alexametrics
21.1 C
Madura
Thursday, August 11, 2022

Penerapan Sistem Bioflok Tak Merata

SAMPANG – Tahun ini Dinas Perikanan Sampang menyediakan Rp 280 juta untuk membantu meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi kelompok budi daya ikan (pokdakan). Anggaran itu dialokasikan dengan memberikan bantuan peralatan budi daya sistem bioflok. Namun, bantuan tersebut tidak merata ke semua pokdakan.

Kabid Perikanan dan Budi Daya Dinas Perikanan Sampang MohMahfud mengatakan, instansinya mencoba menerapkan pengelolaan budi daya ikan menggunakan bioflok. Sistem tersebut sangat positif untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi ikan air tawar.

Banyak pokdakan luar daerah berhasil menerapkan sistem tersebut. Usaha yang dijalani maju dan berkembang. Sistem itu bisa mendorong produktivitas dan organisme hidup ikan meskipun kolam berukuran kecil. Biaya produksi jauh lebih ringan dibandingkan dengan kolam tradisional.

Baca Juga :  Tak Serius Kelola Tambak Percontohan

Sistem tersebut juga menjadi salah satu solusi bagi masyarakat yang ingin membudidayakan, namun terkendala keterbatasan lahan dan air. Budi daya dengan sistem tersebut bisa diterapkan dengan menggunakan tong atau kolam terpal. ”Tahun ini sekitar lima pokdakan yang akan mendapatkan bantuan alat. Misalkan, terpal, tong, slang, pompa air, dan pakan,” katanya Senin (7/5).

Penerapan bioflok dimulai dari penumbuhan dan pengembangan mikro-organisme ikan. Proses tersebut dilakukan dengan mengolah limbah menjadi pakan ikan secara alami. Dengan demikian, dapat mengurangi kebutuhan pakan.

Pakan tersebut lebih hemat karena peran bakteri probiotik yang sengaja dikembangbiakkan. Bakteri itu mampu mengelola pakan yang tersisa, serta kotoran ikan menjadi pakan cadangan. ”Air kolam bioflok juga tidak berbau seperti kolam konvensional pada umumnya. Ikan yang dihasilkan juga tidak amis dan lebih gurih serta tidak mengganggu masyarakat,” ucapnya.

Baca Juga :  Aneh, Tanaman dan Pompa Sering Hilang

Pihaknya optimistis dengan penerapan sistem tersebut hasil produksi ikan dari pokdakan bisa lebih meningkat. Minat masyarakat untuk menjalankan usaha budi daya ikan juga bertambah. Akan tetapi, tidak semua kelompok bisa mendapatkan bantuan tersebut.

”Secara bertahap kami akan menambah cakupan dari program itu. Kami juga akan fokus membantu dan membina para pokdakan baru agar mereka lebih bersemangat menjalankan usaha,” janjinya.

 

SAMPANG – Tahun ini Dinas Perikanan Sampang menyediakan Rp 280 juta untuk membantu meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi kelompok budi daya ikan (pokdakan). Anggaran itu dialokasikan dengan memberikan bantuan peralatan budi daya sistem bioflok. Namun, bantuan tersebut tidak merata ke semua pokdakan.

Kabid Perikanan dan Budi Daya Dinas Perikanan Sampang MohMahfud mengatakan, instansinya mencoba menerapkan pengelolaan budi daya ikan menggunakan bioflok. Sistem tersebut sangat positif untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi ikan air tawar.

Banyak pokdakan luar daerah berhasil menerapkan sistem tersebut. Usaha yang dijalani maju dan berkembang. Sistem itu bisa mendorong produktivitas dan organisme hidup ikan meskipun kolam berukuran kecil. Biaya produksi jauh lebih ringan dibandingkan dengan kolam tradisional.

Baca Juga :  Siswa SMAN 1 Banyuates Ungkap Penarikan Sumbangan

Sistem tersebut juga menjadi salah satu solusi bagi masyarakat yang ingin membudidayakan, namun terkendala keterbatasan lahan dan air. Budi daya dengan sistem tersebut bisa diterapkan dengan menggunakan tong atau kolam terpal. ”Tahun ini sekitar lima pokdakan yang akan mendapatkan bantuan alat. Misalkan, terpal, tong, slang, pompa air, dan pakan,” katanya Senin (7/5).

Penerapan bioflok dimulai dari penumbuhan dan pengembangan mikro-organisme ikan. Proses tersebut dilakukan dengan mengolah limbah menjadi pakan ikan secara alami. Dengan demikian, dapat mengurangi kebutuhan pakan.

Pakan tersebut lebih hemat karena peran bakteri probiotik yang sengaja dikembangbiakkan. Bakteri itu mampu mengelola pakan yang tersisa, serta kotoran ikan menjadi pakan cadangan. ”Air kolam bioflok juga tidak berbau seperti kolam konvensional pada umumnya. Ikan yang dihasilkan juga tidak amis dan lebih gurih serta tidak mengganggu masyarakat,” ucapnya.

Baca Juga :  Budi Daya Ikan Sistem Bioflok Tak Merata

Pihaknya optimistis dengan penerapan sistem tersebut hasil produksi ikan dari pokdakan bisa lebih meningkat. Minat masyarakat untuk menjalankan usaha budi daya ikan juga bertambah. Akan tetapi, tidak semua kelompok bisa mendapatkan bantuan tersebut.

”Secara bertahap kami akan menambah cakupan dari program itu. Kami juga akan fokus membantu dan membina para pokdakan baru agar mereka lebih bersemangat menjalankan usaha,” janjinya.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/