alexametrics
21.6 C
Madura
Wednesday, May 18, 2022

Banyak Lahan Tidak Tergarap

SAMPANG – Produksi tembakau di wilayah Sampang terancam tidak maksimal. Pasalnya, saat ini banyak ladang ataupun sawah yang tidak bisa ditanami tembakau. Kesulitan mendapatkan air menjadi penyebab petani tidak menanam tembakau.

Seorang petani di Desa Patarongan, Kecamatan Torjun, Jamali, mengatakan, banyak lahan yang tidak tergarap di daerahnya. Sebab, saat ini rata-rata tanah sudah terlampau kering. Para petani tidak bisa mengolah ladang atan sawah. ”Tidak ada selingan hujan atau gerimis, sehingga tanah terlampau kering,” kata Jamali kemarin (10/6).

Selain itu, para petani juga kesulitan mendapatkan air bersih. Saat ini mereka harus membeli air untuk bisa bercocok tanam. Pria 60 tahun itu mengaku membeli air dan disimpan di kubangan. ”Saya beli air satu tangki Rp 120 ribu. Itu hanya cukup untuk menyiram tembakau selama dua pekan,” tuturnya.

Baca Juga :  Pemerintahan Desa Labuhan Kaya Inovasi

Masa tanam tembakau membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Karena itulah selama musim tembakau dirinya minimal harus membeli enam tangki. Dengan demikian, kebutuhan air untuk menyiram tembakau saja menelan biaya Rp 720 ribu.

Belum lagi biaya perawatan lainnya. Mulai dari pupuk, mengolah tanah, harga bibit, dan lain semacamnya. Karena itulah, dia berharap agar saat musim panen nanti harga tembakau bisa tinggi.

”Tahun lalu per kilo bisa mencapai Rp 60 ribu. Kalau yang bagus malah bisa tembus Rp 70 ribu,” ujarnya. ”Ya mudah-mudahan tahun ini harga tembakau kembali tinggi. Sebab kalau murah, petani bisa rugi,” tukasnya.

Kabid Perkebunan Dinas Pertanian Sampang Abu Yasid memaparkan bahwa tidak semua lahan ditanami tembakau. Dari sekitar 10 ribu hektare yang bisa ditanami daun emas, biasanya yang diproyeksikan hanya lima ribu hektare.

Baca Juga :  Mayoritas Puskesmas Berakreditasi Dasar

Sampang memang tidak terlalu menarget produksi tinggi. Sebab, Sampang hanya menjadi daerah perluasan dari kabupaten penghasil tembakau di Madura, yakni Pamekasan dan Sumenep. ”Kalau cuaca bagus, target lima ribu hektare bisa terealisasi,” katanya. 

- Advertisement -

SAMPANG – Produksi tembakau di wilayah Sampang terancam tidak maksimal. Pasalnya, saat ini banyak ladang ataupun sawah yang tidak bisa ditanami tembakau. Kesulitan mendapatkan air menjadi penyebab petani tidak menanam tembakau.

Seorang petani di Desa Patarongan, Kecamatan Torjun, Jamali, mengatakan, banyak lahan yang tidak tergarap di daerahnya. Sebab, saat ini rata-rata tanah sudah terlampau kering. Para petani tidak bisa mengolah ladang atan sawah. ”Tidak ada selingan hujan atau gerimis, sehingga tanah terlampau kering,” kata Jamali kemarin (10/6).

Selain itu, para petani juga kesulitan mendapatkan air bersih. Saat ini mereka harus membeli air untuk bisa bercocok tanam. Pria 60 tahun itu mengaku membeli air dan disimpan di kubangan. ”Saya beli air satu tangki Rp 120 ribu. Itu hanya cukup untuk menyiram tembakau selama dua pekan,” tuturnya.

Baca Juga :  Keluyuran Saat Jam Sekolah, 16 Pelajar di Sampang Diamankan Satpol PP

Masa tanam tembakau membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Karena itulah selama musim tembakau dirinya minimal harus membeli enam tangki. Dengan demikian, kebutuhan air untuk menyiram tembakau saja menelan biaya Rp 720 ribu.

Belum lagi biaya perawatan lainnya. Mulai dari pupuk, mengolah tanah, harga bibit, dan lain semacamnya. Karena itulah, dia berharap agar saat musim panen nanti harga tembakau bisa tinggi.

”Tahun lalu per kilo bisa mencapai Rp 60 ribu. Kalau yang bagus malah bisa tembus Rp 70 ribu,” ujarnya. ”Ya mudah-mudahan tahun ini harga tembakau kembali tinggi. Sebab kalau murah, petani bisa rugi,” tukasnya.

Kabid Perkebunan Dinas Pertanian Sampang Abu Yasid memaparkan bahwa tidak semua lahan ditanami tembakau. Dari sekitar 10 ribu hektare yang bisa ditanami daun emas, biasanya yang diproyeksikan hanya lima ribu hektare.

Baca Juga :  Mayoritas Puskesmas Berakreditasi Dasar

Sampang memang tidak terlalu menarget produksi tinggi. Sebab, Sampang hanya menjadi daerah perluasan dari kabupaten penghasil tembakau di Madura, yakni Pamekasan dan Sumenep. ”Kalau cuaca bagus, target lima ribu hektare bisa terealisasi,” katanya. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/