alexametrics
29.5 C
Madura
Thursday, May 19, 2022

Sastra Madura Hanya Sepi, Bukan Mati, Masih Bisa Semarak Lagi

BANGKALAN – Orang Madura meyakini basa nantowagi bangsa. Namun, perkembangan bahasa daerah ini dirundung masalah. Generasi muda kerap menjadi sasaran pihak yang disalahkan.

Pemuda selalu menjadi kambing hitam dalam pelestarian dan pengembangan bahasa dan sastra Madura. Mereka selalu dituding malu dan enggan menggunakan bahasa daerah. Berbagai gejala dipaparkan untuk memperkuat bahwa mereka mulai terasing dari akar kebudayaannya.

Seperti itulah Redaktur Budaya Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Lukman Hakim AG. mengawali makalahnya yang disampaikan dalam sarasehan sastra Madura, Kamis (7/12). Dia mempertanyakan warisan generasi tua yang telah diberikan kepada anaknya.

Jangan-jangan, kata dia, orang tua hanya berusaha mencari kambing hitam tanpa bercermin pada diri masing-masing. Sebab, generasi muda itu enggan dan malu berbahasa Madura sangat mungkin karena tidak tahu. Penyebabnya banyak. Antara lain, memang tidak pernah diajarkan secara serius oleh generasi tua, orang tua juga tidak mewariskan sumber bacaan yang memadai untuk dipelajari, dan lain-lain.

”Jangan-jangan orang tua memang menjerumuskan mereka agar terbuang dari identitas kemaduraannya. Pada saat bersamaan, orang tua mungkin silau dengan bahasa asing yang mungkin dianggap lebih berkelas. Di sinilah penyakit itu mungkin berasal,” paparnya.

Penulis buku puisi Cengkal Burungmendapat kesempatan pertama menyampaikan makalah Menguji Identitas Kemaduraan Orang Madura. Bahasa daerah, bahasa nasional, bahasa internasional, dan ”bahasa agama” memiliki tempat dan porsi masing-masing.Orang Madura paling tidak perlu mengetahui empat macam bahasa. Bahasa Madura, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Arab.

Baca Juga :  Seniman Madura Tampilkan Bawakan Buk Marliyah di Pekan Kesenian Bali

Sesama orang Madura semestinya berbicara menggunakan bahasa Madura. Bahasa Indonesia untuk berinteraksi dengan orang beda suku sesama warga Indonesia. Sementara bahasa Inggris digunakan untuk berinteraksi dengan orang asing. Bahasa Arab juga perlu diketahui agar mengerti arti bacaan salat. Karena mayoritas orang Madura beragama Islam.

Ini belum termasuk sastra. Seperti pantun, paparegan, saloka, parebasan, parsemmon, kerata basa, dan lain sebagainya. ”Jika sadar bahwa bahasa sebagai identitas sebagaimana basa nantowagi bangsa mestinya ini juga menjadi bagian untuk diwariskan,” jelas Koordinator Liputan (Korlip) JPRM itu.

Pria asal Sumenep itu juga membuktikan data penulis sanja’ dan careta pandha’ (carpan) yang terbit di halaman sastra budaya JPRM. Sejak 26 Juli 2015 hingga 3 Desember 2017 telah menerbitkan 263 sanja’ dan 97 carpan. Mayoritas penulisnya kelahiran 1980-an dan 1990-an. Rata-rata juga dari pesantren.

Ini bukti bahwa ada kemauan dari generasi muda Madura untuk menulis menggunakan bahasa ibu. Dengan ruang khusus ini juga sekaligus membantah bahwa sastra Madura mati suri.

Selain itu, ada tiga pemuda yang telah menerbitkan buku berbahasa Madura. M. Toyu Aradana menerbitkan kumpulan carpan Embi’ Celleng Ji Monentar. Delapan dari sembilan carpan dalam buku itu pernah terbit di JPRM.

