alexametrics
23.2 C
Madura
Thursday, January 20, 2022

Laut Budi Hariyanto, Kisah yang Tak Pernah Surut

Antara pasang dan gelombang

Antara ambang dan kelam

LAUT dengan segala kehidupan biota dan ekosistemnya selalu menghantarkan kisah di antara hiruk pikuk, di antara kelam yang terus bertumpah dalam hidup manusia. Inilah Kisah-Kisah dari Laut yang ditaja Budi Hariyanto dalam pameran tunggal ke-7 di Rumah Makan Asela Jalan Raya Sejati, Camplong, Sampang dari 1 sampai 9 Januari 2022. Ada 24 lukisan dipajang di dinding rumah makan.

Ada yang menaruh perhatian pada hingar ombak memecah pantai dan tak sedikit pula yang melihat sebagai gelombang puisi yang tak pernah tuntas dimaknai. Dalam lukisan kerap kali laut hanya sebagai bentangan sepi yang menyimpan misteri. Laut dalam lukisan Budi Hariyanto seperti bentangan sepi yang diam dan menyimpan misteri. Laut bagai puisi yang menyimpan makna yang tak pernah tuntas diberi tafsir makna.

EKSPRESI SENIMAN: Beberapa lukisan Budi Hariyanto di ruang pamer dinding Rumah Makan Asela.

Sebagian besar lukisan menggambarkan laut yang tenang tanpa gelombang. Laut yang dipenuhi misteri layaknya puisi yang tertuang dalam bentuk dan warna. Bentuk yang barangkali dipengaruhi Budi dengan puisi-puisinya yang sederhana atau sebaliknya puisi-puisinya dipengaruhi lukisan-lukisannya. Lukisan dan puisi yang saling menindih dan saling memaknai. Hamparan warna di atas kanvas yang juga menyimpan puisi dalam bentuk dan warna. Sebuah kemungkinan yang hadir pada seorang Budi haryanto sebagi pelukis dan juga menekuni  dan menenun puisi.

Salah  satu lukisan Perempuan Dalam Hujan melukiskan seorang perempuan di tepi pantai yang tengah gerimis. Warna kabut menutup kanvas dan perempuan itu berdiri memandang laut lepas. Betapa dekat perempuan dengan pantai. Sebab perempuan pesisir selalu menunggu kedatangan suaminya melaut. Sebuah penantian penuh debar, di antara gamang dan harapan. Penantian yang selalu datang di setiap musim melaut dan saat-saat laut musim angin dan badai. Perempuan dalam hujan, penantian tak pernah berakhir atas laut cinta yang tenang mengalir mendekati pantai. Begitu melankolisnya Budi melihat perempuan  dengan rambut tergerai dan pantai yang berkabut.

Sementara pada lukisan Pantai Flamboyan, sebuah lukisan yang menggambarkan keindahan pantai dan pohon flamboyan tengah berbunga. Gambar yang begitu puitis untuk menggambarkan keteduhan dan keindahan. Pantai yang tidak akan ditemukan di pesisir, tetapi ditemukan dalam ide kreatif pelukis dan diabadikan dengan warna. Lukisan puisi barangkali lebih mengena untuk menyebut 24 lukisan dengan berbagai ukuran yang dipajang Budi Haryanto di Rumah Makan Asela. Sebatang flamboyan rindang tengah berbunga di tepi pantai. Bukankah sering kita membayangkan flamboyan yang rindang dan derai daun gemeresik diterpa angin. Keindahan yang tidak dapat didustakan.

Baca Juga :  Senopati Nusantara Diminta Permudah Izin Kepemilikan Keris

Lain pula pada lukisan Predator, Budi menggambarkan satu ikan besar jelek, kasar, dan liar di antara ikan-ikan kecil yang lari ketakutan. Sebuah gambaran tentang hidup yang lemah dikalahkah yang kuat. Yang miskin dikalahkan yang kaya. Sebuah keserakahan yang menyalahi kodrat alam, sebab pada dasarnya hidup adalah saling mengasihi. Gambaran kesewenangan, juga dalam ekosistem yang mulai terganggu.

