alexametrics
24.1 C
Madura
Wednesday, August 10, 2022

Neng Faizah dan Wasiat Abi

Cerpen MUHTADI ZL.*

SEMENJAK kematian abi, tak lagi kutemukan sesabit purnama di bibirmu rekah menyinari malam. Senyum berhias gigi taring nyaris menyerupai gigi gingsul itu tak lagi terekam di retinaku. Kau terlalu menahan kepergian. Terlalu dalam menghayati kesedihan. Terlalu…. Hingga lupa bahwa tiga hari lagi kau harus kembali ke pondok menyelesaikan kuliah semester duamu.

Kembali ke pondok di Pulau Garam atau menetap di rumah meneruskan perjuangan abi adalah pilihan sulit yang harus kau putuskan segera. Kau tidak boleh membebani umi yang perlahan batuk-batuk. Kau juga tidak tega melihat kondisi umi, tetapi apalah arti nasi jatuh ke lumpur, wasiat abi harus kau kabulkan. Kadung terucap padamu yang menahan sesenggukan, pantang bagimu menolak permintaan.

”Faiz harus kembali ke Madura….” Terbata-bata abi mengucap kalimat itu.

”Abi tidak usah memaksakan diri,” cegahmu cepat-cepat.

Abi tersenyum setelah kau mengangguk cepat-cepat.

Romantika air mata begitu saja tumpah di kamar. Peluh dan air mata bercampur menjadi satu. Padahal dua hari lagi salat Ied segera menemui. Takbir kemenangan tak lama lagi akan menggema seantero desa. Senyum, canda, dan tawa akan segera tersaji di pagi-pagi dua hari lagi. Dalam hati, kau benar-benar berharap suasana itu kembali menemui keluarga kecilmu. Tetapi segalanya patah ketika kondisi abi…. Kau enggan menceritakannya, termasuk kepadaku, terlebih wasiat abi di tengah malam yang terucap padamu.

Abi banyak menaruh harap kepadamu daripada adik-adikmu. Bukan karena adik-adikmu masih kecil, tetapi kau sengaja dimondokkan ke Madura hanya alasan meneruskan kepemimpinan lembaga di rumah.

Sebagai teman lama yang ”serasa” baru kenal kembali, menaruh prihatin. Aku tahu sikapmu seperti apa. Karaktermu bagaimana. Hanya saja, semenjak kau dimondokkan di Madura, Sidomukti berasa hampa. Dengar-dengar dari tetangga, kau layak meneruskan lembaga abi. Tetapi, kau selalu murung ketika pertanyaan itu terlontar kepadamu.

”Kenapa Neng Faiz selalu menghindar dari pertanyaan itu?” sempat aku bertanya setelah abi dikubur genap tujuh hari.

Seketika, kau akan menunduk, acuh kepada sekitar termasuk diriku yang ada di hadapanmu. Aku terbiasa menemuimu sampai sedekat ini, jika bukan dawuh abi, mana mungkin aku melakukannya.

”Kamu tidak mau ke toko Buk May nanti?” kau mendongak dan mengalihkan topik pembicaraan.

”Kalau Neng Faiz mau membeli sesuatu, biar saya yang jalan,” tawarku.

”Tidak…tidak….” Cepat-cepat kau menjawab.

***

Sore tiba, tanggal kembali ke pondok di depan mata. Barang-barangmu sudah kau kemas sedari tadi pagi. Meski hatimu kukuh untuk tidak kembali ke Madura, terlebih kepergian abi memaksamu untuk menetap di desa. Tapi kau tidak bisa, wasiat abi terlalu memenjara, kau harus kembali ke Madura untuk menyelesaikan kuliahmu.

”Nak Ali yang nemenin Faiz ke pondok ya,” suara itu halus memberntur gendang telinga.

Kau terperangah mendengar penuturan umi. Terlebih aku yang hanya teman karib, bukan siapa-siapa. Aku canggung, entah dengan dirimu.

”Kenapa harus Ali, Umi?”

”Umi khawatir dengan kondisimu ketika di perjalanan.”

”Faiz akan baik-baik saja di perjalanan, Umi.”

”Umi hanya percaya, tapi tidak yakin.”

