alexametrics
22.8 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Sosialisasi Disangka Kampanye

MUJI SANTOSO terpaksa meladeni permintaan warga agar berfoto dengan pose simbol dua capres-cawapres sekaligus. Pasalnya, pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kecamatan Robatal, Sampang, itu ingin memastikan bahwa dirinya netral.

Kepada RadarMadura.id dia mengatakan, Kementerian Sosial (Kemensos) mewajibkan seluruh pendamping mendistribusikan kalender PKH sekaligus sosialisasi. Kelender tersebut terdapat gambar Presiden Joko Widodo dan gambar kegiatan PKH.

Saat dirinya mendistribusikan kalender tersebut, warga curiga, pendamping PKH tidak netral. Kecurigaan itu muncul karena di kalender ada gambar presiden yang juga capres 2019. Bahkan, dia mengaku disangka berkampanye untuk kepentingan pemilihan presiden.

Karena itu, ada warga di sekitar lokasi tempat pendistribusian mempertanyakan netralitas pendamping. Jika memang netral, dia diminta untuk foto bersama dengan gaya simbol paslon nomor urut 02. ”Kami tertekan saat itu karena di KPM dampingan saya basisnya paslon nomor urut 02. Kami disangkanya berkampanye. Padahal, saya murni menyosialisasikan PKH saat itu,” katanya.

Baca Juga :  Dukung Peningkatan Kesejateraan Masyarakat

Muji sudah menjelaskan bahwa pihaknya tidak cawe-cawe dalam pertarungan pilpres. Dia hanya melaksanakan tugas sebagai pendamping PKH. Namun, penjelasan itu tidak cukup untuk membuat warga percaya.

”Terus terang, simbol kedua capres kami lakukan semua dalam pose foto itu. Tidak lain hanya ingin meyakinkan warga di sekitar lokasi bahwa kami netral dan bukan dalam rangka berkampanye,” ungkapnya.

Foto tersebut kemudian ada yang mengunggah dan menyebar ke grup-grup media sosial. Padahal, foto dengan gaya tersebut bukan dalam rangka kampanye. Melainkan, hanya untuk meredam supaya tidak ada konflik sosial. ”Saya hanya melaksanakan tugas sebagai pendamping PKH,” pungkasnya.

- Advertisement -

MUJI SANTOSO terpaksa meladeni permintaan warga agar berfoto dengan pose simbol dua capres-cawapres sekaligus. Pasalnya, pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kecamatan Robatal, Sampang, itu ingin memastikan bahwa dirinya netral.

Kepada RadarMadura.id dia mengatakan, Kementerian Sosial (Kemensos) mewajibkan seluruh pendamping mendistribusikan kalender PKH sekaligus sosialisasi. Kelender tersebut terdapat gambar Presiden Joko Widodo dan gambar kegiatan PKH.

Saat dirinya mendistribusikan kalender tersebut, warga curiga, pendamping PKH tidak netral. Kecurigaan itu muncul karena di kalender ada gambar presiden yang juga capres 2019. Bahkan, dia mengaku disangka berkampanye untuk kepentingan pemilihan presiden.


Karena itu, ada warga di sekitar lokasi tempat pendistribusian mempertanyakan netralitas pendamping. Jika memang netral, dia diminta untuk foto bersama dengan gaya simbol paslon nomor urut 02. ”Kami tertekan saat itu karena di KPM dampingan saya basisnya paslon nomor urut 02. Kami disangkanya berkampanye. Padahal, saya murni menyosialisasikan PKH saat itu,” katanya.

Baca Juga :  Langgar Prokes, Polisi Bubarkan Lomba Kelereng

Muji sudah menjelaskan bahwa pihaknya tidak cawe-cawe dalam pertarungan pilpres. Dia hanya melaksanakan tugas sebagai pendamping PKH. Namun, penjelasan itu tidak cukup untuk membuat warga percaya.

”Terus terang, simbol kedua capres kami lakukan semua dalam pose foto itu. Tidak lain hanya ingin meyakinkan warga di sekitar lokasi bahwa kami netral dan bukan dalam rangka berkampanye,” ungkapnya.

Foto tersebut kemudian ada yang mengunggah dan menyebar ke grup-grup media sosial. Padahal, foto dengan gaya tersebut bukan dalam rangka kampanye. Melainkan, hanya untuk meredam supaya tidak ada konflik sosial. ”Saya hanya melaksanakan tugas sebagai pendamping PKH,” pungkasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/