alexametrics
20.7 C
Madura
Thursday, May 19, 2022

Demi Belajar Daring, Siswa Sewa Wifi Warung

SAMPANG – Pandemi Covid-19 membuat siswa tidak belajar di sekolah. Mereka tidak hanya belajar dari rumah (BDR). Tetapi, juga bisa sambil santai di warung.

Siswa SMPN 1 Sampang Ali Wardani setiap hari menjalani pembelajaran online. Sebab, pembelajaran di sekolah dilaksanakan dalam jaringan (daring). Menurut dia, jika menggunakan paket data sendiri, akan cepat habis.

Karena itu, siswa yang tinggal di Jalan Seruni, Kelurahan Dalpenang, itu memilih untuk menyewa jaringan wifi di warung dekat rumahnya. Cara tersebut dilakukan demi kelancaran pembelajaran dan menghemat uang saku.

”Setiap hari kami belajar di sini (warung) bersama teman-teman dari sekolah lain,” tuturnya kemarin (21/7).

Siswa kelahiran 2005 itu menyampaikan, dalam sehari biasanya dirinya membutuhkan 6 jam untuk belajar. Selama proses pembelajaran, membutuhkan jaringan internet. Dalam 6 jam Wardan mengeluarkan uang Rp 2 ribu.

Uang yang digunakan membayar jaringan wifi diambil dari saku sendiri. Dia tidak pernah menerima bantuan dari sekolah. Karena itu, dia berharap penyediaan fasilitas internet dibantu pemerintah. ”Uangnya sumbangan, dikumpulkan kemudian dibayarkan kepada pemilik warung,” ujarnya.

Selain Wardan, Mohammad Farhan juga mengalami hal serupa. Siswa SDN Rongtengah 2 itu senang bisa belajar bersama meski harus menyewa jaringan internet. Farhan bisa belajar dengan lancar dan menyelesaikan tugas sekolah hingga selesai.

Baca Juga :  Layanan Kesehatan Lansia Belum Maksimal

”HP saya pinjam punya teman. Tidak ada kendala. Kami belajar dengan lancar,” ucap Farhan yang sedang belajar matematika.

Suwarno selaku pemilik warung menuturkan, sejak pandemi Covid-19, banyak siswa yang belajar menggunakan jasa jaringan wifi miliknya. Terkadang dia memberikan kelonggaran. Selama proses belajar, jaringan wifi digratiskan.

Kendati begitu, Warno mengawasi siswa. Jika disalahgunakan, dia tidak segan menarik uang sewa wifi. ”Tapi kalau buat main-main tetap kami tarik,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Kepala SMPN 1 Sampang Teguh Suparyanto menjelaskan, pada tahun ajaran baru, pembelajaran dilaksanakan secara virtual, visual, dan teks. Pembelajaran virtual dilakukan dengan memakai aplikasi Zoom. Sebelum masuk materi, siswa diminta mengisi presensi dengan Google Form atau WhatsApp.

Pembelajaran visual menggunakan aplikasi Edmodo. Guru bisa memberikan materi dalam power point dilengkapi penjelasan. Pihaknya membatasi pembelajaran selama 40 menit.

Sebelum 40 menit, pembelajaran menggunakan Edmodo harus selesai. Sebab, kalau lebih dari 40 menit, siswa harus bayar. Sementara, pembelajaran dengan teks dilakukan dengan menyebarkan materi yang disertai penjelasan melalui WhatsApp. ”Kami berupaya seminimal mungkin biaya yang dikeluarkan anak-anak tidak banyak,” jelasnya.

Baca Juga :  Pasar Hewan Aeng Sareh Digerojok Rp 872,5 Juta

Dalam sehari ada dua mata pelajaran. Satu mapel bisa menghabiskan waktu 2–3 jam. Dalam satu jam berisi 40 menit. Jadi, setiap hari bisa belajar selama 4–5 jam.

Materi yang diberikan kepada siswa tidak sama dengan pembelajaran tatap muka. Pihaknya membuat materi skala prioritas. Misalnya, dalam kompetensi dasar (KD) satu semester ada lima disederhanakan menjadi 3 atau 4 KD. Kemudian, dibuat ringkasan dalam bentuk power point. ”Materi yang disajikan dijelaskan dalam bentuk tutorial,” terangnya.

Teguh menyampaikan, dana bantuan operasional sekolah (BOS) bisa dimanfaatkan untuk menunjang pembelajaran daring. Misalnya, membeli paket data untuk kelancaran pembelajaran. Namun, hal itu tidak dilegalkan kepada semua siswa.

Pihaknya bisa memberikan bantuan dana internet jika siswa tersebut benar-benar tidak mampu. Bahkan, sekolah berani meminjamkan tablet asalkan siswa dan orang tua mau bertanggung jawab. ”Yang kami khawatirkan, nanti disalahgunakan untuk selain pembelajaran,” tandasnya. (bil)

- Advertisement -

SAMPANG – Pandemi Covid-19 membuat siswa tidak belajar di sekolah. Mereka tidak hanya belajar dari rumah (BDR). Tetapi, juga bisa sambil santai di warung.

