alexametrics
20.7 C
Madura
Saturday, July 2, 2022

Rela Rumah Dibongkar demi Kepentingan Umum

SAMPANG – Sabtu (14/10), Jawa Pos Radar Madura mencari tahu keinginan masyarakat atas kebijakan pemerintah membangun sodetan untuk mengatasi banjir musiman di Kota Bahari. Lahan pembangunan didominasi lahan tambak dan sawah. Sementara rumah lebih banyak berada di Desa Tanggumong. Karena itu, sebagian besar lahan terdampak merupakan ladang mata pencaharian OTD.

H Rosidi, 45, warga Kampung Bajik, Kelurahan Karang Dalem, memiliki sawah seluas 3.800 meter persegi yang ikut terdampak. Menurut dia, sawah tersebut digunakan untuk menanam padi dan tembakau. Berkaitan dengan rencana pemerintah membangun sodetan, H Rosidi setuju karena kampungnya juga rawan terkena banjir.

”Asal ganti ruginya jelas dan tidak merugikan kami. Saat sosialisasi istri saya yang datang, karena sertifikat saya atas nama istri,” ucap H Rosidi.

Setiap musim, hasil dari menanam tembakau, H Rosidi mendapat keuntungan hingga Rp 18 juta. Sementara produksi dari hasil menanam padi mendapat Rp 6 juta. Belum dalam bentuk beras. ”Jadi harus dihitung semua. Sawah saya ini sebenarnya hanya satu-satunya untuk mata pencaharian,” katanya.

Baca Juga :  82 Ribu Kartu Tani Tertahan

Dia meminta pemerintah tidak serampangan menentukan harga. Lahan seperti sawah dan tambak tidak seperti bangunan rumah. Tambak dan sawah menjadi sumber pendapatan. ”Saya agak terpaksa untuk melepas sawah ini. Tapi saya setuju, asal Sampang benar-benar terbebas dari banjir,” tandasnya.

Berbeda dengan Ummu Hani, 36, warga Dusun Karongan, Desa Tanggumong, Kecamatan Sampang. Dia mengaku sedikit gelisah dengan rencana pemerintah membangun sodetan. Dia masih ragu untuk melepas.

”Antara iya dan tidak. Tapi tanah itu dibutuhkan pemerintah.  Mau bagaimana lagi, kita harus mengikuti,” ujarnya.

Dia tidak mempunyai pandangan untuk memindah gedung miliknya yang dibangun tahun lalu. Ummu Hani akan senang seandainya ada jalur lain untuk pembangunan sodetan. ”Tapi saat ikut rapat katanya tidak bisa dipindah. Ya sudahlah. Yang penting ada ganti untung, bukan ganti rugi,” jelasnya.

Baca Juga :  Pembangunan Sodetan Harus Libatkan Masyarakat

Apabila OTD lain setuju, dia akan menyesuaikan. Pembangunan gudang miliknya menghabiskan biaya hingga Rp 2,5 miliar. Belum termasuk biaya tanah. ”Kalau saya minta ganti rugi Rp 5 miliar,” terangnya.

H Sibri Ali, 70, warga Kelurahan Karang Dalem, Kecamatan Sampang, memiliki lahan tambak produktif di Desa Aeng Sareh. Dia setuju dengan keputusan pemerintah membangun sodetan. Dia kebetulan hadir ketika sosialisasi pembebasan lahan. ”Hampir semuanya sepakat saat sosialisasi. Lebih dari 200 orang yang setuju. Kami melihat ini kepentingan umum,” katanya.

Sementara Siti Romlah, 35, warga Desa Aeng Sareh, sedikit bimbang untuk merelakan lahan dibangun sodetan. Tapi, karena kebijakan ini bulat dan semua warga sepakat untuk dibebaskan, Romlah akhirnya bersedia. ”Kami rela asalkan banjir bisa teratasi dan tidak menambah banjir semakin besar. Semoga rencana pemerintah ini memang sudah terukur,” harapnya.

