alexametrics
23.2 C
Madura
Thursday, January 20, 2022

Politik Budaya yang Mengerikan

BUDAYA rimba seolah-olah telah menjadi budaya manusia dalam ranah politik. Kekuasaan menjadi Tuhan bagi para pelaku politik. Akhirnya, politik yang pada awalnya merupakan sebuah medium aspirasi rakyat untuk melawan ketertindasan sudah bergeser dan bahkan menjadi bomerang.

Permasalahan yang paling krusial dan sulit dipecahkan dalam kehidupan bernegara adalah persoalan politik. Hal ini mengingat kecenderungan para pelaku politik selalu mencari pembenaran, dalil-dalil qath’i untuk menguatkan sebagai keabsahan argumennya. Hal semacam itu juga ditengarai oleh beberapa tokoh politik, terutama politik dalam versi sosialisme Karl Marx. Marx yang dikenal sebagai pembela kaum bawah berkali-kali meneriakkan ketidakpuasannya atas hegemoni negara yang dipandang menindas kepada rakyat.

Sampai detik ini, dalam konteks ke-Indonesia-an, politik tidak lagi menjadi wadah yang berorientasi pada kemakmuran bangsa dan rakyat. Tetapi, secara realitas, politik di negeri ini sudah menjadi budaya atau bahkan tradisi yang dimitoskan. Maka, tidak heran apabila politik telah menjadi budaya. Bisa dikatakan sebagai ladang mata pencaharian yang prospektif dan satu-satunya pencaharian para politikus busuk.

Baca Juga :  Wartawan JPRM Raih Anugerah Sastera Rancagè 2021

Teori pembangunan Rostow yang menjadi landasan pemerintahan Orde Baru telah mengantarkan negeri ini pada krisis multidimensional yang hegemonik. Runtuhnya Orde Baru betul-betul menampakkan kebobrokan sistem. Semenjak itulah rakyat seolah-olah menjadi bulan-bulanan sistem yang ditunjang oleh kerdilnya mental para politikus bangsa ini. Lagi-lagi rakyat dipaksa untuk mengonsumsi budaya-budaya yang tidak mendidik secara instan.

Akar kapitalisme global yang pada zaman modern sekarang dimotori oleh Amerika Serikat sulit ditaklukkan, bahkan mustahil termanisfestasikan secara aplikatif dalam dunia ketiga seperti Indonesia. Bagi Indonesia, cita-cita masyarakat madani, kini hanya tinggal nostalgia atau mungkin sekadar epos belaka.

Runtutan sejarah pasca Orde Baru sampai masa Reformasi, selama sistem yang selalu terkonstruk rapi dan bercela—menjadi amat sulit untuk mencapai titik kulminasi dari sebuah cita-cita. Betapa tidak, berdasarkan analisis sosial, dalam kondisi bangsa seperti saat ini, yang mana kemiskinan menjadi problem utama yang rentan menimbulkan budaya generasi konsumtif.

Baca Juga :  Bintang Kecil Tempat Gembleng Calon Anggota

Hal ini diperparah oleh cara berpikir yang cenderung positivistik sebagai imbas dari embusan kapitalisme global; upaya pengonstruksian cara dan model hidup yang serba bergantung pada materi.

Sekarang bagaimana peran kita sebagai generasi bangsa, apakah kita akan membiarkan hal itu? Sistem yang menindas dibiarkan tumbuh dan merajalela yang secara otomatis memberikan kesempatan luas bagi tumbuh kembangnya kapitalisme global yang jelas-jelas berorientasi pada pengejawantahan model kolonialisme edisi revisi. (*)

*)Sastrawan/budayawan

BUDAYA rimba seolah-olah telah menjadi budaya manusia dalam ranah politik. Kekuasaan menjadi Tuhan bagi para pelaku politik. Akhirnya, politik yang pada awalnya merupakan sebuah medium aspirasi rakyat untuk melawan ketertindasan sudah bergeser dan bahkan menjadi bomerang.

Permasalahan yang paling krusial dan sulit dipecahkan dalam kehidupan bernegara adalah persoalan politik. Hal ini mengingat kecenderungan para pelaku politik selalu mencari pembenaran, dalil-dalil qath’i untuk menguatkan sebagai keabsahan argumennya. Hal semacam itu juga ditengarai oleh beberapa tokoh politik, terutama politik dalam versi sosialisme Karl Marx. Marx yang dikenal sebagai pembela kaum bawah berkali-kali meneriakkan ketidakpuasannya atas hegemoni negara yang dipandang menindas kepada rakyat.

Sampai detik ini, dalam konteks ke-Indonesia-an, politik tidak lagi menjadi wadah yang berorientasi pada kemakmuran bangsa dan rakyat. Tetapi, secara realitas, politik di negeri ini sudah menjadi budaya atau bahkan tradisi yang dimitoskan. Maka, tidak heran apabila politik telah menjadi budaya. Bisa dikatakan sebagai ladang mata pencaharian yang prospektif dan satu-satunya pencaharian para politikus busuk.

Baca Juga :  HPN, 14 Wartawan Baca Puisi di Balai Pemuda Surabaya

Teori pembangunan Rostow yang menjadi landasan pemerintahan Orde Baru telah mengantarkan negeri ini pada krisis multidimensional yang hegemonik. Runtuhnya Orde Baru betul-betul menampakkan kebobrokan sistem. Semenjak itulah rakyat seolah-olah menjadi bulan-bulanan sistem yang ditunjang oleh kerdilnya mental para politikus bangsa ini. Lagi-lagi rakyat dipaksa untuk mengonsumsi budaya-budaya yang tidak mendidik secara instan.

Akar kapitalisme global yang pada zaman modern sekarang dimotori oleh Amerika Serikat sulit ditaklukkan, bahkan mustahil termanisfestasikan secara aplikatif dalam dunia ketiga seperti Indonesia. Bagi Indonesia, cita-cita masyarakat madani, kini hanya tinggal nostalgia atau mungkin sekadar epos belaka.

Runtutan sejarah pasca Orde Baru sampai masa Reformasi, selama sistem yang selalu terkonstruk rapi dan bercela—menjadi amat sulit untuk mencapai titik kulminasi dari sebuah cita-cita. Betapa tidak, berdasarkan analisis sosial, dalam kondisi bangsa seperti saat ini, yang mana kemiskinan menjadi problem utama yang rentan menimbulkan budaya generasi konsumtif.

Baca Juga :  Pembusukan Bahasa Madura di Madura

Hal ini diperparah oleh cara berpikir yang cenderung positivistik sebagai imbas dari embusan kapitalisme global; upaya pengonstruksian cara dan model hidup yang serba bergantung pada materi.

Sekarang bagaimana peran kita sebagai generasi bangsa, apakah kita akan membiarkan hal itu? Sistem yang menindas dibiarkan tumbuh dan merajalela yang secara otomatis memberikan kesempatan luas bagi tumbuh kembangnya kapitalisme global yang jelas-jelas berorientasi pada pengejawantahan model kolonialisme edisi revisi. (*)

*)Sastrawan/budayawan

Most Read

Artikel Terbaru