alexametrics
25.8 C
Madura
Monday, July 4, 2022

Kades Bundah Terbelit Utang, 3 Bulan Belum Bayar Belanja Bahan Pokok

SAMPANG, Jawa Pos Radar Madura – Horimah, warga Desa Noreh, Kecamatan Sreseh, harus berjualan dengan modal seadanya. Dagangan yang dijajakan di tokonya kini tidak sebanyak dulu. Sebab, selama tiga bulan, Kepala Desa (Kades) Bundah Matridi belum membayar pembelian sejumlah bahan pokok yang konon dijadikan paket untuk bantuan pangan nontunai (BPNT).

Horimah kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) mengatakan, Kades Bundah sejak awal 2020 memang rutin mengorder sejumlah bahan pokok kepadanya. Bahan pokok tersebut dibeli untuk paket BPNT yang akan disalurkan kepada masyarakat tidak mampu. ”Setiap bulan ambil ke saya. Biasanya telur dan beras. Katanya untuk masyarakat tidak mampu,” ujarnya.

            Dijelaskan, pada 2 Desember 2020, Kades Bundah membeli telur dan beras di tokonya senilai Rp 18 juta. Meski nilainya besar, tidak langsung dibayar alias ngutang. Kades berjanji bayar ketika BPNT sudah dicairkan. Sebulan berlalu, utang tersebut tidak kunjung dibayar. Pada 5 Januari 2021, Kades Bundah kembali mengorder beras dan telur senilai Rp 17,5 juta. ”Tidak bayar lagi, dan janji nunggu pencairan,” jelas Horimah.

Baca Juga :  Poltera Tegaskan Tak Ada Penahanan Ijazah

            Wanita berusia 52 tahun ini mengungkapkan, dirinya kembali menerima permintaan beras dan telur dari Kades Bundah pada 5 Februari 2021 senilai Rp 14,5 juta. Saat itu, dia mempertanyakan mengenai pembelian bahan pokok pada 2 Desember 2020 dan 5 Januari 2021 yang belum dibayar. Lagi-lagi Horimah kembali diberi janji-janji. ”Maret, istri Kades Bundah menghubungi saya dan minta beras dan telur lagi. Tidak saya kasih karena sudah tiga bulan belum bayar,” ucapnya.

            Karena penasaran, Horimah pun mencari tahu pendistribusian BPNT di Desa Bundah. Hasil penelusuran Horimah, bantuan tersebut ternyata sudah disalurkan kepada penerima. Dengan demikian, BPNT tersebut seharusnya sudah bisa dicairkan. ”Saya heran kenapa sampai sekarang Kades Bundah belum membayar pembelian telur dan beras di toko saya,” sesalnya.

            Horimah lalu menghubungi Kades Bundah maupun istrinya. Tujuannya, untuk menagih pembayaran sejumlah bahan pokok. Sebab, total uang selama tiga bulan Rp 50 juta. Uang tersebut sangat dibutuhkan untuk modal usahanya. ”Saya ke rumah Kades, tapi hanya ditemui istrinya. Saya coba kirim pesan suara, tapi tidak dibalas,” ungkap Horimah.

Baca Juga :  Dishub Hanya Terangi Jalan Protokol

            Sementara itu, Kades Bundah Matridi membenarkan jika membeli bahan pokok untuk paket BPNT di toko Horimah. Dikatakan, alasan dirinya belum membayar utang karena uangnya masih dibutuhkan untuk keperluan lainnya. ”Ya, memang belum bayar,” akunya.

            Menurutnya, pihaknya selalu menyalurkan bantuan kepada masyarakat miskin. Pendistribusian bantuan tersebut tidak pernah terlambat. Sebab, itu merupakan hak masyarakat miskin. Mengenai barang yang diambil di toko Horimah dan belum dibayar selama tiga bulan, ditegaskan merupakan masalah antara dirinya dengan pemilik toko.

