kejernihan hati nurani, pasti akan terdengar sinyal dari Tuhan tentang baik-buruknya sesuatu itu. Dengan demikian, produk kerja akal (yang menjadi kelebihan penciptaan manusia) yang berupa rasio, pada proses selanjutnya memerlukan penilaian hati nurani sebagai penjaga gawang dari kebobolan nilai yang betentangan dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

Memaknai korona ini misalnya. Banyak hikmah yang akan didapat ketika coba melakukan perenungan mendalam. Wabah ini mengingatkan kembali betapa berkuasanya Tuhan. Kepongahan, kesombongan, dan segala hal ihwal yang mengunggulkan kehebatan diri, hari-hari ini tak bisa diandalkan lagi. Makhluk sekecil virus yang dikirim Tuhan ke seantero dunia dapat merenggut nyawa segala kalangan, tanpa terkecuali. Pun bisa menyentuh kaum cerdik pandai dan berpunya (secara harta materi) sekalipun.

Proses ikhtiar mencari cara pemberantasan atau pencegahan virus secara ilmiah rasionalistis berjalan seiring doa yang khusyuk secara religius spiritualistis. Kondisi ini menegaskan kembali bahwa Tuhan tidak membutuhkan apa pun dari manusia. Tuhan tidak berkepentingan atas diri manusia. Justru sebaliknya, dalam sisi fitrawi, manusialah yang memerlukan sebuah keyakinan tentang adanya Causa Prima, sebuah Dzat yang Maha, memiliki kekuatan di atas segala yang ada. Di sinilah kemudian Tuhan menegaskan eksistensinya. Bahwa, ada Realitas (r besar), yang Maha Esa, yang mengatur penciptaan langit dan bumi seisinya. Sebuah dasar atau landasan utama agama yang dibawa melalui perantaraan Nabi dan Rasul-Nya: ajaran Tauhid.

Hal kedua yang bisa dipetik pelajaran adalah pagebluk korona ini membuka mata kita semua tentang bagaimana memandang hubungan kita dengan antar manusia dan lingkungan alam semesta. Saat mencermati kondisi kekinian, dalam fenomena sosial yang berkembang, tebersit kegelisahan yang mendalam. Bumi dan segala perilaku penghuninya (terutama manusia) cenderung mengarah kepada kondisi yang menyesakkan dan mengkhawatirkan. Perilaku destruktif terhadap lingkungan, egoisme pribadi dan kelompok, tindakan koruptif dan manipulatif menjadi hidangan sehari-hari berita yang muncul di media massa. Lama-kelamaan, segala tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan nilai kemanusiaan tersebut dianggap sebagai hal yang wajar dan biasa. Inilah awal rangkaian munculnya beragam musibah, huru-hara, dan disharmoni di masyarakat.

Baca Juga :  Pasien Ke-41 Belum Terlacak

Bumi seakan mencari keseimbangan baru saat mayoritas manusia ”dipaksa” sejenak mengerem aktivitasnya, terutama yang bernuansa destruktif. Manusia bisa lebih memperhatikan keluarga, tetangga, sahabat, dan lingkungan sekitar lebih intens di masa rehat ini. Lebih-lebih bagi yang diberi kemampuan materi lebih. Kemampuan empati perlu dihidupkan untuk memberikan sedikit hartanya kepada manusia lain yang terdampak karena melambatnya aktivitas (termasuk perekonomian).

Manusia adalah makhluk yang tercipta dalam bentuk sebaik-baiknya penciptaan. Manusia dikirim Tuhan sebagai wakil-Nya (khalifatullah fi al-ardh) yang seharusnya memaknai proses penciptaannya ke muka bumi untuk mentransfer nilai-nilai kebaikan bagi lingkungannya. Dengan seperangkat hardware (fisik/jasad) dan software (akal dan hati nurani) dalam paduannya yang sempurna, manusia mampu memimpin pengelolaan bumi dan isinya sesuai keinginan Tuhan. Namun apa lacur, kondisi idealitas ini seakan tak nampak sama sekali di tengah dominasi perilaku yang menjauhi nilai-nilai Ketuhanan. Manusia seakan tercerabut dari nilai asasinya untuk memaknai titah Tuhan untuk menjadi Rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil alamin).

Masih banyak hikmah lain yang akan tergali. Namun dua hal itu saja akan berdimensi sangat luas jika kita lakukan secara intensif di masa-masa krisis ini. Aktivitas berakrab ria dengan ”keheningan” menyadarkan (kembali) kemanusiaan kita. Kesibukan keseharian yang melenakan kita kurang berkomunikasi dengan ”diri” yang sejati. Proses mengenal (kembali) ”diri”, berkomunikasi secara intens dan dekat, teramat banyak tersedia waktu di masa-masa sulit ini. Belajar untuk mendengar desiran dan suara dari masing-masing anggota tubuh dan hati nurani akan mengasah kepekaan menangkap isyarat-isyarat intuitif. Jika itu terjalin secara intens dan ”hangat”, manusia akan mengenali kembali kesejatiannya. Akan lahir manusia-manusia baru yang lebih manusiawi ketika berhadapan dengan dirinya sendiri, manusia lain, dan alam sekitarnya. Semoga. 

 

*)Tinggal di Jurusan Akuntansi, FEB Universitas Trunojoyo Madura

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Pelat Mobdin Pimpinan DPRD Dihitamkan

Pimpinan BPWS Harus Definitif

Madura United Lolos sejak Menit Ke-8

Jumlah TPS Membengkak

Artikel Terbaru

/