alexametrics
25.3 C
Madura
Friday, September 30, 2022

Olle ollang: Penjelajahan Melintas Batas

Oleh HIDAYAT RAHARJA*

TEPAT di pintu masuk terpampang kaligrafi karya almarhum KH Solahur Rabbani sebuah lukisan berbentuk huruf arab gha. Huruf yang mirip sosok tengah tafakur dalam suasana hening dalam lingkaran penuh cahaya. Sergapan lukisan yang akan salalu mengingatkan memori kemanusiaan kita. Manusia sebagai makhluk dengan segala romantika dan tragikanya.

Pameran 2 Agustus–3 September 2022 di Gedung Dekranasda diikuti puluhan pelukis. Termasuk juga karya keluarga almarhum. Di samping kiri ruangan terpajang instalasi karya Hardy. Dua potongan tubuh yang indah dan di bagian bawah dibalut dengan kain bendera Merah Putih. Apakah ini potongan keindonesiaan yang indah dengan aneka persoalannya? Ada jam besar, di antaranya menunjukkan waktu atau usia. Seusia ini, bagaimana dengan Indonesia, apakah benar merdeka atau terbelenggu? Sebuah instalasi yang amat menarik dan menyedot perhatian untuk kembali mempertanyakan keindonesiaan itu sendiri.

Di tengah ruang terdapat sebuah instalasi karya Chairil Alwan, ”Topeng Bertopeng.” Sebuah karya mix media yang mempertanyakan keakuan. Aku yang sok tahu, pintar, dan selalu mengurusi orang lain. Aku dengan ego yang tidak mau mengalah dan lapisan topeng yang menutup keakuan. Aku yang palsu dengan berbagai alasan pembenaran. Aku yang ada, dalam diri, di sekitar kita.

Di ujung kanan instalasi berjudul ”Budak Waktu” karya Fahrus Salam. Jam besar yang menandakan waktu. Sangkar burung, dua piramida adalah simbol mengenai bagaimana waktu telah mengurung kita sehingga membuat kita lupa. Kita lupa terhadap waktu 24 jam yang disediakan dalam satu hari. Belenggu yang membuat kita selalu dikejar, selalu ditinggal. Hakikatnya, waktu ada di tangan kita. Apakah waktu kita buang sia-sia, atau dikelola secara tepat. Waktulah yang harus kita atur, sehingga kita tidak diperbudaknya.

Baca Juga :  Puisi Biologi; Hibrid Sastra dan Biologi (1)

Dua instalasi karya Hardy dan Fahrus Salam, beririsan dengan waktu, mengingatkan kepada kita keberadaan waktu dalam kehidupan kita. Demi waktu sesungguhnya manusia tidak merugi jika menggunakan akal untuk memanfaatkannya.

Selain itu, beberapa karya Kuntet Dilaga berjudul ”Hijrah” (2021). Lukisan yang menggambarkan hijrah yang happy. Sepasang kekasih dalam bentuk gambar kartun yang tengah bergembira di atas kendaraan jip terbuka. Hijrah yang bahagia penuh sukacita dengan warna-warna cerah. Di karya yang lain Kuntet melukiskan sebuah sosok dengan bentuk kartun  berjudul ”Idealisku”. Sosok dengan pakaian hoodie dan tangan memegang cat semprot.

Di panggung yang memanjang beberapa karya lukis dari keluarga almarhum KH Sholahur Robbani. Pameran berlangsung 26–31 Agustus 2022. Pameran Ole Ollang ini didedikasikan untuk almarhum KH Solahur Rabbani dan ini kali ketujuh. Sebuah penghormatan atas jasa beliau dalam mendukung berkembangnya seni lukis di Kota Sampang. Sebuah konsistensi yang telah berlangsung selama tujuh tahun sehingga ini sebuah aktivitas yang erat hubungannya dengan perkembangan seni rupa di Kota Sampang.

KPS ada dan secara rutin melakukan aktivitas pameran, baik secara luring dan daring. Ketika situasi negeri ini dihantam pandemi Covid-19, mereka masih berpameran secara daring. Komunitas yang mandiri dan tidak bergantung pada fasilitas yang diberikan pemerintah daerah. Saat Gedung Kesenian Sampang berubah fungsi posko Satgas Covid-19, KPS memenfaatkan kafe dan Gedung Poltera untuk berpameran. Sebuah ketangguhan kawan-kawan KPS untuk tetap menjaga marwah kreativitas mereka secara independen. Rutinitas yang semakin menguatkan keberadaannya dalam peta dan sejarah seni rupa di Sampang.

