alexametrics
20.6 C
Madura
Wednesday, May 18, 2022

Proyek SPAM Dinilai Salah Penempatan

SAMPANG – Pembangunan sistem penyediaan air minum (SPAM) di Dusun Lembung, Desa Malaka, Kecamatan Jrengik, dituding proyek siluman. Penanggung jawab proyek tersebut tidak jelas. Pemerintah desa setempat  mengaku  tidak mengetahui asal muasal  proyek tersebut.

            Kepala Desa Malaka Purnomo menjelaskan, proyek tersebut bukan program atau rekomendasi pemerintah desa. Dia baru mengetahui ada proyek itu setelah mendapat laporan dari kepala dusun setempat. Menurut dia, sebelumnya tidak ada masyarakat yang mengajukan pembangunan SPAM.

”Seharusnya pihak pelaksana melapor dulu agar kami tahu kalau ada program pembangunan. Aturannya kan seperti itu,” katanya Rabu (23/8).

Selain itu, dia menilai lokasi pembangunan SPAM tidak tepat. Sebab, di dusun tersebut sudah ada SPAM  yang dibangun tahun sebelumnya. Selain itu, di sana terdapat sumber air sehingga mubazir. Dengan fasilitas yang ada, sejauh ini kebutuhan air di wilayahnya sangat terpenuhi.

Baca Juga :  BPWS-Rekanan Belum Teken Kontrak Proyek SPAM

”Eman-eman kalau nantinya fasilitas itu tidak terpakai. Seharusnya, pemkab bisa menilai sebelum melakukan pembangunan,” ucapnya.

Seharusnya, SPAM itu ditempatkan di dusun-dusun yang belum tersedia fasilitas air besih. Dengan demikian, pembangunan lebih merata dan tepat sasaran. Di desanya masih ada dusun yang tidak memiliki fasilitas air. Dengan demikian, saat musim kemarau warga harus mengangkut air dari dusun lain.

”Di desa ini kurang lebih ada empat dusun yang belum tersedia SPAM. Jika sebelumnya ada koordinasi dengan kami, tentu lokasi pembangunan bisa lebih tepat sasaran,” terangnya.  

Sementara itu, Kabid Air Minum dan Penyehatan Lingkungan DPRKP Sampang Siti Muathifah mengatakan, pembangunan SPAM  berdasar pengajuan masyarakat. Pengajuan program tidak harus selalu mendapat persetujuan dari aparat desa. Yang terpenting, masyarakat benar-benar membutuhkan program tersebut.

Baca Juga :  Bawaslu Gelar Evaluasi Penindakan Pelanggaran Kampanye

Siti Muathifah menilai, lokasi pembangunan SPAM juga sudah benar. Hal itu berdasar beberapa pertimbangan. ”Program itu berdasar proposal dari masyarakat dan ditindaklanjuti dengan menyurvei lokasi. Dananya Rp 280 juta bersumber dari DAK Sarpras 2016,” ujarnya.

            Dia memastikan, SPAM tersebut bermanfaat bagi masyarakat. Sebab, bangunan SPAM yang lama berukuran kecil yaitu berkisar 3 x 3 meter. Meskipun ada dua tandon dalam satu dusun, lokasi sasarannya tetap berbeda. ”Kapasitasnya hanya mampu mencakup 50 warga. Sedangkan jumlah penduduknya cukup banyak. Apalagi warga dari dusun lain juga mengambil air di situ,” pungkasnya.

 

 

 

SAMPANG – Pembangunan sistem penyediaan air minum (SPAM) di Dusun Lembung, Desa Malaka, Kecamatan Jrengik, dituding proyek siluman. Penanggung jawab proyek tersebut tidak jelas. Pemerintah desa setempat  mengaku  tidak mengetahui asal muasal  proyek tersebut.

            Kepala Desa Malaka Purnomo menjelaskan, proyek tersebut bukan program atau rekomendasi pemerintah desa. Dia baru mengetahui ada proyek itu setelah mendapat laporan dari kepala dusun setempat. Menurut dia, sebelumnya tidak ada masyarakat yang mengajukan pembangunan SPAM.

”Seharusnya pihak pelaksana melapor dulu agar kami tahu kalau ada program pembangunan. Aturannya kan seperti itu,” katanya Rabu (23/8).

Selain itu, dia menilai lokasi pembangunan SPAM tidak tepat. Sebab, di dusun tersebut sudah ada SPAM  yang dibangun tahun sebelumnya. Selain itu, di sana terdapat sumber air sehingga mubazir. Dengan fasilitas yang ada, sejauh ini kebutuhan air di wilayahnya sangat terpenuhi.

Baca Juga :  Proyek SPAM Rp 37 M Belum Dikerjakan

”Eman-eman kalau nantinya fasilitas itu tidak terpakai. Seharusnya, pemkab bisa menilai sebelum melakukan pembangunan,” ucapnya.

Seharusnya, SPAM itu ditempatkan di dusun-dusun yang belum tersedia fasilitas air besih. Dengan demikian, pembangunan lebih merata dan tepat sasaran. Di desanya masih ada dusun yang tidak memiliki fasilitas air. Dengan demikian, saat musim kemarau warga harus mengangkut air dari dusun lain.

”Di desa ini kurang lebih ada empat dusun yang belum tersedia SPAM. Jika sebelumnya ada koordinasi dengan kami, tentu lokasi pembangunan bisa lebih tepat sasaran,” terangnya.  

Sementara itu, Kabid Air Minum dan Penyehatan Lingkungan DPRKP Sampang Siti Muathifah mengatakan, pembangunan SPAM  berdasar pengajuan masyarakat. Pengajuan program tidak harus selalu mendapat persetujuan dari aparat desa. Yang terpenting, masyarakat benar-benar membutuhkan program tersebut.

Baca Juga :  Temukan Pelaksanaan Pokir Bermasalah

Siti Muathifah menilai, lokasi pembangunan SPAM juga sudah benar. Hal itu berdasar beberapa pertimbangan. ”Program itu berdasar proposal dari masyarakat dan ditindaklanjuti dengan menyurvei lokasi. Dananya Rp 280 juta bersumber dari DAK Sarpras 2016,” ujarnya.

            Dia memastikan, SPAM tersebut bermanfaat bagi masyarakat. Sebab, bangunan SPAM yang lama berukuran kecil yaitu berkisar 3 x 3 meter. Meskipun ada dua tandon dalam satu dusun, lokasi sasarannya tetap berbeda. ”Kapasitasnya hanya mampu mencakup 50 warga. Sedangkan jumlah penduduknya cukup banyak. Apalagi warga dari dusun lain juga mengambil air di situ,” pungkasnya.

 

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/