”Tapi wasiat abi….” Kau menghentikan perkataanmu seketika.

”Iya, ini demi melancarkan wasiat abi, Faiz,” tambah umi.

Baca Juga :  Membaca (Ulang) Sejarah Madura

Yang kau maksud bukan wasiat itu. Umi tidak tahu. Aku tidak tahu, yang tahu hanya dirimu dan abi. Sedang waktu itu, kau tidak bisa menceritakan wasiat abi selain yang disebutkan umi. Entah apa yang membuatmu gagal menceritakan wasiat itu, tidak ada yang tahu, paling-paling karena ada aku yang bukan termasuk keluarga kacilmu.

Sebentar lagi bus yang telah kau pesan akan datang. Aku pun hanya membawa bekal ala kadarnya, tidak terlalu ribet dan ruwet. Sebab, aku tak mau menyusahkanmu selama perjalanan.

”Toko tabing kiri jalan dari arah timur, kami tunggu di situ ya, Mas,” itu yang kudengar dari bibir sabit purnama berhias lesung pipi di rupamu.

Aku tahu toko itu, toko yang biasa menjadi tempat kau bercerita dengan Aini, teman karibmu juga. Akan tetapi, semenjak ia tidak nyantri di Madura, kau tak lagi benar-benar akrab. Belum lagi Aini yang mempunyai kesibukan mengajar di taman kanak-kanak.

Awalnya, yang kudengar dari pembicaraanmu, kau dan Aini bakal ke Madura bersama. Akan tetapi, semenjak kematian abi, duka mendung Sidomulyo belum juga pindah. Termasuk Aini yang lebih memilih mengurungkan niatnya hanya karena awan kelabu menyelimuti matanya belum juga singgah.

Di toko itu, selepas adan Magrib, orang-orang berkumpul untuk menangisi kepergianmu. Kuhitung sembilan orang sampai. Doa-doa terucap dari bibir kelu itu hanya demi dirimu, harapan Sidomulyo. Mereka berharap banyak pada dirimu. Seolah impian mereka akan terwujud bila kau melepas status nyantri dan kembali menjadi warga Sidomulyo.

Cukup lama kuamati wajahmu betul-betul, kau nampak begitu cemas. Dan itu lebih berat dari kepergian abi. Apesnya, aku tidak begitu berani menanyakan sebab kecemasanmu itu. Barangkali orang-orang di sekitarmu, yang juga ikut menunggu kedatangan travel merah bercorak kuning, juga merasakan apa yang aku curigai.

”Neng Faiz ini keripik talas balado untuk dimakan selama perjalanan,” Buk Mar menawari sambil mengulurkan dua bungkus keripik.

”Tidak usah repot-repot, Buk, lagian umi juga sudah cukup ngasih buah tangannya,” balasmu canggung dengan merendahkan kepala.

”Tidak repot kok, Neng, apalagi Buk Mar tak memberi uang pada Neng Faiz,” ada raut sedih bila benar kau tolak pemberian itu. Hingga dengan berat dada, kau menerima dua bungkus keripik itu dan menjinjingnya.

”Biar saya saja yang bawakan Neng, tas saya belum penuh masih,” tawarku setelah melihat kardus dan ranselmu tidak cukup memuat barang.

”Tapi tidak ngerepotin Ali, kan?”

”Tidak Neng, tidak, sama sekali tidak ngerepotin saya,” cepat-cepat aku menjawab meyakinkan dirimu.

Tiba-tiba hapemu berdering. Kau menekan logo hijau bergambar telepon. Ada seseorang berbicara di seberang sana.

”Ini saya di pertigaan lurus, belok kanan, dan ada toko tabing kiri jalan,” sopir di seberang sana menelepon.

”Bukan toko yang itu, Mas. Coba belok ke kanan. Nanti ada toko tabingi juga di kiri jalan.”

Sopir itu menutup sambungan telepon. Lagi-lagi wajahmu serupa purnama dikelabui awan mendung. Kuterka, kesedihanmu terbuat dari kepergian yang akan cukup lama. Bagi orang-orang Sidomulyo, satu tahun bukan waktu yang sebentar. Apalagi kepergian seperti ini akan menemuimu sampai tiga tahun mendatang.