Siswa SMPN 1 Sampang Ali Wardani setiap hari menjalani pembelajaran online. Sebab, pembelajaran di sekolah dilaksanakan dalam jaringan (daring). Menurut dia, jika menggunakan paket data sendiri, akan cepat habis.

Karena itu, siswa yang tinggal di Jalan Seruni, Kelurahan Dalpenang, itu memilih untuk menyewa jaringan wifi di warung dekat rumahnya. Cara tersebut dilakukan demi kelancaran pembelajaran dan menghemat uang saku.


”Setiap hari kami belajar di sini (warung) bersama teman-teman dari sekolah lain,” tuturnya kemarin (21/7).

Siswa kelahiran 2005 itu menyampaikan, dalam sehari biasanya dirinya membutuhkan 6 jam untuk belajar. Selama proses pembelajaran, membutuhkan jaringan internet. Dalam 6 jam Wardan mengeluarkan uang Rp 2 ribu.

Uang yang digunakan membayar jaringan wifi diambil dari saku sendiri. Dia tidak pernah menerima bantuan dari sekolah. Karena itu, dia berharap penyediaan fasilitas internet dibantu pemerintah. ”Uangnya sumbangan, dikumpulkan kemudian dibayarkan kepada pemilik warung,” ujarnya.

Selain Wardan, Mohammad Farhan juga mengalami hal serupa. Siswa SDN Rongtengah 2 itu senang bisa belajar bersama meski harus menyewa jaringan internet. Farhan bisa belajar dengan lancar dan menyelesaikan tugas sekolah hingga selesai.

Baca Juga :  Kuota 4.896 Tersebar 16 SMAN dan SMKN

”HP saya pinjam punya teman. Tidak ada kendala. Kami belajar dengan lancar,” ucap Farhan yang sedang belajar matematika.

Suwarno selaku pemilik warung menuturkan, sejak pandemi Covid-19, banyak siswa yang belajar menggunakan jasa jaringan wifi miliknya. Terkadang dia memberikan kelonggaran. Selama proses belajar, jaringan wifi digratiskan.

Kendati begitu, Warno mengawasi siswa. Jika disalahgunakan, dia tidak segan menarik uang sewa wifi. ”Tapi kalau buat main-main tetap kami tarik,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Kepala SMPN 1 Sampang Teguh Suparyanto menjelaskan, pada tahun ajaran baru, pembelajaran dilaksanakan secara virtual, visual, dan teks. Pembelajaran virtual dilakukan dengan memakai aplikasi Zoom. Sebelum masuk materi, siswa diminta mengisi presensi dengan Google Form atau WhatsApp.

Pembelajaran visual menggunakan aplikasi Edmodo. Guru bisa memberikan materi dalam power point dilengkapi penjelasan. Pihaknya membatasi pembelajaran selama 40 menit.

Sebelum 40 menit, pembelajaran menggunakan Edmodo harus selesai. Sebab, kalau lebih dari 40 menit, siswa harus bayar. Sementara, pembelajaran dengan teks dilakukan dengan menyebarkan materi yang disertai penjelasan melalui WhatsApp. ”Kami berupaya seminimal mungkin biaya yang dikeluarkan anak-anak tidak banyak,” jelasnya.

Baca Juga :  Hujan Deras 2 Hari, Jrengik dan Sampang Banjir

Dalam sehari ada dua mata pelajaran. Satu mapel bisa menghabiskan waktu 2–3 jam. Dalam satu jam berisi 40 menit. Jadi, setiap hari bisa belajar selama 4–5 jam.

Materi yang diberikan kepada siswa tidak sama dengan pembelajaran tatap muka. Pihaknya membuat materi skala prioritas. Misalnya, dalam kompetensi dasar (KD) satu semester ada lima disederhanakan menjadi 3 atau 4 KD. Kemudian, dibuat ringkasan dalam bentuk power point. ”Materi yang disajikan dijelaskan dalam bentuk tutorial,” terangnya.

Teguh menyampaikan, dana bantuan operasional sekolah (BOS) bisa dimanfaatkan untuk menunjang pembelajaran daring. Misalnya, membeli paket data untuk kelancaran pembelajaran. Namun, hal itu tidak dilegalkan kepada semua siswa.

Pihaknya bisa memberikan bantuan dana internet jika siswa tersebut benar-benar tidak mampu. Bahkan, sekolah berani meminjamkan tablet asalkan siswa dan orang tua mau bertanggung jawab. ”Yang kami khawatirkan, nanti disalahgunakan untuk selain pembelajaran,” tandasnya. (bil)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/