alexametrics
21.1 C
Madura
Friday, August 12, 2022

Pihak PT Tanggung Pemulangan Jenazah Misnadah

SAMPANG – Keluarga Misnadah, 35, tenaga kerja wanita (TKW) yang meninggal di Arab Saudi, bisa bernapas lega. Pasalnya, PT yang memberangkatkan perempuan asal Desa Pulau Mandangin, Kecamatan Sampang, itu siap bertanggung jawab semua proses pemulangan jenazahnya.

H. Faridah, 38, mengatakan, pihaknya akan berupaya maksimal mengurus semua syarat pemulangan jenazah Misnadah ke kampung halamannya. Koordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyad sudah dilakukan. Biaya pemulangan juga telah disiapkan.

”Semua proses pemulangan jenazah akan kami tanggung. Apalagi, dia (Misnadah, Red) masih ada ikatan keluarga dengan keluarga kami,” ucap perwakilan perusahaan travel yang memberangkatkan Misnadah kemarin (15/1).

Warga Kampung Madeggan, Kelurahan Polagan, Kecamatan Kota Sampang, itu meminta pihak keluarga bersabar menunggu kedatangan jenazah. Sebab, proses pemulangan dari Arab Saudi tidak segampang membalikkan telapak tangan. Juga membutuhkan waktu yang cukup lama.

”Dalam pemulangan jenazah dari luar negeri, ada beberapa proses yang harus dilalui sesuai dengan peraturan di sana dan pihak keluarga sudah tahu tentang itu,” jelasnya Faridah.

Faridah menyayangkan pernyataan pihak keluarga yang mengatakan bahwa pihaknya tidak mau bertanggung jawab atas memulangkan jenazah. Padahal, selama pemberangkatan dari Indonesia ke Arab Saudi, komunikasi dengan pihak keluarga di Madura intens dilakukan. Terlebih, saat almarhumah jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit.

Baca Juga :  Program Kewirausahaan untuk Eks TKI

”Dari awal sudah kami sampaikan kalau kami akan tanggung pemulangan jenazah,” tegasnya.

Dirinya juga menyayangkan karena pihak keluarga menyembunyikan riwayat penyakit kencing manis atau kadar gula tinggi yang dialami Misnadah. Padahal, jika pihaknya tahu dengan riwayat penyakit yang dialami Misnadah, pemberangkatan tentu dibatalkan.

Menurut Faridah, pihaknya tahu kalau almarhumah itu punya kencing manis setelah diperiksa di rumah sakit di Riyad. Dari pengakuannya, sebelum berangkat ke Arab Saudi, Misnadah mempunyai riwayat kadar gula darah di atas 500. Karena ingin lolos dari tahap medical atau cek kesehatan, suaminya, Ahmadi, membawanya ke tempat pengobatan alternatif.

”Sebelum berangkat, Misnadah menjalani pengobatan bekam. Setelah dibekam, memang kadar gulanya turun menjadi 100 sehingga dia lolos dari cek kesehatan di rumah sakit,” ungkapnya.

Dia mengatakan, selama dalam perjalanan Misnadah tidak pernah mengeluh sakit. Apalagi, meminta dicek kesehatan. Akan tetapi, setelah sampai di Riyad dia jatuh sakit dan ngedrob ketika mendapat kabar bahwa Royhana, anaknya yang juga berada di Arab Saudi, masuk rumah sakit.

Baca Juga :  Pulang Nonton Orkes, TKW Dikeroyok

Selama menjalani pengobatan di rumah sakit di Riyad, pihaknya memberikan pendampingan dan selalu mengabarkan terkait dengan perkembangan kondisi kesehatannya kepada keluarga di Madura. Menurut Faridah, pihak dokter yang menangani menyayangkan tindakan pengobatan alternatif yang dijalani Misnadah.

”Kami sudah berupaya maksimal dengan membawanya berobat ke rumah sakit. Tapi, takdir berkata lain. Dia meninggal dunia di rumah sakit sekitar pukul 14.00 waktu Arab Saudi,” tuturnya.

Misnadah berangkat ke Arab Saudi menggunakan visa jalur undangan umrah dari anaknya yang berada di Arab Saudi. Dia akan bekerja menjadi petugas cleaning service. Selama ini pihaknya memberikan jasa pelayanan pemberangkatan sesuai dengan kemauan warga.

Hingga kemarin, Faridah enggan menyebutkan nama PT yang digunakan dengan alasan hanya menumpang di PT tersebut. ”Semua proses pemulangan jenazah sudah kami urus. Kemungkinan butuh waktu sekitar 2–3 minggu jenazah bisa sampai di Madura,” tukasnya.

