alexametrics
21 C
Madura
Wednesday, May 18, 2022

Terpidana Korupsi Dana Desa Meninggal

SAMPANG – Mantan Kasi Pemberdayaan Manusia (PMD) Kecamatan Kedungdung, Sampang, Kun Hidayat meninggal kemarin (5/9). Terpidana kasus korupsi dana desa (DD) itu mengembuskan napas terakhir di dalam Rutan Kelas II-B Sampang sekitar pukul 08.00. Berdasar diagnosis dokter, Kun Hidayat kena serangan jantung.

Kronologinya, Kun Hidayat bersama enam narapidana (napi) lainnya melakukan bersih-bersih di sekitar halaman kamar tahanan. ”Masing-masing penghuni kamar mendapatkan jadwal bersih-bersih. Kebetulan tadi (kemarin pagi, Red) jadwalnya kamar nomor tiga. Yaitu, kamar yang ditempati Pak Kun Hidayat,” kata Plh Rutan Kelas II-B Sampang Abdus Subir.

Setelah bersih-bersih, sekitar pukul 07.00, dia main tenis meja. Usai berolahraga, Kun Hidayat berjemur selama beberapa menit di emperan kamar tahanan. Menurut Subir, Kun Hidayat memang terbiasa berjemur pada pagi hari. Saat berjemur itulah, Kun Hidayat tidak sadar diri.

Mengetahui Kun Hidayat pingsan, warga binaan rutan lainnya memanggil petugas. Seketika itu, petugas datang dan langsung membawa Kun Hidayat ke RSUD Sampang untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, takdir berkata lain. Nyawa Kun Hidayat tidak tertolong. Dia mengembuskan napas terakhir.

Baca Juga :  Anggarkan Rp 7 M untuk Biaya Listrik PJU

Saat hendak dibawa ke RSUD, keluarga Kun Hidayat diberi tahu supaya menyusul. Berdasar hasil diagnosis dokter, kata Subir, Kun Hidayat meninggal akrena penyakit yang dideritanya.

”Yang bersangkutan (Kun Hidayat, Red) memang memiliki riwayat penyakit jantung. Ketika ditahan di mapolda, yang bersangkutan pernah masuk rumah sakit karena penyakitnya,” papar Subir mewakili Kelas II-B Sampang Gatot Tri Rahardjo.

Subir menjelaskan, Kun Hidayat merupakan tahanan Pengadilan Tipikor Surabaya. Kun Hidayat memang sudah diputus bersalah karena terlibat korupsi DD. Namun, dia masih diberi kesempatan apakah banding atau menerima putusan majelis hakim pengadilan tipikor.

”Dia (Kun Hidayat) menjalani hukuman di rutan sekitar delapan bulan,” ujar Subir. ”Setelah dari RSUD, jenazah dia diserahkan ke jaksa. Dari jaksa dibawa ke rumah keluarganya pukul 08.27,” pungkas Subir.

Baca Juga :  Penanganan PDP Lambat, Dokter RSUD Ditegur

Humas RSUD Sampang Yuliono membenarkan bahwa Kun Hidayat meninggal. Yang bersangkutan memang mengidap penyakit jantung. ”Dibawa ke sini (RSUD, Red) sudah meninggal. Statusnya death on arrival (DOA),” ucapnya singkat.

Kasipidsus Kejari Sampang Yudie Arieanto Tri Santosa mengatakan, Kun Hidayat merupakan terpidana perkara korupsi dana desa (DD). ”Karena sudah meninggal, kami antarkan ke keluarganya. Perkaranya tidak lanjut lagi karena sudah meninggal,” ucapnya.

Untuk diketahui, Kun Hidayat menjalani hukuman sejak Jumat (3/3). Dia divonis satu tahun delapan bulan penjara dan denda Rp 600 juta. Dia dinyatakan melanggar pasal 2 Ayat 1 UU 3/1999 tentang Tindak Pidana Korupsi.

Rekan Kun Hidayat, yakni mantan Camat Kedungdung Ahmad Junaidi, juga dijatuhi vonis satu tahun delapan bulan penjara dan denda Rp 1,5 miliar oleh hakim di Pengadilan Tipikor Surabaya Jumat (11/8).

