alexametrics
18.5 C
Madura
Wednesday, June 29, 2022

Istri Meninggal, Suami Ajak Tetangga Sumpah Pocong

SAMPANG – Dua warga Desa Pangereman, Kecamatan Ketapang melakoni ritual sumpah pocong di Masjid Madegan Kelurahan Polagan, Kecamatan Kota Sampang, Rabu (9/1). Sumpah pocong tersebut dilakukan Sumai dan tetangganya yakni Punirah, 40.

Sumpah pocong ini berawal dari Suriyah, istri dari Punirah yang meninggal subuh tadi. Sebelum meninggal, wanita berusia 30 tahun itu hampir sebulan mengidap penyakit di bagian perut dan ukurannya terus membesar.

Punirah menduga istrinya disantet Sumai. Sebab, Punirah dan istrinya pernah mimpi didatangi Sumai.

Sumai yang kesehariannya bekerja sebagai petani membantah tudingan Punirah. Pria berusia 59 tahun itu menegaskan dirinya bukan dalang atas meninggalnya Suriyah.

Baca Juga :  Masalah Tunggakan Belum Teratasi

Biar tidak menimbulkan konflik yang berlanjut, kepala desa setempat membawa keduanya ke Masjid Madegan untuk melakoni sumpah pocong.

Pengamatan RadarMadura.id, keduanya melakukan sumpah pocong di Masjid Madegan sekitar pukul 13.30. Secara bergiliran keduanya tidur berselimut kain kafan layaknya orang meninggal.

Secara estafet, keduanya tidur dengan posisi miring ke arah barat sambil bersumpah di bawah kitab suci Alqur’an.

Setelah proses pengucapan sumpah selesai, keduanya lalu meminum air yang dicelupkan ke pusaka tombak yang ada di masjid tersebut.

Proses terus berlanjut, keduanya secara bergantian berjalan berputar mengelilingi pohon sawo yang ditutup kaca bening. Terakhir, melangkahi ayam hitam yang sudah disembelih sebanyak 7 kali.

Baca Juga :  Layanan PN Manfaatkan Marlena

Bonesan selaku Kepala Desa Pangareman mengatakan, setiap ada orang sakit pasti menyangka Sumai pelakunya. Agar tidak memicu konflik, dia sengaja membawa kedua warganya sumpah pocong.

“Semoga setelah ini tidak ada lagi isu santet dan suasana Pangereman kondusif,” harapnya.

H. Hasin selaku Ketua Takmir Masjid Madegan mengakui jika latar belakang digelarnya sumpah pocong karena isu santet.

“Jadi keduanya disumpah, baik yang menuduh maupun tertuduh. Kalau benar-benar bersalah, setelah melakukan sumpah pocong, yang bersangkutan sakit-sakitan dan akhirnya meninggal,” katanya. (Moh. Iqbal)

SAMPANG – Dua warga Desa Pangereman, Kecamatan Ketapang melakoni ritual sumpah pocong di Masjid Madegan Kelurahan Polagan, Kecamatan Kota Sampang, Rabu (9/1). Sumpah pocong tersebut dilakukan Sumai dan tetangganya yakni Punirah, 40.

Sumpah pocong ini berawal dari Suriyah, istri dari Punirah yang meninggal subuh tadi. Sebelum meninggal, wanita berusia 30 tahun itu hampir sebulan mengidap penyakit di bagian perut dan ukurannya terus membesar.

Punirah menduga istrinya disantet Sumai. Sebab, Punirah dan istrinya pernah mimpi didatangi Sumai.


Sumai yang kesehariannya bekerja sebagai petani membantah tudingan Punirah. Pria berusia 59 tahun itu menegaskan dirinya bukan dalang atas meninggalnya Suriyah.

Baca Juga :  Jelang Mutasi Jabatan, Bupati Sampang Jamin dan Tegaskan Tak Ada Mahar

Biar tidak menimbulkan konflik yang berlanjut, kepala desa setempat membawa keduanya ke Masjid Madegan untuk melakoni sumpah pocong.

Pengamatan RadarMadura.id, keduanya melakukan sumpah pocong di Masjid Madegan sekitar pukul 13.30. Secara bergiliran keduanya tidur berselimut kain kafan layaknya orang meninggal.

Secara estafet, keduanya tidur dengan posisi miring ke arah barat sambil bersumpah di bawah kitab suci Alqur’an.

Setelah proses pengucapan sumpah selesai, keduanya lalu meminum air yang dicelupkan ke pusaka tombak yang ada di masjid tersebut.

Proses terus berlanjut, keduanya secara bergantian berjalan berputar mengelilingi pohon sawo yang ditutup kaca bening. Terakhir, melangkahi ayam hitam yang sudah disembelih sebanyak 7 kali.

Baca Juga :  Masalah Tunggakan Belum Teratasi

Bonesan selaku Kepala Desa Pangareman mengatakan, setiap ada orang sakit pasti menyangka Sumai pelakunya. Agar tidak memicu konflik, dia sengaja membawa kedua warganya sumpah pocong.

“Semoga setelah ini tidak ada lagi isu santet dan suasana Pangereman kondusif,” harapnya.

H. Hasin selaku Ketua Takmir Masjid Madegan mengakui jika latar belakang digelarnya sumpah pocong karena isu santet.

“Jadi keduanya disumpah, baik yang menuduh maupun tertuduh. Kalau benar-benar bersalah, setelah melakukan sumpah pocong, yang bersangkutan sakit-sakitan dan akhirnya meninggal,” katanya. (Moh. Iqbal)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/