alexametrics
25.3 C
Madura
Friday, September 30, 2022

Pesona Keindahan Bahasa Kalam Ilahi

AL-QUR’AN turun pada masyarakat yang berpunya corak kesusastraan tinggi. Sejarah membabar penduduk Arab (kaum Quraisy) berlomba-lomba membikin untaian syair yang kemudian dipajang pada dinding Kakbah bagi syair terbaik. Sedangkan Al-Qur’an, kalam Ilahi ini tidak sekadar berpetuah leterlek. Dengan artian, penyampaian kabar baik dan peringatan terwedar dengan amat indah; melebihi daya magis syair. Untaian diksi Al-Qur’an bukanlah berjenis syair. Seakan-akan ada jenis kesusastraan baru yang sanggup memikat para ahli syair kala itu untuk mengakui bahwa tak mungkin Al-Qur’an merupakan kalam manusia.

Telah banyak bahasan Al-Qur’an didekati sudut pandang linguistik dan sastrawi. Bahwa, Al-Qur’an memiliki kemukjizatan pada kandungan kebahasaannya, semua pihak hatta para orientalis, telah menyepakati. Dengan kata lain, Al-Qur’an memiliki i’jazul balaghi: kemukjizatannya ditinjau dari ketinggian mutu sastra dan efektivitas kalimat-kalimat yang digunakan. Kemenarikan sudut pandang gaya bahasa (stilistika) serta semacamnya, membuat Al-Qur’an tak habis dikaji hingga hari ini. Pun, tantangan abadi untuk membuat sebuah surah saja seperti surah Al-Qur’an kian menegaskan bahwa kitab suci idealnya juga dikaji perihal gaya penyampaiannya; tidak melulu kajian sudut pandang berbasis teologis berupa perintah dan larangan-Nya.

Salah satu bahasan yang dapat dikatakan masih jarang adalah bagaimana mengkaji gaya bahasa/pengungkapan pada awal surah Al-Qur’an. Buku karangan Moh. Zahid ini mengupas seluk-beluk kekhasan Al-Qur’an dalam memulai sebuah surah. Fawatihus Suwar atau kalimat-kalimat pembuka surah Al-Qur’an, bagi Zahid menarik dikaji karena term ”pembukaan” seperti sebuah kunci. Dan benar saja, Zahid mengabarkan, pembukaan surah yang boleh dibilang tidak biasanya seperti gabungan huruf hijaiah yang tidak memiliki arti, justru menarik perhatian masyarakat kala itu. Mereka penasaran dan dibuat takjub dengan gabungan huruf macam pembukaan surah Al-Baqarah dan Yasin. Karena dibuat penasaran, walhasil, secara otomatis mereka terhanyut untuk terus mendengarkan kalam Ilahi hingga akhir surah.

Baca Juga :  Taneyan Lanjang: Fashion dan Biografi yang Cair

Zahid mewedarkan bahwa pada awalnya terdapat skeptisisme terhadap apa yang disampaikan Nabi Muhammad SAW hingga mereka mendengar awal surah yang tidak lazim berupa gabungan huruf tersebut. Ya, hal ini merupakan sesuatu yang baru atau belum dikenal oleh bangsa Arab saat itu (hlm: 8). Apakah fawatihus suwar hanya dimaksudkan pada ayat pertama? Zahid menjelaskan bahwa fawatihus suwar bisa terdiri beberapa ayat. Al-Baqarah, selain dibuka dengan pembukaan huruf at-tahajji berupa alif, lam dan mim, juga diteruskan hingga empat ayat berikutnya yang dianggap sebagai batas fawatihus suwar.

Ada perincian yang dibabar Zahid atas pelbagai macam corak pembukaan surah. Selain corak at-tahajji macam di atas, disebutkan ada sepuluh lagi apa yang bisa pula disebut dengan ”intro”. Yakni, intro bersumpah, panggilan, pertanyaan, menuding langsung, koersi, doa, bersyarat, kausalitas, intro menjerit (ta’ajjub), dan intro narasi-deskripsi. Ke semua intro ini lantas dibedah satu per satu, baik dari sisi keindahan, kesan, dan pesannya. Pada intro ta’ajjub, Zahid memberi tamsil pada awal surah Al-Isra, yang menekankan pada kata ”subhana”. Kata tersebut bila dikaji secara linguistik-sastrawi, senyatanya menyimpan makna mendalam yang tidak sederhana. Dan, sememangnya dikaitkan dengan peristiwa besar: Isra Mikraj.

