alexametrics
20.6 C
Madura
Thursday, July 7, 2022

Nasi Kobal, Dulu Bekal Nelayan, Kini Disukai Wisatawan

SAMPANG – Nasi Kobal merupakan salah satu makanan khas Kabupaten Sampang. Makanan yang awalnya hanya bekal nelayan mencari ikan itu kini digemari semua kalangan, termasuk wisatawan.

Awalnya, menu tersebut dikenal dengan nama Nasi Kobalan. Disebut seperti itu karena pembelinya pada 1970-an adalah penjual tali kobal, asal Kecamatan Karang Penang. Hj Artini atau dikenal dengan Bu War dipercaya sebagai penjual pertama.

 Menu tersebut dijual sejak 1956. Awalnya, makanan itu disediakan untuk bekal para nelayan di desa setempat yang akan berangkat atau datang melaut. Nasi tersebut disajikan pada malam hari, yakni pukul 23.00 sampai pukul 03.00.

            Makanan tersebut berganti nama menjadi Nasi Kobal pada 2004. Yang memberi nama adalah anak Hj Artini, Mat Tinggal, 50, dan Sunami, 42. Nama tersebut melekat hingga sekarang.

Baca Juga :  Pemeriksaan Produk Makanan dan Minuman Digalakkan

Nasi Kobal kali pertama dijual hanya dengan Rp 200 hingga Rp 300. Seiring berjalannya waktu, harganya terus naik. Saat ini dibanderol dengan dua macam harga. Yaitu, Rp 10.000 untuk menu original tanpa telur dan Rp 12.000 jika pakai telur.

            Nasi Kobal original itu terdiri atas nasi putih, ikan cakalan atau tongkol dan tahu. Kemudian ditambah sambal dan serundeng kelapa bakar. Sejak dulu sampai sekarang menu tersebut tidak berubah. Hanya ada tambahan ikannya. Misalnya, cumi-cumi dan telur.

            Kini Nasi Kobal sudah dikenal masyarakat luar kota, termasuk wisatawan. Bahkan, saat berkunjung ke Sampang tidak lengkap jika tidak mampir ke warung Hj Artini di Desa Dharma Camplong, Kecamatan Camplong.

Baca Juga :  RTLH Tahun Ini Hanya untuk Wilayah Pesisir, Ini Datanya

            Saat ini warung yang menyediakan menu tersebut sudah banyak. Bahkan, di kabupaten lain seperi Sumenep dan Bangkalan juga ada. Akan tetapi, yang memiliki sejarah hanya warung Hj Artini yang sekarang diteruskan oleh anaknya.

            Pemilik warung, Sunami, menuturkan, awalnya makanan tersebut dijual di rumahnya. Tapi, saat ini sudah bisa membangun warung sendiri di sisi utara jalan, tepatnya di sebelah timur jembatan Jalan Raya Dharma Camplong.

Seiring berjalannya waktu, makanan tersebut semakin banyak peminat. Bahkan, untuk menikmatinya tidak harus menunggu tengah malam. ”Sekarang bukanya dua puluh empat jam,” jelasnya. 

 

SAMPANG – Nasi Kobal merupakan salah satu makanan khas Kabupaten Sampang. Makanan yang awalnya hanya bekal nelayan mencari ikan itu kini digemari semua kalangan, termasuk wisatawan.

Awalnya, menu tersebut dikenal dengan nama Nasi Kobalan. Disebut seperti itu karena pembelinya pada 1970-an adalah penjual tali kobal, asal Kecamatan Karang Penang. Hj Artini atau dikenal dengan Bu War dipercaya sebagai penjual pertama.

 Menu tersebut dijual sejak 1956. Awalnya, makanan itu disediakan untuk bekal para nelayan di desa setempat yang akan berangkat atau datang melaut. Nasi tersebut disajikan pada malam hari, yakni pukul 23.00 sampai pukul 03.00.


            Makanan tersebut berganti nama menjadi Nasi Kobal pada 2004. Yang memberi nama adalah anak Hj Artini, Mat Tinggal, 50, dan Sunami, 42. Nama tersebut melekat hingga sekarang.

Baca Juga :  Buka Bersama Bank Jatim Pererat Silaturahmi

Nasi Kobal kali pertama dijual hanya dengan Rp 200 hingga Rp 300. Seiring berjalannya waktu, harganya terus naik. Saat ini dibanderol dengan dua macam harga. Yaitu, Rp 10.000 untuk menu original tanpa telur dan Rp 12.000 jika pakai telur.

            Nasi Kobal original itu terdiri atas nasi putih, ikan cakalan atau tongkol dan tahu. Kemudian ditambah sambal dan serundeng kelapa bakar. Sejak dulu sampai sekarang menu tersebut tidak berubah. Hanya ada tambahan ikannya. Misalnya, cumi-cumi dan telur.

            Kini Nasi Kobal sudah dikenal masyarakat luar kota, termasuk wisatawan. Bahkan, saat berkunjung ke Sampang tidak lengkap jika tidak mampir ke warung Hj Artini di Desa Dharma Camplong, Kecamatan Camplong.

Baca Juga :  Pj Bupati Bantu Korban Kebakaran dan TKI Meninggal

            Saat ini warung yang menyediakan menu tersebut sudah banyak. Bahkan, di kabupaten lain seperi Sumenep dan Bangkalan juga ada. Akan tetapi, yang memiliki sejarah hanya warung Hj Artini yang sekarang diteruskan oleh anaknya.

            Pemilik warung, Sunami, menuturkan, awalnya makanan tersebut dijual di rumahnya. Tapi, saat ini sudah bisa membangun warung sendiri di sisi utara jalan, tepatnya di sebelah timur jembatan Jalan Raya Dharma Camplong.

Seiring berjalannya waktu, makanan tersebut semakin banyak peminat. Bahkan, untuk menikmatinya tidak harus menunggu tengah malam. ”Sekarang bukanya dua puluh empat jam,” jelasnya. 

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/