alexametrics
24.4 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Kena Imbas, Enam Biduan Didenda Rp 6 Juta

SAMPANG, Jawa Pos Radar Madura – Orkes dangdut yang digelar di Dusun Lembeng, Desa Banjar Tabulu, Kecamatan Camplong, Sampang, Senin malam (2/8) berurusan dengan hukum. Kegiatan tersebut dianggap melanggar protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19. Enam biduan yang tampil pun disanksi.

Pergelaran orkes tersebut ditindak oleh Tim Gugus Tugas Covid-19 Sampang. Bukan hanya penyelenggara kegiatan, musisi dan biduan serta penonton kena imbasnya. Mereka menjalani sidang di pengadilan negeri (PN) secara maraton kemarin (3/8).

Sidang pertama dijalani oleh penyelenggara dengan terdakwa tiga orang. Penyelenggara dijatuhi sanksi denda paling banyak Rp 8 Juta. Sidang kedua, Pemimpin Orkes Dangdut New Ardila asal Kabupaten Bangkalan Suyadi harus membayar denda Rp 4 juta.

Sidang ketiga diikuti empat penonton yang dinilai tidak mematuhi prokes saat di lokasi. Masing-masing dikenakan sanksi denda Rp 250 ribu. Sidang keempat kepada enam biduan yang beryanyi. Mereka didenda Rp 6 juta, tiap biduan Rp 1 juta. Sanksi denda serupa juga diberikan kepada delaan musisi.

Baca Juga :  Dishub Tak Anggarkan Pemeliharaan Halte

  Suyadi mengaku diundang penyelenggara Moch. Soleh empat bulan sebelum kegiatan digelar. Saat itu, tuan rumah membayar DP Rp 5 juta. Sisanya dibayar setelah kegiatan selesai.

Pihaknya baru pertama menjalani sidang pelanggaran prokes. Pria asal Kecamatan Arosbaya itu mengakui kesalahannya serta akan membayar sanksi denda yang dijatuhkan hakim PN Sampang. ”Ya, saya menerima,” ujarnya.

Pihaknya berani memenuhi undangan penyelenggara karena tuan rumah memastikan bahwa kegiatan tersebut tidak akan bermasalah. Bahkan, seminggu sebelum acara digelar, dia meneghubungi penyelenggara untuk memastikan kegiatan dilanjut atau tidak. Tapi, kenyataannya tidak seperti yang dibayangkan.

Dia memulai orkes dangdut pukul 24.00 hingga lewat pukul 02.00. Saat artis terakhir melantunkan lagu, petugas datang menghentikan kegiatan. ”Petugas yang ke lokasi kegiatan hampir selesai, tapi posisi lampu masih nyala,” ungkapnya.

Kendati begitu, pria kelahiran 2 Agustus 1979 itu beterima kasih kepada pemerintah. Kejadian tersebut akan menjadi pelajaran. Suyadi juga meminta pelaku seni hiburan berhati-hati saat menghadiri undangan di tengah pandemi Covid-19.

Baca Juga :  Djawahir Siapkan Visi Misi untuk Sampang

”Pemerintah juga harus adil. Jangan hanya kita yang ditindak. Ketika yang lain melanggar juga harus diberlakukan hal yang sama,” pintanya.

Dari enam biduan yang hadir dalam persidangan, satu di antaranya masih di bawah umur. Yakni, AG (inisial), 16. Perempuan kelahiran 21 Juni 2005 itu menjalani sidang seorang diri.

Saat persidangan, salah seorang biduan Winda mengakui bahwa dirinya tidak menggunakan masker saat bernyanyi. Namun, ketika istirahat memakai masker. Meski begitu, hakim tetap menjatuhkan sanksi kepadanya dan biduan lain.

