alexametrics
20.7 C
Madura
Tuesday, July 5, 2022

Warga Empat Desa di Sampang Tak Nikmati Rastra

SAMPANG – Tahun ini ada 119.512  keluarga penerima manfaat (KPM) yang mendapat jatah beras untuk keluarga sejahtera (rastra) di Sampang. Totalnya, ada 21.512.160 kilogram beras yang mengjadi hak mereka. Sayangnya, warga empat desa di Kota Bahari belum bisa menikmati rastra sejak Januari hingga Oktober.

Jatah rastra untuk empat desa selama Januari–Oktober mencapai 1.351 ton. Namun, hingga kini, jatah tersebut belum ditebus oleh pemerintah desa setempat. Akibatnya, beras tersebut masih ngendap di Gudang Bulog Sampang (Perinciannya lihat grafis).

Kabid Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Sampang Syamsul Hidayat mengklaim sudah melakukan beberapa upaya agar pemerintah desa (pemdes) rutin menebus jatah rastra. Salah satunya,  gencar bersosialisasi kepada kepala desa (Kades). Sebab, masih banyak rastra yang tersimpan di gudang bulog.

 ”Seharusnya, gudang bulog itu menjemput bola jangan menunggu bola. Apalagi masing-masing kecamatan sudah ada koordinatornya,”  desaknya.

Baca Juga :  Empat Tahun Tujuh Sekolah Ambruk

Menurut Dayat –sapaan akrab Syamsul Hidayat–, ada bebarapa faktor yang mengakibatkan penebusan rastra cenderung terlambat. Bahkan tidak ditebus sampai akhir tahun. Salah satunya, penebusan rastra dengan sistem cash and carry langsung di gudang bulog.

”Mungkin biaya untuk menebusnya belum ada. karena sekarang kan ada uang ada beras,” katanya.

 Selain itu, ada sejumlah Kades yang tidak menebus rastra karena dilematis. Alasannya, masyarakat minta beras dibagi rata. Sedangkan jumlahnya terbatas, khawatir masyarakat penerima manfaat menuntut.

”Kami sudah berkoordinasi dengan kecamatan setempat agar ikut membantu dan memberikan solusi yang baik kepada Kades. Supaya raskin segera ditebus dan direalisasikan kepada warga miskin,” terangnya.

Jika ribuan ton rastra tidak ditebus hingga akhir Desember, pihaknya menyarankan pemdes membuat surat pernyataan kepada dinsos. ”Kalau tetap tidak ditebus sampai akhir tahun, maka raskin akan hangus dan dikembalikan ke negara. Tapi, biasanya raskin tetap ditebus semua,” ujarnya. 

Baca Juga :  Mega Proyek Sodetan Upaya Hentikan Banjir Sampang

Di tempat terpisah, Kepala Gudang Bulog Sampang Ainul Fatah memilih irit bicara. Pihaknya mengaku sudah meminta korlap menghubungi Kades setempat dan diimbau segera menebus rastra. ”Kami harap semua raskin bisa ditebus sebelum akhir tahun,” ucapnya.

Anggota Komisi IV DPRD Sampang Maniri meminta instansi terkait mendesak kepala desa supaya menebus rastra. Itu jatah dan hak rakyat miskin di tiap desa. Pihaknya juga meminta bulog mengevaluasi kualitas rastra. Sebab, masih kerap ditemui  raskin tidak layak konsumsi, tapi didistribusikan ke rakyat.

”Sistem cash and carry jangan dijadikan alasan tidak menebus raskin. Beras itu sangat dibutuhkan masyarakat. Apalagi, saat ini harga beras di pasaran mahal,” pungkasnya.

 

SAMPANG – Tahun ini ada 119.512  keluarga penerima manfaat (KPM) yang mendapat jatah beras untuk keluarga sejahtera (rastra) di Sampang. Totalnya, ada 21.512.160 kilogram beras yang mengjadi hak mereka. Sayangnya, warga empat desa di Kota Bahari belum bisa menikmati rastra sejak Januari hingga Oktober.

Jatah rastra untuk empat desa selama Januari–Oktober mencapai 1.351 ton. Namun, hingga kini, jatah tersebut belum ditebus oleh pemerintah desa setempat. Akibatnya, beras tersebut masih ngendap di Gudang Bulog Sampang (Perinciannya lihat grafis).

Kabid Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Sampang Syamsul Hidayat mengklaim sudah melakukan beberapa upaya agar pemerintah desa (pemdes) rutin menebus jatah rastra. Salah satunya,  gencar bersosialisasi kepada kepala desa (Kades). Sebab, masih banyak rastra yang tersimpan di gudang bulog.


 ”Seharusnya, gudang bulog itu menjemput bola jangan menunggu bola. Apalagi masing-masing kecamatan sudah ada koordinatornya,”  desaknya.

Baca Juga :  Realisasi BPNT Butuh 186 E-Warung

Menurut Dayat –sapaan akrab Syamsul Hidayat–, ada bebarapa faktor yang mengakibatkan penebusan rastra cenderung terlambat. Bahkan tidak ditebus sampai akhir tahun. Salah satunya, penebusan rastra dengan sistem cash and carry langsung di gudang bulog.

”Mungkin biaya untuk menebusnya belum ada. karena sekarang kan ada uang ada beras,” katanya.

 Selain itu, ada sejumlah Kades yang tidak menebus rastra karena dilematis. Alasannya, masyarakat minta beras dibagi rata. Sedangkan jumlahnya terbatas, khawatir masyarakat penerima manfaat menuntut.

”Kami sudah berkoordinasi dengan kecamatan setempat agar ikut membantu dan memberikan solusi yang baik kepada Kades. Supaya raskin segera ditebus dan direalisasikan kepada warga miskin,” terangnya.

Jika ribuan ton rastra tidak ditebus hingga akhir Desember, pihaknya menyarankan pemdes membuat surat pernyataan kepada dinsos. ”Kalau tetap tidak ditebus sampai akhir tahun, maka raskin akan hangus dan dikembalikan ke negara. Tapi, biasanya raskin tetap ditebus semua,” ujarnya. 

Baca Juga :  Miftahur Rozaq, Kiai yang Lebih Dikenal sebagai Komisioner KPU (1)

Di tempat terpisah, Kepala Gudang Bulog Sampang Ainul Fatah memilih irit bicara. Pihaknya mengaku sudah meminta korlap menghubungi Kades setempat dan diimbau segera menebus rastra. ”Kami harap semua raskin bisa ditebus sebelum akhir tahun,” ucapnya.

Anggota Komisi IV DPRD Sampang Maniri meminta instansi terkait mendesak kepala desa supaya menebus rastra. Itu jatah dan hak rakyat miskin di tiap desa. Pihaknya juga meminta bulog mengevaluasi kualitas rastra. Sebab, masih kerap ditemui  raskin tidak layak konsumsi, tapi didistribusikan ke rakyat.

”Sistem cash and carry jangan dijadikan alasan tidak menebus raskin. Beras itu sangat dibutuhkan masyarakat. Apalagi, saat ini harga beras di pasaran mahal,” pungkasnya.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/