alexametrics
20.7 C
Madura
Tuesday, July 5, 2022

Ketika Usaha Budi Daya Ikan Lele Menjanjikan

SUMENEP – Usaha budi daya ikan lele kian diminati. Itu seiring dengan konsumsi masyarakat Sampang terhadap ikan yang cukup tinggi. Data Dinas Perikanan Sampang menyebutkan, permintaan ikan lele mencapai 2 ton per bulan. Pembudi daya hanya bisa memasok 1 ton.

Sebagian besar permintaan ikan lele di Kota Bahari berasal dari rumah makan, pengolah ikan, dan pedagang kaki lima (PKL). Tingginya permintaan ikan lele tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh warga di Jalan Agus Salim, Kelurahan Banyuanyar, Sampang, untuk menambah penghasilan.

Warga di sana membentuk kelompok budi daya ikan (pokdakan) lele Karang Kemasan. Kolam budi daya ikan lele yang dikelola pokdakan tersebut tidak begitu besar dan baru berjalan delapan bulan.

Namun, yang patut diapresiasi dan menjadi contoh bagi masyarakat di wilayah lain ialah ide warga menyulap lahan kumuh menjadi kolam ikan. Dampaknya, lingkungan tidak hanya bersih, tetapi juga bernilai ekonomi.

Moh. Robi, 45, ketua Pokdakan Karang Kemasan, menuturkan, sebelum menjadi kolam ikan, lahan kumuh dan kotor. Pada 2017, permukiman tersebut diikutkan lomba kebersihan dan keindahan lingkungan yang dilaksanakan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sampang.

Lahan kumuh itu menjadi titik lemah. Warga lantas berinisiatif memberdayakan lahan tersebut menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Inspirasi membuat kolam ikan berawal dari keinginan warga untuk mengubah lahan kumuh yang luasnya tidak seberapa menjadi taman bermain anak.

Baca Juga :  Irigasi Bendungan Nepa Tuai Protes

Tetapi setelah melalui rapat bersama di tingkat RT/RW, lahan itu dijadikan kolam atau tambak ikan lele. Antusiasme warga untuk menjalankan usaha itu tinggi. ”Usaha budi daya ikan lele cukup menjanjikan. Harga lele di pasaran saat ini Rp 15 ribu per kilogram. Warga sepakat membudidayakan ikan lele,” ucapnya Minggu (13/5).

Dengan modal Rp 1,5 juta, Robi membeli bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat kolam. Misalnya, terpal, kayu balok, bambu, dan pompa air. Kemudian dibuat kolam ukuran 4 x 6 meter dengan tinggi sekitar 1 meter.

Setiap satu kolam berisi 12 ribu bibit ikan lele. Selama delapan bulan, dia sudah memanen dua kali. ”Kami membuat empat petak kolam. Ukuran kolam kecil, tapi bisa menampung 20 ribu bibit,” urainya.

Pengadaan bibit dan pakan ikan didapatkan dari paguyuban budi daya ikan lele. Di paguyuban tersebut ada anggota yang menyediakan bibit dan pakan dari pabrik. Ada juga anggota yang merupakan pedagang. Saat panen, tidak kesulitan untuk menjual ikan lele.

Baca Juga :  Plankton dan Upaya Mengajak Masyarakat Peduli terhadap Lingkungan

”Dengan bergabung ke paguyuban, kami bisa mendapat bibit dan pakan dengan harga lebih murah dari harga di pasaran,” terang Robi sambil menabur pakan ke kolam ikan lele yang dia kelola.

Dalam satu kali tebar benih hingga panen, membutuhkan 1 ton pakan atau sekitar 20 karung pelet. Biaya produksi yang dikeluarkan cukup tinggi. Karena itu, dia berencana memanfaatkan limbah air kolam lele untuk dikelola menjadi tanaman hidroponik yang akan diolah menjadi pakan.

Selain itu, akan diolah ampas padi, dedak, dan semacamya. ”Saya masih belajar cara mengolah limbah dan kotoran lele menjadi pakan organik. Mulai baca buku hingga menggali informasi di internet. Secara ilmiah kotoran lele itu mengandung pupuk organik. Jadi bisa diolah menjadi pakan,” ujarnya.

Ketua RT 03, RW 03, Bisrul Hafi mengatakan, semangat warga dalam menjalankan usaha budi daya ikan lele sangat tinggi. Pihaknya berharap dinas terkait bisa memberikan perhatian berupa bantuan bibit, pakan, dan alat supaya usaha tersebut lebih berkembang.

”Saya sudah mengajukan proposal bantuan bibit, pakan, dan semacamnya kepada Dinas Perikanan Sampang. Semoga pengajuan diterima agar warga lebih bersemangat menjalankan usaha budi daya ikan lele,” ucapnya.

