alexametrics
25.3 C
Madura
Friday, September 30, 2022

Ekonomi Indonesia di Tengah Kepungan Invasi

Oleh MOCH. UTSMAN RASYAD*

INDONESIA berdiri di atas pengorbanan rakyat yang ingin lepas dari kungkungan penjajah. Para pendahulu bangsa, ingin mendirikan sebuah negara yang bebas dari penjajahan demi masa depan generasi penerus bangsa kelak. Tidak sedikit yang harus kehilangan nyawa atas upaya tersebut.

Kesungguhan para pejuang membuahkan hasil. Jumat, 17 Agustus 1945, Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaan. Ir Soekarno—sekaligus sebagai presiden pertama Indonesia—didampingi oleh Moh. Hatta, membacakan teks proklamasi tersebut di depan ribuan mata. Inilah yang menjadi semangat baru bagi rakyat Indonesia untuk terus berjuang mengusir penjajah.

Tahun ini, Indonesia berusia 77 tahun, setelah dinyatakan merdeka. Pada usia yang tidak singkat itu, Indonesia telah mengalami banyak sekali perkembangan. Indonesia saat ini telah mampu bersaing dangan negara-negara maju dari seluruh belahan dunia. Misalnya, dalam upaya memulihkan ekonomi pasca pandemi Covid-19, yang hampir tiga tahun mewabah di seluruh dunia. Bahkan, ekonomi Indonesia saat ini mulai meningkat pesat.

Di tengah meningkatnya laju ekonomi, muncul problem baru yang dapat memengaruhi geliat ekonomi di Indonesia. Bahkan, sebagian besar negara di dunia merasakannya. Muara dari masalah ini dipicu oleh kondisi geopolitik beberapa negara yang sedang memanas. Beberapa bulan lalu, Rusia melakukan invasi ke Ukraina. Tentu ini berdampak buruk terhadap perekonomian dunia, terutama di benua Eropa. Sehingga, tindakan invasi yang dilakukan oleh Rusia banyak dikecam banyak negara, terutama negara tetangganya sendiri.

Negara yang menolak invasi Rusia tersebut memberlakukan sanksi yang memberatkan. Sanksi tersebut berupa pelarangan penerbangan ke Rusia dan pembekuan bank atau perusahaan milik Rusia yang ada di negara tersebut. Akan tetapi, Rusia juga tak ambil pusing dan tidak tinggal diam. Karena sejatinya Beruang Merah adalah negara pengekspor migas terbesar di Eropa. Maka, Rusia menutup pipa saluran gas yang mengalirkan gasnya ke negara-negara yang selama ini menjadi langganan minyak bumi dari Rusia.

Baca Juga :  Pemkab Bangkalan Tak Anggarkan Konservasi Koleksi Museum

Ukraina, yang selama ini menjadi pengekspor gandum terbesar, juga terhalang oleh Rusia yang memblokade pelabuhan mereka. Padahal, pelabuhan itu menjadi jalur pengiriman satu-satunya. Kondisi ini berdampak pada naiknya harga komoditas yang biasa diekspor oleh kedua negara. Jika tindakan tersebut terus berlangsung, dunia harus siap mengalami krisis ekonomi besar-besaran.

Masalah lain juga muncul akibat negara Taiwan dan Tiongkok bersitegang. Masalah ini dipicu oleh klaim Tiongkok bahwa Taiwan adalah bagian dari negaranya. Kemudian, Tiongkok menginginkan Taiwan mengikuti sistem yang telah dibangun oleh negara komunis tersebut. Sementara Taiwan tidak mau menyerahkan kepemimpinan Taiwan karena berbeda sistem pemerintahan. Taiwan yang menganut negara demokrasi (Republik) sedangkan Tiongkok menganut negara komunis.

Beberapa usaha Tiongkok menekan Taiwan. Salah satunya, menekan angka impor, dengan melakukan pelarangan bagi negaranya untuk mengimpor barang dari Taiwan. Selain itu, Tiongkok juga memblokir jalur ekspor dan impor Taiwan. Apabila kondisi ini terus berlanjut dan semakin memanas, besar kemungkinan terjadinya invasi Tiongkok terhadap Taiwan. Dunia akan semakin runyam.

