alexametrics
24.3 C
Madura
Saturday, May 28, 2022

Kekeringan Sampang Paling Parah

SAMPANG – Gubernur Jawa Timur (Jatim) menginstruksikan kepada seluruh bupati dan wali kota untuk siaga darurat bencana kekeringan. Kekeringan terjadi sejak Juni dan puncaknya Agustus 2019. Sampang merupakan kabupaten terdampak kekeringan paling parah di Jawa Timur.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur Suban Wahyudiono mengatakan, secara geografis Jatim punya potensi untuk terjadi bencana. Ada 12 ancaman bencana yang berpotensi melanda. Sebelas di antaranya terjadi karena faktor alam, satu bencana terjadi karena non alam.

”Salah satu bencana yang terjadi karena non alam itu kekeringan. Ini yang sedang kita hadapi sekarang,” katanya saat ditemui di Desa Bluuran, Kecamatan Karang Penang, Sampang, kemarin (17/7).

Daerah di Jatim menganut iklim tropis. Kalau hujan, bencana yang melanda banjir bandang. Sementara ketika musim kemarau, bencana kekeringan dan kebakaran lahan dan hutan yang sering terjadi.

”Bencana kekeringan berbeda dengan bencana yang lain. Masyarakat tidak langsung merasakannya, pelan-pelan tidak langsung terasa. Makanya harus ada kajian mendalam untuk menangani kekeringan. Itu membutuhkan penanganan segera,” ujarnya.

Baca Juga :  Pasar Dibongkar, Pedagang Tak Diberi TPS

Di daerah Jatim terdapat 24 kabupaten rawan kekeringan. Kota Bahari merupakan daerah paling parah. Sebab, banyak desa yang terdampak kekeringan. Jumlahnya mencapai 67 desa. Kedua, Tuban dengan jumlah 55 desa. Kemudian Pacitan, Ngawi, dan Lamongan masing-masing 45 desa. ”Sampang daerah paling banyak yang terdampak,” ungkapnya.

Suban menjelaskan, terdapat empat klasifikasi bencana kekeringan. Kekeringan hidrologis, kekeringan yang curah hujannya sedikit sehingga masyarakat tidak bisa menampung air. Kemudian, kekeringan pertanian yang menyebabkan banyak lahan mengalami kekurangan air.

Terakhir, kekeringan sosial ekonomi. Kebutuhan dasar masyarakat untuk minum, masak, mandi tidak ada. ”Kami mengantisipasi untuk kekeringan sosial ekonomi yang menjadi dasar kebutuhan,” terangnya.

Kekeringan sosial ekonomi mempunyai tiga macam. Kekeringan langka terbatas adalah daerah yang persediaan air 30–60 liter per hari. Sementara jarak antara rumah dengan mata air 500 meter. Kedua, kering langka. Artinya, persediaan air masyarakat 10–30 liter per hari per orang. Jarak tempuhnya antara 500–3.000 meter.

Baca Juga :  Kemarau Panjang, Warga Pantura Irit Air Bersih

Sementara kering kritis, persediaan untuk kebutuhan sehari kurang dari 10 liter. Sedangkan untuk mendapatkan air tersebut harus menempuh di atas 3 kilometer. Beberapa langkah bisa dilakukan dalam penanganan kekeringan. Misalnya untuk jangka pendek dengan melakukan distribusi air, bantuan tandon, dan bantuan terpal.

Penanganan jangka menengah, di antaranya perpipaan. Selain itu, sumur bor yang di atas 100 meter. ”Kami sudah melihat langsung kondisi dan situasi kekeringan di daerah Sampang. Dengan begitu, akan lebih mudah untuk menganalisis penanganannya. Kami masih memetakan daerah mana yang paling prioritas,” ungkapnya.

