alexametrics
20.9 C
Madura
Thursday, July 7, 2022

Proyek Puskesmas Torjun Ambruk

SAMPANG – Proyek rehabilitasi Puskesmas Torjun senilai Rp 1,7 miliar yang dikerjakan CV Yala Indah Perkasa sejak awal bermasalah. Pelaksana proyek tidak bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai waktu yang ditetapkan dalam kontrak.

Bahkan, meski dilakukan perpanjangan waktu pengerjaan melalui adendum, pelaksana belum bisa menyelesaikan proyek tersebut hingga seratus persen. Akibatnya, pelaksana diputus kontrak karena sudah melewati tahun anggaran.

Parahnya, hasil pekerjaan tidak bertahan lama. Minggu (20/1) sekitar pukul 17.45, atap bangunan puskesmas baru yang plafonnya terbuat dari bahan aluminium ambruk. Proyek yang menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan (Dinkes) Sampang itu mendapat perhatian dan sorotan sejumlah pihak.

Berdasarkan pengakuan kepala tukang Darus Salam, sebelum atap ambruk, pekerjaan tersisa 20 persen. Menurut dia, jika dipersentasikan, pekerjaan sudah selesai 80 persen karena hanya tersisa pemasangan plafon, jendela, dan keramik. ”Memang ada kendala sejak awal. Di antaranya, pembongkaran bangunan lama, SPK telat, dan cari tukang sulit,” bebernya.

Plt Kepala Dinkes Sampang Asrul Sani kemarin (21/1) mengatakan, berdasar berita acara pada 31 Desember 2018 mengenai 82 persen hasil pekerjaan yang diselesaikan pelaksana, kondisinya sesuai dan baik-baik saja. Saat itu pelaksana memberikan garansi, jika ada kerusakan siap melakukan perbaikan. Kemudian oleh dinkes dilakukan pemutusan kontrak terhadap pelaksana karena sudah melewati tahun anggaran.

Baca Juga :  Ra Momon dan Fadhilah Lengser, Ini Penggantinya

Mengenai ambruknya atap bangunan, pihaknya mengaku belum bisa memastikan penyebabnya. Pihak konsultan dan pengawas memastikan pekerjaan tersebut sesuai spesifikasi. ”Kami sudah panggil pelaksana dan pelaksana menyatakan siap memperbaiki kerusakan,” ungkapnya.

Dinkes bakal meminta BPK dan inspektorat mengaudit hasil pekerjaan tersebut. Karena itu, bangunan anyar itu tidak ditempati meski sebagian selesai. ”Beruntung memang tidak ditempati sehingga tidak ada korban jiwa,” katanya.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Sampang Amin Arif Tirtana menyayangkan kejadian tersebut. Sejak awal pihaknya memberikan notifikasi kepada dinkes. ”Bupati harus tegas menangani hal ini,” ujarnya.

Menurut dia, kejadian tersebut disebabkan kesalahan konsultan perencanaan serta pengawasan dinkes. Karena itu, penindakan terhadap kontraktor harus dilakukan. ”Kami sudah mewanti-wanti supaya kualitas pekerjaan tidak dikurangi akibat waktunya hampir habis. Ternyata hasilnya begini,” tuturnya.

Pihaknya berharap kejadian seperti itu tidak terjadi pada proyek pembangunan fisik yang lain di Sampang. Menurut dia, proyek Puskesmas Torjun harus dijadikan pelajaran kepada seluruh pelaksana di Sampang. ”BPK dan seluruh instansi pengawas, penegak disiplin, bahkan penegak hukum harus turun untuk menyelesaikan ini,” tegasnya.

Baca Juga :  Korban Kebakaran Butuh Bantuan Pemerintah

Pj Bupati Sampang Jonathan Judianto mengaku sudah memerintah dinkes melakukan kajian bersama secara detail dengan konsultan perencanaan dan pengawasan yang juga melibatkan tim ahli dari DPRKP. Tujuannya, mengetahui penyebab ambruknya atap Puskesmas Torjun.

”Kami akan minta ganti rugi kepada rekanan jika memang terbukti itu kelalaian pelaksana dalam mengerjakan proyek. Misalnya, materialnya tidak sesuai spek dan semacamnya. Makanya, dikaji dulu,” terangnya.

Pihaknya tidak main-main menangani proyek pembangunan di Sampang. Menurut dia, sudah saatnya kualitas pekerjaan diperbaiki supaya Sampang lebih maju. ”Ini harus dijadikan pelajaran dan ini harus diusut sampai tuntas,” tegasnya.

Untuk diketahui, pada 2018 Dinkes Sampang merehabilitasi empat puskesmas. Yakni, Puskesmas Torjun dengan anggaran Rp 1,7 miliar dan penambahan ruang di Puskesmas Robatal Rp 950 juta. Lalu, pembangunan sarpras fasilitas kesehatan Puskesmas Banyuanyar Rp 1,2 miliar dan pembangunan Puskesmas Camplong Rp 4,5 miliar.

SAMPANG – Proyek rehabilitasi Puskesmas Torjun senilai Rp 1,7 miliar yang dikerjakan CV Yala Indah Perkasa sejak awal bermasalah. Pelaksana proyek tidak bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai waktu yang ditetapkan dalam kontrak.

Bahkan, meski dilakukan perpanjangan waktu pengerjaan melalui adendum, pelaksana belum bisa menyelesaikan proyek tersebut hingga seratus persen. Akibatnya, pelaksana diputus kontrak karena sudah melewati tahun anggaran.

Parahnya, hasil pekerjaan tidak bertahan lama. Minggu (20/1) sekitar pukul 17.45, atap bangunan puskesmas baru yang plafonnya terbuat dari bahan aluminium ambruk. Proyek yang menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan (Dinkes) Sampang itu mendapat perhatian dan sorotan sejumlah pihak.


Berdasarkan pengakuan kepala tukang Darus Salam, sebelum atap ambruk, pekerjaan tersisa 20 persen. Menurut dia, jika dipersentasikan, pekerjaan sudah selesai 80 persen karena hanya tersisa pemasangan plafon, jendela, dan keramik. ”Memang ada kendala sejak awal. Di antaranya, pembongkaran bangunan lama, SPK telat, dan cari tukang sulit,” bebernya.

Plt Kepala Dinkes Sampang Asrul Sani kemarin (21/1) mengatakan, berdasar berita acara pada 31 Desember 2018 mengenai 82 persen hasil pekerjaan yang diselesaikan pelaksana, kondisinya sesuai dan baik-baik saja. Saat itu pelaksana memberikan garansi, jika ada kerusakan siap melakukan perbaikan. Kemudian oleh dinkes dilakukan pemutusan kontrak terhadap pelaksana karena sudah melewati tahun anggaran.

Baca Juga :  Sampang Terbawah Se-Jatim

Mengenai ambruknya atap bangunan, pihaknya mengaku belum bisa memastikan penyebabnya. Pihak konsultan dan pengawas memastikan pekerjaan tersebut sesuai spesifikasi. ”Kami sudah panggil pelaksana dan pelaksana menyatakan siap memperbaiki kerusakan,” ungkapnya.

Dinkes bakal meminta BPK dan inspektorat mengaudit hasil pekerjaan tersebut. Karena itu, bangunan anyar itu tidak ditempati meski sebagian selesai. ”Beruntung memang tidak ditempati sehingga tidak ada korban jiwa,” katanya.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Sampang Amin Arif Tirtana menyayangkan kejadian tersebut. Sejak awal pihaknya memberikan notifikasi kepada dinkes. ”Bupati harus tegas menangani hal ini,” ujarnya.

Menurut dia, kejadian tersebut disebabkan kesalahan konsultan perencanaan serta pengawasan dinkes. Karena itu, penindakan terhadap kontraktor harus dilakukan. ”Kami sudah mewanti-wanti supaya kualitas pekerjaan tidak dikurangi akibat waktunya hampir habis. Ternyata hasilnya begini,” tuturnya.

Pihaknya berharap kejadian seperti itu tidak terjadi pada proyek pembangunan fisik yang lain di Sampang. Menurut dia, proyek Puskesmas Torjun harus dijadikan pelajaran kepada seluruh pelaksana di Sampang. ”BPK dan seluruh instansi pengawas, penegak disiplin, bahkan penegak hukum harus turun untuk menyelesaikan ini,” tegasnya.

Baca Juga :  Fattah Jasin Resmi Pimpin Pamekasan. Ini Pesan Pakde Karwo

Pj Bupati Sampang Jonathan Judianto mengaku sudah memerintah dinkes melakukan kajian bersama secara detail dengan konsultan perencanaan dan pengawasan yang juga melibatkan tim ahli dari DPRKP. Tujuannya, mengetahui penyebab ambruknya atap Puskesmas Torjun.

”Kami akan minta ganti rugi kepada rekanan jika memang terbukti itu kelalaian pelaksana dalam mengerjakan proyek. Misalnya, materialnya tidak sesuai spek dan semacamnya. Makanya, dikaji dulu,” terangnya.

Pihaknya tidak main-main menangani proyek pembangunan di Sampang. Menurut dia, sudah saatnya kualitas pekerjaan diperbaiki supaya Sampang lebih maju. ”Ini harus dijadikan pelajaran dan ini harus diusut sampai tuntas,” tegasnya.

Untuk diketahui, pada 2018 Dinkes Sampang merehabilitasi empat puskesmas. Yakni, Puskesmas Torjun dengan anggaran Rp 1,7 miliar dan penambahan ruang di Puskesmas Robatal Rp 950 juta. Lalu, pembangunan sarpras fasilitas kesehatan Puskesmas Banyuanyar Rp 1,2 miliar dan pembangunan Puskesmas Camplong Rp 4,5 miliar.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/