alexametrics
22.3 C
Madura
Tuesday, May 24, 2022

Bupati Bakal Sikat Rekanan Nakal

SAMPANG – Proyek perbaikan jalan kabupaten ruas Karang Penang–Tamberu, Sampang, dipersoalkan. Terutama material yang digunakan untuk menimbun bahu jalan. Sementara Bupati Slamet Junaidi berkomitmen menindak tegas kontraktor nakal.

Sorotan disampaikan Aktivis Sosial dan Lingkungan Wilayah Pantura Zaimul Arifin kemarin (29/10). Dia mengatakan, proyek tersebut saat ini sedang dikerjakan. Menurut dia, setelah dilakukan pengecoran, jalan kemudian di-hotmix.

Dia memperhatikan pelaksanaan pekerjaan bahu jalan. Menurut dia, ada pekerjaan yang dituding tidak sesuai dengan rencana anggaran biaya (RAB). ”Bahu jalannya ini yang kami duga dikerjakan tidak sesuai dengan RAB,” katanya.

Menurut dia, material untuk bahu jalan semestinya menggunakan agregat. Akan tetapi, dalam proyek tersebut menggunakan sirtu. ”Bahu jalan tidak boleh pakai sirtu, mestinya pakai agregat,” ungkapnya.

Berdasarkan pantauannya, lapisan dasar bahu jalan menggunakan sirtu dan tanah. Kemudian, pada lapisan paling atas baru ditutup dengan agregat. ”Kami menduga, ini sebuah kesengajaan untuk mengurangi volume material yang digunakan,” ujarnya.

Karena itu, dia meminta kepada dinas terkait segera turun ke lapangan dan melakukan pengecekan atas proyek senilai Rp 6 miliar tersebut. Jika memang tidak sesuai, segera diperbaiki.     ”Jika memang tidak sesuai, segera tindak pelaksana proyeknya,” ucapnya.

Baca Juga :  Perbaikan Gedung SDN Labuhan III Terakhir 2013

Kabid Jalan dan Jembatan Dinas PUPR Sampang Hasan Mustofa menjelaskan, untuk bahu jalan mestinya memang menggunakan agregat. Akan tetapi, dalam proyek APBD Sampang 2019 itu tidak dianggarkan. Penggunaan agregat tidak dicantumkan dalam RAB. Karena itu, tidak masalah pakai tanah sirtu.

   ”Itu hanya partisipasi dari pihak rekanan saja. Sebenarnya tidak ada dalam RAB,” ungkapnya.

Hasan memastikan pelaksanaan kegiatan rehab jalan ruas Karang Penang–Tamberu sesuai ketentuan. Karena itu, pihaknya tidak melakukan peneguran melainkan terus meningkatkan pengawasan. ”Sekarang sedang dilakukan pengaspalan,” tandasnya.

Sementara itu, kasus dibongkarnya proyek Jembatan Tase’an di Desa Paseyan, Kota Sampang, karena diduga tidak sesuai ketentuan disikapi Bupati Slamet Junaidi. Dia mengatakan, pembongkaran proyek jembatan merupakan aksi nyata Pemkab Sampang tidak main-main dalam melaksanakan pembangunan.

Jika memang ditemukan tidak ada kesesuaian dan kualitasnya jelek, harus dievaluasi dan ditindak. Bahkan, pihaknya menegaskan tidak ada gunanya memunculkan isu ke publik bahwa pelaksana proyek merupakan keluarga bupati. ”Sejak awal saya selalu mengatakan kepada kontraktor bahwa kualitas, kualitas, dan kualitas,” ungkapnya.

Baca Juga :  PLN Gandeng Polisi dan TNI Atasi Tunggakan Pembayaran Listrik

Dia terkejut atas munculnya kabar bahwa pelaksana mengaku keponakannya. Mestinya, lanjut dia, jika pelaksana benar adalah keluarganya, mestinya lebih berkualitas daripada kontraktor lain. ”Siapa pun, jika sudah diluar ketentuan dan kualitasnya jelek, kami akan sikat,” terangnya.

Dengan begitu, saat mendengar kabar bahwa proyek tersebut tidak sesuai ketentuan, pihaknya langsung perintahkan supaya dibongkar. Tentunya, melalui konsultan pengawas dan dinas terkait. ”Tak ada cerita. Siapa pun yang melaksanakan pekerjaan pembangunan fisik di Sampang harus bagus kualitasnya,” ujarnya.

Ainol Yakin selaku konsultan pengawas proyek membenarkan bahwa ada kesalahan yang dilakukan oleh tukang. Ada batu fondasi yang dicampurkan ke dalam adonan cor. ”Jelas mengurangi kualitas, karena mestinya cor itu hanya dicampur dengan batu koral,” singkatnya.