SAMPANG – Mantan Kasi Pemberdayaan Manusia (PMD) Kecamatan Kedungdung, Sampang, Kun Hidayat meninggal kemarin (5/9). Terpidana kasus korupsi dana desa (DD) itu mengembuskan napas terakhir di dalam Rutan Kelas II-B Sampang sekitar pukul 08.00. Berdasar diagnosis dokter, Kun Hidayat kena serangan jantung.

Kronologinya, Kun Hidayat bersama enam narapidana (napi) lainnya melakukan bersih-bersih di sekitar halaman kamar tahanan. ”Masing-masing penghuni kamar mendapatkan jadwal bersih-bersih. Kebetulan tadi (kemarin pagi, Red) jadwalnya kamar nomor tiga. Yaitu, kamar yang ditempati Pak Kun Hidayat,” kata Plh Rutan Kelas II-B Sampang Abdus Subir.

Setelah bersih-bersih, sekitar pukul 07.00, dia main tenis meja. Usai berolahraga, Kun Hidayat berjemur selama beberapa menit di emperan kamar tahanan. Menurut Subir, Kun Hidayat memang terbiasa berjemur pada pagi hari. Saat berjemur itulah, Kun Hidayat tidak sadar diri.

Mengetahui Kun Hidayat pingsan, warga binaan rutan lainnya memanggil petugas. Seketika itu, petugas datang dan langsung membawa Kun Hidayat ke RSUD Sampang untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, takdir berkata lain. Nyawa Kun Hidayat tidak tertolong. Dia mengembuskan napas terakhir.

Baca Juga :  Camat Camplong Tolak Pengajuan Dana Desa

Saat hendak dibawa ke RSUD, keluarga Kun Hidayat diberi tahu supaya menyusul. Berdasar hasil diagnosis dokter, kata Subir, Kun Hidayat meninggal akrena penyakit yang dideritanya.

”Yang bersangkutan (Kun Hidayat, Red) memang memiliki riwayat penyakit jantung. Ketika ditahan di mapolda, yang bersangkutan pernah masuk rumah sakit karena penyakitnya,” papar Subir mewakili Kelas II-B Sampang Gatot Tri Rahardjo.

Subir menjelaskan, Kun Hidayat merupakan tahanan Pengadilan Tipikor Surabaya. Kun Hidayat memang sudah diputus bersalah karena terlibat korupsi DD. Namun, dia masih diberi kesempatan apakah banding atau menerima putusan majelis hakim pengadilan tipikor.

”Dia (Kun Hidayat) menjalani hukuman di rutan sekitar delapan bulan,” ujar Subir. ”Setelah dari RSUD, jenazah dia diserahkan ke jaksa. Dari jaksa dibawa ke rumah keluarganya pukul 08.27,” pungkas Subir.

Baca Juga :  Gelar Kota Layak Anak, Tahun Lalu Gagal, Februari Mulai Lagi

Humas RSUD Sampang Yuliono membenarkan bahwa Kun Hidayat meninggal. Yang bersangkutan memang mengidap penyakit jantung. ”Dibawa ke sini (RSUD, Red) sudah meninggal. Statusnya death on arrival (DOA),” ucapnya singkat.

Kasipidsus Kejari Sampang Yudie Arieanto Tri Santosa mengatakan, Kun Hidayat merupakan terpidana perkara korupsi dana desa (DD). ”Karena sudah meninggal, kami antarkan ke keluarganya. Perkaranya tidak lanjut lagi karena sudah meninggal,” ucapnya.

Untuk diketahui, Kun Hidayat menjalani hukuman sejak Jumat (3/3). Dia divonis satu tahun delapan bulan penjara dan denda Rp 600 juta. Dia dinyatakan melanggar pasal 2 Ayat 1 UU 3/1999 tentang Tindak Pidana Korupsi.

Rekan Kun Hidayat, yakni mantan Camat Kedungdung Ahmad Junaidi, juga dijatuhi vonis satu tahun delapan bulan penjara dan denda Rp 1,5 miliar oleh hakim di Pengadilan Tipikor Surabaya Jumat (11/8).

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/