Melihat lukisan-lukisan yang dipamerkan Budi Hariyanto, kita seperti menyaksikan laut yang ngelangut dan sepi dengan warna-warna berkabut dan terasa amat puitis. Laut yang tak pernah tercemar. Laut yang terhindar dari jarahan tangan manusia yang serakah. Inilah laut dalam lukisan-lukisan Budi Hariyanto yang tetap damai dan tenteram di antara berbagai persoalan polisi dan reklamasi pantai yang mengooptasi ruang habitat biota laut yang semakin sempit. Laut yang kehilangan pantai. Pantai yang kehilangan bakau dan dijarah untuk dijadikan hunian. Laut pada lukisan Budi Hariyanto adalah laut yang bergelombang dalam hati setiap memandangnya.

Kisah-kisah laut, cerita yang bersumber dari kenangan di masa kanak dan kebetulan rumah Budi di dekat laut dan ayahnya seorang nelayan. Laut sangat akrab dengan Budi Hariyanto, sehingga masa-masa kecil tersebut sering kali merampas kenangannya yang membuncah. Kenangan saat ikut ayahnya melaut dan di perbatasan laut Gili Genting masih segar dalam ingatannya hujan lebat dan badai sehingga tak bisa melihat jarak dan kabut tebal mengepung perahu yang ditumpanginya. Ayahnya melepas sauh menunggu hujan dan badai reda melanjutkan perjalanan pulang.

Baca Juga :  Disporapar Gelar Jumat Sehat dan Bersih

Kerinduan, kekayaan masa lalu, yang tak pernah habis untuk digali. Masa lalu yang banyak menimbun kenangan di antara masa depan yang absurd. Ya, masa depan yang absurd karena tak bisa menebaknya akan yang akan dihadapi di masa depan. Maka, Budi Hariyanto hanya mencatat masa lalu dalam lukisan-lukisannya. Kenangan laut ruang tempat bergembira di masa anak-anak. Masa yang kini pantas untuk dikenang dan diabadikan dalam lukisan. Mencatat masa lalu, kenangannya tentang laut yang tak bisa dilupakannya. Hingga saat ini Budi Hariyanto kerap menjejaki laut di masa kanaknya di laut yang sepi, tenang, dan sunyi.

Kenangan yang kerap mengingatkannya pada kelimpahan cinta dan kasih sayang Ibu. Laut dan ibu pasangan  yang selalu berlimpah kasih sayang. Laut yang menyusui aneka biota dalam laut dan ibu dengan laut kasih sayangnya yang  tak pernah kering bagi anak-anaknya.

Ada 3 hal yang patut saya catat dalam pameran ini. Pertama, Budi Haryanto mampu membuka ruang pamer yang dilakukan di rumah makan. Sebuah kejelian Budi dalam melihat apresian dan pasar. Dari sisi apresian Budi paham bahwa di tempat ini pengunjung tak pernah sepi untuk sekadar menghilangkan rasa lapar dan haus sembari memandang lukisan laut di dekat laut. Pengunjung  bisa memandang laut yang luas dan laut yang dibadikan dalam lukisan yang terasa tenang dan syahdu.

Kedua, sebuah jelajah Budi untuk membuka kemungkinan-kemungkinan dalam berbagai ruang. Jika sebelumnya menjelajahi ruang lobi dan koridor hotel, ruang perpustakaan sebagai ruang pamer, Budi menjelajahi rumah makan sebagai ruang untuk memajang lukisan-lukisannya. Rumah makan sebagai ruang konsuntif dialihkan sejenak untuk berbagai ruang apresiasi untuk lukisan-lukisannya.

