alexametrics
21.1 C
Madura
Friday, July 1, 2022

Kapan Sampang Bebas Banjir, Ya?

SAMPANG – Banjir bukan hal baru di Kota Sampang. Awal tahun ini, sudah ketiga kali banjir melanda. Terparah kemarin (29/1). Genangan terjadi sejak Senin (28/1). Akibatnya, aktivitas perekonomian lumpuh. Selain itu, sebagian sekolah terpaksa diliburkan.

Banjir terjadi karena luapan Sungai Kamoning. Sebab, Minggu (27/1) hujan lebat mengguyur semua wilayah Sampang. Di wilayah perkotaan air mulai masuk sejak Senin sekitar pukul 17.00. Puncak banjir di perkotaan terjadi pukul 01.00–02.30.

Pantauan RadarMadura.id, di Jalan Panglima yang merupakan pusat jual beli emas dan pertokoan tidak ada aktivitas seperti biasanya. Ketinggian banjir mencapai lutut orang dewasa. Begitu pun di Jalan Tronojoyo. Di Pasar Rongtengah tidak ada aktivitas. Hanya, pinggir Jalan Raya Trunojoyo menjadi pasar dadakan.

Pedagang berjejer tanpa dikomando menjajakan dagangannya. Lokasinya lebih kurang 250 meter dari Pasar Rongtengah. Pemandangan berbeda juga terjadi di sepanjang Jalan Syamsul Arifin. Di wilayah tersebut ada jual beli kendaraan roda dua bekas. Biasanya kegiatan tersebut terjadi di Pasar Deggedeg (pasar sore).

Baca Juga :  Salurkan Paket Internet Gratis untuk Madrasah

Mariti, salah seorang pedagang ikan, asal Kecamatan Camplong, menuturkan, bersama pedagang lainnya dia terpaksa berjualan di pinggir jalan raya. Pedagang mencari tempat yang tidak terjangkau banjir supaya bisa tetap berjualan. ”Sejak dulu kalau banjir cari tempat jualan yang tidak terkena banjir,” ujarnya.

Perempuan 45 tahun itu menambahkan, jika tidak berjualan, dagangan akan membusuk. Supaya tetap bisa jualan, cari lokasi yang tidak terkena banjir. ”Kapan Sampang bebas banjir, ya? Setiap tahun kalau musim hujan banjir,” tuturnya. ”Semoga saja bupati baru nanti bisa segera memperbaiki,” harapnya.

Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan (Disdik) Sampang Achmad Mawardi membenarkan ada 25 SD terdampak banjir sehingga terpaksa meliburkan diri. ”Dari 25 sekolah, hanya 21 sekolah negeri dan empat sekolah swasta,” ujarnya.

Kendati demikian, lanjut pria yang akrab disapa Wawang itu, pihaknya berusaha agar sekolah terdampak banjir bisa mengantisipasi sejak dini. Fasilitas seperti komputer, buku, dan lainnya bisa diselamatkan.

Baca Juga :  Realisasi Bansos Masjid Selalu Molor

”Rata-rata sekolah terdampak sudah di tingkat. Jadi, aman buku milik sekolah. Komputer jug aman. Yang tergenang hanya kursi dan bangku,” tandasnya.

Kepala BPBD Sampang Anang Djoenaidi menyatakan, pihaknya melakukan pemantauan di daerah terdampak banjir. Banjir kali ini, menurut Anang, semakin luas. Karena itu, pihaknya meminta kepada waraga Sampang agar selalu waspada. ”Warga sebenarnya sudah paham. Cuma kami tetap mengantisipasi,” katanya.

Anang menambahkan, daerah terdampak banjir berketinggian antara 15–60 sentimeter. Rata-rata ketinggian genangan 30–40 sentimeter. Daerah terdampak Kelurahan Dalpnenag paling parah. ”Banjir sudah dua hari. Tapi, hari ini (kemarin, Red) paling lama,” tuturnya.

Di samping itu, lanjut mantan Kabag Pemerintahan Sekkab Sampang tersebut, pihaknya bekerja sama dengan tim mengantarkan bantuan seperti makanan. Ada dapur umum yang sudah didirikan. ”Kasihan masyarakat karena tidak bisa memasak. Makanya, dibantu dengan nasi bungkus,” pungkasnya.