Baca Juga :  Nyoppre Barokah

Ingin sekali aku berbicara banyak pada dirimu. Tapi lidahku kaku. Pikiranku beku. Tak ada yang bisa aku ucap selain ”Aku pergi, Bu” yang sedari tadi ada di dekatku. Sesekali kau melempar senyum pada ibuku, sedang aku sesekali pula menganggukkan kepala berhias senyum pada umimu.

”Itu travelnya datang, Neng,” ucap Buk Mar sambil menunjuk arah timur.

Kau melirik sekitar, menghitung jumlah kardus yang akan kaubawa. Aku pun menghitung dan mengambil tas untuk kugendong. Kau mulai bersalaman pada orang-orang di sekitarmu. Sejatinya aku juga ingin mengekori, tetapi siapa aku? Aku bukan harapan mereka, tidak seperti dirimu. Sungkemku hanya cukup pada ibu dan umimu.

”Jaga Neng Faiz, ya, Nak Ali,” Buk Mar lantang mengutarakan pintanya.

Aku mengangguk, ”Iya, Buk, saya siap bertanggung jawab bila terjadi sesuatu pada Neng Faiz,” ucapku mantap. Kau melirikku dengan tatapan heran, dan aku tidak tahu harus memaknai apa ucapan itu.

”Iya, Nak Ali, yang dikatakan Buk Mar itu benar, jaga Faiz, pastikan dia selamat sampai pondok,” permintaan umimu jadi pecut dalam diriku untuk siap berkorban demi dirimu.

Kau masuk lebih dulu, lalu kemudian kususul dan duduk di samping kiri menjagamu agar tidak jatuh ketika terlelap. Bukan aku berharap kepalamu jatuh di bahuku, bukan, bukan itu yang kumaksud. Aku hanya tidak ingin kepalamu jatuh tiba-tiba, dan kau merasa pegal seketika pula.

Dalam perjalanan, aku lebih banyak diam, apalagi kau lebih sibuk dengan hape. Benar sungkan untuk bertanya sesuatu. Takut mengganggu kekhusyukanmu bermain hape. Sehingga, aku menahan diri untuk tidak bertanya.

Sesekali aku melirik tanpa sepengetahuanmu. Sedikitpun tak kutemukan rona bahagia yang menyelimuti wajah purnama itu, kecuali kau paksa.

”Neng Faiz kepikiran apa?” kuberanikan diri bertanya setelah kau tak lagi khusyuk pada hapemu.

Kau melirik bergitu pelan. Tak ada raut bahagia yang tulus tercipta. ”Banyak,” begitu singkat jawabanmu.

”Apa yang paling menarik perasaan Neng Faiz merenung seperti ini?”

Kulihat kau diam, berpikir keras mencari peristiwa yang sangat membuatmu terpekur sampai tak sedikitpun dipenuhi raut bahagia yang tulus.

”Kepergian abi, lalu umi dan adik-adik yang kutinggal, lembaga di rumah, wasiat abi yang dua itu, itu saja.”

Aku langsung kepikiran wasiat abi yang kedua, barangkali wasiat itu yang membuatmu termenung sampai sejauh ini. Dan aku ingin tahu….tapi siapa aku?

”Apa saya boleh tahu wasiat abi yang terakhir itu?”

Sontak kau menunduk, berpikir keras antara menjawab atau tidak. Di posisi ini, aku merasa benar bersalah. Ingin sekali aku menampar bibirku keras-keras karena telanjur berucap kata itu.

”Faiz disuruh menikah dengan Ali.”

Daaar…! (*)

 

Annuqayah Lubangsa, 23/05/2022

 

*)Kelahiran Gedangan, Sukogidri, Ledokombo, Jember. Kini nyantri di Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk, Sumenep. Sedang menyelesaikan Studi Hukum Ekonomi Syari’ah di Institut Ilmu Keislaman (Instika) Guluk-Guluk. Aktif di Komunitas Nulis (KCN) Lubsel, Komunitas Penulis Kreatif (KPK) Iksaj, Lesehan Pojok Sastra (LPS) Lubangsa.

