alexametrics
21.1 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

Minta Antisipasi Penyakit DBD dan Leptospirosis

SAMPANG – Datangnya musim hujan harus diwaspadai masyarakat. Sebab, banyaknya genangan air membuat penyakit mudah berkembang. Di antaranya, demam berdarah dengue (DBD) dan virus leptospirosis. Penyakit yang ditimbulkan virus nyamuk Aedes aegypti dan bakteri kencing tikus tersebut telah memakan banyak korban.

Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Sampang, pada 2013 kasus leptospirosis menjadi kejadian luar biasa (KLB). Puluhan warga terjangkit, mulai anak-anak hingga orang dewasa. Dua di antaranya meninggal. Sementara kasus DBD sejak 2014–2017 berjumlah 115 orang dengan korban jiwa tiga orang.

   Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Sampang Hanian Maria Farouq menyatakan, ancaman DBD dan leptospirosis paling rawan di wilayah perkotaan. Terutama di daerah rawan banjir. ”Seperti di Kelurahan Rongtengah, Banyuanyar, Gunung Sekar, dan Desa Kamuning,” ucapnya.

Baca Juga :  Ini Produk Olahan Asal Omben

   Dia menjelaskan, DBD dan leptospirosis sama-sama berasal dari virus atau bakteri. Namun, yang lebih ganas penyebarannya ialah lepto. Virus lepto biasanya terdapat di kubangan banjir dan air di selokan. Virus itu masuk dan menyebar ke tubuh melalui luka di kaki dan tubuh warga yang terjadi kontak langsung dengan kubangan air.

Dia menerangkan, gejala awal dua penyakit tersebut hampir sama. Yakni, ditandai dengan suhu tubuh panas, badan lemas, ngilu sendi, dan mata berwarna kuning. Jika gejala-gejala tersebut mulai dirasakan dan berlangsung selama tiga hari, penderita segera ke puskesmas sehingga secepatnya ditangani medis.

”Kalau tidak segera ditangani dan mendapatkan pengobatan bisa menimbulkan komplikasi penyakit. Bahkan pasien bisa meninggal dunia,” terangnya.

Baca Juga :  Ayo Gelorakan Gerakan Bangsa Antikorupsi

Antisipasi yang dilakukan dinkes antara lain, pemberian antiseptik kepada warga dan ditabur di jalan atau di tempat saluran air. Dengan demikian virus leptospirosis tidak sampai menyebar. Sedangkan untuk pencegahan DBD, pihaknya mengajak warga menjaga kebersihan lingkungan.

”Menaburkan serbuk abate di kamar mandi dan got agar telur dan jentik nyamuk musnah. Langkah itu lebih maksimal jika dibandingkan dengan melakukan penyemprotan atau fogging,” tambahnya. Pihaknya juga sudah memberikan bantuan alat semprot kepada sejumlah puskesmas.

Ketua Komisi IV DPRD Sampang Amin Arif Tirtana meminta dinkes aktif melakukan sosialisasi. Dengan begitu, angka kematian kasus DBD dan leptopirosis bisa dicegah. ”Kami minta dinkes fokus dalam pencegahan dan penanganan. Sebab, berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan masyarakat di Sampang. ” pintanya.

SAMPANG – Datangnya musim hujan harus diwaspadai masyarakat. Sebab, banyaknya genangan air membuat penyakit mudah berkembang. Di antaranya, demam berdarah dengue (DBD) dan virus leptospirosis. Penyakit yang ditimbulkan virus nyamuk Aedes aegypti dan bakteri kencing tikus tersebut telah memakan banyak korban.

Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Sampang, pada 2013 kasus leptospirosis menjadi kejadian luar biasa (KLB). Puluhan warga terjangkit, mulai anak-anak hingga orang dewasa. Dua di antaranya meninggal. Sementara kasus DBD sejak 2014–2017 berjumlah 115 orang dengan korban jiwa tiga orang.

   Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Sampang Hanian Maria Farouq menyatakan, ancaman DBD dan leptospirosis paling rawan di wilayah perkotaan. Terutama di daerah rawan banjir. ”Seperti di Kelurahan Rongtengah, Banyuanyar, Gunung Sekar, dan Desa Kamuning,” ucapnya.

Baca Juga :  Dinkes Percepat Akreditasi 21 Puskesmas

   Dia menjelaskan, DBD dan leptospirosis sama-sama berasal dari virus atau bakteri. Namun, yang lebih ganas penyebarannya ialah lepto. Virus lepto biasanya terdapat di kubangan banjir dan air di selokan. Virus itu masuk dan menyebar ke tubuh melalui luka di kaki dan tubuh warga yang terjadi kontak langsung dengan kubangan air.

Dia menerangkan, gejala awal dua penyakit tersebut hampir sama. Yakni, ditandai dengan suhu tubuh panas, badan lemas, ngilu sendi, dan mata berwarna kuning. Jika gejala-gejala tersebut mulai dirasakan dan berlangsung selama tiga hari, penderita segera ke puskesmas sehingga secepatnya ditangani medis.

”Kalau tidak segera ditangani dan mendapatkan pengobatan bisa menimbulkan komplikasi penyakit. Bahkan pasien bisa meninggal dunia,” terangnya.

Baca Juga :  Ayo Gelorakan Gerakan Bangsa Antikorupsi

Antisipasi yang dilakukan dinkes antara lain, pemberian antiseptik kepada warga dan ditabur di jalan atau di tempat saluran air. Dengan demikian virus leptospirosis tidak sampai menyebar. Sedangkan untuk pencegahan DBD, pihaknya mengajak warga menjaga kebersihan lingkungan.

”Menaburkan serbuk abate di kamar mandi dan got agar telur dan jentik nyamuk musnah. Langkah itu lebih maksimal jika dibandingkan dengan melakukan penyemprotan atau fogging,” tambahnya. Pihaknya juga sudah memberikan bantuan alat semprot kepada sejumlah puskesmas.

Ketua Komisi IV DPRD Sampang Amin Arif Tirtana meminta dinkes aktif melakukan sosialisasi. Dengan begitu, angka kematian kasus DBD dan leptopirosis bisa dicegah. ”Kami minta dinkes fokus dalam pencegahan dan penanganan. Sebab, berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan masyarakat di Sampang. ” pintanya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/