 

SAMPANG – Banjir bukan hal baru di Kota Sampang. Awal tahun ini, sudah ketiga kali banjir melanda. Terparah kemarin (29/1). Genangan terjadi sejak Senin (28/1). Akibatnya, aktivitas perekonomian lumpuh. Selain itu, sebagian sekolah terpaksa diliburkan.

Banjir terjadi karena luapan Sungai Kamoning. Sebab, Minggu (27/1) hujan lebat mengguyur semua wilayah Sampang. Di wilayah perkotaan air mulai masuk sejak Senin sekitar pukul 17.00. Puncak banjir di perkotaan terjadi pukul 01.00–02.30.

Pantauan RadarMadura.id, di Jalan Panglima yang merupakan pusat jual beli emas dan pertokoan tidak ada aktivitas seperti biasanya. Ketinggian banjir mencapai lutut orang dewasa. Begitu pun di Jalan Tronojoyo. Di Pasar Rongtengah tidak ada aktivitas. Hanya, pinggir Jalan Raya Trunojoyo menjadi pasar dadakan.


Pedagang berjejer tanpa dikomando menjajakan dagangannya. Lokasinya lebih kurang 250 meter dari Pasar Rongtengah. Pemandangan berbeda juga terjadi di sepanjang Jalan Syamsul Arifin. Di wilayah tersebut ada jual beli kendaraan roda dua bekas. Biasanya kegiatan tersebut terjadi di Pasar Deggedeg (pasar sore).

Baca Juga :  BLK Sampang Tidak Bisa Menerima Bantuan Peralatan, Ini Pemicunya

Mariti, salah seorang pedagang ikan, asal Kecamatan Camplong, menuturkan, bersama pedagang lainnya dia terpaksa berjualan di pinggir jalan raya. Pedagang mencari tempat yang tidak terjangkau banjir supaya bisa tetap berjualan. ”Sejak dulu kalau banjir cari tempat jualan yang tidak terkena banjir,” ujarnya.

Perempuan 45 tahun itu menambahkan, jika tidak berjualan, dagangan akan membusuk. Supaya tetap bisa jualan, cari lokasi yang tidak terkena banjir. ”Kapan Sampang bebas banjir, ya? Setiap tahun kalau musim hujan banjir,” tuturnya. ”Semoga saja bupati baru nanti bisa segera memperbaiki,” harapnya.

Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan (Disdik) Sampang Achmad Mawardi membenarkan ada 25 SD terdampak banjir sehingga terpaksa meliburkan diri. ”Dari 25 sekolah, hanya 21 sekolah negeri dan empat sekolah swasta,” ujarnya.

Kendati demikian, lanjut pria yang akrab disapa Wawang itu, pihaknya berusaha agar sekolah terdampak banjir bisa mengantisipasi sejak dini. Fasilitas seperti komputer, buku, dan lainnya bisa diselamatkan.

Baca Juga :  Proyek Pasar Rp 3,8 Miliar Dikerjakan

”Rata-rata sekolah terdampak sudah di tingkat. Jadi, aman buku milik sekolah. Komputer jug aman. Yang tergenang hanya kursi dan bangku,” tandasnya.

Kepala BPBD Sampang Anang Djoenaidi menyatakan, pihaknya melakukan pemantauan di daerah terdampak banjir. Banjir kali ini, menurut Anang, semakin luas. Karena itu, pihaknya meminta kepada waraga Sampang agar selalu waspada. ”Warga sebenarnya sudah paham. Cuma kami tetap mengantisipasi,” katanya.

Anang menambahkan, daerah terdampak banjir berketinggian antara 15–60 sentimeter. Rata-rata ketinggian genangan 30–40 sentimeter. Daerah terdampak Kelurahan Dalpnenag paling parah. ”Banjir sudah dua hari. Tapi, hari ini (kemarin, Red) paling lama,” tuturnya.

Di samping itu, lanjut mantan Kabag Pemerintahan Sekkab Sampang tersebut, pihaknya bekerja sama dengan tim mengantarkan bantuan seperti makanan. Ada dapur umum yang sudah didirikan. ”Kasihan masyarakat karena tidak bisa memasak. Makanya, dibantu dengan nasi bungkus,” pungkasnya.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/