Baca Juga :  Wajib Bahasa Madura Nilai Tak Perlu Tunggu Perbup

Kredit poin buku ini adalah Zahid memasukkan teori Komunikasi Massa. Artinya, selain berpegang pada literasi klasik berupa ulumul quran dan ilmu lughah, senyatanya bersesuaian dengan prinsip strategi Ilmu Komunikasi. Paparan Zahid, ada dua hal yang sebabkan komunikasi efektif dapat terbangun baik. Pertama, kemampuan komunikator meyakinkan sasaran komunikasinya. Yang kedua, pada kalimat-kalimat pembukanya. Sederhananya, intro surah boleh jadi sama dengan paragraf pertama pada sebuah karya tulis yang terbilang menentukan bakal sukses untuk dibaca-tidaknya paragraf selanjutnya hingga akhir tulisan.

Apakah intro surah merupakan cerminan/representasi pesan dari sebuah surah? Kiranya tidak sepenuhnya demikian. Lantaran dalam surah yang terdiri dari puluhan atau ratusan ayat, terdapat banyak hal yang diuarkan. Namun, banyaknya gaya intro surah menunjukkan adanya variasi komunikasi, dalam hal ini menunjukkan sisi keunggulan Al-Qur’an atau dalam uraian Zahid: Allah sebagai komunikator Al-Qur’an membuka komunikasi-Nya tersebut dengan menegaskan dan meyakinkan khalayak bahwa diri-Nya merupakan komunikator yang penuh daya tarik (hlm: 265).

Idealnya, kemampuan untuk bisa menikmati keindahan kesusastraan Al-Qur’an perlu ditunjang penguasaan bahasa Arab beserta kaidah sastrawinya. Tanpa itu, alias hanya mengandalkan membaca terjemahan misal, bakal sulit untuk bisa mencecapnya. Fakta sosiolinguistik macam ini adalah pesan implisit bagaimana mestinya Al-Qur’an lebih diperbanyak dikaji secara linguistik/kebahasaan. Kendati begitu, Zahid tentu memahami problem tersebut dan karenanya, secara gamblang dan tuturan sederhana, membersamai pembaca luas untuk mencoba mencicipi keindahan gaya bahasa kalam Ilahi. Wallahu a’lam. (*)

MUHAMMAD ITSBATUN NAJIH

Bergiat di Muria Pustaka, Kudus 

 

AL-QUR’AN turun pada masyarakat yang berpunya corak kesusastraan tinggi. Sejarah membabar penduduk Arab (kaum Quraisy) berlomba-lomba membikin untaian syair yang kemudian dipajang pada dinding Kakbah bagi syair terbaik. Sedangkan Al-Qur’an, kalam Ilahi ini tidak sekadar berpetuah leterlek. Dengan artian, penyampaian kabar baik dan peringatan terwedar dengan amat indah; melebihi daya magis syair. Untaian diksi Al-Qur’an bukanlah berjenis syair. Seakan-akan ada jenis kesusastraan baru yang sanggup memikat para ahli syair kala itu untuk mengakui bahwa tak mungkin Al-Qur’an merupakan kalam manusia.

Telah banyak bahasan Al-Qur’an didekati sudut pandang linguistik dan sastrawi. Bahwa, Al-Qur’an memiliki kemukjizatan pada kandungan kebahasaannya, semua pihak hatta para orientalis, telah menyepakati. Dengan kata lain, Al-Qur’an memiliki i’jazul balaghi: kemukjizatannya ditinjau dari ketinggian mutu sastra dan efektivitas kalimat-kalimat yang digunakan. Kemenarikan sudut pandang gaya bahasa (stilistika) serta semacamnya, membuat Al-Qur’an tak habis dikaji hingga hari ini. Pun, tantangan abadi untuk membuat sebuah surah saja seperti surah Al-Qur’an kian menegaskan bahwa kitab suci idealnya juga dikaji perihal gaya penyampaiannya; tidak melulu kajian sudut pandang berbasis teologis berupa perintah dan larangan-Nya.

Salah satu bahasan yang dapat dikatakan masih jarang adalah bagaimana mengkaji gaya bahasa/pengungkapan pada awal surah Al-Qur’an. Buku karangan Moh. Zahid ini mengupas seluk-beluk kekhasan Al-Qur’an dalam memulai sebuah surah. Fawatihus Suwar atau kalimat-kalimat pembuka surah Al-Qur’an, bagi Zahid menarik dikaji karena term ”pembukaan” seperti sebuah kunci. Dan benar saja, Zahid mengabarkan, pembukaan surah yang boleh dibilang tidak biasanya seperti gabungan huruf hijaiah yang tidak memiliki arti, justru menarik perhatian masyarakat kala itu. Mereka penasaran dan dibuat takjub dengan gabungan huruf macam pembukaan surah Al-Baqarah dan Yasin. Karena dibuat penasaran, walhasil, secara otomatis mereka terhanyut untuk terus mendengarkan kalam Ilahi hingga akhir surah.