Cerpen MUHTADI ZL.*

SEMENJAK kematian abi, tak lagi kutemukan sesabit purnama di bibirmu rekah menyinari malam. Senyum berhias gigi taring nyaris menyerupai gigi gingsul itu tak lagi terekam di retinaku. Kau terlalu menahan kepergian. Terlalu dalam menghayati kesedihan. Terlalu…. Hingga lupa bahwa tiga hari lagi kau harus kembali ke pondok menyelesaikan kuliah semester duamu.

Kembali ke pondok di Pulau Garam atau menetap di rumah meneruskan perjuangan abi adalah pilihan sulit yang harus kau putuskan segera. Kau tidak boleh membebani umi yang perlahan batuk-batuk. Kau juga tidak tega melihat kondisi umi, tetapi apalah arti nasi jatuh ke lumpur, wasiat abi harus kau kabulkan. Kadung terucap padamu yang menahan sesenggukan, pantang bagimu menolak permintaan.


”Faiz harus kembali ke Madura….” Terbata-bata abi mengucap kalimat itu.

”Abi tidak usah memaksakan diri,” cegahmu cepat-cepat.

Abi tersenyum setelah kau mengangguk cepat-cepat.

Romantika air mata begitu saja tumpah di kamar. Peluh dan air mata bercampur menjadi satu. Padahal dua hari lagi salat Ied segera menemui. Takbir kemenangan tak lama lagi akan menggema seantero desa. Senyum, canda, dan tawa akan segera tersaji di pagi-pagi dua hari lagi. Dalam hati, kau benar-benar berharap suasana itu kembali menemui keluarga kecilmu. Tetapi segalanya patah ketika kondisi abi…. Kau enggan menceritakannya, termasuk kepadaku, terlebih wasiat abi di tengah malam yang terucap padamu.

Abi banyak menaruh harap kepadamu daripada adik-adikmu. Bukan karena adik-adikmu masih kecil, tetapi kau sengaja dimondokkan ke Madura hanya alasan meneruskan kepemimpinan lembaga di rumah.

Sebagai teman lama yang ”serasa” baru kenal kembali, menaruh prihatin. Aku tahu sikapmu seperti apa. Karaktermu bagaimana. Hanya saja, semenjak kau dimondokkan di Madura, Sidomukti berasa hampa. Dengar-dengar dari tetangga, kau layak meneruskan lembaga abi. Tetapi, kau selalu murung ketika pertanyaan itu terlontar kepadamu.

”Kenapa Neng Faiz selalu menghindar dari pertanyaan itu?” sempat aku bertanya setelah abi dikubur genap tujuh hari.

Seketika, kau akan menunduk, acuh kepada sekitar termasuk diriku yang ada di hadapanmu. Aku terbiasa menemuimu sampai sedekat ini, jika bukan dawuh abi, mana mungkin aku melakukannya.

”Kamu tidak mau ke toko Buk May nanti?” kau mendongak dan mengalihkan topik pembicaraan.

”Kalau Neng Faiz mau membeli sesuatu, biar saya yang jalan,” tawarku.

”Tidak…tidak….” Cepat-cepat kau menjawab.

***

Sore tiba, tanggal kembali ke pondok di depan mata. Barang-barangmu sudah kau kemas sedari tadi pagi. Meski hatimu kukuh untuk tidak kembali ke Madura, terlebih kepergian abi memaksamu untuk menetap di desa. Tapi kau tidak bisa, wasiat abi terlalu memenjara, kau harus kembali ke Madura untuk menyelesaikan kuliahmu.

”Nak Ali yang nemenin Faiz ke pondok ya,” suara itu halus memberntur gendang telinga.

Kau terperangah mendengar penuturan umi. Terlebih aku yang hanya teman karib, bukan siapa-siapa. Aku canggung, entah dengan dirimu.

”Kenapa harus Ali, Umi?”

”Umi khawatir dengan kondisimu ketika di perjalanan.”

”Faiz akan baik-baik saja di perjalanan, Umi.”

”Umi hanya percaya, tapi tidak yakin.”

”Tapi wasiat abi….” Kau menghentikan perkataanmu seketika.