Kemudian, Zainal A. Hanafi menerbitkan kumpulan carpan Èsarèpo Bèncong. Carpan Juko’ Cellot dan Nya Dumma pernah dimuat di JPRM. Supriyadi Afandi menerbitkan buku carpan berjudul Eghirrep Setan. ”Sastra Madura mungkin hanya sepi, bukan mati. Masih ada kesempatan untuk menyemarakkan,” katanya.

Baca Juga :  Sulit Terapkan Pendidikan Wayang di Sekolah

Sementara Ketua STKIP PGRI Bangkalan Sunardjo menjelaskan, kondisi geografis Madura memberikan pengaruh kuat terhadap bentuk-bentuk sastra. Sastra Madura dipenuhi dengan motivasi dan pesan ajaran yang ketat. Bahasa dan sastra Madura menurut dia berpotensi untuk dikembangkan.

”Jumlah penutur bahasa Madura menempati posisi keempat di Indonesia. Ini bisa menjadi modal besar bagi penyebaran sastra Madura,” ucapnya.

Pimpinan Komunitas Masyarakat Lumpur (KML) M. Helmy Prasetya dan Pemerhati Sastra Bangkalan Muhri mengisi materi pada sesi kedua. Helmy menyampaikan tiga faktor yang menjadi masalah perkembangan sastra Madura di Bangkalan. Salah satunya karena sastra Madura dinilai kurang bergengsi. ”Kalau memang bergengsi, semua masyarakat Madura pakai bahasa Madura,” ucapnya.

Sementara Muhri menyampaikan, perkembangan sastra Madura akan maju jika orang Madura bangga dengan kemaduraannya. Ancaman kepunahan bahasa daerah ini tidak bisa melimpahkan kesalahan kepada pemerintah maupun pihak lainnya. ”Kita yang merasa orang Madura, tapi tidak peduli dengan Madura. Itu yang salah,” ujarnya.

Dia menyebut orang yang berpendidikan tinggi seharusnya bisa membawa identitas bahasa Madura. Bukan sebaliknya. ”Yang awam mau berbahasa Madura ke mana pun. Yang pintar ini yang gengsi berbahasa Madura. Tidak mengakui kemaduraannya,” ucapnya heran.

- Advertisement -

BANGKALAN – Orang Madura meyakini basa nantowagi bangsa. Namun, perkembangan bahasa daerah ini dirundung masalah. Generasi muda kerap menjadi sasaran pihak yang disalahkan.

Pemuda selalu menjadi kambing hitam dalam pelestarian dan pengembangan bahasa dan sastra Madura. Mereka selalu dituding malu dan enggan menggunakan bahasa daerah. Berbagai gejala dipaparkan untuk memperkuat bahwa mereka mulai terasing dari akar kebudayaannya.

Seperti itulah Redaktur Budaya Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Lukman Hakim AG. mengawali makalahnya yang disampaikan dalam sarasehan sastra Madura, Kamis (7/12). Dia mempertanyakan warisan generasi tua yang telah diberikan kepada anaknya.


Jangan-jangan, kata dia, orang tua hanya berusaha mencari kambing hitam tanpa bercermin pada diri masing-masing. Sebab, generasi muda itu enggan dan malu berbahasa Madura sangat mungkin karena tidak tahu. Penyebabnya banyak. Antara lain, memang tidak pernah diajarkan secara serius oleh generasi tua, orang tua juga tidak mewariskan sumber bacaan yang memadai untuk dipelajari, dan lain-lain.

”Jangan-jangan orang tua memang menjerumuskan mereka agar terbuang dari identitas kemaduraannya. Pada saat bersamaan, orang tua mungkin silau dengan bahasa asing yang mungkin dianggap lebih berkelas. Di sinilah penyakit itu mungkin berasal,” paparnya.

Penulis buku puisi Cengkal Burungmendapat kesempatan pertama menyampaikan makalah Menguji Identitas Kemaduraan Orang Madura. Bahasa daerah, bahasa nasional, bahasa internasional, dan ”bahasa agama” memiliki tempat dan porsi masing-masing.Orang Madura paling tidak perlu mengetahui empat macam bahasa. Bahasa Madura, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Arab.

