alexametrics
25.3 C
Madura
Friday, September 30, 2022

Anemia dan Generasi Muda

Oleh FARIDA WAHYU NINGTYIAS*

TAK sedikit orang yang menganggap anemia atau kurang darah bukan masalah serius. Padahal, penyakit ini bisa menjadi indikasi kondisi kurang gizi yang harus segera diperbaiki. Sebab, jika tidak, dan berlangsung jangka panjang (kronis), anemia juga punya peluang besar mengancam nyawa.

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada April 2018 di Clinical and Experimental Nephrology, sebuah jurnal yang diterbitkan komunitas Nephrology di Jepang (the Japanese Society of Nephrology [JSN]) membuktikan hal itu. Mulanya penelitian ini dimaksudkan untuk menilai hubungan antara anemia dan penyakit ginjal kronis atau (chronic kidney disease/CKD) dengan partisipan lebih dari 60.000 orang Jepang. Namun, para peneliti menemukan bahwa subjek yang anemia memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi, tidak peduli apa status CKD mereka. Tidak peduli berapa usia mereka. Sehingga, penelitian tersebut menyimpulkan bahwa anemia merupakan faktor risiko independen untuk kematian.

Di Indonesia, jumlah remaja putri yang mengalami anemia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hasil Riset Kesehatan Dasar Republik Indonesia pada 2018 menunjukkan prevalensi anemia di Indonesia pada kelompok umur 5–14 tahun sebesar 32 persen. Jumlah ini meningkat dari 2014 yang hanya 26,4 persen. Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan tingkat prevalensi anemia pada remaja putri lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi nasional. Terdapat 52 persen remaja putri di Jawa Timur yang mengalami anemia. Anemia di kalangan remaja perempuan lebih tinggi dibanding remaja laki-laki.

Anemia merupakan kondisi berkurangnya sel darah merah pada tubuh. Berdasarkan pedoman World Health Organization (WHO), remaja dikatakan anemia bila kadar hemoglobinnya kurang dari 12mg/dl (WHO, 2008). Hasil penelitian tentang anemia dan remaja yang dilakukan oleh Tesfaye dan tim pada 2015 dan diterbitkan dalam jurnal Adolescent health, medicine and therapeutics menyebutkan bahwa penurunan kadar hemoglobin (Hb) dipengaruhi oleh peningkatan kebutuhan zat besi, penurunan asupan zat besi, pertumbuhan fisik yang cepat, pada saat menstruasi, dan kebutuhan zat besi yang tinggi untuk pembentukan hemoglobin.

Baca Juga :  Keluarga Besar Kesultanan Sukses Gelar Silaturahmi

Anemia pada remaja berdampak buruk terhadap penurunan imunitas, konsentrasi, prestasi belajar, kebugaran remaja, dan produktivitas. Jika kondisi ini dibiarkan, akan memperlemah generasi muda dalam pengembangan diri. Lemahnya generasi muda berarti memperlemah negara. Bukankah generasi muda adalah tulang punggung negara?

Karena itu, penting melakukan upaya pencegahan kejadian anemia pada remaja, terutama remaja putri agar generasi muda kita terus sehat dan makin produktif. Tentu saja upaya tersebut perlu melibatkan banyak pihak dari berbagai profesi. Mulai dari tenaga kesehatan hingga dosen. Sebab, mencegah lebih baik daripada mengobati.

Pada 2022, LP2M Universitas Jember meluncurkan sebuah program menarik; Program Dosen Mengabdi (Prosendi) di desa asal. Program tersebut merupakan implementasi dari salah satu poin Tridarma Perguruan Tinggi yaitu, pengabdian kepada masyarakat. Dalam program ini dosen melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di desa asal dosen yang bersangkutan.

Melalui program ini, penulis bersama tim kembali ke tanah kelahiran, Kabupaten Pamekasan, dan memberikan literasi gizi tentang anemia di SMPN 2 Pamekasan. Memilih SMPN 2 Pamekasan tentu saja tidak tanpa alasan. Pertama, SMPN 2 Pamekasan adalah salah satu sekolah tinggi menengah pertama favorit di Kabupaten Pamekasan sehingga menjadi tujuan orang tua menyekolahkan anaknya. Juga merupakan almamater penulis.

