alexametrics
21.5 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

Kasus Kekerasan yang Melibatkan Anak di Bawah Umur

SAMPANG – Tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak masih sering terjadi di Sampang. Sejak Januari hingga Maret, dinas keluarga berencana pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (DKBPPPA) menerima sepuluh laporan. Namun, yang berhasil dimediasi hanya satu kasus.

Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) DKBPPPA Sampang Masruhah mengatakan, hampir setiap bulan pihaknya menerima laporan tindak kekerasan. Pada Januari ada satu laporan. Kemudian bulan berikutnya, jumlah kasus semakin meningkat.

”Laporan yang kami terima setiap bulan mengalami peningkatan. Bulan pertama hanya satu kasus, kemudian Februari bertambah satu menjadi dua kasus. Maret jumlah kasus meningkat drastis hingga mencapai tujuh kasus,” katanya kemarin (15/5).

Menurut Masruhah, mayoritas laporan yang diterima melibatkan anak, yakni tujuh kasus. Sementara yang menimpa perempuan selama tiga bulan terakhir ada tiga kasus. ”Kami tetap melakukan pendampingan kepada anak-anak di bawah 18 tahun yang menjadi korban kekerasan,” ujarnya.

Baca Juga :  Realisasi Bantuan RTLH Masih Agustus

Masruhah menjelaskan, terdapat tiga kasus yang tidak bisa dilakukan mediasi. Di antaranya pembunuhan, pemerkosaan, dan narkoba. Anak-anak atau perempuan yang tejerat kasus tersebut tidak bisa dilakukan mediasi.

”Kita lihat dulu bentuk kekerasan yang dialami korban. Kalau kasusnya masuk dalam tiga kategori itu, tidak bisa dilakukan negosiasi. Sejauh ini kasus yang selesai dalam mediasi hanya kekerasan psikis,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Sampang Amin Arif Tirtana menyampaikan, dalam aturannya, kasus yang ditangani DKBPPPA seharusnya diselesaikan dalam mediasi. Kalaupun tidak tuntas pada tahap mediasi, dinas terkait bertanggung jawab untuk melakukan pendampingan hingga kasusnya selesai.

Dalam membantu proses hukum, dinas terkait bisa bekerja sama dengan lembaga bantuan hukum (LBH). ”Sebisa mungkin kasus itu diselesaikan dalam mediasi, apalagi kasus anak. Mental mereka masih labil untuk menghadapi proses hukum,” tandasnya. (bil)

Baca Juga :  Pemkab Wacanakan Refocusing Susulan

SAMPANG – Tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak masih sering terjadi di Sampang. Sejak Januari hingga Maret, dinas keluarga berencana pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (DKBPPPA) menerima sepuluh laporan. Namun, yang berhasil dimediasi hanya satu kasus.

Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) DKBPPPA Sampang Masruhah mengatakan, hampir setiap bulan pihaknya menerima laporan tindak kekerasan. Pada Januari ada satu laporan. Kemudian bulan berikutnya, jumlah kasus semakin meningkat.

”Laporan yang kami terima setiap bulan mengalami peningkatan. Bulan pertama hanya satu kasus, kemudian Februari bertambah satu menjadi dua kasus. Maret jumlah kasus meningkat drastis hingga mencapai tujuh kasus,” katanya kemarin (15/5).


Menurut Masruhah, mayoritas laporan yang diterima melibatkan anak, yakni tujuh kasus. Sementara yang menimpa perempuan selama tiga bulan terakhir ada tiga kasus. ”Kami tetap melakukan pendampingan kepada anak-anak di bawah 18 tahun yang menjadi korban kekerasan,” ujarnya.

Baca Juga :  Safari Ramadan Wadah Aspirasi Masyarakat

Masruhah menjelaskan, terdapat tiga kasus yang tidak bisa dilakukan mediasi. Di antaranya pembunuhan, pemerkosaan, dan narkoba. Anak-anak atau perempuan yang tejerat kasus tersebut tidak bisa dilakukan mediasi.

”Kita lihat dulu bentuk kekerasan yang dialami korban. Kalau kasusnya masuk dalam tiga kategori itu, tidak bisa dilakukan negosiasi. Sejauh ini kasus yang selesai dalam mediasi hanya kekerasan psikis,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Sampang Amin Arif Tirtana menyampaikan, dalam aturannya, kasus yang ditangani DKBPPPA seharusnya diselesaikan dalam mediasi. Kalaupun tidak tuntas pada tahap mediasi, dinas terkait bertanggung jawab untuk melakukan pendampingan hingga kasusnya selesai.

Dalam membantu proses hukum, dinas terkait bisa bekerja sama dengan lembaga bantuan hukum (LBH). ”Sebisa mungkin kasus itu diselesaikan dalam mediasi, apalagi kasus anak. Mental mereka masih labil untuk menghadapi proses hukum,” tandasnya. (bil)

Baca Juga :  Kasus Kekerasan pada Anak Mendominasi
- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/