Baca Juga :  Komunitas La Ngetnik Tidak Mau Kaku dengan Satu Genre Musik

Zahid mewedarkan bahwa pada awalnya terdapat skeptisisme terhadap apa yang disampaikan Nabi Muhammad SAW hingga mereka mendengar awal surah yang tidak lazim berupa gabungan huruf tersebut. Ya, hal ini merupakan sesuatu yang baru atau belum dikenal oleh bangsa Arab saat itu (hlm: 8). Apakah fawatihus suwar hanya dimaksudkan pada ayat pertama? Zahid menjelaskan bahwa fawatihus suwar bisa terdiri beberapa ayat. Al-Baqarah, selain dibuka dengan pembukaan huruf at-tahajji berupa alif, lam dan mim, juga diteruskan hingga empat ayat berikutnya yang dianggap sebagai batas fawatihus suwar.

Ada perincian yang dibabar Zahid atas pelbagai macam corak pembukaan surah. Selain corak at-tahajji macam di atas, disebutkan ada sepuluh lagi apa yang bisa pula disebut dengan ”intro”. Yakni, intro bersumpah, panggilan, pertanyaan, menuding langsung, koersi, doa, bersyarat, kausalitas, intro menjerit (ta’ajjub), dan intro narasi-deskripsi. Ke semua intro ini lantas dibedah satu per satu, baik dari sisi keindahan, kesan, dan pesannya. Pada intro ta’ajjub, Zahid memberi tamsil pada awal surah Al-Isra, yang menekankan pada kata ”subhana”. Kata tersebut bila dikaji secara linguistik-sastrawi, senyatanya menyimpan makna mendalam yang tidak sederhana. Dan, sememangnya dikaitkan dengan peristiwa besar: Isra Mikraj.

Baca Juga :  Pemred Majalah Horison Sebut Bahasa Madura Adalah Bahasa Besar

Kredit poin buku ini adalah Zahid memasukkan teori Komunikasi Massa. Artinya, selain berpegang pada literasi klasik berupa ulumul quran dan ilmu lughah, senyatanya bersesuaian dengan prinsip strategi Ilmu Komunikasi. Paparan Zahid, ada dua hal yang sebabkan komunikasi efektif dapat terbangun baik. Pertama, kemampuan komunikator meyakinkan sasaran komunikasinya. Yang kedua, pada kalimat-kalimat pembukanya. Sederhananya, intro surah boleh jadi sama dengan paragraf pertama pada sebuah karya tulis yang terbilang menentukan bakal sukses untuk dibaca-tidaknya paragraf selanjutnya hingga akhir tulisan.

Apakah intro surah merupakan cerminan/representasi pesan dari sebuah surah? Kiranya tidak sepenuhnya demikian. Lantaran dalam surah yang terdiri dari puluhan atau ratusan ayat, terdapat banyak hal yang diuarkan. Namun, banyaknya gaya intro surah menunjukkan adanya variasi komunikasi, dalam hal ini menunjukkan sisi keunggulan Al-Qur’an atau dalam uraian Zahid: Allah sebagai komunikator Al-Qur’an membuka komunikasi-Nya tersebut dengan menegaskan dan meyakinkan khalayak bahwa diri-Nya merupakan komunikator yang penuh daya tarik (hlm: 265).

- Advertisement -

Idealnya, kemampuan untuk bisa menikmati keindahan kesusastraan Al-Qur’an perlu ditunjang penguasaan bahasa Arab beserta kaidah sastrawinya. Tanpa itu, alias hanya mengandalkan membaca terjemahan misal, bakal sulit untuk bisa mencecapnya. Fakta sosiolinguistik macam ini adalah pesan implisit bagaimana mestinya Al-Qur’an lebih diperbanyak dikaji secara linguistik/kebahasaan. Kendati begitu, Zahid tentu memahami problem tersebut dan karenanya, secara gamblang dan tuturan sederhana, membersamai pembaca luas untuk mencoba mencicipi keindahan gaya bahasa kalam Ilahi. Wallahu a’lam. (*)

MUHAMMAD ITSBATUN NAJIH

Bergiat di Muria Pustaka, Kudus 

 

Artikel Terkait

Most Read

Anak Adam yang Mulia

Rp 300 Juta untuk Pengembangan RTH

Gelar Patroli Skala Besar

Artikel Terbaru

Lima Raperda Siap Dibahas

/