Ketiga, pasar. Budi melihat bahwa rumah makan adalah pasar yang memberikan berbagai kemungkinan untuk menjajakan barang sebagai komuditas yang sangat terbuka kemungkinan untuk terjadi transaksi. Setidaknya dalam ruang ini telah terjadi bargaining antara Budi dengan para pengunjung yang datang untuk makan dan menyaksikan lukisan-lukisannya. (*)

Antara pasang dan gelombang

Antara ambang dan kelam

LAUT dengan segala kehidupan biota dan ekosistemnya selalu menghantarkan kisah di antara hiruk pikuk, di antara kelam yang terus bertumpah dalam hidup manusia. Inilah Kisah-Kisah dari Laut yang ditaja Budi Hariyanto dalam pameran tunggal ke-7 di Rumah Makan Asela Jalan Raya Sejati, Camplong, Sampang dari 1 sampai 9 Januari 2022. Ada 24 lukisan dipajang di dinding rumah makan.

Ada yang menaruh perhatian pada hingar ombak memecah pantai dan tak sedikit pula yang melihat sebagai gelombang puisi yang tak pernah tuntas dimaknai. Dalam lukisan kerap kali laut hanya sebagai bentangan sepi yang menyimpan misteri. Laut dalam lukisan Budi Hariyanto seperti bentangan sepi yang diam dan menyimpan misteri. Laut bagai puisi yang menyimpan makna yang tak pernah tuntas diberi tafsir makna.

EKSPRESI SENIMAN: Beberapa lukisan Budi Hariyanto di ruang pamer dinding Rumah Makan Asela.

Sebagian besar lukisan menggambarkan laut yang tenang tanpa gelombang. Laut yang dipenuhi misteri layaknya puisi yang tertuang dalam bentuk dan warna. Bentuk yang barangkali dipengaruhi Budi dengan puisi-puisinya yang sederhana atau sebaliknya puisi-puisinya dipengaruhi lukisan-lukisannya. Lukisan dan puisi yang saling menindih dan saling memaknai. Hamparan warna di atas kanvas yang juga menyimpan puisi dalam bentuk dan warna. Sebuah kemungkinan yang hadir pada seorang Budi haryanto sebagi pelukis dan juga menekuni  dan menenun puisi.

Salah  satu lukisan Perempuan Dalam Hujan melukiskan seorang perempuan di tepi pantai yang tengah gerimis. Warna kabut menutup kanvas dan perempuan itu berdiri memandang laut lepas. Betapa dekat perempuan dengan pantai. Sebab perempuan pesisir selalu menunggu kedatangan suaminya melaut. Sebuah penantian penuh debar, di antara gamang dan harapan. Penantian yang selalu datang di setiap musim melaut dan saat-saat laut musim angin dan badai. Perempuan dalam hujan, penantian tak pernah berakhir atas laut cinta yang tenang mengalir mendekati pantai. Begitu melankolisnya Budi melihat perempuan  dengan rambut tergerai dan pantai yang berkabut.

Sementara pada lukisan Pantai Flamboyan, sebuah lukisan yang menggambarkan keindahan pantai dan pohon flamboyan tengah berbunga. Gambar yang begitu puitis untuk menggambarkan keteduhan dan keindahan. Pantai yang tidak akan ditemukan di pesisir, tetapi ditemukan dalam ide kreatif pelukis dan diabadikan dengan warna. Lukisan puisi barangkali lebih mengena untuk menyebut 24 lukisan dengan berbagai ukuran yang dipajang Budi Haryanto di Rumah Makan Asela. Sebatang flamboyan rindang tengah berbunga di tepi pantai. Bukankah sering kita membayangkan flamboyan yang rindang dan derai daun gemeresik diterpa angin. Keindahan yang tidak dapat didustakan.

Baca Juga :  Budayawan Ibnu Hajar: Tora Luar Biasa

Lain pula pada lukisan Predator, Budi menggambarkan satu ikan besar jelek, kasar, dan liar di antara ikan-ikan kecil yang lari ketakutan. Sebuah gambaran tentang hidup yang lemah dikalahkah yang kuat. Yang miskin dikalahkan yang kaya. Sebuah keserakahan yang menyalahi kodrat alam, sebab pada dasarnya hidup adalah saling mengasihi. Gambaran kesewenangan, juga dalam ekosistem yang mulai terganggu.