 

SAMPANG – Sabtu (14/10), Jawa Pos Radar Madura mencari tahu keinginan masyarakat atas kebijakan pemerintah membangun sodetan untuk mengatasi banjir musiman di Kota Bahari. Lahan pembangunan didominasi lahan tambak dan sawah. Sementara rumah lebih banyak berada di Desa Tanggumong. Karena itu, sebagian besar lahan terdampak merupakan ladang mata pencaharian OTD.

H Rosidi, 45, warga Kampung Bajik, Kelurahan Karang Dalem, memiliki sawah seluas 3.800 meter persegi yang ikut terdampak. Menurut dia, sawah tersebut digunakan untuk menanam padi dan tembakau. Berkaitan dengan rencana pemerintah membangun sodetan, H Rosidi setuju karena kampungnya juga rawan terkena banjir.

”Asal ganti ruginya jelas dan tidak merugikan kami. Saat sosialisasi istri saya yang datang, karena sertifikat saya atas nama istri,” ucap H Rosidi.


Setiap musim, hasil dari menanam tembakau, H Rosidi mendapat keuntungan hingga Rp 18 juta. Sementara produksi dari hasil menanam padi mendapat Rp 6 juta. Belum dalam bentuk beras. ”Jadi harus dihitung semua. Sawah saya ini sebenarnya hanya satu-satunya untuk mata pencaharian,” katanya.

Baca Juga :  Tunjangan GTT di Kota Bahari Hanya Rp 200 Ribu

Dia meminta pemerintah tidak serampangan menentukan harga. Lahan seperti sawah dan tambak tidak seperti bangunan rumah. Tambak dan sawah menjadi sumber pendapatan. ”Saya agak terpaksa untuk melepas sawah ini. Tapi saya setuju, asal Sampang benar-benar terbebas dari banjir,” tandasnya.

Berbeda dengan Ummu Hani, 36, warga Dusun Karongan, Desa Tanggumong, Kecamatan Sampang. Dia mengaku sedikit gelisah dengan rencana pemerintah membangun sodetan. Dia masih ragu untuk melepas.

”Antara iya dan tidak. Tapi tanah itu dibutuhkan pemerintah.  Mau bagaimana lagi, kita harus mengikuti,” ujarnya.

Dia tidak mempunyai pandangan untuk memindah gedung miliknya yang dibangun tahun lalu. Ummu Hani akan senang seandainya ada jalur lain untuk pembangunan sodetan. ”Tapi saat ikut rapat katanya tidak bisa dipindah. Ya sudahlah. Yang penting ada ganti untung, bukan ganti rugi,” jelasnya.

Baca Juga :  51 Jabatan Strategis Kosong

Apabila OTD lain setuju, dia akan menyesuaikan. Pembangunan gudang miliknya menghabiskan biaya hingga Rp 2,5 miliar. Belum termasuk biaya tanah. ”Kalau saya minta ganti rugi Rp 5 miliar,” terangnya.

H Sibri Ali, 70, warga Kelurahan Karang Dalem, Kecamatan Sampang, memiliki lahan tambak produktif di Desa Aeng Sareh. Dia setuju dengan keputusan pemerintah membangun sodetan. Dia kebetulan hadir ketika sosialisasi pembebasan lahan. ”Hampir semuanya sepakat saat sosialisasi. Lebih dari 200 orang yang setuju. Kami melihat ini kepentingan umum,” katanya.

Sementara Siti Romlah, 35, warga Desa Aeng Sareh, sedikit bimbang untuk merelakan lahan dibangun sodetan. Tapi, karena kebijakan ini bulat dan semua warga sepakat untuk dibebaskan, Romlah akhirnya bersedia. ”Kami rela asalkan banjir bisa teratasi dan tidak menambah banjir semakin besar. Semoga rencana pemerintah ini memang sudah terukur,” harapnya.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/