alexametrics
21.2 C
Madura
Sunday, June 26, 2022

Dewan Pendidikan Tuding Disdik Tebang Pilih

SAMPANG, Jawa Pos Radar Madura – Kerusakan gedung SDN Majangan 1 memantik perhatian Dewan Pendidikan Sampang. Sebab, kondisi sekolah di Kecamatan Jrengik itu sudah rusak bertahun-tahun. Dewan pendidikan menuding dinas pendidikan (disdik) tebang pilih.

Penilaian itu dilontarkan Anggota Bidang Sarana dan Prasarana (Sarpras) Dewan Pendidikan Sampang Moh. Salim kemarin (2/3). Dia menyayangkan kinerja disdik yang kurang selektif melakukan pembangunan pendidikan. Sebab, bangunan SDN Majangan 1 membahayakan peserta didik. Akan tetapi, sampai saat ini belum ada perbaikan. ”Sebaiknya dinas pendidikan cek lokasi langsung untuk memastikan kondisi gedung,” katanya.

Salim menambahkan, berdasar pemantauan tim, masih banyak sekolah rusak tanpa perhatian dinas terkait. Karena itu, dirinya menyimpulkan bahwa selama ini dinas pendidikan tidak mengecek ke lapangan. ”Masih banyak sekolah seperti kondisi SDN Majangan 1 ini,” lanjutnya.

Salim juga menuturkan, Disdik Sampang seakan tebang pilih dalam membangun sarpras pendidikan. Sebab, banyak kondisi sekolah yang masih layak ditempati justru mendapat anggaran perbaikan, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Baca Juga :  Disdik Belum Punya Data Siswa Tak Naik Kelas

Sebagai mitra disdik, pihaknya kerap mengusulkan perbaikan terhadap sekolah-sekolah yang tidak layak dijadikan tempat belajar mengajar. Namun, usulan itu diabaikan dengan dalih aturan dan alasan lain. ”Lagi-lagi, kami dibenturkan pada bahasa kebijakan,” ucap Salim.

Dia berharap Disdik Sampang segera mengambil langkah konkret. Sebab, jika tetap dibiarkan dengan kondisi yang seperti itu, akan membahayakan peserta didik. ”Dinas pendidikan harus hadir untuk memastikan proses KBM di sekolah berjalan dengan aman dan nyaman bagi siswa dan guru,” harap Salim.

Kabid Sarpras Disdik Sampang Suraji menegaskan, SDN Majangan 1 sudah diusulkan untuk mendapat perbaikan. Jika usulan tersebut disetujui oleh pemerintah pusat, proses pembangunan baru bisa dilaksanakan pada 2022. ”Yang jelas tidak bisa diperbaiki tahun ini,” katanya.

Suraji memastikan, sekolah yang diusulkan mendapat perbaikan tersebut otomatis dicek ke lapangan. Hal itu dilakukan untuk meninjau perkembangan kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut. ”Akan kami cek ke lokasi, tapi secara bergantian. Paling besok atau lusa,” janjinya.

Baca Juga :  Kejari Sampang Bakal Usut Laporan Dugaan Pungli Prona Desa Tapaan

Sekolah di Desa Majangan tersebut memiliki delapan ruangan. Yakni, enam ruang belajar, satu ruang guru, dan satu perpustakaan. Akan tetapi, yang bisa difungsikan hanya empat ruangan. Sebab, sejumlah bangunan retak dan atap hampir ambruk.

Ruangan yang bisa ditempati satu ruang guru dan tiga ruang kelas. Tiga kelas tersebut disulap menjadi enam ruangan. Dengan disekat lemari di bagian tengah. Tujuannya, peserta didik kelas I–VI tetap bisa mengikuti KBM.

Kepala SDN Majangan 1 Joko Ismoyo memimpin sekolah tersebut sejak 2016. Kondisi sekolah memang memprihatinkan. Bangunan banyak retak dan atap berjatuhan. Lama-kelamaan, ruangan itu semakin membahayakan peserta didik.

Karena itu, pada 2017 pihak sekolah memutuskan tidak menggunakan empat ruangan. Yakni, tiga ruang kelas dan satu ruang perpustakaan. Menurut Joko, 75 siswa harus mendapat pelajaran sebagaimana mestinya walaupun kondisi kelas terbatas.