Seni rupa di Kota Sampang sangat menarik. KPS sebagai komunitas yang menggerakkan dinamika peradaban. Sebuah dinamika dari seni rupa tradisional dalam Lêncak Palê’, seni lukis kaca sampai era lukisan kaca Ali Daud Bey dan ke generasi saat ini. Sebuah perkembangan yang saling berkait.

Baca Juga :  Seminar Literasi Sukses Berkat Semua Pihak

Karya-karya Kuntet Dilaga, Hayat Adinata, Ahmad Lutfi, Ghina Zhavira, dan beberapa karya lainnya sangat menarik. Ghina Zhavira dengan judul ”New Normal” menggambarkan tiga wajah yang ekspresinya berbeda senang, tertawa, dan bermasker. Sebuah era baru yang membiasakan diri kita untuk menggunakan masker. Hal baru yang harus dibiasakan dalam kehidupan normal. Sedangkan dalam ”Tafakur” karya dari Ahmad Lutfi menggambarkan orang tengah membungkukkan tubuh di antara hiruk pikuk dengan warna keras dan mencekam. Sementara dalam salah satu karya Hayat Adinata berjudul ”Genosida” sebuah perang untuk memusnahkan etnis tertentu. Sebuah kegaduhan dengan gedung-gedung bangunan terbakar dan reruntuhan dalam kobaran perang.

Karya-karya yang sangat terbuka dan melintasi batas-batas tradisi sebagai perwujudan dari keterbukaan dalam akses informasi, sehingga persoalan-persoalan yang mereka angkat bukan lagi persoalan di sekitar, karena persoalan yang jauh  jadi dekat melalui perangkat teknologi. Juga dalam dunia seni rupa telah bergerak melintasi batas-batas pengetahuan sehingga bisa saling berpengaruh, berinteraksi, berkolaborasi yang memungkinkan lahirnya entitas-entitas baru dalam dunia seni rupa.

Lebih jauh bahwa gerakan seni rupa di Sampang terus bergerak menemukan berbagai bentuk interaksinya, sehingga menjadikannya sesuatu yang spesifik. Seperti sebuah pelayaran, pameran ini telah bergerak menuju ke gerak gelombang lautan kreativitas yang memungkinkan menemukan hal-hal baru dalam bentang waktu yang panjang. Sebuah penjelajahan melintasi berbagai ruang dan kemungkinan di waktu yang akan datang. (*)

Sampang, 30 Agustus 2022

 

*)Tinggal di Sampang

Oleh HIDAYAT RAHARJA*

TEPAT di pintu masuk terpampang kaligrafi karya almarhum KH Solahur Rabbani sebuah lukisan berbentuk huruf arab gha. Huruf yang mirip sosok tengah tafakur dalam suasana hening dalam lingkaran penuh cahaya. Sergapan lukisan yang akan salalu mengingatkan memori kemanusiaan kita. Manusia sebagai makhluk dengan segala romantika dan tragikanya.

Pameran 2 Agustus–3 September 2022 di Gedung Dekranasda diikuti puluhan pelukis. Termasuk juga karya keluarga almarhum. Di samping kiri ruangan terpajang instalasi karya Hardy. Dua potongan tubuh yang indah dan di bagian bawah dibalut dengan kain bendera Merah Putih. Apakah ini potongan keindonesiaan yang indah dengan aneka persoalannya? Ada jam besar, di antaranya menunjukkan waktu atau usia. Seusia ini, bagaimana dengan Indonesia, apakah benar merdeka atau terbelenggu? Sebuah instalasi yang amat menarik dan menyedot perhatian untuk kembali mempertanyakan keindonesiaan itu sendiri.


Di tengah ruang terdapat sebuah instalasi karya Chairil Alwan, ”Topeng Bertopeng.” Sebuah karya mix media yang mempertanyakan keakuan. Aku yang sok tahu, pintar, dan selalu mengurusi orang lain. Aku dengan ego yang tidak mau mengalah dan lapisan topeng yang menutup keakuan. Aku yang palsu dengan berbagai alasan pembenaran. Aku yang ada, dalam diri, di sekitar kita.

Di ujung kanan instalasi berjudul ”Budak Waktu” karya Fahrus Salam. Jam besar yang menandakan waktu. Sangkar burung, dua piramida adalah simbol mengenai bagaimana waktu telah mengurung kita sehingga membuat kita lupa. Kita lupa terhadap waktu 24 jam yang disediakan dalam satu hari. Belenggu yang membuat kita selalu dikejar, selalu ditinggal. Hakikatnya, waktu ada di tangan kita. Apakah waktu kita buang sia-sia, atau dikelola secara tepat. Waktulah yang harus kita atur, sehingga kita tidak diperbudaknya.

