alexametrics
21.3 C
Madura
Saturday, October 1, 2022

Polisi Periksa Lima Saksi terkait Dugaan Penganiayaan Terlapor Anggota Dewan

SAMPANG, Jawa Pos Radar Madura – Perkara dugaan penganiayaan dengan terlapor anggota DPRD Sampang Iwan Effendi bergulir. Kasus yang dilaporkan Johan Nirwanto itu saat ini masuk tahap penyelidikan. Polisi telah memeriksa lima saksi untuk dimintai keterangan.

Wartawan media daring Johan Nirwanto dan anggota lembaga swadaya masyarakat (LSM) Maskur diduga menjadi korban pengeroyokan pada Selasa (9/8). Insiden itu terjadi di Dusun Bengseketeng, Desa Panggung, Kecamatan Kota Sampang, sekitar pukul 13.00.

Berdasar keterangan Maskur, sebelum pengeroyokan, dia mengatur janji untuk bertemu Sholeh, pelaksana kegiatan kelompok masyarakat (pokmas) di Desa Baruh. Lokasi pertemuan di Dusun Bengseketeng, Desa Panggung.

Siang itu, Maskur datang bersama Johan Nirwanto, warga Kelurahan Rongtengah, Kecamatan Kota Sampang. ”Perkiraan beberapa menit, Pak Iwan, anggota dewan itu, datang dan menonjok kepala saya dengan tangannya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) ketika ditemui di RSUD Muhammad Zyn Sampang pada Selasa (9/8).

Maskur menuturkan, saat itu Iwan datang bersama rombongan dua mobil. Lima orang diduga terlibat dalam pengeroyokan. Namun, yang dikenal hanya dua orang. Yakni, Iwan dan C (inisial), Sekdes Desa Pangelen. Akibat peristiwa itu, tulang hidung Maskur patah dan berdarah.

Baca Juga :  Sita 28 Motor di Lokasi Balap Liar

Sementara itu, Johan Nirwanto saat ditemui di Mapolres Sampang membenarkan pengeroyokan pada temannya tersebut. Melihat temannya dikeroyok, dia berupaya melerai, namun juga dihajar. ”Iya bagian wajah dekat hidung agak nyeri,” ujarnya.

Johan menceritakan, yang pertama memukul adalah Iwan. Kemudian, diikuti Cholik yang sama-sama menggunakan tangan kanan. Kemudian, aksi itu dilerai oleh warga. Lalu, Johan melaporkan peristiwa tersebut ke Polres Sampang. Keduanya sama-sama dimintai keterangan.

Kapolres Sampang AKBP Arman yang diwakili Kasihumas Ipda Dody Darmawan membenarkan adanya laporan tersebut. Dalam kasus itu, Iwan Effendi, 40, warga Desa Baruh, Kecamatan Kota Sampang, bersama keempat temannya berstatus terlapor.

Polisi melakukan penyelidikan. Barang bukti (BB) yang diamankan yakni baju milik Maskur yang berlumur darah. ”Motifnya, terlapor diduga tidak terima proyek pokmas miliknya berupa pembangunan plengsengan di Desa Baruh dicari-cari kesalahannya oleh pelapor,” jelas Dody.

Kemarin (11/8)Johan Nirwanto kembali mendatangi Mapolres Sampang. Dalam kasus itu, dia mengaku sebagai pelapor, saksi, dan korban. Mengingat, saat kejadian terjadi dugaan penganiayaan dirinya bersama Maskur.

Johan dan Maskur sebelumnya punya maksud mengonfirmasi pelaksanaan pembangunan plengsengan di Desa Baruh. Kapasitas Johan sebagai insan media dan Maskur dari LSM. Johan mengaku menyaksikan langsung peristiwa nahas yang dialami Maskur. ”Hari ini saya datang ke mapolres menemani korban Maskur yang tengah dimintai keterangan oleh penyidik,” jelasnya kemarin.

Baca Juga :  RSUD Sampang Terus Berupaya Tingkatkan Pelayanan

Anggota DPRD Sampang Iwan Effendi mengakui saat kejadian dirinya berada di lokasi. Namun, politikus PDI Perjuangan itu membantah terlibat dalam aksi penganiayaan kepada korban. Sebab, dia menyadari bahwa perbuatan penganiayaan akan sangat merugikan dan mencoreng reputasi dirinya sebagai anggota legislatif.

Iwan mengaku turun ke lokasi karena khawatir situasi tidak bisa dikendalikan. Selain itu, Iwan mengklaim tidak berkaitan dengan proyek pembangunan tertentu. Apalagi, antara dirinya dan korban saling mengenal.

Karena sudah diproses hukum, Iwan siap mengikuti alur. Dia yakin nanti ada titik terang. ”Kalau saya dianggap melakukan penganiyaan, itu tidak benar. Nantilah biar proses hukum yang berjalan,” jelasnya.

