alexametrics
24.4 C
Madura
Tuesday, August 9, 2022

Warga Tolak Pemasangan Pipa Air

SAMPANG – Pekerjaan proyek fisik di Sampang kembali mendapat penolakan dari warga. Kali ini, proyek sistem penyediaan air minum (SPAM) di Dusun Juberek, Desa Banyukapah, Kecamatan Kedungdung. Sebab, pemasangan pipa diduga tidak berizin. Akibatnya, ketika akan dilakukan pemasangan, ditolak oleh warga.

Penolakan pemasangan pipa dilakukan keluarga pasangan suami istri (pasutri) Misnawi dan Samu’a sekitar pukul 08.00 Senin (20/11). Pada saat itu ada anggota kepolisian dan TNI Koramil Kedungdung kurang lebih 15 anggota.

Keluarga Misnawi terdiri dari anak, cucu, dan cicit. Mereka yang rata-rata kaum hawa itu menduduki lencak. Ada juga yang menduduki lahan sambil mengecam bahwa tanah tersebut ada pemiliknya sehingga tidak boleh seenaknya menggali dan memasang pipa.

Meski mendapat penolakan, pekerja terus melakukan penggalian tanah. Di lokasi, aparat keamanan membujuk keluarga Misnawi memperbolehkan pekerja melaksanakan tugasnya. ”Ini tanah saya. Jangan seenaknya menggali tanpa izin,” teriak Hamiyah, 54, anak Misnawi.

Pekerja yang didampingi aparat tidak menggubris teriakan itu. Pekerja terus melakukan penggalian tanah untuk memasang pipa. Galian di lahan yang lain sudah selesai. Jadi tinggal di lokasi yang diduduki keluarga Misnawi.

Karena dibujuk tidak mempan, aparat mengangkat dan menyuruh pekerja cepat menggali tanah. ”Pemerintah jangan pilih kasih. Aparat harus melihat dari dua sisi. Jangan yang kuat dan punya uang yang dibantu,” ujar Hamiyah disambut tangis keluarga lainnya.

Sekitar pukul 10.45, ada famili Misnawi datang menggunakan mobil carry hijau tua. Kurang lebih lima orang di dalam mobil tersebut. Setelah itu, disusul dua perempuan menggunakan Yamaha N-Max. Mereka tanpa basa-basi mendatangi lokasi sambil teriak agar pekerjaan tidak dilanjutkan.

Baca Juga :  Proyek SPAM Digerojok Rp 9 Miliar

”Ini tanah kami. Jangan menggali seenaknya. Polisi jangan memihak kepada yang punya uang, sedangkan rakyat kecil diinjak,” ucap salah seorang perempuan mengenakan kaus merah.

Keluarga Misnawi tanpa dikomando kompak duduk berjejer di lubang galian pemasangan pipa. Aparat melakukan penghadangan supaya pipa segera dipasang. Pada saat itu situasi semakin memanas dan ada perlawanan dari keluarga Misnawi. ”Jangan dipasang pipa itu kalau tidak mau dirusak. Awas,” ancamnya.

Fauzi, 42, putra Misnawi lainnya mengatakan, bukannya tidak memperbolehkan pemasngan pipa, tapi yang jadi masalah pelaksana tidak izin. Kata dia, pelaksana tiba-tiba melakukan penggalian. ”Kami hentikan karena tidak ada izin,” tuturnya.

Pria yang mengenakan jaket hitam kombinasi merah itu menyatakan, galian untuk pemasangan pipa berlangsung lama. Namun pelaksana tidak koordinasi terlebih dahulu. Karena hal itulah, pihaknya tidak mengizinkan lahan digali.

”Tanah tersebut lengkap. Di sertifikat tanah atas nama Sejani yang merupakan mbah saya,”  ungkapnya. ”Yang jelas kami kecewa karena tidak pamit,” imbuhnya.

Menurut dia, pembangunan SPAM sangat bagus. Akan tetapi, setiap ada program harus dikoordinasikan terlebih dahulu. ”Ini melewati masyarakat. Jika tidak dikehendaki masyarakat, seharusnya jangan dilakukan. Pihak keamanan tidak boleh ikut campur,” tandasnya.

Sementara itu, Silot selaku pelaksana mengelak pihaknya disebut belum meminta izin. Pria yang juga Sekretaris Desa (Sekdes) Banyukapah itu menyatakan sudah meminta izin kepada tokoh masyarakat.

Baca Juga :  Dispendukcapil Imbau Warga Hindari¬† Calo

Awalnya, dia meminta izin kepada tokoh masyarakat Syafiih atau Rum. Karena tidak dapat izin, pihaknya mencari tokoh masyarakat lain, yaitu Mat Taji. Dia merupakan besan Hamiyah atau Misnawi.

”Ini (penggalian untuk pemasangan pipa, Red) sudah sebulan mandek,” katanya. Sudah tiga tokoh masyarakat dimintai bantuan belum ada solusi serta tidak ada tanggapan. Akhirnya, Silot memberi tahu kepada Bhabinkamtibmas.

”Setelah itu saya dipanggil oleh Kapolsek (Budi Purnomo, Red). Setelah ada pemanggilan, tetap tidak ada pengerjaan,” ujarnya. Karena waktu pekerjaan sudah mepet, pihaknya ingin melanjutkan penggalian dengan memberi tahu kepada Danramil dan Kapolsek.

”Jumlah pekerja tadi (kemarin, Red) sekitar 15 orang. Sebelumnya empat pekerja. Permintaan Kapolsek takut lama, akhirnya ditambah,” paparnya.

Kapolsek Kedungdung Iptu Budi Purnomo mengatakan, pihaknya bersama anggota datang ke lokasi untuk melakukan pengamanan. Menurut dia, proyek SPAM merupakan program pemerintah untuk masyarakat yang harus didukung.

”Kedatangan kami ke sini (Banyukapah, Red) untuk pengamanan. Sebelumnya sudah ada izin dari pelaksana,” ucapnya mewakili Kapolres Sampang AKBP Tofik Sukendar.

Nilai proyek pemasangan pipa Rp 240 juta. Awal pengerjaan dilakukan pertengahan Agustus. Proyek yang bersumber dari APBN itu panjangnya 1.800 meter. Lokasi sumber di Dusun/Desa Banyukapah. Rencananya, SPAM untuk Dusun Banyukapah dan Dusun Juberek. Pekerjaan sudah 95 persen. Saat ini tinggal penyambungan pipa.

SAMPANG – Pekerjaan proyek fisik di Sampang kembali mendapat penolakan dari warga. Kali ini, proyek sistem penyediaan air minum (SPAM) di Dusun Juberek, Desa Banyukapah, Kecamatan Kedungdung. Sebab, pemasangan pipa diduga tidak berizin. Akibatnya, ketika akan dilakukan pemasangan, ditolak oleh warga.

Penolakan pemasangan pipa dilakukan keluarga pasangan suami istri (pasutri) Misnawi dan Samu’a sekitar pukul 08.00 Senin (20/11). Pada saat itu ada anggota kepolisian dan TNI Koramil Kedungdung kurang lebih 15 anggota.

Keluarga Misnawi terdiri dari anak, cucu, dan cicit. Mereka yang rata-rata kaum hawa itu menduduki lencak. Ada juga yang menduduki lahan sambil mengecam bahwa tanah tersebut ada pemiliknya sehingga tidak boleh seenaknya menggali dan memasang pipa.


Meski mendapat penolakan, pekerja terus melakukan penggalian tanah. Di lokasi, aparat keamanan membujuk keluarga Misnawi memperbolehkan pekerja melaksanakan tugasnya. ”Ini tanah saya. Jangan seenaknya menggali tanpa izin,” teriak Hamiyah, 54, anak Misnawi.

Pekerja yang didampingi aparat tidak menggubris teriakan itu. Pekerja terus melakukan penggalian tanah untuk memasang pipa. Galian di lahan yang lain sudah selesai. Jadi tinggal di lokasi yang diduduki keluarga Misnawi.

Karena dibujuk tidak mempan, aparat mengangkat dan menyuruh pekerja cepat menggali tanah. ”Pemerintah jangan pilih kasih. Aparat harus melihat dari dua sisi. Jangan yang kuat dan punya uang yang dibantu,” ujar Hamiyah disambut tangis keluarga lainnya.

Sekitar pukul 10.45, ada famili Misnawi datang menggunakan mobil carry hijau tua. Kurang lebih lima orang di dalam mobil tersebut. Setelah itu, disusul dua perempuan menggunakan Yamaha N-Max. Mereka tanpa basa-basi mendatangi lokasi sambil teriak agar pekerjaan tidak dilanjutkan.