SAMPANG – Proyek perbaikan jalan kabupaten ruas Karang Penang–Tamberu, Sampang, dipersoalkan. Terutama material yang digunakan untuk menimbun bahu jalan. Sementara Bupati Slamet Junaidi berkomitmen menindak tegas kontraktor nakal.

Sorotan disampaikan Aktivis Sosial dan Lingkungan Wilayah Pantura Zaimul Arifin kemarin (29/10). Dia mengatakan, proyek tersebut saat ini sedang dikerjakan. Menurut dia, setelah dilakukan pengecoran, jalan kemudian di-hotmix.

Dia memperhatikan pelaksanaan pekerjaan bahu jalan. Menurut dia, ada pekerjaan yang dituding tidak sesuai dengan rencana anggaran biaya (RAB). ”Bahu jalannya ini yang kami duga dikerjakan tidak sesuai dengan RAB,” katanya.


Menurut dia, material untuk bahu jalan semestinya menggunakan agregat. Akan tetapi, dalam proyek tersebut menggunakan sirtu. ”Bahu jalan tidak boleh pakai sirtu, mestinya pakai agregat,” ungkapnya.

Berdasarkan pantauannya, lapisan dasar bahu jalan menggunakan sirtu dan tanah. Kemudian, pada lapisan paling atas baru ditutup dengan agregat. ”Kami menduga, ini sebuah kesengajaan untuk mengurangi volume material yang digunakan,” ujarnya.

Karena itu, dia meminta kepada dinas terkait segera turun ke lapangan dan melakukan pengecekan atas proyek senilai Rp 6 miliar tersebut. Jika memang tidak sesuai, segera diperbaiki.     ”Jika memang tidak sesuai, segera tindak pelaksana proyeknya,” ucapnya.

Baca Juga :  Disporabudpar Lestarikan Kesenian Tradisional

Kabid Jalan dan Jembatan Dinas PUPR Sampang Hasan Mustofa menjelaskan, untuk bahu jalan mestinya memang menggunakan agregat. Akan tetapi, dalam proyek APBD Sampang 2019 itu tidak dianggarkan. Penggunaan agregat tidak dicantumkan dalam RAB. Karena itu, tidak masalah pakai tanah sirtu.

   ”Itu hanya partisipasi dari pihak rekanan saja. Sebenarnya tidak ada dalam RAB,” ungkapnya.

Hasan memastikan pelaksanaan kegiatan rehab jalan ruas Karang Penang–Tamberu sesuai ketentuan. Karena itu, pihaknya tidak melakukan peneguran melainkan terus meningkatkan pengawasan. ”Sekarang sedang dilakukan pengaspalan,” tandasnya.

Sementara itu, kasus dibongkarnya proyek Jembatan Tase’an di Desa Paseyan, Kota Sampang, karena diduga tidak sesuai ketentuan disikapi Bupati Slamet Junaidi. Dia mengatakan, pembongkaran proyek jembatan merupakan aksi nyata Pemkab Sampang tidak main-main dalam melaksanakan pembangunan.

Jika memang ditemukan tidak ada kesesuaian dan kualitasnya jelek, harus dievaluasi dan ditindak. Bahkan, pihaknya menegaskan tidak ada gunanya memunculkan isu ke publik bahwa pelaksana proyek merupakan keluarga bupati. ”Sejak awal saya selalu mengatakan kepada kontraktor bahwa kualitas, kualitas, dan kualitas,” ungkapnya.

Baca Juga :  Masyarakat Harus Perangi Narkoba

Dia terkejut atas munculnya kabar bahwa pelaksana mengaku keponakannya. Mestinya, lanjut dia, jika pelaksana benar adalah keluarganya, mestinya lebih berkualitas daripada kontraktor lain. ”Siapa pun, jika sudah diluar ketentuan dan kualitasnya jelek, kami akan sikat,” terangnya.

Dengan begitu, saat mendengar kabar bahwa proyek tersebut tidak sesuai ketentuan, pihaknya langsung perintahkan supaya dibongkar. Tentunya, melalui konsultan pengawas dan dinas terkait. ”Tak ada cerita. Siapa pun yang melaksanakan pekerjaan pembangunan fisik di Sampang harus bagus kualitasnya,” ujarnya.

Ainol Yakin selaku konsultan pengawas proyek membenarkan bahwa ada kesalahan yang dilakukan oleh tukang. Ada batu fondasi yang dicampurkan ke dalam adonan cor. ”Jelas mengurangi kualitas, karena mestinya cor itu hanya dicampur dengan batu koral,” singkatnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/