Melihat lukisan-lukisan yang dipamerkan Budi Hariyanto, kita seperti menyaksikan laut yang ngelangut dan sepi dengan warna-warna berkabut dan terasa amat puitis. Laut yang tak pernah tercemar. Laut yang terhindar dari jarahan tangan manusia yang serakah. Inilah laut dalam lukisan-lukisan Budi Hariyanto yang tetap damai dan tenteram di antara berbagai persoalan polisi dan reklamasi pantai yang mengooptasi ruang habitat biota laut yang semakin sempit. Laut yang kehilangan pantai. Pantai yang kehilangan bakau dan dijarah untuk dijadikan hunian. Laut pada lukisan Budi Hariyanto adalah laut yang bergelombang dalam hati setiap memandangnya.

Kisah-kisah laut, cerita yang bersumber dari kenangan di masa kanak dan kebetulan rumah Budi di dekat laut dan ayahnya seorang nelayan. Laut sangat akrab dengan Budi Hariyanto, sehingga masa-masa kecil tersebut sering kali merampas kenangannya yang membuncah. Kenangan saat ikut ayahnya melaut dan di perbatasan laut Gili Genting masih segar dalam ingatannya hujan lebat dan badai sehingga tak bisa melihat jarak dan kabut tebal mengepung perahu yang ditumpanginya. Ayahnya melepas sauh menunggu hujan dan badai reda melanjutkan perjalanan pulang.

Baca Juga :  Penyerapan Bantuan Modal Usaha Rendah

Kerinduan, kekayaan masa lalu, yang tak pernah habis untuk digali. Masa lalu yang banyak menimbun kenangan di antara masa depan yang absurd. Ya, masa depan yang absurd karena tak bisa menebaknya akan yang akan dihadapi di masa depan. Maka, Budi Hariyanto hanya mencatat masa lalu dalam lukisan-lukisannya. Kenangan laut ruang tempat bergembira di masa anak-anak. Masa yang kini pantas untuk dikenang dan diabadikan dalam lukisan. Mencatat masa lalu, kenangannya tentang laut yang tak bisa dilupakannya. Hingga saat ini Budi Hariyanto kerap menjejaki laut di masa kanaknya di laut yang sepi, tenang, dan sunyi.

Kenangan yang kerap mengingatkannya pada kelimpahan cinta dan kasih sayang Ibu. Laut dan ibu pasangan  yang selalu berlimpah kasih sayang. Laut yang menyusui aneka biota dalam laut dan ibu dengan laut kasih sayangnya yang  tak pernah kering bagi anak-anaknya.

Ada 3 hal yang patut saya catat dalam pameran ini. Pertama, Budi Haryanto mampu membuka ruang pamer yang dilakukan di rumah makan. Sebuah kejelian Budi dalam melihat apresian dan pasar. Dari sisi apresian Budi paham bahwa di tempat ini pengunjung tak pernah sepi untuk sekadar menghilangkan rasa lapar dan haus sembari memandang lukisan laut di dekat laut. Pengunjung  bisa memandang laut yang luas dan laut yang dibadikan dalam lukisan yang terasa tenang dan syahdu.

Kedua, sebuah jelajah Budi untuk membuka kemungkinan-kemungkinan dalam berbagai ruang. Jika sebelumnya menjelajahi ruang lobi dan koridor hotel, ruang perpustakaan sebagai ruang pamer, Budi menjelajahi rumah makan sebagai ruang untuk memajang lukisan-lukisannya. Rumah makan sebagai ruang konsuntif dialihkan sejenak untuk berbagai ruang apresiasi untuk lukisan-lukisannya.

Ketiga, pasar. Budi melihat bahwa rumah makan adalah pasar yang memberikan berbagai kemungkinan untuk menjajakan barang sebagai komuditas yang sangat terbuka kemungkinan untuk terjadi transaksi. Setidaknya dalam ruang ini telah terjadi bargaining antara Budi dengan para pengunjung yang datang untuk makan dan menyaksikan lukisan-lukisannya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru