alexametrics
22.3 C
Madura
Tuesday, May 24, 2022

Puluhan Warga Sampang Hidup Dipasung

SAMPANG – Program bebas pasung butuh dukungan semua pihak. Hingga saat ini masih ada 75 warga yang hidup dengan pasung di Sampang. Puluhan orang itu tidak bisa leluasa karena mengalami gangguan jiwa.

Kepala Dinkes Sampang Firman Pria Abadi menjelaskan, pada 2016 sudah melaksanakan program bebas pasung bagi 27 orang di sejumlah kecamatan. Tahun ini, 53 orang sudah dibebaskan.

”Sejak 2015, jumlah warga yang dipasung 155 orang. Yang sudah dibebaskan 80 orang. Masih tersisa 75 orang belum bebas karena dalam tahap pengobatan atau penyembuhan,” paparnya Rabu (20/9).

Dia mengatakan, program bebas pasung perlu mendapat dukungan dari keluarga dan masyarakat. Sebab, hal itu sangat berpengaruh terhadap penyembuhan korban. Cepat atau tidaknya proses tersebut juga bergantung terhadap lingkungan.

Baca Juga :  Karyawan Terbatas, Penyaluran BLT Tersendat

Dalam melakukan pengobatan, dinkes bekerja sama dengan tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSK). Menurut Friman, mereka bisa sembuh jika diobati secara rutin. Tapi terkadang masih banyak pihak keluarga yang tidak mau jika pasungan dilepas. ”Alasannya, takut ngamuk dan lari,” ucapnya.

Jika keluarga dan tokoh masyarakat berperan aktif dalam penyembuhan, penderita orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) tidak butuh waktu lama untuk bisa sembuh. Mereka juga bisa segera beraktivitas seperti manusia normal.

Dengan begitu, perlu kesadaran dari semua pihak. Terutama keluarga dan lingkungan sekitar. ”Mereka butuh dukungan moril untuk sembuh. Bukan dipasung,” terang Firman.

Pihaknya juga bekerja sama denga dinas sosial (dinsos) dalam memberikan bantuan kebutuhan sosial atau kebutuhan hidup. Sebab, pada umumnya para penderita ganguan jiwa itu karena faktor ekonomi. Seperti tidak bekerja dan tidak ada penghasilan.

Baca Juga :  Gotong Royong Perbaiki Jalan

SAMPANG – Program bebas pasung butuh dukungan semua pihak. Hingga saat ini masih ada 75 warga yang hidup dengan pasung di Sampang. Puluhan orang itu tidak bisa leluasa karena mengalami gangguan jiwa.

Kepala Dinkes Sampang Firman Pria Abadi menjelaskan, pada 2016 sudah melaksanakan program bebas pasung bagi 27 orang di sejumlah kecamatan. Tahun ini, 53 orang sudah dibebaskan.

”Sejak 2015, jumlah warga yang dipasung 155 orang. Yang sudah dibebaskan 80 orang. Masih tersisa 75 orang belum bebas karena dalam tahap pengobatan atau penyembuhan,” paparnya Rabu (20/9).


Dia mengatakan, program bebas pasung perlu mendapat dukungan dari keluarga dan masyarakat. Sebab, hal itu sangat berpengaruh terhadap penyembuhan korban. Cepat atau tidaknya proses tersebut juga bergantung terhadap lingkungan.

Baca Juga :  Karyawan Terbatas, Penyaluran BLT Tersendat

Dalam melakukan pengobatan, dinkes bekerja sama dengan tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSK). Menurut Friman, mereka bisa sembuh jika diobati secara rutin. Tapi terkadang masih banyak pihak keluarga yang tidak mau jika pasungan dilepas. ”Alasannya, takut ngamuk dan lari,” ucapnya.

Jika keluarga dan tokoh masyarakat berperan aktif dalam penyembuhan, penderita orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) tidak butuh waktu lama untuk bisa sembuh. Mereka juga bisa segera beraktivitas seperti manusia normal.

Dengan begitu, perlu kesadaran dari semua pihak. Terutama keluarga dan lingkungan sekitar. ”Mereka butuh dukungan moril untuk sembuh. Bukan dipasung,” terang Firman.

Pihaknya juga bekerja sama denga dinas sosial (dinsos) dalam memberikan bantuan kebutuhan sosial atau kebutuhan hidup. Sebab, pada umumnya para penderita ganguan jiwa itu karena faktor ekonomi. Seperti tidak bekerja dan tidak ada penghasilan.

Baca Juga :  Pembebasan Lahan Stadion Harus Terealisasi
- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/