SAMPANG – Keluarga Misnadah, 35, tenaga kerja wanita (TKW) yang meninggal di Arab Saudi, bisa bernapas lega. Pasalnya, PT yang memberangkatkan perempuan asal Desa Pulau Mandangin, Kecamatan Sampang, itu siap bertanggung jawab semua proses pemulangan jenazahnya.

H. Faridah, 38, mengatakan, pihaknya akan berupaya maksimal mengurus semua syarat pemulangan jenazah Misnadah ke kampung halamannya. Koordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyad sudah dilakukan. Biaya pemulangan juga telah disiapkan.

”Semua proses pemulangan jenazah akan kami tanggung. Apalagi, dia (Misnadah, Red) masih ada ikatan keluarga dengan keluarga kami,” ucap perwakilan perusahaan travel yang memberangkatkan Misnadah kemarin (15/1).


Warga Kampung Madeggan, Kelurahan Polagan, Kecamatan Kota Sampang, itu meminta pihak keluarga bersabar menunggu kedatangan jenazah. Sebab, proses pemulangan dari Arab Saudi tidak segampang membalikkan telapak tangan. Juga membutuhkan waktu yang cukup lama.

”Dalam pemulangan jenazah dari luar negeri, ada beberapa proses yang harus dilalui sesuai dengan peraturan di sana dan pihak keluarga sudah tahu tentang itu,” jelasnya Faridah.

Faridah menyayangkan pernyataan pihak keluarga yang mengatakan bahwa pihaknya tidak mau bertanggung jawab atas memulangkan jenazah. Padahal, selama pemberangkatan dari Indonesia ke Arab Saudi, komunikasi dengan pihak keluarga di Madura intens dilakukan. Terlebih, saat almarhumah jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit.

Baca Juga :  Tunjangan GTT di Kota Bahari Hanya Rp 200 Ribu

”Dari awal sudah kami sampaikan kalau kami akan tanggung pemulangan jenazah,” tegasnya.

Dirinya juga menyayangkan karena pihak keluarga menyembunyikan riwayat penyakit kencing manis atau kadar gula tinggi yang dialami Misnadah. Padahal, jika pihaknya tahu dengan riwayat penyakit yang dialami Misnadah, pemberangkatan tentu dibatalkan.

Menurut Faridah, pihaknya tahu kalau almarhumah itu punya kencing manis setelah diperiksa di rumah sakit di Riyad. Dari pengakuannya, sebelum berangkat ke Arab Saudi, Misnadah mempunyai riwayat kadar gula darah di atas 500. Karena ingin lolos dari tahap medical atau cek kesehatan, suaminya, Ahmadi, membawanya ke tempat pengobatan alternatif.

”Sebelum berangkat, Misnadah menjalani pengobatan bekam. Setelah dibekam, memang kadar gulanya turun menjadi 100 sehingga dia lolos dari cek kesehatan di rumah sakit,” ungkapnya.

Dia mengatakan, selama dalam perjalanan Misnadah tidak pernah mengeluh sakit. Apalagi, meminta dicek kesehatan. Akan tetapi, setelah sampai di Riyad dia jatuh sakit dan ngedrob ketika mendapat kabar bahwa Royhana, anaknya yang juga berada di Arab Saudi, masuk rumah sakit.

Baca Juga :  Pemkab Bantu Korban Kebakaran dan TKI Meninggal

Selama menjalani pengobatan di rumah sakit di Riyad, pihaknya memberikan pendampingan dan selalu mengabarkan terkait dengan perkembangan kondisi kesehatannya kepada keluarga di Madura. Menurut Faridah, pihak dokter yang menangani menyayangkan tindakan pengobatan alternatif yang dijalani Misnadah.

”Kami sudah berupaya maksimal dengan membawanya berobat ke rumah sakit. Tapi, takdir berkata lain. Dia meninggal dunia di rumah sakit sekitar pukul 14.00 waktu Arab Saudi,” tuturnya.

Misnadah berangkat ke Arab Saudi menggunakan visa jalur undangan umrah dari anaknya yang berada di Arab Saudi. Dia akan bekerja menjadi petugas cleaning service. Selama ini pihaknya memberikan jasa pelayanan pemberangkatan sesuai dengan kemauan warga.

Hingga kemarin, Faridah enggan menyebutkan nama PT yang digunakan dengan alasan hanya menumpang di PT tersebut. ”Semua proses pemulangan jenazah sudah kami urus. Kemungkinan butuh waktu sekitar 2–3 minggu jenazah bisa sampai di Madura,” tukasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/