Baca Juga :  Puisi Biologi; Hibrid Sastra dan Biologi (2)

Dua instalasi karya Hardy dan Fahrus Salam, beririsan dengan waktu, mengingatkan kepada kita keberadaan waktu dalam kehidupan kita. Demi waktu sesungguhnya manusia tidak merugi jika menggunakan akal untuk memanfaatkannya.

Selain itu, beberapa karya Kuntet Dilaga berjudul ”Hijrah” (2021). Lukisan yang menggambarkan hijrah yang happy. Sepasang kekasih dalam bentuk gambar kartun yang tengah bergembira di atas kendaraan jip terbuka. Hijrah yang bahagia penuh sukacita dengan warna-warna cerah. Di karya yang lain Kuntet melukiskan sebuah sosok dengan bentuk kartun  berjudul ”Idealisku”. Sosok dengan pakaian hoodie dan tangan memegang cat semprot.

- Advertisement -

Di panggung yang memanjang beberapa karya lukis dari keluarga almarhum KH Sholahur Robbani. Pameran berlangsung 26–31 Agustus 2022. Pameran Ole Ollang ini didedikasikan untuk almarhum KH Solahur Rabbani dan ini kali ketujuh. Sebuah penghormatan atas jasa beliau dalam mendukung berkembangnya seni lukis di Kota Sampang. Sebuah konsistensi yang telah berlangsung selama tujuh tahun sehingga ini sebuah aktivitas yang erat hubungannya dengan perkembangan seni rupa di Kota Sampang.

KPS ada dan secara rutin melakukan aktivitas pameran, baik secara luring dan daring. Ketika situasi negeri ini dihantam pandemi Covid-19, mereka masih berpameran secara daring. Komunitas yang mandiri dan tidak bergantung pada fasilitas yang diberikan pemerintah daerah. Saat Gedung Kesenian Sampang berubah fungsi posko Satgas Covid-19, KPS memenfaatkan kafe dan Gedung Poltera untuk berpameran. Sebuah ketangguhan kawan-kawan KPS untuk tetap menjaga marwah kreativitas mereka secara independen. Rutinitas yang semakin menguatkan keberadaannya dalam peta dan sejarah seni rupa di Sampang.

Seni rupa di Kota Sampang sangat menarik. KPS sebagai komunitas yang menggerakkan dinamika peradaban. Sebuah dinamika dari seni rupa tradisional dalam Lêncak Palê’, seni lukis kaca sampai era lukisan kaca Ali Daud Bey dan ke generasi saat ini. Sebuah perkembangan yang saling berkait.

Baca Juga :  Sastra Madura Kembali Melangit dalam Konsistensi LHAG

Karya-karya Kuntet Dilaga, Hayat Adinata, Ahmad Lutfi, Ghina Zhavira, dan beberapa karya lainnya sangat menarik. Ghina Zhavira dengan judul ”New Normal” menggambarkan tiga wajah yang ekspresinya berbeda senang, tertawa, dan bermasker. Sebuah era baru yang membiasakan diri kita untuk menggunakan masker. Hal baru yang harus dibiasakan dalam kehidupan normal. Sedangkan dalam ”Tafakur” karya dari Ahmad Lutfi menggambarkan orang tengah membungkukkan tubuh di antara hiruk pikuk dengan warna keras dan mencekam. Sementara dalam salah satu karya Hayat Adinata berjudul ”Genosida” sebuah perang untuk memusnahkan etnis tertentu. Sebuah kegaduhan dengan gedung-gedung bangunan terbakar dan reruntuhan dalam kobaran perang.

Karya-karya yang sangat terbuka dan melintasi batas-batas tradisi sebagai perwujudan dari keterbukaan dalam akses informasi, sehingga persoalan-persoalan yang mereka angkat bukan lagi persoalan di sekitar, karena persoalan yang jauh  jadi dekat melalui perangkat teknologi. Juga dalam dunia seni rupa telah bergerak melintasi batas-batas pengetahuan sehingga bisa saling berpengaruh, berinteraksi, berkolaborasi yang memungkinkan lahirnya entitas-entitas baru dalam dunia seni rupa.

Lebih jauh bahwa gerakan seni rupa di Sampang terus bergerak menemukan berbagai bentuk interaksinya, sehingga menjadikannya sesuatu yang spesifik. Seperti sebuah pelayaran, pameran ini telah bergerak menuju ke gerak gelombang lautan kreativitas yang memungkinkan menemukan hal-hal baru dalam bentang waktu yang panjang. Sebuah penjelajahan melintasi berbagai ruang dan kemungkinan di waktu yang akan datang. (*)

Sampang, 30 Agustus 2022

 

*)Tinggal di Sampang

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Lima Raperda Siap Dibahas

/