alexametrics
21 C
Madura
Saturday, June 25, 2022

Kerja Keras Menanggulangi Masalah Banjir

Hujan sering mengguyur semua wilayah di Madura. Genangan terjadi di mana-mana. Lahan pertanian juga tidak bisa ditanami. Sementara warga Kota Sampang tetap dibayang-bayangi banjir yang biasa terjadi setiap tahun.

 

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Sampang diminta lebih serius menangani banjir. Salah satunya, membenahi infrastruktur penanggulangan bencana dari hulu hingga hilir. Selama ini pembangunan untuk menanggulangi banjir hanya terpusat di perkotaan.

Ketua Komisi III DPRD Sampang Moh. Nasir mengatakan, fasilitas saluran air di wilayah hilir tidak memadai. Karena itu, air kiriman dari utara langsung masuk ke kota. ”Banjir tidak lepas dari infrastruktur yang tidak memadai. Terutama di wilayah utara,” katanya kemarin (20/1).

Menurut dia, antisipasi banjir di wilayah utara masih kurang. Salah satunya, penampungan dan pembuangan air masih minim. Akibatnya, air dari utara langsung mengalir ke perkotaan. Sementara wilayah perkotaan 0,8 meter di bawah permukaan air laut.

Dia meminta pemkab segera membuat rencana yang lebih bagus. Salah satunya, membangun saluran pembuangan dan penampungan air berkapasitas besar di utara. Sebab jika pembangunan infrstruktur hanya dilakukan di wilayah kota, hasilnya tidak akan maksimal.

”Selama ini belum ada upaya yang lebih konkret dari pemkab untuk menanggulangi banjir. Pembangunan sejumlah penampungan air sungai belum mampu mengurangi volume air banjir,” ucapnya.

Politikus Partai Gerindra itu mengatakan, pemkab harus pandai mengelola anggaran. Tidak mungkin menggunakan APBD kabupaten. Harus ada koordinasi dengan pemerintah provinsi atau pusat. Pembangunan penampungan air di sejumlah wilayah yang air sungainya bermuara ke Kali Kamoning harus dilakukan. Agar pembangunan seimbang dan penanggulangan banjir bisa lebih maksimal.

Baca Juga :  PDI-P Dukung Bupati dan Wabup Percepat Pembangunan Sampang

”Jika air sungai Robatal, Karang Penang, dan  Omben bisa ditampung dalam waduk besar, kemungkinan air yang masuk ke Kamoning tidak banyak dan tidak terjadi banjir,” ujarnya.

Jika pemkab membangun instalasi penampungan air atau pompa di utara, banjir dapat diatasi. Selain itu, air yang ditampung bisa dialirkan ke persawahan. Menurut dia, tidak maksimalnya mesin pompa banjir karena berukuran kecil. Saat hujan deras, debit air Kali Kamoning rata-rata bisa mencapai 570 meter kubik per detik. Sementara, mesin pompa hanya mampu menampung air sekitar 50 meter kubik per detik. ”Artinya, 6 mesin pompa itu hanya bisa menampung air 300 meter kubik per detik,” ungkapnya.

Selain itu, perlu ada koordinasi yang baik antara dinas terkait. Dengan demikian, penanggulangan bencana dapat dilakukan dengan baik. ”Koordinasi antara dinas tekait harus lebih intensif,” harapnya.

Kepala Dinas PUPR Sampang Sri Andoyo Sudono mengatakan, pembangunan saluran air dari hulu hingga hilir merupakan tanggung jawab pemerintah pusat. Pihaknya hanya memperbaiki dan membangun instalasi atau saluran anak sungai dari hulu ke hilir. Setiap tahun, pihaknya menjalankan program pembangunan reservoir di sejumlah aliran sungai.

Baca Juga :  Hujan Delapan Jam, Sebelas Dusun Tergenang

”Kalau hulu dan hilir itu ditangani langsung oleh pemerintah provinsi dan pusat. Termasuk pembangunan mesin pompa banjir atau sodetan,” katanya.

Kelurahan Gladak Anyar, Kecamatan Kota Pamekasan, juga menjadi daerah langganan banjir tiap musim penghujan. Ketinggian air bisa mencapai lutut orang dewasa. Sabtu malam (19/1) air menggenang karena hujan deras lebih dari lima jam.

Air yang menggenangi Kelurahan Gladak Anyar ini merupakan kiriman dari wilayah utara akibat luapan Sungai Kali Kalowang. Air mulai surut pada Minggu dini hari (20/1). ”Kami pasti cemas ketika terjadi hujan deras. Kami berharap pemerintah bisa melakukan langkah-langkah konkret,” harap Ahmad Baihaqi, warga setempat.

Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Pamekasan Budi Cahyono menjelaskan, Kelurahan Gladak Anyar memang merupakan salah satu titik rawan banjir. Lokasi lain yang juga rawan banjir ialah Kelurahan Patemon, Desa Teja, Jalan Jokotole, dan Jalan Raya Asem Manis, Pamekasan. ”Meski dilanda banjir, namun masih masuk kategori aman. Warga tidak sampai mengamankan barang-brangnya ke lokasi lain,” terangnya.

Plt Sekkab Pamekasan Mohamad Alwi menjelaskan, pemkab selama ini telah melakukan berbagai upaya untuk menekan terjadinya banjir. Misalkan dengan melakukan normalisasi dan naturalisasi sungai. ”Saya berharap masyarakat juga tidak membuang sampah di pelataran sungai,” tukasnya.

