alexametrics
23.9 C
Madura
Sunday, May 22, 2022

Disperta Imbau Petani Gunakan Bibit Bersertifikat

SAMPANG – Sebagian petani di Sampang mulai membajak sawah untuk ditanami. Namun, selama ini banyak petani yang salah bercocok tanam. Mulai dari penggunaan bibit, pupuk hingga tata cara penanaman. Akibatnya, kualitas dan kuantitas hasil produksi masih rendah.

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Sampang Suyono mengatakan, selama tiga tahun terakhir potensi pertanian di Kota Bahari cukup bagus, baik pertanian padi maupun jagung. Hasil produksi melimpah dan selalu bisa mencukupi kebutuhan masyarakat terhadap bahan pangan. Namun, kualitas dan kuantitas hasil produksi belum sesuai dengan harapan.

Hal itu disebabkan tiga faktor. Pertama, 65 persen petani padi di Sampang masih menggunakan bibit yang tidak bersertifikat atau bibit unggul. Padahal, untuk bisa menghasilkan produksi yang banyak dan berkualitas bagus. Petani harus menggunakan bibit tersebut. Terutama  untuk tanaman padi.

”Bibit bersertifikat terdiri dari bibit hibrida dan inbrida. Jenis bibit inbrida yaitu inpari dan sertani. Sedangkan, inbrida itu sembada. Dua jenis bibit itu sangat baik untuk ditanam,” ucapnya Jumat (10/11).

Baca Juga :  Budi Wardiman Dimutasi Jadi Wadansat Brimobda Maluku, Ini Penggantinya

Dijelaskan, bibit jenis Inpari-30 dan sertani lebih bagus jika dibandingkan dengan jenis ciherang. Karena hasil produksi lebih banyak perbandingannya, ciherang per hektare hanya bisa menghasilkan gabah 7 ton. Jika Inpari-30 dan sertani bisa mencapai 10 ton per hektare,” ucapnya.

Dalam pertanian padi, petani masih dominan menggunakan bibit ciherang. Padahal, bibit tersebut sangat mudah terserang hama penyakit pyricularia oryzae atau penyakit blas dan wareg. Sementara bibit bersertifikat jauh lebih tahan terhadap hama penyakit dan hasil produksi lebih melimpah.

”Hampir 65 persen petani di Sampang masih menggunakan bibit ciherang. Sementara, petani yang sudah menggunakan varietas unggul yaitu petani di Kecamatan Sampang, Camplong, Pangarengan, dan Karang Penang,” katanya.

Faktor kedua, cara petani dalam melakukan penanaman bibit masih asal-asalan dan tidak menerapkan sistem jajar legowo. Padahal, sistem tanam tersebut merupakan cara tanam yang baik bagi petani untuk bisa menghasilkan produksi melimpah dan berkualitas bagus. ”Sistem tanam itu juga memiliki keunggulan besar yang dapat mempermudah petani dalam pengelolaan tanaman, pemupukan, dan pengendalian hama atau penyakit yang bisa merusak tanaman,” terangnya.

Baca Juga :  Disperta Sediakan 335 Ton Benih

Faktor ketiga, petani masih bergantung terhadap pupuk urea, SP-36, ZA, dan semacamnya. Padahal, pupuk organik atau bokashi juga tidak kalah baik untuk bisa meningktakan kualitas dan kuantitas hasil produksi padi. Banyak kelompok tani (poktan) rutin memproduksi pupuk itu dan harganya juga lebih murah dibandingkan dengan pupuk kimia.

”Kami imbau petani agar bisa beralih menggunakan bibit bersertifikat. Supaya hasil produksi bisa lebih meningkat dan mempunyai kualitas bagus. Jika ada kendala segera berkoordinasi dengan penyuluh,” ujarnya.

Anggota Komisi III DPRD Sampang Sohebus Sulton meminta dinas terkait lebih aktif memberikan penyuluhan kepada petani. Juga, mendorong petani supaya bisa menerapkan sistem teknologi pertanian agar hasil produksi bagus dan kesejahteraan petani meningkat. ”Sampai saat ini stok pupuk urea sekitar 11 ribu ton. Pendistribusian pupuk kepada petani perlu pengawasan ketat,” tandasnya. 

