alexametrics
20.8 C
Madura
Wednesday, August 17, 2022

Puluhan Siswa Belajar di Bawah Bahaya

SAMPANG – Proses belajar 88 siswa SDN Jelgung 2, Kecamatan Robatal, Sampang, dipastikan tidak kondusif. Mereka belajar di satu tempat, yakni perpustakaan. Kondisi bangunan yang rusak juga menghantui mereka jika sewaktu-waktu ambruk.

Mereka terdiri dari 35 siswa kelas 1, 26 siswa kelas 2, dan 27 siswa kelas 3. Kegiatan belajar mengajar (KBM) di perpustakaan itu dilakukan sejak tiga ruang kelas mereka ambruk pada Sabtu (3/2). Tiga kelas rusak parah setelah diguyur hujan deras disertai angin kencang.

Gedung yang ambruk adalah kelas 1, 2, dan 3. Ruangan kelas 1 dan 2 mengalami kerusakan paling parah. Kayu, genting, dan atap bangunan ambrol. Sementara ruangan kelas 3 sebagian yang runtuh. Namun bangunannya sudah retak.

Tidak hanya itu, perpustakaan yang ditempati siswa juga membahayakan. Plafon sudah mulai menganga dan sebagian sudah jebol serta gedung sudah ada yang retak. ”Untung seluruh siswa sudah pulang dan tidak ada korban. Warga tahu pas ada bunyi brak. Setelah itu, baru warga sekitar datang,” terang Plt Kepala SDN Jelgung 2, Kecamatan Robatal Sunarti, Rabu (7/2).

Baca Juga :  Tanggapan Bupati terhadap Maraknya Penambangan Pasir di Pantai

Perempuan yang juga kepala SDN Jelgung I itu mengungkapkan, sebelum ambruk kondisi bangunan kelas 3 memang sudah rusak parah. Karena itu, pihaknya meminta tidak ditempati kegiatan belajar mengajar. Sedangkan kondisi kelas 1 dan 2 terlihat bagus karena tertutup plafon.

”Saya yang memerintahkan Rabu (31/1). Yang ambruk terlebih dulu justru kelas 1 dan 2,” jelasnya. ”Kondisi kuda-kuda atap bangunan memang sudah keropos. Kalau kelas 1 dan 2 tidak kelihatan karena tertutup plafon,” imbuhnya.

Gedung sekolah diperbaiki terakhir menggunakan dana alokasi khusus (DAK) 2009. Perbaikannya hanya ringan. Pihaknya sudah melaporkan secara tertulis ke disdik Senin (5/2). ”Sambil lalu menunggu perbaikan dari dinas, siswa kami taruh di perpustakaan dulu. Keberadaannya memang berjubel duduk di bawah,” ungkap perempuan yang menjabat sebagai Plt Kasek sejak awal Februari itu.

Baca Juga :  Minta Pembangunan Pasar Bringkoning Ditunda

Kabid Perencanaan Disdik Sampang Rojiun mengatakan, sebelum kejadian pihaknya sudah meninjau bersama kepala UPT Pendidikan Robatal. Itu menindaklanjuti proposal untuk melihat kelayakannya. ”Tahun ini memang akan diperbaiki,” ujarnya.

Setelah kejadian, pihaknya melihat ke lokasi. Kondisi genting hanya 25 persen yang bisa dipakai. Kayu banyak yang hancur. ”Tahun ini rehab total. Kalau rehab ringan tidak boleh. Rehab perpustakaan tahun ini tidak ada. Kami upayakan tahun berikutnya,” janjinya.

SAMPANG – Proses belajar 88 siswa SDN Jelgung 2, Kecamatan Robatal, Sampang, dipastikan tidak kondusif. Mereka belajar di satu tempat, yakni perpustakaan. Kondisi bangunan yang rusak juga menghantui mereka jika sewaktu-waktu ambruk.

Mereka terdiri dari 35 siswa kelas 1, 26 siswa kelas 2, dan 27 siswa kelas 3. Kegiatan belajar mengajar (KBM) di perpustakaan itu dilakukan sejak tiga ruang kelas mereka ambruk pada Sabtu (3/2). Tiga kelas rusak parah setelah diguyur hujan deras disertai angin kencang.

Gedung yang ambruk adalah kelas 1, 2, dan 3. Ruangan kelas 1 dan 2 mengalami kerusakan paling parah. Kayu, genting, dan atap bangunan ambrol. Sementara ruangan kelas 3 sebagian yang runtuh. Namun bangunannya sudah retak.


Tidak hanya itu, perpustakaan yang ditempati siswa juga membahayakan. Plafon sudah mulai menganga dan sebagian sudah jebol serta gedung sudah ada yang retak. ”Untung seluruh siswa sudah pulang dan tidak ada korban. Warga tahu pas ada bunyi brak. Setelah itu, baru warga sekitar datang,” terang Plt Kepala SDN Jelgung 2, Kecamatan Robatal Sunarti, Rabu (7/2).

Baca Juga :  Banyak Lahan Tidak Tergarap

Perempuan yang juga kepala SDN Jelgung I itu mengungkapkan, sebelum ambruk kondisi bangunan kelas 3 memang sudah rusak parah. Karena itu, pihaknya meminta tidak ditempati kegiatan belajar mengajar. Sedangkan kondisi kelas 1 dan 2 terlihat bagus karena tertutup plafon.

”Saya yang memerintahkan Rabu (31/1). Yang ambruk terlebih dulu justru kelas 1 dan 2,” jelasnya. ”Kondisi kuda-kuda atap bangunan memang sudah keropos. Kalau kelas 1 dan 2 tidak kelihatan karena tertutup plafon,” imbuhnya.

Gedung sekolah diperbaiki terakhir menggunakan dana alokasi khusus (DAK) 2009. Perbaikannya hanya ringan. Pihaknya sudah melaporkan secara tertulis ke disdik Senin (5/2). ”Sambil lalu menunggu perbaikan dari dinas, siswa kami taruh di perpustakaan dulu. Keberadaannya memang berjubel duduk di bawah,” ungkap perempuan yang menjabat sebagai Plt Kasek sejak awal Februari itu.

Baca Juga :  Tanggapan Bupati terhadap Maraknya Penambangan Pasir di Pantai
- Advertisement -

Kabid Perencanaan Disdik Sampang Rojiun mengatakan, sebelum kejadian pihaknya sudah meninjau bersama kepala UPT Pendidikan Robatal. Itu menindaklanjuti proposal untuk melihat kelayakannya. ”Tahun ini memang akan diperbaiki,” ujarnya.

Setelah kejadian, pihaknya melihat ke lokasi. Kondisi genting hanya 25 persen yang bisa dipakai. Kayu banyak yang hancur. ”Tahun ini rehab total. Kalau rehab ringan tidak boleh. Rehab perpustakaan tahun ini tidak ada. Kami upayakan tahun berikutnya,” janjinya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/