SUMENEP – Usaha budi daya ikan lele kian diminati. Itu seiring dengan konsumsi masyarakat Sampang terhadap ikan yang cukup tinggi. Data Dinas Perikanan Sampang menyebutkan, permintaan ikan lele mencapai 2 ton per bulan. Pembudi daya hanya bisa memasok 1 ton.

Sebagian besar permintaan ikan lele di Kota Bahari berasal dari rumah makan, pengolah ikan, dan pedagang kaki lima (PKL). Tingginya permintaan ikan lele tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh warga di Jalan Agus Salim, Kelurahan Banyuanyar, Sampang, untuk menambah penghasilan.

Warga di sana membentuk kelompok budi daya ikan (pokdakan) lele Karang Kemasan. Kolam budi daya ikan lele yang dikelola pokdakan tersebut tidak begitu besar dan baru berjalan delapan bulan.


Namun, yang patut diapresiasi dan menjadi contoh bagi masyarakat di wilayah lain ialah ide warga menyulap lahan kumuh menjadi kolam ikan. Dampaknya, lingkungan tidak hanya bersih, tetapi juga bernilai ekonomi.

Moh. Robi, 45, ketua Pokdakan Karang Kemasan, menuturkan, sebelum menjadi kolam ikan, lahan kumuh dan kotor. Pada 2017, permukiman tersebut diikutkan lomba kebersihan dan keindahan lingkungan yang dilaksanakan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sampang.

Lahan kumuh itu menjadi titik lemah. Warga lantas berinisiatif memberdayakan lahan tersebut menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Inspirasi membuat kolam ikan berawal dari keinginan warga untuk mengubah lahan kumuh yang luasnya tidak seberapa menjadi taman bermain anak.

Baca Juga :  Akselerasi Inklusi Keuangan di Ponpes untuk Dukung Pertumbuhan Ekonomi

Tetapi setelah melalui rapat bersama di tingkat RT/RW, lahan itu dijadikan kolam atau tambak ikan lele. Antusiasme warga untuk menjalankan usaha itu tinggi. ”Usaha budi daya ikan lele cukup menjanjikan. Harga lele di pasaran saat ini Rp 15 ribu per kilogram. Warga sepakat membudidayakan ikan lele,” ucapnya Minggu (13/5).

Dengan modal Rp 1,5 juta, Robi membeli bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat kolam. Misalnya, terpal, kayu balok, bambu, dan pompa air. Kemudian dibuat kolam ukuran 4 x 6 meter dengan tinggi sekitar 1 meter.

Setiap satu kolam berisi 12 ribu bibit ikan lele. Selama delapan bulan, dia sudah memanen dua kali. ”Kami membuat empat petak kolam. Ukuran kolam kecil, tapi bisa menampung 20 ribu bibit,” urainya.

Pengadaan bibit dan pakan ikan didapatkan dari paguyuban budi daya ikan lele. Di paguyuban tersebut ada anggota yang menyediakan bibit dan pakan dari pabrik. Ada juga anggota yang merupakan pedagang. Saat panen, tidak kesulitan untuk menjual ikan lele.

Baca Juga :  Wahid Foundation Gelar Program Wise Engagement

”Dengan bergabung ke paguyuban, kami bisa mendapat bibit dan pakan dengan harga lebih murah dari harga di pasaran,” terang Robi sambil menabur pakan ke kolam ikan lele yang dia kelola.

Dalam satu kali tebar benih hingga panen, membutuhkan 1 ton pakan atau sekitar 20 karung pelet. Biaya produksi yang dikeluarkan cukup tinggi. Karena itu, dia berencana memanfaatkan limbah air kolam lele untuk dikelola menjadi tanaman hidroponik yang akan diolah menjadi pakan.

Selain itu, akan diolah ampas padi, dedak, dan semacamya. ”Saya masih belajar cara mengolah limbah dan kotoran lele menjadi pakan organik. Mulai baca buku hingga menggali informasi di internet. Secara ilmiah kotoran lele itu mengandung pupuk organik. Jadi bisa diolah menjadi pakan,” ujarnya.

Ketua RT 03, RW 03, Bisrul Hafi mengatakan, semangat warga dalam menjalankan usaha budi daya ikan lele sangat tinggi. Pihaknya berharap dinas terkait bisa memberikan perhatian berupa bantuan bibit, pakan, dan alat supaya usaha tersebut lebih berkembang.

”Saya sudah mengajukan proposal bantuan bibit, pakan, dan semacamnya kepada Dinas Perikanan Sampang. Semoga pengajuan diterima agar warga lebih bersemangat menjalankan usaha budi daya ikan lele,” ucapnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/