Baca Juga :  Bertarung di Depan Ribuan Guru

Kedua, SMPN 2 Pamekasan telah memiliki fasilitas UKS dan sarana prasarana yang lengkap, namun belum optimal dalam pemanfaatannya. Ketiga, berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan tim pelaksana pada Mei 2022, diketahui SMPN 2 Pamekasan menerima pendistribusian tablet tambah darah 1 kali dalam 1 tahun sebanyak 1 strip per siswi. Namun, belum dilakukan pengukuran kadar hemoglobin sebagai evaluasi program dan belum dilakukan edukasi kesehatan dan gizi, baik oleh pihak eksternal maupun internal melalui unit kesehatan siswa yang ada.

Berdasarkan data sederhana itu, kegiatan yang penulis lakukan bersama tim pada 3 September 2022 lalu di lokasi tersebut adalah dengan pemberian literasi tentang anemia, faktor penyebab serta cara pencegahannya. Kegiatan yang berlangsung nyaris empat jam ini diikuti 81 siswi dari perwakilan kelas yang dipilih secara acak. Mereka tampak antusias mengikuti acara. Bahkan, beberapa pertanyaan yang diberikan tim terkait dengan anemia mampu dijawab dengan baik.

Di samping itu juga dilaksanakan pengukuran status gizi dengan metode antropometri, seperti pengukuran berat badan, tinggi badan, dan lingkar lengan atas. Selain itu juga dilakukan penentuan status gizi secara biokimia melalui kadar hemoglobin dalam darah. Dan kegiatan dilanjutkan dengan pemberian tablet tambah darah setiap minggunya selama 3 bulan.

Harapannya, melalui literasi anemia ini remaja putri memiliki pengetahuan tentang anemia dan cara pencegahannya sehingga dapat mengatur pola konsumsi makanan dengan  lebih sehat. Remaja putri yang sehat dengan status gizi yang baik dan tidak anemia akan menjadi calon generasi muda yang sehat dan cerdas dan calon ibu yang sehat di masa depan. (*)

*)Dekan FKM Universitas Jember

Oleh FARIDA WAHYU NINGTYIAS*

TAK sedikit orang yang menganggap anemia atau kurang darah bukan masalah serius. Padahal, penyakit ini bisa menjadi indikasi kondisi kurang gizi yang harus segera diperbaiki. Sebab, jika tidak, dan berlangsung jangka panjang (kronis), anemia juga punya peluang besar mengancam nyawa.

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada April 2018 di Clinical and Experimental Nephrology, sebuah jurnal yang diterbitkan komunitas Nephrology di Jepang (the Japanese Society of Nephrology [JSN]) membuktikan hal itu. Mulanya penelitian ini dimaksudkan untuk menilai hubungan antara anemia dan penyakit ginjal kronis atau (chronic kidney disease/CKD) dengan partisipan lebih dari 60.000 orang Jepang. Namun, para peneliti menemukan bahwa subjek yang anemia memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi, tidak peduli apa status CKD mereka. Tidak peduli berapa usia mereka. Sehingga, penelitian tersebut menyimpulkan bahwa anemia merupakan faktor risiko independen untuk kematian.


Di Indonesia, jumlah remaja putri yang mengalami anemia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hasil Riset Kesehatan Dasar Republik Indonesia pada 2018 menunjukkan prevalensi anemia di Indonesia pada kelompok umur 5–14 tahun sebesar 32 persen. Jumlah ini meningkat dari 2014 yang hanya 26,4 persen. Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan tingkat prevalensi anemia pada remaja putri lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi nasional. Terdapat 52 persen remaja putri di Jawa Timur yang mengalami anemia. Anemia di kalangan remaja perempuan lebih tinggi dibanding remaja laki-laki.

Anemia merupakan kondisi berkurangnya sel darah merah pada tubuh. Berdasarkan pedoman World Health Organization (WHO), remaja dikatakan anemia bila kadar hemoglobinnya kurang dari 12mg/dl (WHO, 2008). Hasil penelitian tentang anemia dan remaja yang dilakukan oleh Tesfaye dan tim pada 2015 dan diterbitkan dalam jurnal Adolescent health, medicine and therapeutics menyebutkan bahwa penurunan kadar hemoglobin (Hb) dipengaruhi oleh peningkatan kebutuhan zat besi, penurunan asupan zat besi, pertumbuhan fisik yang cepat, pada saat menstruasi, dan kebutuhan zat besi yang tinggi untuk pembentukan hemoglobin.