Baca Juga :  Diduga Korsleting, Gudang Pengolah Ikan di Sampang Hangus Terbakar

”Ini tanah kami. Jangan menggali seenaknya. Polisi jangan memihak kepada yang punya uang, sedangkan rakyat kecil diinjak,” ucap salah seorang perempuan mengenakan kaus merah.

Keluarga Misnawi tanpa dikomando kompak duduk berjejer di lubang galian pemasangan pipa. Aparat melakukan penghadangan supaya pipa segera dipasang. Pada saat itu situasi semakin memanas dan ada perlawanan dari keluarga Misnawi. ”Jangan dipasang pipa itu kalau tidak mau dirusak. Awas,” ancamnya.

Fauzi, 42, putra Misnawi lainnya mengatakan, bukannya tidak memperbolehkan pemasngan pipa, tapi yang jadi masalah pelaksana tidak izin. Kata dia, pelaksana tiba-tiba melakukan penggalian. ”Kami hentikan karena tidak ada izin,” tuturnya.

Pria yang mengenakan jaket hitam kombinasi merah itu menyatakan, galian untuk pemasangan pipa berlangsung lama. Namun pelaksana tidak koordinasi terlebih dahulu. Karena hal itulah, pihaknya tidak mengizinkan lahan digali.

”Tanah tersebut lengkap. Di sertifikat tanah atas nama Sejani yang merupakan mbah saya,”  ungkapnya. ”Yang jelas kami kecewa karena tidak pamit,” imbuhnya.

Menurut dia, pembangunan SPAM sangat bagus. Akan tetapi, setiap ada program harus dikoordinasikan terlebih dahulu. ”Ini melewati masyarakat. Jika tidak dikehendaki masyarakat, seharusnya jangan dilakukan. Pihak keamanan tidak boleh ikut campur,” tandasnya.

Sementara itu, Silot selaku pelaksana mengelak pihaknya disebut belum meminta izin. Pria yang juga Sekretaris Desa (Sekdes) Banyukapah itu menyatakan sudah meminta izin kepada tokoh masyarakat.

Baca Juga :  Warga Pantura Sampang Pertanyakan Manfaat¬†SPAM

Awalnya, dia meminta izin kepada tokoh masyarakat Syafiih atau Rum. Karena tidak dapat izin, pihaknya mencari tokoh masyarakat lain, yaitu Mat Taji. Dia merupakan besan Hamiyah atau Misnawi.

”Ini (penggalian untuk pemasangan pipa, Red) sudah sebulan mandek,” katanya. Sudah tiga tokoh masyarakat dimintai bantuan belum ada solusi serta tidak ada tanggapan. Akhirnya, Silot memberi tahu kepada Bhabinkamtibmas.

”Setelah itu saya dipanggil oleh Kapolsek (Budi Purnomo, Red). Setelah ada pemanggilan, tetap tidak ada pengerjaan,” ujarnya. Karena waktu pekerjaan sudah mepet, pihaknya ingin melanjutkan penggalian dengan memberi tahu kepada Danramil dan Kapolsek.

”Jumlah pekerja tadi (kemarin, Red) sekitar 15 orang. Sebelumnya empat pekerja. Permintaan Kapolsek takut lama, akhirnya ditambah,” paparnya.

Kapolsek Kedungdung Iptu Budi Purnomo mengatakan, pihaknya bersama anggota datang ke lokasi untuk melakukan pengamanan. Menurut dia, proyek SPAM merupakan program pemerintah untuk masyarakat yang harus didukung.

”Kedatangan kami ke sini (Banyukapah, Red) untuk pengamanan. Sebelumnya sudah ada izin dari pelaksana,” ucapnya mewakili Kapolres Sampang AKBP Tofik Sukendar.

Nilai proyek pemasangan pipa Rp 240 juta. Awal pengerjaan dilakukan pertengahan Agustus. Proyek yang bersumber dari APBN itu panjangnya 1.800 meter. Lokasi sumber di Dusun/Desa Banyukapah. Rencananya, SPAM untuk Dusun Banyukapah dan Dusun Juberek. Pekerjaan sudah 95 persen. Saat ini tinggal penyambungan pipa.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Capaian PBB Rendah, Wabup Gerah

Dua Perempuan Pilih Mundur

Pelaksanaan Coklit Bermasalah

Artikel Terbaru

/