- Advertisement -

SAMPANG – Sebagian petani di Sampang mulai membajak sawah untuk ditanami. Namun, selama ini banyak petani yang salah bercocok tanam. Mulai dari penggunaan bibit, pupuk hingga tata cara penanaman. Akibatnya, kualitas dan kuantitas hasil produksi masih rendah.

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Sampang Suyono mengatakan, selama tiga tahun terakhir potensi pertanian di Kota Bahari cukup bagus, baik pertanian padi maupun jagung. Hasil produksi melimpah dan selalu bisa mencukupi kebutuhan masyarakat terhadap bahan pangan. Namun, kualitas dan kuantitas hasil produksi belum sesuai dengan harapan.

Hal itu disebabkan tiga faktor. Pertama, 65 persen petani padi di Sampang masih menggunakan bibit yang tidak bersertifikat atau bibit unggul. Padahal, untuk bisa menghasilkan produksi yang banyak dan berkualitas bagus. Petani harus menggunakan bibit tersebut. Terutama  untuk tanaman padi.


”Bibit bersertifikat terdiri dari bibit hibrida dan inbrida. Jenis bibit inbrida yaitu inpari dan sertani. Sedangkan, inbrida itu sembada. Dua jenis bibit itu sangat baik untuk ditanam,” ucapnya Jumat (10/11).

Baca Juga :  Kades Ketapang Barat Salurkan BLT DD

Dijelaskan, bibit jenis Inpari-30 dan sertani lebih bagus jika dibandingkan dengan jenis ciherang. Karena hasil produksi lebih banyak perbandingannya, ciherang per hektare hanya bisa menghasilkan gabah 7 ton. Jika Inpari-30 dan sertani bisa mencapai 10 ton per hektare,” ucapnya.

Dalam pertanian padi, petani masih dominan menggunakan bibit ciherang. Padahal, bibit tersebut sangat mudah terserang hama penyakit pyricularia oryzae atau penyakit blas dan wareg. Sementara bibit bersertifikat jauh lebih tahan terhadap hama penyakit dan hasil produksi lebih melimpah.

”Hampir 65 persen petani di Sampang masih menggunakan bibit ciherang. Sementara, petani yang sudah menggunakan varietas unggul yaitu petani di Kecamatan Sampang, Camplong, Pangarengan, dan Karang Penang,” katanya.

Faktor kedua, cara petani dalam melakukan penanaman bibit masih asal-asalan dan tidak menerapkan sistem jajar legowo. Padahal, sistem tanam tersebut merupakan cara tanam yang baik bagi petani untuk bisa menghasilkan produksi melimpah dan berkualitas bagus. ”Sistem tanam itu juga memiliki keunggulan besar yang dapat mempermudah petani dalam pengelolaan tanaman, pemupukan, dan pengendalian hama atau penyakit yang bisa merusak tanaman,” terangnya.

Baca Juga :  Program Listrik Gratis Langgar UU-Perpres

Faktor ketiga, petani masih bergantung terhadap pupuk urea, SP-36, ZA, dan semacamnya. Padahal, pupuk organik atau bokashi juga tidak kalah baik untuk bisa meningktakan kualitas dan kuantitas hasil produksi padi. Banyak kelompok tani (poktan) rutin memproduksi pupuk itu dan harganya juga lebih murah dibandingkan dengan pupuk kimia.

”Kami imbau petani agar bisa beralih menggunakan bibit bersertifikat. Supaya hasil produksi bisa lebih meningkat dan mempunyai kualitas bagus. Jika ada kendala segera berkoordinasi dengan penyuluh,” ujarnya.

Anggota Komisi III DPRD Sampang Sohebus Sulton meminta dinas terkait lebih aktif memberikan penyuluhan kepada petani. Juga, mendorong petani supaya bisa menerapkan sistem teknologi pertanian agar hasil produksi bagus dan kesejahteraan petani meningkat. ”Sampai saat ini stok pupuk urea sekitar 11 ribu ton. Pendistribusian pupuk kepada petani perlu pengawasan ketat,” tandasnya. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/