Dari semua problematika di atas, Indonesia menjadi salah satu negara terdampak. Mulai dari meningkatnya harga bahan bakar, hingga kurangnya stok gandum yang menjadi bahan baku utama pembuatan mie goreng dan roti. Saat ini Indonesia tengah mengalami inflasi—kenaikan harga suatu barang secara umum dan akan berlansung dalam waktu tertentu—sebesar 4,94 persen per Juli. Tekanan ini bersumber dari kenaikan harga komoditas global akibat memanasnya kondisi geopolitik negara di atas yang sangat mengganggu rantai pasokan global.

Baca Juga :  Memegahkan Ruang Sunyi (Hikayat Nyai Makkiyah Bin Ashim)

Beberapa daerah yang overinflasi, yakni Jambi 8,55 persen; Sumatera Barat 8,01 persen; diikuti Riau 7,04 persen. Maka dari itu, pemerintah sedang berusaha menekan inflasi hingga 3 persen ke bawah dengan meratakan suplai makanan dan barang lainnya agar harganya tidak melonjak.

Akan tetapi, Indonesia juga mendapat keuntungan dari semua problematika yang terjadi, karena Indonesia menjadi negara yang digandrungi barang ekspornya. Mulai dari baja, nikel, batubara, minyak mentah, dan banyak lagi lainnya.

Selain sumber daya alamnya yang banyak dilirik dunia, akhir-akhir ini pemerintah Indonesia sedang gencar untuk mempercepat realisasi penggunaan mobil listrik berbasis baterai di dalam negeri. Mobil listrik buatan Indonesia banyak diminati, karena banyak keunggulan yang didapat dari mobil tersebut. Beberapa keunggulan di antaranya mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dan mencegah pemanasan global yang sedang terjadi di seluruh dunia.

Mengingat saat ini harga bahan bakar dunia melonjak tajam karena stoknya yang sedikit. Penyebabnya adalah invasi Rusia-Ukraina. Akibatnya, Rusia tidak bisa menjual minyaknya karena adanya sanksi yang memberatkan. Padahal mereka perlu uang untuk membiayai invasi yang mereka lakukan.

Kondisi ini menjadikan negara di dunia kebingungan mencari pengganti untuk impor beberapa komoditas yang diperlukan. Kemudian, mengandalkan Indonesia sebagai alternatif. Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pemerintah Indonesia. Sebuah negara harus bisa belajar dari yang lalu untuk memperbaikinya, karena pemerintahan bagaikan roda yang selalu berjalan. (*)

*)Santri TMI Al-Amien Prenduan, kelas III B Asal Tambaksari, Surabaya

Oleh MOCH. UTSMAN RASYAD*

INDONESIA berdiri di atas pengorbanan rakyat yang ingin lepas dari kungkungan penjajah. Para pendahulu bangsa, ingin mendirikan sebuah negara yang bebas dari penjajahan demi masa depan generasi penerus bangsa kelak. Tidak sedikit yang harus kehilangan nyawa atas upaya tersebut.

Kesungguhan para pejuang membuahkan hasil. Jumat, 17 Agustus 1945, Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaan. Ir Soekarno—sekaligus sebagai presiden pertama Indonesia—didampingi oleh Moh. Hatta, membacakan teks proklamasi tersebut di depan ribuan mata. Inilah yang menjadi semangat baru bagi rakyat Indonesia untuk terus berjuang mengusir penjajah.


Tahun ini, Indonesia berusia 77 tahun, setelah dinyatakan merdeka. Pada usia yang tidak singkat itu, Indonesia telah mengalami banyak sekali perkembangan. Indonesia saat ini telah mampu bersaing dangan negara-negara maju dari seluruh belahan dunia. Misalnya, dalam upaya memulihkan ekonomi pasca pandemi Covid-19, yang hampir tiga tahun mewabah di seluruh dunia. Bahkan, ekonomi Indonesia saat ini mulai meningkat pesat.

Di tengah meningkatnya laju ekonomi, muncul problem baru yang dapat memengaruhi geliat ekonomi di Indonesia. Bahkan, sebagian besar negara di dunia merasakannya. Muara dari masalah ini dipicu oleh kondisi geopolitik beberapa negara yang sedang memanas. Beberapa bulan lalu, Rusia melakukan invasi ke Ukraina. Tentu ini berdampak buruk terhadap perekonomian dunia, terutama di benua Eropa. Sehingga, tindakan invasi yang dilakukan oleh Rusia banyak dikecam banyak negara, terutama negara tetangganya sendiri.