Baca Juga :  Ekspresikan Pesona Alam dan Semangat Orang Madura

Anemia pada remaja berdampak buruk terhadap penurunan imunitas, konsentrasi, prestasi belajar, kebugaran remaja, dan produktivitas. Jika kondisi ini dibiarkan, akan memperlemah generasi muda dalam pengembangan diri. Lemahnya generasi muda berarti memperlemah negara. Bukankah generasi muda adalah tulang punggung negara?

Karena itu, penting melakukan upaya pencegahan kejadian anemia pada remaja, terutama remaja putri agar generasi muda kita terus sehat dan makin produktif. Tentu saja upaya tersebut perlu melibatkan banyak pihak dari berbagai profesi. Mulai dari tenaga kesehatan hingga dosen. Sebab, mencegah lebih baik daripada mengobati.

- Advertisement -

Pada 2022, LP2M Universitas Jember meluncurkan sebuah program menarik; Program Dosen Mengabdi (Prosendi) di desa asal. Program tersebut merupakan implementasi dari salah satu poin Tridarma Perguruan Tinggi yaitu, pengabdian kepada masyarakat. Dalam program ini dosen melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di desa asal dosen yang bersangkutan.

Melalui program ini, penulis bersama tim kembali ke tanah kelahiran, Kabupaten Pamekasan, dan memberikan literasi gizi tentang anemia di SMPN 2 Pamekasan. Memilih SMPN 2 Pamekasan tentu saja tidak tanpa alasan. Pertama, SMPN 2 Pamekasan adalah salah satu sekolah tinggi menengah pertama favorit di Kabupaten Pamekasan sehingga menjadi tujuan orang tua menyekolahkan anaknya. Juga merupakan almamater penulis.

Baca Juga :  HPN, 14 Wartawan Baca Puisi di Balai Pemuda Surabaya

Kedua, SMPN 2 Pamekasan telah memiliki fasilitas UKS dan sarana prasarana yang lengkap, namun belum optimal dalam pemanfaatannya. Ketiga, berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan tim pelaksana pada Mei 2022, diketahui SMPN 2 Pamekasan menerima pendistribusian tablet tambah darah 1 kali dalam 1 tahun sebanyak 1 strip per siswi. Namun, belum dilakukan pengukuran kadar hemoglobin sebagai evaluasi program dan belum dilakukan edukasi kesehatan dan gizi, baik oleh pihak eksternal maupun internal melalui unit kesehatan siswa yang ada.

Berdasarkan data sederhana itu, kegiatan yang penulis lakukan bersama tim pada 3 September 2022 lalu di lokasi tersebut adalah dengan pemberian literasi tentang anemia, faktor penyebab serta cara pencegahannya. Kegiatan yang berlangsung nyaris empat jam ini diikuti 81 siswi dari perwakilan kelas yang dipilih secara acak. Mereka tampak antusias mengikuti acara. Bahkan, beberapa pertanyaan yang diberikan tim terkait dengan anemia mampu dijawab dengan baik.

Di samping itu juga dilaksanakan pengukuran status gizi dengan metode antropometri, seperti pengukuran berat badan, tinggi badan, dan lingkar lengan atas. Selain itu juga dilakukan penentuan status gizi secara biokimia melalui kadar hemoglobin dalam darah. Dan kegiatan dilanjutkan dengan pemberian tablet tambah darah setiap minggunya selama 3 bulan.

Harapannya, melalui literasi anemia ini remaja putri memiliki pengetahuan tentang anemia dan cara pencegahannya sehingga dapat mengatur pola konsumsi makanan dengan  lebih sehat. Remaja putri yang sehat dengan status gizi yang baik dan tidak anemia akan menjadi calon generasi muda yang sehat dan cerdas dan calon ibu yang sehat di masa depan. (*)

*)Dekan FKM Universitas Jember

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Lima Raperda Siap Dibahas

/