”Iya, ini demi melancarkan wasiat abi, Faiz,” tambah umi.

Baca Juga :  Paddhang Bulan Bangun Kesadaran Budaya dari Pinggiran

Yang kau maksud bukan wasiat itu. Umi tidak tahu. Aku tidak tahu, yang tahu hanya dirimu dan abi. Sedang waktu itu, kau tidak bisa menceritakan wasiat abi selain yang disebutkan umi. Entah apa yang membuatmu gagal menceritakan wasiat itu, tidak ada yang tahu, paling-paling karena ada aku yang bukan termasuk keluarga kacilmu.

Sebentar lagi bus yang telah kau pesan akan datang. Aku pun hanya membawa bekal ala kadarnya, tidak terlalu ribet dan ruwet. Sebab, aku tak mau menyusahkanmu selama perjalanan.

”Toko tabing kiri jalan dari arah timur, kami tunggu di situ ya, Mas,” itu yang kudengar dari bibir sabit purnama berhias lesung pipi di rupamu.

Aku tahu toko itu, toko yang biasa menjadi tempat kau bercerita dengan Aini, teman karibmu juga. Akan tetapi, semenjak ia tidak nyantri di Madura, kau tak lagi benar-benar akrab. Belum lagi Aini yang mempunyai kesibukan mengajar di taman kanak-kanak.

Awalnya, yang kudengar dari pembicaraanmu, kau dan Aini bakal ke Madura bersama. Akan tetapi, semenjak kematian abi, duka mendung Sidomulyo belum juga pindah. Termasuk Aini yang lebih memilih mengurungkan niatnya hanya karena awan kelabu menyelimuti matanya belum juga singgah.

Di toko itu, selepas adan Magrib, orang-orang berkumpul untuk menangisi kepergianmu. Kuhitung sembilan orang sampai. Doa-doa terucap dari bibir kelu itu hanya demi dirimu, harapan Sidomulyo. Mereka berharap banyak pada dirimu. Seolah impian mereka akan terwujud bila kau melepas status nyantri dan kembali menjadi warga Sidomulyo.

Cukup lama kuamati wajahmu betul-betul, kau nampak begitu cemas. Dan itu lebih berat dari kepergian abi. Apesnya, aku tidak begitu berani menanyakan sebab kecemasanmu itu. Barangkali orang-orang di sekitarmu, yang juga ikut menunggu kedatangan travel merah bercorak kuning, juga merasakan apa yang aku curigai.

”Neng Faiz ini keripik talas balado untuk dimakan selama perjalanan,” Buk Mar menawari sambil mengulurkan dua bungkus keripik.

”Tidak usah repot-repot, Buk, lagian umi juga sudah cukup ngasih buah tangannya,” balasmu canggung dengan merendahkan kepala.

”Tidak repot kok, Neng, apalagi Buk Mar tak memberi uang pada Neng Faiz,” ada raut sedih bila benar kau tolak pemberian itu. Hingga dengan berat dada, kau menerima dua bungkus keripik itu dan menjinjingnya.

”Biar saya saja yang bawakan Neng, tas saya belum penuh masih,” tawarku setelah melihat kardus dan ranselmu tidak cukup memuat barang.

”Tapi tidak ngerepotin Ali, kan?”

”Tidak Neng, tidak, sama sekali tidak ngerepotin saya,” cepat-cepat aku menjawab meyakinkan dirimu.

Tiba-tiba hapemu berdering. Kau menekan logo hijau bergambar telepon. Ada seseorang berbicara di seberang sana.

”Ini saya di pertigaan lurus, belok kanan, dan ada toko tabing kiri jalan,” sopir di seberang sana menelepon.

”Bukan toko yang itu, Mas. Coba belok ke kanan. Nanti ada toko tabingi juga di kiri jalan.”

Sopir itu menutup sambungan telepon. Lagi-lagi wajahmu serupa purnama dikelabui awan mendung. Kuterka, kesedihanmu terbuat dari kepergian yang akan cukup lama. Bagi orang-orang Sidomulyo, satu tahun bukan waktu yang sebentar. Apalagi kepergian seperti ini akan menemuimu sampai tiga tahun mendatang.

