Senin, 06 Dec 2021
Radar Madura
Home / Sastra & Budaya
icon featured
Sastra & Budaya

Merek Berbahasa Madura

oleh UMAR FAUZI BALLAH*

07 November 2021, 18: 49: 21 WIB | editor : Abdul Basri

Merek Berbahasa Madura

LEBIH AKRAB: Salah satu produk air kemasan dengan merek bahasa Madura. Namun, penulisan kurang tepat. Mestinya Madura (ejaan 1973) atau Madhurâ (ejaan 2011). (LUKMAN HAKIM AG./Radarmadura.id)

Share this      

PETANG itu, 1 Juni 2005, saya sampai di Kompleks Balai Pemuda, Surabaya, untuk menyaksikan pembukaan sekaligus monolog Putu Wijaya di Festival Seni Surabaya, sebuah perhelatan seni yang cukup besar di Indonesia pada zamannya. Pintu teater masih akan dibuka sekitar pukul 19.30. Para penonton sudah mengantre, tetapi ada juga yang sambil menikmati berbagai stan yang menjual berbagai produk di area parkir Balai Pemuda.

Itulah hari pertama saya tahu ada sebuah merek kaus bernama Alapola yang dirintis orang Bangkalan. Sesuai namanya, produk kaus yang diproduksi berbau kemaduraan. Dalam bahasa Madura, alapola artinya banyak tingkah. Bagi sebagian orang, nama itu pasti terlihat beken. Di satu sisi, Alapola juga mengandung unsur bahasa Indonesia, yakni ala pola.

Sejauh amatan saya, belum banyak merek berbahasa Madura digunakan pada titik tahun 2005 itu. Namun, sejak menjamurnya berbagai wirausaha yang dibangun orang Madura, kesadaran menggunakan bahasa Madura sebagai nama mulai tumbuh. Ini adalah fenomena menarik bahwa bahasa Madura menjadi unik dan mulai dilirik ketika menjadi nama sebuah merek, tentu saja kelak bisa menjadi brand tersendiri sebagaimana Alapola, menurut saya, telah meraihnya.

Baca juga: Membaca Sangkol

Merek Berbahasa Madura

ABADIKAN BAHASA MADURA: Salah satu produk air kemasan dengan merek kosakata Madura. (FATMASARI MARGARETA/Radarmadura.id)

Selain Alapola, merek dengan menggunakan bentuk ulang seperti ala-pola, pernah saya jumpai di Sumenep, yakni sebuah toko dengan nama Demode. Selain kesamaan bentuk ulang, baik Alapola maupun Demode merujuk pada jenis usaha pakaian. Namun, merek satu ini cukup banyak digunakan. Dalam bahasa Madura, bentuk bakunya moḍâ (Pawitra, 2008), memiliki arti murah atau tidak mahal. Jika merek yang dimaksud adalah á¸â-moḍâ, artinya adalah murah-murah. Demode menjadi unik karena kata itu juga mengandung unsur bahasa Indonesia (serapan), mode, yakni ragam.

Dalam usaha makanan, penamaan usaha menggunakan bahasa Madura, lebih banyak dijumpai. Sebut saja kafe di Sumenep ada nama Kancakona; di Pamekasan ada nama rumah makan Juko’ Tonoh (juko’ tono, Red) dan yang terbaru ada Je Cabbih (ja cabbi, Red); di Sampang ada kafe Ken Karo; di Bangkalan ada rumah makan Tera’ Bulan. Dan, mungkin masih banyak lagi yang jauh dari pengetahuan saya.

Sebagaimana dijumhurkan oleh pada peneliti bahasa, Bahasa Madura termasuk rumpun bahasa Melayu-Polinesia, yakni cabang dari bahasa Austronesia. Hal ini membuat bahasa Madura memiliki persamaan dengan bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia. Hal paling jelas adalah tidak sedikit kosakata bahasa Madura berakar dari bahasa Melayu, seperti orang menjadi orèng; makan menjadi ngakan; dan sebagainya. Fenomena itulah yang membuat bahasa Madura menjadi unik ketika menjadi sebuah brand. Di satu sisi kata-kata itu diakui sebagai bahasa Madura. Di sisi lain kata-kata itu memiliki nilai estetika tersendiri jika dibaca orang-orang di luar warga bahasa Madura.

Tentu masih banyak lagi bahasa Madura yang memiliki potensi estetika ketika menjadi sebuah merek dari sebuah produk. Sekitar tahun 2012, misalnya, saya pernah berbincang dengan seorang kawan tentang niatannya untuk membuka usaha air mineral dalam kemasan dengan nama Aeng, aèng atau air. Katanya, jika selama ini masyarakat terjebak metonimia Aqua untuk menyebut nama air mineral, kenapa tidak bahwa suatu saat orang-orang akan mengatakan Aeng sebagai brand baru bagi orang Madura untuk air mineral?

Penggunaan bahasa Madura sebagai nama sebuah merek tertentu memang sangat menggembirakan walaupun tidak sedikit saya pernah mendengar ada kalangan masyarakat mencibir penamaan tersebut. Dari sisi ini, saya membaca masih ada inferioritas atas penggunaan bahasa Madura sebagai nama merek.

Di sisi lain, saya melihat bahwa dengan digunakannya bahasa Madura sebagai nama sebuah merek, bahasa Madura sedang berjalan menjadi bahasa yang antik. Saya sebut demikian karena bahasa Madura dalam kenyataannya juga berhadapan dengan ancaman krisis penutur. Walaupun bahasa Madura sebagai karya tulis sudah mulai digemari, seperti kolom sastra berbahasa Madura di Jawa Pos Radar Madura dan masuknya bahasa Madura dalam anugerah Sastra Rancage, ancaman krisis penutur itu diramalkan masih membentang. Ada sisi romantisme, sepertinya, di tengah menjamurnya merek berbahasa Madura. Ia seperti pelan-pelan berjalan menuju museum, menjadi antik, unik, dan bukan tidak mungkin menjadi artefak bahasa.

Bukankah nama diciptakan dengan mencari bunyi yang unik dan sekiranya orang tidak banyak mengenalnya? Tapi, semoga saja tidak demikian. Bahasa Madura menjadi pilihan nama merek karena ia memang memiliki potensi estetika dan kesadaran atas bahasa Madura sedang membaik.

*)Esais dan pengajar Bahasa Indonesia. Direktur Komunitas Stingghil, Sampang dan Kepala Cabang Ganesha Operation Madura.

(mr/*/bas/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia