alexametrics
20.7 C
Madura
Saturday, July 2, 2022

Rehab Kelas Belum Selesai, Siswa Belajar di Langgar

SAMPANG – Kegiatan belajar 93 siswa SDN Karang Anyar 1, Kecamatan Tambelangan, Sampang, kurang kondusif. Mereka belajar di sebuah langgar milik warga. Kondisi itu terjadi karena rehabilitasi ruang kelas baru (RKB) belum selesai hingga kemarin (14/1).

Puluhan siswa itu terdiri atas 13 anak kelas IV, lima anak kelas V, dan kelas VI 18 anak. Siswa kelas IV menempati langgar warga yang berjarak sekitar 15 meter dari sekolah. Siswa kelas VI menempati ruang perpustakaan. Sementara siswa kelas V berkumpul dengan murid kelas I.

Kepala SDN Karang Anyar 1 Sadewo mengatakan, kegiatam belajar mengajar (KBM) berjalan lancar. Hanya kurang maksimal. Terutama kelas IV, kelas V, dan kelas I. Kelas IV belajar di langgar. Sementara kelas V dan kelas I satu ruang disekat menjadi dua.

Baca Juga :  Rambu Kawasan Tertib Lalu Lintas Minim Lalin

Mengapa rehab kelas melampaui tahun anggaran 2018? Sadewo menjawab karena pengerjaannya molor. Seharusnya, pengerjaan rehab kelas dimulai Oktober. Namun, pelaksana mengerjakan 20 November. ”Ruang yang dibangun empat lokal,” jelasnya. ”Tukang ada yang sakit. Memang kekurangan tukang. Harap maklum,” ucapnya.

Pekerjaan diharapkan segera diselesaikan. Dengan begitu, rehabilitasi ruang kelas dan ruang kantor tidak mengganggu KBM. ”Kemungkinan dua hari lagi bisa diselesaikan,” tandasnya.

Pelaksana rehabilitasi RKB SDN Karang Anyar 1 Ulum menyatakan, pengerjaan melampaui tahun anggaran karena kekurangan tukang. Selain itu, proyek tersebut merupakan bantuan sosial (bansos) DPR RI. Dalam bansos tersebut, kata dia, dana yang ada dengan pekerjaan tidak sesuai. ”Dananya tidak begitu besar. Sedangkan fee-nya besar,” ungkapnya.

Sekolah tersebut, lanjut pria asal Tambelangan itu, seharusnya direhab total. Sebab, kondisinya tidak layak. Konsultan perencana rehab RKB hanya menyarankan 70 persen. Atap yang awalnya besi diganti kayu. ”Kalau terus digenjot bekerja, saya khawatir roboh karena bangunan di bawah tidak kuat. Tidak sesuai dengan bangunan di atas,” jelasnya.

Baca Juga :  Awas! 26 Kapal di Pelabuhan Tanglog Belum Memenuhi Standar Keamanan

Pihaknya mengubah cakar ayam dari ukuran 12 milimeter menjadi 14 milimeter. Sebab, kondisi tanah di belakang sekolah mengkhawatirkan. Yakni, ada jurang. ”Ada keterlambatan karena masih dites. Bangunan di bawah kuat apa tidak. Selama 20 hari pekerjaan dihentikan,” urainya.

Di lokasi, papan nama proyek tidak terpasang. Pengecatan bangunan, pemasangan kaca jendela, dan pintu belum rampung. Pelaksana diberi waktu hingga 20 Januari untuk menyelesaikan proyek senilai Rp 200 juta itu.

SAMPANG – Kegiatan belajar 93 siswa SDN Karang Anyar 1, Kecamatan Tambelangan, Sampang, kurang kondusif. Mereka belajar di sebuah langgar milik warga. Kondisi itu terjadi karena rehabilitasi ruang kelas baru (RKB) belum selesai hingga kemarin (14/1).

Puluhan siswa itu terdiri atas 13 anak kelas IV, lima anak kelas V, dan kelas VI 18 anak. Siswa kelas IV menempati langgar warga yang berjarak sekitar 15 meter dari sekolah. Siswa kelas VI menempati ruang perpustakaan. Sementara siswa kelas V berkumpul dengan murid kelas I.

Kepala SDN Karang Anyar 1 Sadewo mengatakan, kegiatam belajar mengajar (KBM) berjalan lancar. Hanya kurang maksimal. Terutama kelas IV, kelas V, dan kelas I. Kelas IV belajar di langgar. Sementara kelas V dan kelas I satu ruang disekat menjadi dua.

Baca Juga :  Covid-19 Meningkat, Pelayanan UKBM Dihentikan

Mengapa rehab kelas melampaui tahun anggaran 2018? Sadewo menjawab karena pengerjaannya molor. Seharusnya, pengerjaan rehab kelas dimulai Oktober. Namun, pelaksana mengerjakan 20 November. ”Ruang yang dibangun empat lokal,” jelasnya. ”Tukang ada yang sakit. Memang kekurangan tukang. Harap maklum,” ucapnya.

Pekerjaan diharapkan segera diselesaikan. Dengan begitu, rehabilitasi ruang kelas dan ruang kantor tidak mengganggu KBM. ”Kemungkinan dua hari lagi bisa diselesaikan,” tandasnya.

Pelaksana rehabilitasi RKB SDN Karang Anyar 1 Ulum menyatakan, pengerjaan melampaui tahun anggaran karena kekurangan tukang. Selain itu, proyek tersebut merupakan bantuan sosial (bansos) DPR RI. Dalam bansos tersebut, kata dia, dana yang ada dengan pekerjaan tidak sesuai. ”Dananya tidak begitu besar. Sedangkan fee-nya besar,” ungkapnya.

Sekolah tersebut, lanjut pria asal Tambelangan itu, seharusnya direhab total. Sebab, kondisinya tidak layak. Konsultan perencana rehab RKB hanya menyarankan 70 persen. Atap yang awalnya besi diganti kayu. ”Kalau terus digenjot bekerja, saya khawatir roboh karena bangunan di bawah tidak kuat. Tidak sesuai dengan bangunan di atas,” jelasnya.

Baca Juga :  Terlantar, 222 Murid Tak Bisa Ikuti KBM di Kelas

Pihaknya mengubah cakar ayam dari ukuran 12 milimeter menjadi 14 milimeter. Sebab, kondisi tanah di belakang sekolah mengkhawatirkan. Yakni, ada jurang. ”Ada keterlambatan karena masih dites. Bangunan di bawah kuat apa tidak. Selama 20 hari pekerjaan dihentikan,” urainya.

Di lokasi, papan nama proyek tidak terpasang. Pengecatan bangunan, pemasangan kaca jendela, dan pintu belum rampung. Pelaksana diberi waktu hingga 20 Januari untuk menyelesaikan proyek senilai Rp 200 juta itu.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/