alexametrics
22.8 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Delapan Inkubator RSUD Sampang Rusak

SAMPANG – RSUD Sampang memiliki 14 unit inkubator. Namun, dari belasan unit, hanya  enam inkubator yang digunakan rumah sakit pelat merah itu. Delapan unit lainnya rusak.

Humas RSUD Sampang Yuliono mengatakan, inkubator yang rusak ditaruh. Jika sewaktu-waktu ada kekurangan, baru dipakai. ”Jumlah persalinan rata-rata tujuh orang,” katanya Senin (18/9).

Pria berbadan gemuk itu mengaku, tahun ini tidak ada pengadaan inkubator. Barang yang ada dinilai cukup. Pihaknya akan memperbaiki inkubator yang rusak. ”Tahun depan tidak ada (pengadaan),” ujarnya.

Bayi yang biasa ditangani menggunakan inkubator karena berat badan lahir rendah (BBLR) atau prematur. Lama tidaknya bayi dirawat dalam inkubator bergantung pada berat badan. ”Kalau prematur biasanya sampai satu bulan. Itu pun dilihat dari kondisi tubuh dan berat badan bayi. Biasanya orang Madura gak sabaran,” terangnya.

Baca Juga :  Hadiri Safari Ramadan, Wabup Sampang Janji Bangun Infrastruktur

Sekretaris Komisi IV DPRD Sampang Maniri mengatakan, setiap tahun dianggarkan ratusan juta hingga miliaran untuk pengadaan alat kesehatan (alkes). Namun, kondisi di RSUD belum optimal untuk melayani masyarakat. ”Ini perlu dikaji ulang,” sesalnya.

Seharusnya, jika ada kerusakan cepat diperbaiki. Jika tidak memungkinkan, jangan dipaksakan digunakan. ”Ini menyangkut nyawa seseorang. Harus betul-betul optimal dalam pelayanan. Jangan dibuat mainan,” pintanya.

Pantauan di lokasi, pelayanan yang diberikan kepada bayi dalam inkubator kurang maksimal. Ruangan yang katanya steril dan tertutup itu terdapat kotoran bayi. Popok dan tisu tidak dibuang ke tempat sampah. Plastik  popok juga berserakan. Setelah JPRM datang ke ruangan tersebut secara spontan dibersihkan. 

- Advertisement -

SAMPANG – RSUD Sampang memiliki 14 unit inkubator. Namun, dari belasan unit, hanya  enam inkubator yang digunakan rumah sakit pelat merah itu. Delapan unit lainnya rusak.

Humas RSUD Sampang Yuliono mengatakan, inkubator yang rusak ditaruh. Jika sewaktu-waktu ada kekurangan, baru dipakai. ”Jumlah persalinan rata-rata tujuh orang,” katanya Senin (18/9).

Pria berbadan gemuk itu mengaku, tahun ini tidak ada pengadaan inkubator. Barang yang ada dinilai cukup. Pihaknya akan memperbaiki inkubator yang rusak. ”Tahun depan tidak ada (pengadaan),” ujarnya.


Bayi yang biasa ditangani menggunakan inkubator karena berat badan lahir rendah (BBLR) atau prematur. Lama tidaknya bayi dirawat dalam inkubator bergantung pada berat badan. ”Kalau prematur biasanya sampai satu bulan. Itu pun dilihat dari kondisi tubuh dan berat badan bayi. Biasanya orang Madura gak sabaran,” terangnya.

Baca Juga :  BRI Bangun  Rumah Produksi

Sekretaris Komisi IV DPRD Sampang Maniri mengatakan, setiap tahun dianggarkan ratusan juta hingga miliaran untuk pengadaan alat kesehatan (alkes). Namun, kondisi di RSUD belum optimal untuk melayani masyarakat. ”Ini perlu dikaji ulang,” sesalnya.

Seharusnya, jika ada kerusakan cepat diperbaiki. Jika tidak memungkinkan, jangan dipaksakan digunakan. ”Ini menyangkut nyawa seseorang. Harus betul-betul optimal dalam pelayanan. Jangan dibuat mainan,” pintanya.

Pantauan di lokasi, pelayanan yang diberikan kepada bayi dalam inkubator kurang maksimal. Ruangan yang katanya steril dan tertutup itu terdapat kotoran bayi. Popok dan tisu tidak dibuang ke tempat sampah. Plastik  popok juga berserakan. Setelah JPRM datang ke ruangan tersebut secara spontan dibersihkan. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/