Joko mengaku berkali-kali mengajukan perbaikan. Akan tetapi, upaya itu tidak membuahkan hasil. Proposal yang diajukannya tidak mendapat respons dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. (iqb)

SAMPANG, Jawa Pos Radar Madura – Kerusakan gedung SDN Majangan 1 memantik perhatian Dewan Pendidikan Sampang. Sebab, kondisi sekolah di Kecamatan Jrengik itu sudah rusak bertahun-tahun. Dewan pendidikan menuding dinas pendidikan (disdik) tebang pilih.

Penilaian itu dilontarkan Anggota Bidang Sarana dan Prasarana (Sarpras) Dewan Pendidikan Sampang Moh. Salim kemarin (2/3). Dia menyayangkan kinerja disdik yang kurang selektif melakukan pembangunan pendidikan. Sebab, bangunan SDN Majangan 1 membahayakan peserta didik. Akan tetapi, sampai saat ini belum ada perbaikan. ”Sebaiknya dinas pendidikan cek lokasi langsung untuk memastikan kondisi gedung,” katanya.

Salim menambahkan, berdasar pemantauan tim, masih banyak sekolah rusak tanpa perhatian dinas terkait. Karena itu, dirinya menyimpulkan bahwa selama ini dinas pendidikan tidak mengecek ke lapangan. ”Masih banyak sekolah seperti kondisi SDN Majangan 1 ini,” lanjutnya.


Salim juga menuturkan, Disdik Sampang seakan tebang pilih dalam membangun sarpras pendidikan. Sebab, banyak kondisi sekolah yang masih layak ditempati justru mendapat anggaran perbaikan, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Baca Juga :  Meriahkan HUT Ke-20, JPRM Gelar CFD Spektakuler dan Gema Sholawat

Sebagai mitra disdik, pihaknya kerap mengusulkan perbaikan terhadap sekolah-sekolah yang tidak layak dijadikan tempat belajar mengajar. Namun, usulan itu diabaikan dengan dalih aturan dan alasan lain. ”Lagi-lagi, kami dibenturkan pada bahasa kebijakan,” ucap Salim.

Dia berharap Disdik Sampang segera mengambil langkah konkret. Sebab, jika tetap dibiarkan dengan kondisi yang seperti itu, akan membahayakan peserta didik. ”Dinas pendidikan harus hadir untuk memastikan proses KBM di sekolah berjalan dengan aman dan nyaman bagi siswa dan guru,” harap Salim.

Kabid Sarpras Disdik Sampang Suraji menegaskan, SDN Majangan 1 sudah diusulkan untuk mendapat perbaikan. Jika usulan tersebut disetujui oleh pemerintah pusat, proses pembangunan baru bisa dilaksanakan pada 2022. ”Yang jelas tidak bisa diperbaiki tahun ini,” katanya.

Suraji memastikan, sekolah yang diusulkan mendapat perbaikan tersebut otomatis dicek ke lapangan. Hal itu dilakukan untuk meninjau perkembangan kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut. ”Akan kami cek ke lokasi, tapi secara bergantian. Paling besok atau lusa,” janjinya.

Baca Juga :  Disdik Belum Punya Data Siswa Tak Naik Kelas

Sekolah di Desa Majangan tersebut memiliki delapan ruangan. Yakni, enam ruang belajar, satu ruang guru, dan satu perpustakaan. Akan tetapi, yang bisa difungsikan hanya empat ruangan. Sebab, sejumlah bangunan retak dan atap hampir ambruk.

Ruangan yang bisa ditempati satu ruang guru dan tiga ruang kelas. Tiga kelas tersebut disulap menjadi enam ruangan. Dengan disekat lemari di bagian tengah. Tujuannya, peserta didik kelas I–VI tetap bisa mengikuti KBM.

Kepala SDN Majangan 1 Joko Ismoyo memimpin sekolah tersebut sejak 2016. Kondisi sekolah memang memprihatinkan. Bangunan banyak retak dan atap berjatuhan. Lama-kelamaan, ruangan itu semakin membahayakan peserta didik.

Karena itu, pada 2017 pihak sekolah memutuskan tidak menggunakan empat ruangan. Yakni, tiga ruang kelas dan satu ruang perpustakaan. Menurut Joko, 75 siswa harus mendapat pelajaran sebagaimana mestinya walaupun kondisi kelas terbatas.

Joko mengaku berkali-kali mengajukan perbaikan. Akan tetapi, upaya itu tidak membuahkan hasil. Proposal yang diajukannya tidak mendapat respons dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. (iqb)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/