Kanit IV Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Satreskrim Polres Sampang Aipda Soni Eko Wicaksono menjelaskan, kasus itu sudah memasuki proses penyelidikan. Sidikitnya ada lima orang yang dimintai keterangan. Salah satunya, yang mengaku menjadi korban. Sedangkan terlapor belum dimintai keterangan untuk mengklarifikasi. ”Kasus ini berlanjut,” terangnya. (jun/c3/han/luq)

SAMPANG, Jawa Pos Radar Madura – Perkara dugaan penganiayaan dengan terlapor anggota DPRD Sampang Iwan Effendi bergulir. Kasus yang dilaporkan Johan Nirwanto itu saat ini masuk tahap penyelidikan. Polisi telah memeriksa lima saksi untuk dimintai keterangan.

Wartawan media daring Johan Nirwanto dan anggota lembaga swadaya masyarakat (LSM) Maskur diduga menjadi korban pengeroyokan pada Selasa (9/8). Insiden itu terjadi di Dusun Bengseketeng, Desa Panggung, Kecamatan Kota Sampang, sekitar pukul 13.00.

Berdasar keterangan Maskur, sebelum pengeroyokan, dia mengatur janji untuk bertemu Sholeh, pelaksana kegiatan kelompok masyarakat (pokmas) di Desa Baruh. Lokasi pertemuan di Dusun Bengseketeng, Desa Panggung.


Siang itu, Maskur datang bersama Johan Nirwanto, warga Kelurahan Rongtengah, Kecamatan Kota Sampang. ”Perkiraan beberapa menit, Pak Iwan, anggota dewan itu, datang dan menonjok kepala saya dengan tangannya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) ketika ditemui di RSUD Muhammad Zyn Sampang pada Selasa (9/8).

Maskur menuturkan, saat itu Iwan datang bersama rombongan dua mobil. Lima orang diduga terlibat dalam pengeroyokan. Namun, yang dikenal hanya dua orang. Yakni, Iwan dan C (inisial), Sekdes Desa Pangelen. Akibat peristiwa itu, tulang hidung Maskur patah dan berdarah.

Baca Juga :  Polisi dalam Kasus Dugaan Pencemaran Nama Baik Kiai

Sementara itu, Johan Nirwanto saat ditemui di Mapolres Sampang membenarkan pengeroyokan pada temannya tersebut. Melihat temannya dikeroyok, dia berupaya melerai, namun juga dihajar. ”Iya bagian wajah dekat hidung agak nyeri,” ujarnya.

Johan menceritakan, yang pertama memukul adalah Iwan. Kemudian, diikuti Cholik yang sama-sama menggunakan tangan kanan. Kemudian, aksi itu dilerai oleh warga. Lalu, Johan melaporkan peristiwa tersebut ke Polres Sampang. Keduanya sama-sama dimintai keterangan.

- Advertisement -

Kapolres Sampang AKBP Arman yang diwakili Kasihumas Ipda Dody Darmawan membenarkan adanya laporan tersebut. Dalam kasus itu, Iwan Effendi, 40, warga Desa Baruh, Kecamatan Kota Sampang, bersama keempat temannya berstatus terlapor.

Polisi melakukan penyelidikan. Barang bukti (BB) yang diamankan yakni baju milik Maskur yang berlumur darah. ”Motifnya, terlapor diduga tidak terima proyek pokmas miliknya berupa pembangunan plengsengan di Desa Baruh dicari-cari kesalahannya oleh pelapor,” jelas Dody.

Kemarin (11/8)Johan Nirwanto kembali mendatangi Mapolres Sampang. Dalam kasus itu, dia mengaku sebagai pelapor, saksi, dan korban. Mengingat, saat kejadian terjadi dugaan penganiayaan dirinya bersama Maskur.

Johan dan Maskur sebelumnya punya maksud mengonfirmasi pelaksanaan pembangunan plengsengan di Desa Baruh. Kapasitas Johan sebagai insan media dan Maskur dari LSM. Johan mengaku menyaksikan langsung peristiwa nahas yang dialami Maskur. ”Hari ini saya datang ke mapolres menemani korban Maskur yang tengah dimintai keterangan oleh penyidik,” jelasnya kemarin.

Baca Juga :  Polisi Amankan Pejudi Togel

Anggota DPRD Sampang Iwan Effendi mengakui saat kejadian dirinya berada di lokasi. Namun, politikus PDI Perjuangan itu membantah terlibat dalam aksi penganiayaan kepada korban. Sebab, dia menyadari bahwa perbuatan penganiayaan akan sangat merugikan dan mencoreng reputasi dirinya sebagai anggota legislatif.

Iwan mengaku turun ke lokasi karena khawatir situasi tidak bisa dikendalikan. Selain itu, Iwan mengklaim tidak berkaitan dengan proyek pembangunan tertentu. Apalagi, antara dirinya dan korban saling mengenal.

Karena sudah diproses hukum, Iwan siap mengikuti alur. Dia yakin nanti ada titik terang. ”Kalau saya dianggap melakukan penganiyaan, itu tidak benar. Nantilah biar proses hukum yang berjalan,” jelasnya.

Kanit IV Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Satreskrim Polres Sampang Aipda Soni Eko Wicaksono menjelaskan, kasus itu sudah memasuki proses penyelidikan. Sidikitnya ada lima orang yang dimintai keterangan. Salah satunya, yang mengaku menjadi korban. Sedangkan terlapor belum dimintai keterangan untuk mengklarifikasi. ”Kasus ini berlanjut,” terangnya. (jun/c3/han/luq)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Lima Raperda Siap Dibahas

/