Saat ini pihaknya hanya bisa memberikan bantuan distribusi air bersih. Terdapat empat desa yang mendapatkan bantuan tersebut. Yakni, Bluuran, Tanggumong, Gunung Eleh, dan Taman Sareh. ”Sepuluh tangki disebar ke empat titik lokasi bantuan dropping air bersih. Kami terus memantau perkembangan daerah yang terdampak kekeringan. Daerah yang kering kritis akan diprioritaskan,” imbuh Kepala BPBD Sampang Muhammad Anang Djoenaedi. (bil)

SAMPANG – Gubernur Jawa Timur (Jatim) menginstruksikan kepada seluruh bupati dan wali kota untuk siaga darurat bencana kekeringan. Kekeringan terjadi sejak Juni dan puncaknya Agustus 2019. Sampang merupakan kabupaten terdampak kekeringan paling parah di Jawa Timur.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur Suban Wahyudiono mengatakan, secara geografis Jatim punya potensi untuk terjadi bencana. Ada 12 ancaman bencana yang berpotensi melanda. Sebelas di antaranya terjadi karena faktor alam, satu bencana terjadi karena non alam.

”Salah satu bencana yang terjadi karena non alam itu kekeringan. Ini yang sedang kita hadapi sekarang,” katanya saat ditemui di Desa Bluuran, Kecamatan Karang Penang, Sampang, kemarin (17/7).


Daerah di Jatim menganut iklim tropis. Kalau hujan, bencana yang melanda banjir bandang. Sementara ketika musim kemarau, bencana kekeringan dan kebakaran lahan dan hutan yang sering terjadi.

”Bencana kekeringan berbeda dengan bencana yang lain. Masyarakat tidak langsung merasakannya, pelan-pelan tidak langsung terasa. Makanya harus ada kajian mendalam untuk menangani kekeringan. Itu membutuhkan penanganan segera,” ujarnya.

Baca Juga :  Bappeda Belum Serahkan RAPBD ke Gubernur

Di daerah Jatim terdapat 24 kabupaten rawan kekeringan. Kota Bahari merupakan daerah paling parah. Sebab, banyak desa yang terdampak kekeringan. Jumlahnya mencapai 67 desa. Kedua, Tuban dengan jumlah 55 desa. Kemudian Pacitan, Ngawi, dan Lamongan masing-masing 45 desa. ”Sampang daerah paling banyak yang terdampak,” ungkapnya.

Suban menjelaskan, terdapat empat klasifikasi bencana kekeringan. Kekeringan hidrologis, kekeringan yang curah hujannya sedikit sehingga masyarakat tidak bisa menampung air. Kemudian, kekeringan pertanian yang menyebabkan banyak lahan mengalami kekurangan air.

Terakhir, kekeringan sosial ekonomi. Kebutuhan dasar masyarakat untuk minum, masak, mandi tidak ada. ”Kami mengantisipasi untuk kekeringan sosial ekonomi yang menjadi dasar kebutuhan,” terangnya.

Kekeringan sosial ekonomi mempunyai tiga macam. Kekeringan langka terbatas adalah daerah yang persediaan air 30–60 liter per hari. Sementara jarak antara rumah dengan mata air 500 meter. Kedua, kering langka. Artinya, persediaan air masyarakat 10–30 liter per hari per orang. Jarak tempuhnya antara 500–3.000 meter.

Baca Juga :  Diskopindag Sampang Tunjuk Pasar Rongtengah

Sementara kering kritis, persediaan untuk kebutuhan sehari kurang dari 10 liter. Sedangkan untuk mendapatkan air tersebut harus menempuh di atas 3 kilometer. Beberapa langkah bisa dilakukan dalam penanganan kekeringan. Misalnya untuk jangka pendek dengan melakukan distribusi air, bantuan tandon, dan bantuan terpal.

Penanganan jangka menengah, di antaranya perpipaan. Selain itu, sumur bor yang di atas 100 meter. ”Kami sudah melihat langsung kondisi dan situasi kekeringan di daerah Sampang. Dengan begitu, akan lebih mudah untuk menganalisis penanganannya. Kami masih memetakan daerah mana yang paling prioritas,” ungkapnya.

Saat ini pihaknya hanya bisa memberikan bantuan distribusi air bersih. Terdapat empat desa yang mendapatkan bantuan tersebut. Yakni, Bluuran, Tanggumong, Gunung Eleh, dan Taman Sareh. ”Sepuluh tangki disebar ke empat titik lokasi bantuan dropping air bersih. Kami terus memantau perkembangan daerah yang terdampak kekeringan. Daerah yang kering kritis akan diprioritaskan,” imbuh Kepala BPBD Sampang Muhammad Anang Djoenaedi. (bil)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/