Negara yang menolak invasi Rusia tersebut memberlakukan sanksi yang memberatkan. Sanksi tersebut berupa pelarangan penerbangan ke Rusia dan pembekuan bank atau perusahaan milik Rusia yang ada di negara tersebut. Akan tetapi, Rusia juga tak ambil pusing dan tidak tinggal diam. Karena sejatinya Beruang Merah adalah negara pengekspor migas terbesar di Eropa. Maka, Rusia menutup pipa saluran gas yang mengalirkan gasnya ke negara-negara yang selama ini menjadi langganan minyak bumi dari Rusia.

Baca Juga :  Korona dan Kesempatan untuk Merenung

Ukraina, yang selama ini menjadi pengekspor gandum terbesar, juga terhalang oleh Rusia yang memblokade pelabuhan mereka. Padahal, pelabuhan itu menjadi jalur pengiriman satu-satunya. Kondisi ini berdampak pada naiknya harga komoditas yang biasa diekspor oleh kedua negara. Jika tindakan tersebut terus berlangsung, dunia harus siap mengalami krisis ekonomi besar-besaran.

- Advertisement -

Masalah lain juga muncul akibat negara Taiwan dan Tiongkok bersitegang. Masalah ini dipicu oleh klaim Tiongkok bahwa Taiwan adalah bagian dari negaranya. Kemudian, Tiongkok menginginkan Taiwan mengikuti sistem yang telah dibangun oleh negara komunis tersebut. Sementara Taiwan tidak mau menyerahkan kepemimpinan Taiwan karena berbeda sistem pemerintahan. Taiwan yang menganut negara demokrasi (Republik) sedangkan Tiongkok menganut negara komunis.

Beberapa usaha Tiongkok menekan Taiwan. Salah satunya, menekan angka impor, dengan melakukan pelarangan bagi negaranya untuk mengimpor barang dari Taiwan. Selain itu, Tiongkok juga memblokir jalur ekspor dan impor Taiwan. Apabila kondisi ini terus berlanjut dan semakin memanas, besar kemungkinan terjadinya invasi Tiongkok terhadap Taiwan. Dunia akan semakin runyam.

Dari semua problematika di atas, Indonesia menjadi salah satu negara terdampak. Mulai dari meningkatnya harga bahan bakar, hingga kurangnya stok gandum yang menjadi bahan baku utama pembuatan mie goreng dan roti. Saat ini Indonesia tengah mengalami inflasi—kenaikan harga suatu barang secara umum dan akan berlansung dalam waktu tertentu—sebesar 4,94 persen per Juli. Tekanan ini bersumber dari kenaikan harga komoditas global akibat memanasnya kondisi geopolitik negara di atas yang sangat mengganggu rantai pasokan global.

Baca Juga :  Apa Kabar, Petani Tembakau?

Beberapa daerah yang overinflasi, yakni Jambi 8,55 persen; Sumatera Barat 8,01 persen; diikuti Riau 7,04 persen. Maka dari itu, pemerintah sedang berusaha menekan inflasi hingga 3 persen ke bawah dengan meratakan suplai makanan dan barang lainnya agar harganya tidak melonjak.

Akan tetapi, Indonesia juga mendapat keuntungan dari semua problematika yang terjadi, karena Indonesia menjadi negara yang digandrungi barang ekspornya. Mulai dari baja, nikel, batubara, minyak mentah, dan banyak lagi lainnya.

Selain sumber daya alamnya yang banyak dilirik dunia, akhir-akhir ini pemerintah Indonesia sedang gencar untuk mempercepat realisasi penggunaan mobil listrik berbasis baterai di dalam negeri. Mobil listrik buatan Indonesia banyak diminati, karena banyak keunggulan yang didapat dari mobil tersebut. Beberapa keunggulan di antaranya mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dan mencegah pemanasan global yang sedang terjadi di seluruh dunia.

Mengingat saat ini harga bahan bakar dunia melonjak tajam karena stoknya yang sedikit. Penyebabnya adalah invasi Rusia-Ukraina. Akibatnya, Rusia tidak bisa menjual minyaknya karena adanya sanksi yang memberatkan. Padahal mereka perlu uang untuk membiayai invasi yang mereka lakukan.

Kondisi ini menjadikan negara di dunia kebingungan mencari pengganti untuk impor beberapa komoditas yang diperlukan. Kemudian, mengandalkan Indonesia sebagai alternatif. Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pemerintah Indonesia. Sebuah negara harus bisa belajar dari yang lalu untuk memperbaikinya, karena pemerintahan bagaikan roda yang selalu berjalan. (*)

*)Santri TMI Al-Amien Prenduan, kelas III B Asal Tambaksari, Surabaya

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Lima Raperda Siap Dibahas

/