alexametrics
23.5 C
Madura
Monday, June 27, 2022

Enam TKI Meninggal di Malaysia

SAMPANG – Jufriadi, 37, warga Desa Tobai Tengah, Kecamatan Sokobanah, dipulangkan dari Malaysia setelah meninggal akibat kecelakaan. Jenazahnya tiba di rumah duka kemarin (13/2).

Dengan demikian, sejak awal tahun ini sudah ada enam tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Sampang yang dipulang karena meninggal di Malaysia. Yakni, Hamidah, warga Sokobanah Daya, Kecamatan Sokobanah dan Jamilah, warga Desa Gunung Eleh, Kecamatan Kedungdung.

Lalu, Suhairiyah, warga Desa Pangereman, Kecamatan Ketapang; Hadi, warga Desa Pangereman, Ketapang; dan  Nurul, Warga Desa Tlambah, Kecamatan Karang Penang. Terakhir adalah Jufriadi, warga Desa Tobai Tengah, Kecamatan Sokobanah.

”Yang pulang hari ini (kemarin, Red) meninggal karena kecelakaan. Ilegal, paspornya hanya berkunjung. Tapi pas menetap di sana dan bekerja,” ungkap Kasi Transmigrasi Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Tenaga Kerja (Diskumnaker) Sampang Agus Sumarso kemarin.

Baca Juga :  Penghuni Rumah Perawatan Meninggal

Dia menegaskan, semua TKI yang meninggal dan dipulangkan tersebut tidak ada yang menggunakan jalur resmi. ”Semuanya ilegal, tapi tetap kami bantu untuk dipulangkan ke rumah duka di Sampang,” ujarnya.

Data di lembaganya, sampai saat ini hanya enam warga Sampang yang meninggal dan dipulangkan. Sebenarnya, kata Agus, ada sekitar sebelas warga Sampang yang mengalami kecelakaan dan meninggal di Malaysia.

”Data lima TKI lain asal Sampang belum masuk ke saya, sementara memang hanya enam orang yang sudah kami fasilitasi,” kata dia.

Agus mengklaim, lembaganya sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar memilih jalur resmi. Tetapi, kendalanya memang banyak warga yang tergiur berangkat ke Malaysia menjadi melalui jalur ilegal.

”Lebih percaya pada para calo yang belum tentu bertanggung jawab jika terjadi sesuatu di Malaysia. Mereka berpikir yang penting sampai dulu ke Malaysia,” bebernya.

Baca Juga :  Dishub Kewalahan Atasi Taksi Pelat Hitam

Padahal, tegas Agus, jika menggunakan jalur resmi tidak perlu potong gaji dan semacamnya. Namun, hal itu belum banyak diminati warga Sampang yang akan bekerja di Malaysia.

”Kesadaran masyarakat untuk menggunakan jalur resmi memang masih rendah,” sambungnya.

Ketua Komisi IV DPRD Sampang Amin Arif Tirtana menilai, banyaknya warga yang memilih jalur ilegal itu butuh perhatian khusus dari pemkab. ”Dinas terkait harus mampu menyaring dan mendeteksi warga yang akan berangkat ke Malaysia, sosialisasinya juga harus diintenskan,” sarannya.

Amin meminta supaya sosialisasi mengenai pemberangkatan tenaga kerja jalur resmi tak cukup di tingkat kecamatan. Namun, harus sampai ke desa kalau bisa hingga ke dusun.

”Masyarakat kurang tertarik karena mereka tidak tahu apa kelebihan dan keistimewaannya menggunakan jalur resmi ke Malaysia,” tukasnya.

SAMPANG – Jufriadi, 37, warga Desa Tobai Tengah, Kecamatan Sokobanah, dipulangkan dari Malaysia setelah meninggal akibat kecelakaan. Jenazahnya tiba di rumah duka kemarin (13/2).

Dengan demikian, sejak awal tahun ini sudah ada enam tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Sampang yang dipulang karena meninggal di Malaysia. Yakni, Hamidah, warga Sokobanah Daya, Kecamatan Sokobanah dan Jamilah, warga Desa Gunung Eleh, Kecamatan Kedungdung.

Lalu, Suhairiyah, warga Desa Pangereman, Kecamatan Ketapang; Hadi, warga Desa Pangereman, Ketapang; dan  Nurul, Warga Desa Tlambah, Kecamatan Karang Penang. Terakhir adalah Jufriadi, warga Desa Tobai Tengah, Kecamatan Sokobanah.


”Yang pulang hari ini (kemarin, Red) meninggal karena kecelakaan. Ilegal, paspornya hanya berkunjung. Tapi pas menetap di sana dan bekerja,” ungkap Kasi Transmigrasi Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Tenaga Kerja (Diskumnaker) Sampang Agus Sumarso kemarin.

Baca Juga :  Ditemukan Tewas dalam Sumur

Dia menegaskan, semua TKI yang meninggal dan dipulangkan tersebut tidak ada yang menggunakan jalur resmi. ”Semuanya ilegal, tapi tetap kami bantu untuk dipulangkan ke rumah duka di Sampang,” ujarnya.

Data di lembaganya, sampai saat ini hanya enam warga Sampang yang meninggal dan dipulangkan. Sebenarnya, kata Agus, ada sekitar sebelas warga Sampang yang mengalami kecelakaan dan meninggal di Malaysia.

”Data lima TKI lain asal Sampang belum masuk ke saya, sementara memang hanya enam orang yang sudah kami fasilitasi,” kata dia.

Agus mengklaim, lembaganya sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar memilih jalur resmi. Tetapi, kendalanya memang banyak warga yang tergiur berangkat ke Malaysia menjadi melalui jalur ilegal.

”Lebih percaya pada para calo yang belum tentu bertanggung jawab jika terjadi sesuatu di Malaysia. Mereka berpikir yang penting sampai dulu ke Malaysia,” bebernya.

Baca Juga :  Ibu dan Anak Ditemukan Meninggal Dalam Rumah

Padahal, tegas Agus, jika menggunakan jalur resmi tidak perlu potong gaji dan semacamnya. Namun, hal itu belum banyak diminati warga Sampang yang akan bekerja di Malaysia.

”Kesadaran masyarakat untuk menggunakan jalur resmi memang masih rendah,” sambungnya.

Ketua Komisi IV DPRD Sampang Amin Arif Tirtana menilai, banyaknya warga yang memilih jalur ilegal itu butuh perhatian khusus dari pemkab. ”Dinas terkait harus mampu menyaring dan mendeteksi warga yang akan berangkat ke Malaysia, sosialisasinya juga harus diintenskan,” sarannya.

Amin meminta supaya sosialisasi mengenai pemberangkatan tenaga kerja jalur resmi tak cukup di tingkat kecamatan. Namun, harus sampai ke desa kalau bisa hingga ke dusun.

”Masyarakat kurang tertarik karena mereka tidak tahu apa kelebihan dan keistimewaannya menggunakan jalur resmi ke Malaysia,” tukasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/