alexametrics
21 C
Madura
Sunday, June 26, 2022

20 Hari Sakit, Musafir Meninggal di Gardu

SAMPANG – Seorang musafir ditemukan meninggal di gardu Dusun Lengser, Desa Dharma Camplong, Kecamatan Camplong. Pria yang membawa dua tas gendong dan tongkat itu diketahui meninggal sekitar pukul 07.00.

Muslimah, warga sekitar menjelaskan, pria tanpa identitas tersebut sudah lama berada di gardu tersebut. Dikatakan dalam 20 hari terakhir pria yang rambutnya sedikit beruban itu tidur di gardu.

Menurut Muslimah, pria yang sedang musafir itu sedang sakit. ”Selama 20 hari tinggal di gardu. Saya yang merawat,” terang wanita berusia 60 tahun itu.

Muslimah tidak tahu sakit yang diderita oleh almarhum. Sepengetahuannya, ada luka di mulut almarhum. Di sebagian badannya juga terdapat luka borok. ”Yang paling parah lima hari terakhir (sebelum meninggal),” ungkapnya.

Baca Juga :  Bank Jatim Serahkan Bantuan Mobil Layanan Pajak

Sebelum meninggal, Muslimah mengaku sering berbincang dengan almarhum. ketika ditanya nama dan alamat, almarhum bungkam. Dalam percakapan tersebut almarhum menggunakan bahasa Madura.

Muslimah berencana mengantarkan almarhum ke rumahnya. Sayangnya, almarhum menolak. ”Ketika mau diantarkan pulang ke rumahanya tidak mau. Katanya perjalanannya masih jauh,” ujar Muslimah. (bil)

SAMPANG – Seorang musafir ditemukan meninggal di gardu Dusun Lengser, Desa Dharma Camplong, Kecamatan Camplong. Pria yang membawa dua tas gendong dan tongkat itu diketahui meninggal sekitar pukul 07.00.

Muslimah, warga sekitar menjelaskan, pria tanpa identitas tersebut sudah lama berada di gardu tersebut. Dikatakan dalam 20 hari terakhir pria yang rambutnya sedikit beruban itu tidur di gardu.

Menurut Muslimah, pria yang sedang musafir itu sedang sakit. ”Selama 20 hari tinggal di gardu. Saya yang merawat,” terang wanita berusia 60 tahun itu.


Muslimah tidak tahu sakit yang diderita oleh almarhum. Sepengetahuannya, ada luka di mulut almarhum. Di sebagian badannya juga terdapat luka borok. ”Yang paling parah lima hari terakhir (sebelum meninggal),” ungkapnya.

Baca Juga :  Bank Jatim Serahkan Bantuan Mobil Layanan Pajak

Sebelum meninggal, Muslimah mengaku sering berbincang dengan almarhum. ketika ditanya nama dan alamat, almarhum bungkam. Dalam percakapan tersebut almarhum menggunakan bahasa Madura.

Muslimah berencana mengantarkan almarhum ke rumahnya. Sayangnya, almarhum menolak. ”Ketika mau diantarkan pulang ke rumahanya tidak mau. Katanya perjalanannya masih jauh,” ujar Muslimah. (bil)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/