alexametrics
28.5 C
Madura
Saturday, August 13, 2022

Ketika Petani Menganggap Penjualan Garam Kurang Menguntungkan

SAMPANG – Produksi garam di musim kemarau tahun ini melimpah. Namun, tidak semua kristal putih hasil produksi petani terjual. Petani memilih menimbun ratusan ton garam yang belum terjual.

Sinar matahari tidak begitu terik. Petani garam di Desa Aeng Sareh, Kecamatan/Kota Sampang, merasakan tanda-tanda bakal turun hujan Minggu (5/11). Karena itu, petani cepat-cepat memasukkan garam yang masih ditumpuk di tambak ke dalam karung.

Setelah terkemas dalam karung putih, garam diangkut ke gudang untuk ditimbun. Cara pekerja mengangkut garam dari tambak ke gudang masih cukup tradisional. Yaitu, garam diangkut memakai sepeda ontel. Tentu saja, sepeda ontel itu tidak dinaiki, melainkan didorong.

Munir, 45, warga Desa Aeng Sareh menuturkan, harga garam sejak dua pekan terakhir ini kurang berpihak kepada petani. Harga garam turun. Padahal petani masih menanggung biaya produksi dan ongkos angkut dari tambak ke tempat penimbunan.

Baca Juga :  Potensi Kota Bahari Besar

”Ongkos pekerja tetap mahal. Sementara harga garam sudah turun. Sebentar lagi memasuki musim penghujan sehingga kami tidak bisa memproduksi garam,” katanya.

Dia menyebutkan, harga garam kualitas satu (kw-1) saat ini Rp 1,5 juta per ton, kw-2  Rp 750 ribu per ton, dan kw-3 Rp 300 ribu per ton. Sementara harga garam kw-4 Rp 200 ribu per ton. Harga tersebut  terjadi dua pekan terakhir.

Munir mengaku resah dengan turunnya harga garam. Padahal garam yang dihasilkan petani sepanjang musim kemarau tahun ini sangat banyak. Kendati harga turun, sebagian petani tetap menjual garam untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Namun ada juga petani yang memilih menimbun garam di tempat penyimpanan. Petani berharap, harga garam bisa bagus kembali. ”Beberapa petani menimbun garam dan akan dijual jika harga naik,” ucapnya.

Baca Juga :  Harga Murah, Bantuan Produksi Buram

Kabid Perikanan Budi Daya Dinas Perikanan Sampang Moch. Machfud mengaku sudah berkoordinasi dengan pengusaha dan perwakilan pabrik garam. Tujuannya, agar perusahaan bisa menyerap garam rakyat dengan harga yang layak.

Dia juga mengklaim sudah melakukan sosialisasi dengan mendatangkan petani dan perusahaan. ”Keinginan kami, garam rakyat diserap sesuai ketentuan,” katanya.

SAMPANG – Produksi garam di musim kemarau tahun ini melimpah. Namun, tidak semua kristal putih hasil produksi petani terjual. Petani memilih menimbun ratusan ton garam yang belum terjual.

Sinar matahari tidak begitu terik. Petani garam di Desa Aeng Sareh, Kecamatan/Kota Sampang, merasakan tanda-tanda bakal turun hujan Minggu (5/11). Karena itu, petani cepat-cepat memasukkan garam yang masih ditumpuk di tambak ke dalam karung.

Setelah terkemas dalam karung putih, garam diangkut ke gudang untuk ditimbun. Cara pekerja mengangkut garam dari tambak ke gudang masih cukup tradisional. Yaitu, garam diangkut memakai sepeda ontel. Tentu saja, sepeda ontel itu tidak dinaiki, melainkan didorong.


Munir, 45, warga Desa Aeng Sareh menuturkan, harga garam sejak dua pekan terakhir ini kurang berpihak kepada petani. Harga garam turun. Padahal petani masih menanggung biaya produksi dan ongkos angkut dari tambak ke tempat penimbunan.

Baca Juga :  Seragam Gratis Hanya Sekolah Negeri  

”Ongkos pekerja tetap mahal. Sementara harga garam sudah turun. Sebentar lagi memasuki musim penghujan sehingga kami tidak bisa memproduksi garam,” katanya.

Dia menyebutkan, harga garam kualitas satu (kw-1) saat ini Rp 1,5 juta per ton, kw-2  Rp 750 ribu per ton, dan kw-3 Rp 300 ribu per ton. Sementara harga garam kw-4 Rp 200 ribu per ton. Harga tersebut  terjadi dua pekan terakhir.

Munir mengaku resah dengan turunnya harga garam. Padahal garam yang dihasilkan petani sepanjang musim kemarau tahun ini sangat banyak. Kendati harga turun, sebagian petani tetap menjual garam untuk memenuhi kebutuhan hidup.

- Advertisement -

Namun ada juga petani yang memilih menimbun garam di tempat penyimpanan. Petani berharap, harga garam bisa bagus kembali. ”Beberapa petani menimbun garam dan akan dijual jika harga naik,” ucapnya.

Baca Juga :  Potensi Kota Bahari Besar

Kabid Perikanan Budi Daya Dinas Perikanan Sampang Moch. Machfud mengaku sudah berkoordinasi dengan pengusaha dan perwakilan pabrik garam. Tujuannya, agar perusahaan bisa menyerap garam rakyat dengan harga yang layak.

Dia juga mengklaim sudah melakukan sosialisasi dengan mendatangkan petani dan perusahaan. ”Keinginan kami, garam rakyat diserap sesuai ketentuan,” katanya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/