Hujan sering mengguyur semua wilayah di Madura. Genangan terjadi di mana-mana. Lahan pertanian juga tidak bisa ditanami. Sementara warga Kota Sampang tetap dibayang-bayangi banjir yang biasa terjadi setiap tahun.

 

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Sampang diminta lebih serius menangani banjir. Salah satunya, membenahi infrastruktur penanggulangan bencana dari hulu hingga hilir. Selama ini pembangunan untuk menanggulangi banjir hanya terpusat di perkotaan.


Ketua Komisi III DPRD Sampang Moh. Nasir mengatakan, fasilitas saluran air di wilayah hilir tidak memadai. Karena itu, air kiriman dari utara langsung masuk ke kota. ”Banjir tidak lepas dari infrastruktur yang tidak memadai. Terutama di wilayah utara,” katanya kemarin (20/1).

Menurut dia, antisipasi banjir di wilayah utara masih kurang. Salah satunya, penampungan dan pembuangan air masih minim. Akibatnya, air dari utara langsung mengalir ke perkotaan. Sementara wilayah perkotaan 0,8 meter di bawah permukaan air laut.

Dia meminta pemkab segera membuat rencana yang lebih bagus. Salah satunya, membangun saluran pembuangan dan penampungan air berkapasitas besar di utara. Sebab jika pembangunan infrstruktur hanya dilakukan di wilayah kota, hasilnya tidak akan maksimal.

”Selama ini belum ada upaya yang lebih konkret dari pemkab untuk menanggulangi banjir. Pembangunan sejumlah penampungan air sungai belum mampu mengurangi volume air banjir,” ucapnya.

Politikus Partai Gerindra itu mengatakan, pemkab harus pandai mengelola anggaran. Tidak mungkin menggunakan APBD kabupaten. Harus ada koordinasi dengan pemerintah provinsi atau pusat. Pembangunan penampungan air di sejumlah wilayah yang air sungainya bermuara ke Kali Kamoning harus dilakukan. Agar pembangunan seimbang dan penanggulangan banjir bisa lebih maksimal.

Baca Juga :  Polwan Tunjukkan Citra Polisi Tak Menakutkan

”Jika air sungai Robatal, Karang Penang, dan  Omben bisa ditampung dalam waduk besar, kemungkinan air yang masuk ke Kamoning tidak banyak dan tidak terjadi banjir,” ujarnya.

Jika pemkab membangun instalasi penampungan air atau pompa di utara, banjir dapat diatasi. Selain itu, air yang ditampung bisa dialirkan ke persawahan. Menurut dia, tidak maksimalnya mesin pompa banjir karena berukuran kecil. Saat hujan deras, debit air Kali Kamoning rata-rata bisa mencapai 570 meter kubik per detik. Sementara, mesin pompa hanya mampu menampung air sekitar 50 meter kubik per detik. ”Artinya, 6 mesin pompa itu hanya bisa menampung air 300 meter kubik per detik,” ungkapnya.

Selain itu, perlu ada koordinasi yang baik antara dinas terkait. Dengan demikian, penanggulangan bencana dapat dilakukan dengan baik. ”Koordinasi antara dinas tekait harus lebih intensif,” harapnya.

Kepala Dinas PUPR Sampang Sri Andoyo Sudono mengatakan, pembangunan saluran air dari hulu hingga hilir merupakan tanggung jawab pemerintah pusat. Pihaknya hanya memperbaiki dan membangun instalasi atau saluran anak sungai dari hulu ke hilir. Setiap tahun, pihaknya menjalankan program pembangunan reservoir di sejumlah aliran sungai.

Baca Juga :  Kenang Sejarah Keram Bangsa Melalui Film G30S PKI

”Kalau hulu dan hilir itu ditangani langsung oleh pemerintah provinsi dan pusat. Termasuk pembangunan mesin pompa banjir atau sodetan,” katanya.

Kelurahan Gladak Anyar, Kecamatan Kota Pamekasan, juga menjadi daerah langganan banjir tiap musim penghujan. Ketinggian air bisa mencapai lutut orang dewasa. Sabtu malam (19/1) air menggenang karena hujan deras lebih dari lima jam.

Air yang menggenangi Kelurahan Gladak Anyar ini merupakan kiriman dari wilayah utara akibat luapan Sungai Kali Kalowang. Air mulai surut pada Minggu dini hari (20/1). ”Kami pasti cemas ketika terjadi hujan deras. Kami berharap pemerintah bisa melakukan langkah-langkah konkret,” harap Ahmad Baihaqi, warga setempat.

Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Pamekasan Budi Cahyono menjelaskan, Kelurahan Gladak Anyar memang merupakan salah satu titik rawan banjir. Lokasi lain yang juga rawan banjir ialah Kelurahan Patemon, Desa Teja, Jalan Jokotole, dan Jalan Raya Asem Manis, Pamekasan. ”Meski dilanda banjir, namun masih masuk kategori aman. Warga tidak sampai mengamankan barang-brangnya ke lokasi lain,” terangnya.

Plt Sekkab Pamekasan Mohamad Alwi menjelaskan, pemkab selama ini telah melakukan berbagai upaya untuk menekan terjadinya banjir. Misalkan dengan melakukan normalisasi dan naturalisasi sungai. ”Saya berharap masyarakat juga tidak membuang sampah di pelataran sungai,” tukasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/