alexametrics
21.7 C
Madura
Tuesday, May 17, 2022

Pembangunan Pasar Apung Hanya Wacana

SAMPANG – Rencana Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagprin) Sampang mengubah pasar tradisional Tanjung menjadi pasar apung mendapat respons dari wakil rakyat. Rencana pasar apung di Desa Dharma Tanjung, Kecamatan Camplong diharapkan segera diproses.

Alasannya, pemanfaatan pasar tradisional Tanjung dinilai tidak maksimal. Banyak kios dan stan di pasar tersebut tidak ditempati sehingga retribusi pasar minim. Maka dari itu, rencana pasar apung diharapkan segera diproses agar dapat memberikan manfaat kepada pemkab maupun masyarakat.

Anggota Komisi II DPRD Sampang Syamsudin mengatakan, Pasar Tanjung masih bagus. Hanya, pedagang memasarkan dagangannya di pinggir jalan raya. Banyak kios tidak terpakai. Rata-rata pedagang merupakan pedagang ikan. ”Rencana pembangunan pasar apung kami setuju. Makanya perlu segera diproses,” katanya.

Baca Juga :  Peringati Hari Pers Nasional, Bupati Sampang Ziarah ke Makam Jurnalis

Politikus Hanura asal Kecamatan Camplong itu menambahkan, program pasar apung memang masih sebatas wacana. Maka dari itu, rencana hendaknya untuk ditindaklanjuti serta dipercepat realisasi rencana pembangunan pasar apung.

Manfaat pasar apung, lanjut dia, selain mengurangi kemacetan lalu lintas, juga mempermudah transaksi jual beli. ”Program pasar apung banyak manfaatnya,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Kepala Disperdagprin Sampang Wahyu Prihartono menyampaikan, program pembangunan pasar apung merupakan usulan dari mantan bupati Sampang Fadhilah Budiono. Tujuannya, menampung semua pedagang yang berjualan di pinggir jalan raya.

Wahyu menegaskan, sampai saat ini program tersebut belum pernah dibahas, apalagi dianggarkan. Berdasar rapat dengan Badan Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Sampang, program pengembangan masih fokus di pasar yang sudah lama rusak dan butuh renovasi.

Baca Juga :  2 Hari, 21 Pejabat Asal Sampang Ikut Uji Kompetensi di BKD Jawa Timur

”Tidak mudah membangun pasar apung. Butuh dana besar. Selain itu, perlu studi banding dengan sistem pengelolaan serta penataan pedagangnya,” jelasnya. ”Di samping itu kami harus mendapatkan izin dari pemerintah provinsi dalam pembangunan reklamasi,” imbuhnya.

Wahyu menyatakan, program pengembangan pasar tradisional tahun ini dilakukan di Pasar Torjun dan Pasar Krampon. Total anggaran Rp 2,2 miliar. Perinciannya, Pasar Krampon dianggarkan Rp 395 juta dan Pasar Torjun Rp 1,9 miliar. ”Pembangunan pasar di pantura diundur karena masih menunggu bantuan dana dari pemerintah pusat,” ujarnya. 

SAMPANG – Rencana Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagprin) Sampang mengubah pasar tradisional Tanjung menjadi pasar apung mendapat respons dari wakil rakyat. Rencana pasar apung di Desa Dharma Tanjung, Kecamatan Camplong diharapkan segera diproses.

Alasannya, pemanfaatan pasar tradisional Tanjung dinilai tidak maksimal. Banyak kios dan stan di pasar tersebut tidak ditempati sehingga retribusi pasar minim. Maka dari itu, rencana pasar apung diharapkan segera diproses agar dapat memberikan manfaat kepada pemkab maupun masyarakat.

Anggota Komisi II DPRD Sampang Syamsudin mengatakan, Pasar Tanjung masih bagus. Hanya, pedagang memasarkan dagangannya di pinggir jalan raya. Banyak kios tidak terpakai. Rata-rata pedagang merupakan pedagang ikan. ”Rencana pembangunan pasar apung kami setuju. Makanya perlu segera diproses,” katanya.

Baca Juga :  2 Hari, 21 Pejabat Asal Sampang Ikut Uji Kompetensi di BKD Jawa Timur

Politikus Hanura asal Kecamatan Camplong itu menambahkan, program pasar apung memang masih sebatas wacana. Maka dari itu, rencana hendaknya untuk ditindaklanjuti serta dipercepat realisasi rencana pembangunan pasar apung.

Manfaat pasar apung, lanjut dia, selain mengurangi kemacetan lalu lintas, juga mempermudah transaksi jual beli. ”Program pasar apung banyak manfaatnya,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Kepala Disperdagprin Sampang Wahyu Prihartono menyampaikan, program pembangunan pasar apung merupakan usulan dari mantan bupati Sampang Fadhilah Budiono. Tujuannya, menampung semua pedagang yang berjualan di pinggir jalan raya.

Wahyu menegaskan, sampai saat ini program tersebut belum pernah dibahas, apalagi dianggarkan. Berdasar rapat dengan Badan Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Sampang, program pengembangan masih fokus di pasar yang sudah lama rusak dan butuh renovasi.

Baca Juga :  Bupati-Wabup Komitmen Tuntaskan Pembangunan Infrastruktur

”Tidak mudah membangun pasar apung. Butuh dana besar. Selain itu, perlu studi banding dengan sistem pengelolaan serta penataan pedagangnya,” jelasnya. ”Di samping itu kami harus mendapatkan izin dari pemerintah provinsi dalam pembangunan reklamasi,” imbuhnya.

Wahyu menyatakan, program pengembangan pasar tradisional tahun ini dilakukan di Pasar Torjun dan Pasar Krampon. Total anggaran Rp 2,2 miliar. Perinciannya, Pasar Krampon dianggarkan Rp 395 juta dan Pasar Torjun Rp 1,9 miliar. ”Pembangunan pasar di pantura diundur karena masih menunggu bantuan dana dari pemerintah pusat,” ujarnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/