alexametrics
22.3 C
Madura
Sunday, May 22, 2022

Tuding Tata Kelola Pasar Kedungdung Amburadul

SAMPANG – Di Sampang ada 26 pasar tradisional. Satu di antaranya Pasar Kedungdung. Namun, penataan dan pengelolaan pasar yang berada di pinggir jalan provinsi Sampang-Ketapang kurang maksimal.

Kebersihan pasar juga kurang diperhatikan. Selain bau, sampah berserakan di mana-mana. Sejumlah pedagang pun banyak yang berjualan di luar area pasar. Mereka mendirikan lapak di depan SDN Moktesareh I, Kedungdung yang lokasinya tak jauh dari pasar.

Bahkan, ada sebagian pedagang yang menempati depan Puskesmas Kedungdung untuk berjualan. Akibatnya, lalu lintas di depan SD, puskesmas, dan pasar terganggu.

Maimunah, 45, pedagang buah di depan SD menuturkan, banyak pedagang pasar yang berjualan di pinggir jalan. Sebab, lokasi pasar penuh dan tidak ada tempat lain untuk berjualan. Meskipun banyak kios yang kosong, tapi sudah ada yang sewa.

 ”Saya sudah lama berjualan di sini (di depan SDN Moktesareh I, Red) sekitar dua tahun. Sebenarnya memang tidak layak, kami siap dipindah asalkan ada tempat relokasi,” janjinya.

Baca Juga :  Anggota Dewan Anyar Sempat Dicegat Polisi

Anggota Komisi II DPRD Sampang Syamsuddin menilai manajemen dan tata kelola Pasar Kedungdung lemah. Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagprin) Sampang kurang maksimal dalam mengelola pasar tradisional. Akibatnya, manajemen dan tata kelola pasar amburadul.

Menurut Syamsuddin, kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Pasar Kedungdung. Tapi, juga terjadi di beberapa pasar tradisional lainnya, seperti Pasar Torjun, Camplong, dan Omben.

”Disperdagprin jangan hanya fokus mengelola pasar yang ada di kota. Pasar-pasar di kecamatan juga harus diperhatikan. Jika dibiarkan, pendapatan asli daerah (PAD) tetap minim,” desaknya.

Dia meminta dinas terkait bisa segera mengevaluasi manajemen Pasar Kedungdung. ”Pada 2015 pemkab sudah menambah kios dan lapak di Pasar Kedungdung. Jadi, pedagang yang masih berjualan di pinggir jalan harus dipindah,” pintanya.

Baca Juga :  Rintis Kampung Industri Songkok

Menanggapi itu, Kabid Pengelolaan Pasar Disperdagprin Sampang Sapta Nuris Ramlan  membantah jika manajemen dan tata kelola Pasar Kedungdung lemah. Dia mengklaim sudah melakukan tindakan berupa teguran kepada pedagang yang berjualan di luar pasar.

”Tapi, mereka tetap saja tidak mengindahkan. Bahkan, pada Agustus lalu kami bersama satpol PP sudah menertibkan semua pedagang tersebut. Namun, tidak lama berselang mereka kembali berjualan di luar,” ungkapnya.

Dia menambahkan, jumlah pedagang di Pasar Kedungdung semakin banyak. Sementara, lokasi di dalam pasar terbatas dan tidak mencukupi untuk menampung semua pedagang. ”Yang paling kami larang yaitu pedagang yang berjualan di depan SD. Bahkan, bupati juga meminta agar mereka dipindah. Saat ini kami masih berusaha mencari lahan untuk pelebaran Pasar Kedungdung,” tandasnya.

- Advertisement -

SAMPANG – Di Sampang ada 26 pasar tradisional. Satu di antaranya Pasar Kedungdung. Namun, penataan dan pengelolaan pasar yang berada di pinggir jalan provinsi Sampang-Ketapang kurang maksimal.

Kebersihan pasar juga kurang diperhatikan. Selain bau, sampah berserakan di mana-mana. Sejumlah pedagang pun banyak yang berjualan di luar area pasar. Mereka mendirikan lapak di depan SDN Moktesareh I, Kedungdung yang lokasinya tak jauh dari pasar.

Bahkan, ada sebagian pedagang yang menempati depan Puskesmas Kedungdung untuk berjualan. Akibatnya, lalu lintas di depan SD, puskesmas, dan pasar terganggu.


Maimunah, 45, pedagang buah di depan SD menuturkan, banyak pedagang pasar yang berjualan di pinggir jalan. Sebab, lokasi pasar penuh dan tidak ada tempat lain untuk berjualan. Meskipun banyak kios yang kosong, tapi sudah ada yang sewa.

 ”Saya sudah lama berjualan di sini (di depan SDN Moktesareh I, Red) sekitar dua tahun. Sebenarnya memang tidak layak, kami siap dipindah asalkan ada tempat relokasi,” janjinya.

Baca Juga :  Perwakilan Bank Dunia Kunjungi Sampang

Anggota Komisi II DPRD Sampang Syamsuddin menilai manajemen dan tata kelola Pasar Kedungdung lemah. Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagprin) Sampang kurang maksimal dalam mengelola pasar tradisional. Akibatnya, manajemen dan tata kelola pasar amburadul.

Menurut Syamsuddin, kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Pasar Kedungdung. Tapi, juga terjadi di beberapa pasar tradisional lainnya, seperti Pasar Torjun, Camplong, dan Omben.

”Disperdagprin jangan hanya fokus mengelola pasar yang ada di kota. Pasar-pasar di kecamatan juga harus diperhatikan. Jika dibiarkan, pendapatan asli daerah (PAD) tetap minim,” desaknya.

Dia meminta dinas terkait bisa segera mengevaluasi manajemen Pasar Kedungdung. ”Pada 2015 pemkab sudah menambah kios dan lapak di Pasar Kedungdung. Jadi, pedagang yang masih berjualan di pinggir jalan harus dipindah,” pintanya.

Baca Juga :  Yayasan Batik Indonesia Kagumi Batik Tulis Pamekasan

Menanggapi itu, Kabid Pengelolaan Pasar Disperdagprin Sampang Sapta Nuris Ramlan  membantah jika manajemen dan tata kelola Pasar Kedungdung lemah. Dia mengklaim sudah melakukan tindakan berupa teguran kepada pedagang yang berjualan di luar pasar.

”Tapi, mereka tetap saja tidak mengindahkan. Bahkan, pada Agustus lalu kami bersama satpol PP sudah menertibkan semua pedagang tersebut. Namun, tidak lama berselang mereka kembali berjualan di luar,” ungkapnya.

Dia menambahkan, jumlah pedagang di Pasar Kedungdung semakin banyak. Sementara, lokasi di dalam pasar terbatas dan tidak mencukupi untuk menampung semua pedagang. ”Yang paling kami larang yaitu pedagang yang berjualan di depan SD. Bahkan, bupati juga meminta agar mereka dipindah. Saat ini kami masih berusaha mencari lahan untuk pelebaran Pasar Kedungdung,” tandasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Camat Pasean Jarang Masuk Kantor

Bacakades Dipungut Rp 2 Juta Lebih

Bupati Dapat Gelar Kehormatan Datu

Artikel Terbaru

/