Di hadapan hakim, biduan asal Pamekasan itu keberatan dengan sanksi denda yang dijatuhkan kepada dirinya dan teman-temannya. Winda merasa sanksi itu tidak adil karena dirinya hadir ke lokasi sebagai undangan. ”Kami kan tidak tahu apa-apa. Tak kira sudah ada izin, ternyata ada polisi,” ungkapnya saat memberikan keterangan. (bil)

 

- Advertisement -

SAMPANG, Jawa Pos Radar Madura – Orkes dangdut yang digelar di Dusun Lembeng, Desa Banjar Tabulu, Kecamatan Camplong, Sampang, Senin malam (2/8) berurusan dengan hukum. Kegiatan tersebut dianggap melanggar protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19. Enam biduan yang tampil pun disanksi.

Pergelaran orkes tersebut ditindak oleh Tim Gugus Tugas Covid-19 Sampang. Bukan hanya penyelenggara kegiatan, musisi dan biduan serta penonton kena imbasnya. Mereka menjalani sidang di pengadilan negeri (PN) secara maraton kemarin (3/8).

Sidang pertama dijalani oleh penyelenggara dengan terdakwa tiga orang. Penyelenggara dijatuhi sanksi denda paling banyak Rp 8 Juta. Sidang kedua, Pemimpin Orkes Dangdut New Ardila asal Kabupaten Bangkalan Suyadi harus membayar denda Rp 4 juta.


Sidang ketiga diikuti empat penonton yang dinilai tidak mematuhi prokes saat di lokasi. Masing-masing dikenakan sanksi denda Rp 250 ribu. Sidang keempat kepada enam biduan yang beryanyi. Mereka didenda Rp 6 juta, tiap biduan Rp 1 juta. Sanksi denda serupa juga diberikan kepada delaan musisi.

Baca Juga :  Rp 300 Juta untuk Pengembangan RTH

  Suyadi mengaku diundang penyelenggara Moch. Soleh empat bulan sebelum kegiatan digelar. Saat itu, tuan rumah membayar DP Rp 5 juta. Sisanya dibayar setelah kegiatan selesai.

Pihaknya baru pertama menjalani sidang pelanggaran prokes. Pria asal Kecamatan Arosbaya itu mengakui kesalahannya serta akan membayar sanksi denda yang dijatuhkan hakim PN Sampang. ”Ya, saya menerima,” ujarnya.

Pihaknya berani memenuhi undangan penyelenggara karena tuan rumah memastikan bahwa kegiatan tersebut tidak akan bermasalah. Bahkan, seminggu sebelum acara digelar, dia meneghubungi penyelenggara untuk memastikan kegiatan dilanjut atau tidak. Tapi, kenyataannya tidak seperti yang dibayangkan.

Dia memulai orkes dangdut pukul 24.00 hingga lewat pukul 02.00. Saat artis terakhir melantunkan lagu, petugas datang menghentikan kegiatan. ”Petugas yang ke lokasi kegiatan hampir selesai, tapi posisi lampu masih nyala,” ungkapnya.

Kendati begitu, pria kelahiran 2 Agustus 1979 itu beterima kasih kepada pemerintah. Kejadian tersebut akan menjadi pelajaran. Suyadi juga meminta pelaku seni hiburan berhati-hati saat menghadiri undangan di tengah pandemi Covid-19.

Baca Juga :  Sewa Lahan Garam Dipatok Rp 6 Juta

”Pemerintah juga harus adil. Jangan hanya kita yang ditindak. Ketika yang lain melanggar juga harus diberlakukan hal yang sama,” pintanya.

Dari enam biduan yang hadir dalam persidangan, satu di antaranya masih di bawah umur. Yakni, AG (inisial), 16. Perempuan kelahiran 21 Juni 2005 itu menjalani sidang seorang diri.

Saat persidangan, salah seorang biduan Winda mengakui bahwa dirinya tidak menggunakan masker saat bernyanyi. Namun, ketika istirahat memakai masker. Meski begitu, hakim tetap menjatuhkan sanksi kepadanya dan biduan lain.

Di hadapan hakim, biduan asal Pamekasan itu keberatan dengan sanksi denda yang dijatuhkan kepada dirinya dan teman-temannya. Winda merasa sanksi itu tidak adil karena dirinya hadir ke lokasi sebagai undangan. ”Kami kan tidak tahu apa-apa. Tak kira sudah ada izin, ternyata ada polisi,” ungkapnya saat memberikan keterangan. (bil)

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/