            Matridi menambahkan, dirinya tetap mencatat semua barang yang diorder di toko Horimah. Dalam waktu dekat dia berjanji akan membayar bahan pokok yang sudah dibelinya tersebut. Tujuannya, agar bisa kembali mengorder barang ke toko Horimah. ”Sekarang saya masih berusaha mencari uang untuk membayarnya. Kalau sudah ada, pasti saya bayar,” pungkasnya. (iqb)

SAMPANG, Jawa Pos Radar Madura – Horimah, warga Desa Noreh, Kecamatan Sreseh, harus berjualan dengan modal seadanya. Dagangan yang dijajakan di tokonya kini tidak sebanyak dulu. Sebab, selama tiga bulan, Kepala Desa (Kades) Bundah Matridi belum membayar pembelian sejumlah bahan pokok yang konon dijadikan paket untuk bantuan pangan nontunai (BPNT).

Horimah kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) mengatakan, Kades Bundah sejak awal 2020 memang rutin mengorder sejumlah bahan pokok kepadanya. Bahan pokok tersebut dibeli untuk paket BPNT yang akan disalurkan kepada masyarakat tidak mampu. ”Setiap bulan ambil ke saya. Biasanya telur dan beras. Katanya untuk masyarakat tidak mampu,” ujarnya.

            Dijelaskan, pada 2 Desember 2020, Kades Bundah membeli telur dan beras di tokonya senilai Rp 18 juta. Meski nilainya besar, tidak langsung dibayar alias ngutang. Kades berjanji bayar ketika BPNT sudah dicairkan. Sebulan berlalu, utang tersebut tidak kunjung dibayar. Pada 5 Januari 2021, Kades Bundah kembali mengorder beras dan telur senilai Rp 17,5 juta. ”Tidak bayar lagi, dan janji nunggu pencairan,” jelas Horimah.

Baca Juga :  Anies Baswedan Sebut Ulama Berperan Bangun Karakter Bangsa

            Wanita berusia 52 tahun ini mengungkapkan, dirinya kembali menerima permintaan beras dan telur dari Kades Bundah pada 5 Februari 2021 senilai Rp 14,5 juta. Saat itu, dia mempertanyakan mengenai pembelian bahan pokok pada 2 Desember 2020 dan 5 Januari 2021 yang belum dibayar. Lagi-lagi Horimah kembali diberi janji-janji. ”Maret, istri Kades Bundah menghubungi saya dan minta beras dan telur lagi. Tidak saya kasih karena sudah tiga bulan belum bayar,” ucapnya.

            Karena penasaran, Horimah pun mencari tahu pendistribusian BPNT di Desa Bundah. Hasil penelusuran Horimah, bantuan tersebut ternyata sudah disalurkan kepada penerima. Dengan demikian, BPNT tersebut seharusnya sudah bisa dicairkan. ”Saya heran kenapa sampai sekarang Kades Bundah belum membayar pembelian telur dan beras di toko saya,” sesalnya.

            Horimah lalu menghubungi Kades Bundah maupun istrinya. Tujuannya, untuk menagih pembayaran sejumlah bahan pokok. Sebab, total uang selama tiga bulan Rp 50 juta. Uang tersebut sangat dibutuhkan untuk modal usahanya. ”Saya ke rumah Kades, tapi hanya ditemui istrinya. Saya coba kirim pesan suara, tapi tidak dibalas,” ungkap Horimah.

Baca Juga :  Petani Minta Stop Impor Garam

            Sementara itu, Kades Bundah Matridi membenarkan jika membeli bahan pokok untuk paket BPNT di toko Horimah. Dikatakan, alasan dirinya belum membayar utang karena uangnya masih dibutuhkan untuk keperluan lainnya. ”Ya, memang belum bayar,” akunya.

            Menurutnya, pihaknya selalu menyalurkan bantuan kepada masyarakat miskin. Pendistribusian bantuan tersebut tidak pernah terlambat. Sebab, itu merupakan hak masyarakat miskin. Mengenai barang yang diambil di toko Horimah dan belum dibayar selama tiga bulan, ditegaskan merupakan masalah antara dirinya dengan pemilik toko.

            Matridi menambahkan, dirinya tetap mencatat semua barang yang diorder di toko Horimah. Dalam waktu dekat dia berjanji akan membayar bahan pokok yang sudah dibelinya tersebut. Tujuannya, agar bisa kembali mengorder barang ke toko Horimah. ”Sekarang saya masih berusaha mencari uang untuk membayarnya. Kalau sudah ada, pasti saya bayar,” pungkasnya. (iqb)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/