Baca Juga :  Memaknai Molodan yang Gempita di Pelbagai Penjuru Madura

Sesama orang Madura semestinya berbicara menggunakan bahasa Madura. Bahasa Indonesia untuk berinteraksi dengan orang beda suku sesama warga Indonesia. Sementara bahasa Inggris digunakan untuk berinteraksi dengan orang asing. Bahasa Arab juga perlu diketahui agar mengerti arti bacaan salat. Karena mayoritas orang Madura beragama Islam.

Ini belum termasuk sastra. Seperti pantun, paparegan, saloka, parebasan, parsemmon, kerata basa, dan lain sebagainya. ”Jika sadar bahwa bahasa sebagai identitas sebagaimana basa nantowagi bangsa mestinya ini juga menjadi bagian untuk diwariskan,” jelas Koordinator Liputan (Korlip) JPRM itu.

Pria asal Sumenep itu juga membuktikan data penulis sanja’ dan careta pandha’ (carpan) yang terbit di halaman sastra budaya JPRM. Sejak 26 Juli 2015 hingga 3 Desember 2017 telah menerbitkan 263 sanja’ dan 97 carpan. Mayoritas penulisnya kelahiran 1980-an dan 1990-an. Rata-rata juga dari pesantren.

Ini bukti bahwa ada kemauan dari generasi muda Madura untuk menulis menggunakan bahasa ibu. Dengan ruang khusus ini juga sekaligus membantah bahwa sastra Madura mati suri.

Selain itu, ada tiga pemuda yang telah menerbitkan buku berbahasa Madura. M. Toyu Aradana menerbitkan kumpulan carpan Embi’ Celleng Ji Monentar. Delapan dari sembilan carpan dalam buku itu pernah terbit di JPRM.

Kemudian, Zainal A. Hanafi menerbitkan kumpulan carpan Èsarèpo Bèncong. Carpan Juko’ Cellot dan Nya Dumma pernah dimuat di JPRM. Supriyadi Afandi menerbitkan buku carpan berjudul Eghirrep Setan. ”Sastra Madura mungkin hanya sepi, bukan mati. Masih ada kesempatan untuk menyemarakkan,” katanya.

Baca Juga :  Menulis Bisa Membuat Panjang Umur

Sementara Ketua STKIP PGRI Bangkalan Sunardjo menjelaskan, kondisi geografis Madura memberikan pengaruh kuat terhadap bentuk-bentuk sastra. Sastra Madura dipenuhi dengan motivasi dan pesan ajaran yang ketat. Bahasa dan sastra Madura menurut dia berpotensi untuk dikembangkan.

”Jumlah penutur bahasa Madura menempati posisi keempat di Indonesia. Ini bisa menjadi modal besar bagi penyebaran sastra Madura,” ucapnya.

Pimpinan Komunitas Masyarakat Lumpur (KML) M. Helmy Prasetya dan Pemerhati Sastra Bangkalan Muhri mengisi materi pada sesi kedua. Helmy menyampaikan tiga faktor yang menjadi masalah perkembangan sastra Madura di Bangkalan. Salah satunya karena sastra Madura dinilai kurang bergengsi. ”Kalau memang bergengsi, semua masyarakat Madura pakai bahasa Madura,” ucapnya.

Sementara Muhri menyampaikan, perkembangan sastra Madura akan maju jika orang Madura bangga dengan kemaduraannya. Ancaman kepunahan bahasa daerah ini tidak bisa melimpahkan kesalahan kepada pemerintah maupun pihak lainnya. ”Kita yang merasa orang Madura, tapi tidak peduli dengan Madura. Itu yang salah,” ujarnya.

Dia menyebut orang yang berpendidikan tinggi seharusnya bisa membawa identitas bahasa Madura. Bukan sebaliknya. ”Yang awam mau berbahasa Madura ke mana pun. Yang pintar ini yang gengsi berbahasa Madura. Tidak mengakui kemaduraannya,” ucapnya heran.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/