Baca Juga :  HPN, 14 Wartawan Baca Puisi di Balai Pemuda Surabaya

Ingin sekali aku berbicara banyak pada dirimu. Tapi lidahku kaku. Pikiranku beku. Tak ada yang bisa aku ucap selain ”Aku pergi, Bu” yang sedari tadi ada di dekatku. Sesekali kau melempar senyum pada ibuku, sedang aku sesekali pula menganggukkan kepala berhias senyum pada umimu.

”Itu travelnya datang, Neng,” ucap Buk Mar sambil menunjuk arah timur.

Kau melirik sekitar, menghitung jumlah kardus yang akan kaubawa. Aku pun menghitung dan mengambil tas untuk kugendong. Kau mulai bersalaman pada orang-orang di sekitarmu. Sejatinya aku juga ingin mengekori, tetapi siapa aku? Aku bukan harapan mereka, tidak seperti dirimu. Sungkemku hanya cukup pada ibu dan umimu.

”Jaga Neng Faiz, ya, Nak Ali,” Buk Mar lantang mengutarakan pintanya.

Aku mengangguk, ”Iya, Buk, saya siap bertanggung jawab bila terjadi sesuatu pada Neng Faiz,” ucapku mantap. Kau melirikku dengan tatapan heran, dan aku tidak tahu harus memaknai apa ucapan itu.

”Iya, Nak Ali, yang dikatakan Buk Mar itu benar, jaga Faiz, pastikan dia selamat sampai pondok,” permintaan umimu jadi pecut dalam diriku untuk siap berkorban demi dirimu.

Kau masuk lebih dulu, lalu kemudian kususul dan duduk di samping kiri menjagamu agar tidak jatuh ketika terlelap. Bukan aku berharap kepalamu jatuh di bahuku, bukan, bukan itu yang kumaksud. Aku hanya tidak ingin kepalamu jatuh tiba-tiba, dan kau merasa pegal seketika pula.

Dalam perjalanan, aku lebih banyak diam, apalagi kau lebih sibuk dengan hape. Benar sungkan untuk bertanya sesuatu. Takut mengganggu kekhusyukanmu bermain hape. Sehingga, aku menahan diri untuk tidak bertanya.

Sesekali aku melirik tanpa sepengetahuanmu. Sedikitpun tak kutemukan rona bahagia yang menyelimuti wajah purnama itu, kecuali kau paksa.

”Neng Faiz kepikiran apa?” kuberanikan diri bertanya setelah kau tak lagi khusyuk pada hapemu.

Kau melirik bergitu pelan. Tak ada raut bahagia yang tulus tercipta. ”Banyak,” begitu singkat jawabanmu.

”Apa yang paling menarik perasaan Neng Faiz merenung seperti ini?”

Kulihat kau diam, berpikir keras mencari peristiwa yang sangat membuatmu terpekur sampai tak sedikitpun dipenuhi raut bahagia yang tulus.

”Kepergian abi, lalu umi dan adik-adik yang kutinggal, lembaga di rumah, wasiat abi yang dua itu, itu saja.”

Aku langsung kepikiran wasiat abi yang kedua, barangkali wasiat itu yang membuatmu termenung sampai sejauh ini. Dan aku ingin tahu….tapi siapa aku?

”Apa saya boleh tahu wasiat abi yang terakhir itu?”

Sontak kau menunduk, berpikir keras antara menjawab atau tidak. Di posisi ini, aku merasa benar bersalah. Ingin sekali aku menampar bibirku keras-keras karena telanjur berucap kata itu.

”Faiz disuruh menikah dengan Ali.”

Daaar…! (*)

 

Annuqayah Lubangsa, 23/05/2022

 

*)Kelahiran Gedangan, Sukogidri, Ledokombo, Jember. Kini nyantri di Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk, Sumenep. Sedang menyelesaikan Studi Hukum Ekonomi Syari’ah di Institut Ilmu Keislaman (Instika) Guluk-Guluk. Aktif di Komunitas Nulis (KCN) Lubsel, Komunitas Penulis Kreatif (KPK) Iksaj, Lesehan Pojok Sastra (LPS) Lubangsa.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/