alexametrics
21.4 C
Madura
Monday, June 27, 2022

Hati-Hati, Wartawan Online Di Sampang Jadi Korban Peredaran Upal

SAMPANG – Peredaran uang palsu (upal) masih dijumpai di Sampang. Masyarakat diminta mewaspadai upal yang digunakan sebagai alat transaksi jual beli. Jum’at (12/10) seorang wartawan media online diduga menjadi korban peredaran upal. Yaitu, Muhlis, 30, warga Desa Kapong, Kecamatan Batumarmar, Pamekasan.

Dia mengaku, upal diketahui setelah melakukan transaksi setor tunai ke salah satu bank di Sampang sebesar Rp 20 juta. Ketika uang cash tersebut diserahkan ke bagian teller, terdeteksi Rp 500 ribu palsu oleh pihak bank.

Atas kejadian itu, uang Rp 500 ribu tidak bisa disetor. Menurut Muhlis, upal tersebut diperoleh dari seseorang dalam kondisi cash untuk transaksi jual beli. ”Uang palsu ternyata masih beredar di wilayah Sampang. Saya sendiri jadi korbannya tadi,” katanya.

Baca Juga :  TKI Korban Ledakan LPG Pulang, Keluarga Senang

Setelah diketahui bahwa uang tersebut palsu, pihak bank mengamankan uang itu, lalu antara Muhlis dengan pihak bank diberi surat keterangan. ”Sosialisasi uang palsu sekarang sudah semakin jarang. Banyak uang baru, tapi tidak ada sosialisasinya,” ujar dia.

Dia meminta pemerintah dan seluruh bank di Sampang melakukan sosialisasi. Muhlis menilai, yang paling dikhawatirkan adalah uang palsu yang digunakan transaksi terhadap pedagang kaki lima.

Warung dan pedagang kaki lima tidak memiliki alat khusus pendeteksi uang palsu. Kemungkinan, mereka menjadi korban peredaran upal cukup tinggi. ”Yang palsu itu uang kertas seratus ribuan keluaran terbaru. Penampakannya memang pudar, tidak timbul hologramnya,” papar dia.

Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman mengatakan, pengungkapan kasus peredaran upal masih minim. ”Jika menemukan tanda-tanda peredaran uang palsu, segera dilaporkan,” imbaunya.

Baca Juga :  Megaproyek Floodway Tunggu Pemprov

Sasaran peredaran upal sejauh ini adalah warung-warung yang tak dilengkapi alat pendeteksi. Karena itu, pihaknya mengimbau supaya pedagang memiliki alat upal tersebut. ”Jika tidak punya alat, upayakan selalu mengecek secara manual,” sarannya.

Cara manual yakni uang dilihat, diraba, dan diterawang (3D). Menurut dia, uang asli ketika diraba itu lebih kasar, ketika diterawang ada watermark gambar kepala di bagian yang putih, ketika dilihat lebih jelas gambarnya.

”Masyarakat harus pintar. Jika uang itu diragukan keasliannya, harus dikembalikan kepada pemiliknya dan minta uang lain biar tidak jadi korban,” pungkas Budi Wardiman mewanti-wanti. 

SAMPANG – Peredaran uang palsu (upal) masih dijumpai di Sampang. Masyarakat diminta mewaspadai upal yang digunakan sebagai alat transaksi jual beli. Jum’at (12/10) seorang wartawan media online diduga menjadi korban peredaran upal. Yaitu, Muhlis, 30, warga Desa Kapong, Kecamatan Batumarmar, Pamekasan.

Dia mengaku, upal diketahui setelah melakukan transaksi setor tunai ke salah satu bank di Sampang sebesar Rp 20 juta. Ketika uang cash tersebut diserahkan ke bagian teller, terdeteksi Rp 500 ribu palsu oleh pihak bank.

Atas kejadian itu, uang Rp 500 ribu tidak bisa disetor. Menurut Muhlis, upal tersebut diperoleh dari seseorang dalam kondisi cash untuk transaksi jual beli. ”Uang palsu ternyata masih beredar di wilayah Sampang. Saya sendiri jadi korbannya tadi,” katanya.

Baca Juga :  Megaproyek Floodway Tunggu Pemprov

Setelah diketahui bahwa uang tersebut palsu, pihak bank mengamankan uang itu, lalu antara Muhlis dengan pihak bank diberi surat keterangan. ”Sosialisasi uang palsu sekarang sudah semakin jarang. Banyak uang baru, tapi tidak ada sosialisasinya,” ujar dia.

Dia meminta pemerintah dan seluruh bank di Sampang melakukan sosialisasi. Muhlis menilai, yang paling dikhawatirkan adalah uang palsu yang digunakan transaksi terhadap pedagang kaki lima.

Warung dan pedagang kaki lima tidak memiliki alat khusus pendeteksi uang palsu. Kemungkinan, mereka menjadi korban peredaran upal cukup tinggi. ”Yang palsu itu uang kertas seratus ribuan keluaran terbaru. Penampakannya memang pudar, tidak timbul hologramnya,” papar dia.

Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman mengatakan, pengungkapan kasus peredaran upal masih minim. ”Jika menemukan tanda-tanda peredaran uang palsu, segera dilaporkan,” imbaunya.

Baca Juga :  10 Pengungsi Wamena Pulang Lewat Jalur Laut

Sasaran peredaran upal sejauh ini adalah warung-warung yang tak dilengkapi alat pendeteksi. Karena itu, pihaknya mengimbau supaya pedagang memiliki alat upal tersebut. ”Jika tidak punya alat, upayakan selalu mengecek secara manual,” sarannya.

Cara manual yakni uang dilihat, diraba, dan diterawang (3D). Menurut dia, uang asli ketika diraba itu lebih kasar, ketika diterawang ada watermark gambar kepala di bagian yang putih, ketika dilihat lebih jelas gambarnya.

”Masyarakat harus pintar. Jika uang itu diragukan keasliannya, harus dikembalikan kepada pemiliknya dan minta uang lain biar tidak jadi korban,” pungkas Budi Wardiman mewanti-wanti. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/